Teh Meningkatkan Risiko Radang Sendi?
KOMPAS.com – Sesuatu yang dikonsumsi atau dilakukan secara berlebihan biasanya memang tidak lagi bermanfaat. Teh, yang diyakini memberikan berbagai manfaat kesehatan, jika diminum terlalu banyak ternyata malah meningkatkan risiko penyakit radang sendi.
Perempuan yang minum lebih dari empat cangkir teh sehari cenderung akan mengembangkan penyakit tersebut hingga 78 persen, demikian menurut studi dari Georgetown University Medical Centre. Menurut studi yang melibatkan lebih dari 76.000 perempuan itu, bahkan secangkir teh sehari pun sudah meningkatkan risikonya hingga 40 persen. Anehnya, minum kopi tidak disebut memberi pengaruh apa pun.
“Kami ingin menentukan apakah konsumsi teh atau kopi, atau metode yang digunakan untuk menyiapkan teh, yang dikaitkan dengan meningkatnya risiko (radang sendi),” ujar Professor Christopher Collins, dari Georgetown University Medical Centre.
Meskipun demikian, ada juga manfaat yang dihasilkan dari minum teh, termasuk mengurangi risiko mengembangkan kanker ovarium hingga 10 persen, dan secara signifikan mengurangi kemungkinan berkembangnya penyakit jantung dan beberapa penyakit mata.
Karena itu Profesor Collins juga tidak menyarankan penggemar teh untuk mengubah kebiasaan minum teh mereka hanya karena penemuan ini. “Memang jelas terlihat kaitannya, tetapi risikonya sangat kecil,” katanya.
DIN
Editor: din
Sumber: Marie Claire
Unjuk Bakat PPI Jadi Momen Mengenalkan Budaya
PALANGKARAYA, KOMPAS.com – Finalis Pemilihan Puteri Indonesia (PPI) 2010 tingkat Kaltim-Kalteng-Kalsel unjuk bakat di depan juri. Momen ini sekaligus menjadi kesempatan mengenalkan budaya lokal melalui tarian khas daerah, musik kecapi, dan lagu khas penuh makna.
Sesi unjuk bakat menjadi penutup kegiatan karantina di hari kedua, menuju grand final PPI 2010 untuk tiga provinsi di Kalimantan. Grand final berlangsung Sabtu (19/6/2010) berpusat di Kota Palangkaraya.
Sebanyak 20 peserta karantina PPI 2010 tingkat Kaltim-Kalteng-Kalsel memilih tarian khas daerah dalam ajang unjuk bakat. Kebanyakan tarian bermakna persiapan peperangan, seperti tari Mandau. Meski begitu setiap daerah memiliki ragam tarian Mandau yang memiliki perbedaan jika diperhatikan lebih detail.
Varian budaya inilah yang ingin ditunjukkan para finalis melalui PPI dalam acara penghujung di malam kedua karantina di Palangkaraya. Para perempuan muda ini lihai memainkan pisau, menyemburkan api, dibalut dalam tarian khas daerahnya. Budaya memang menjadi inspirasi yang memotivasi para finalis PPI menuju ajang pemilihan bergengsi Puteri Indonesia.
Nadila (22), finalis dari Kaltim mengatakan, motifnya mengikuti PPI adalah untuk membanggakan Kaltim dengan berbagai budaya dan tariannya. Mengenakan selendang bertuliskan daerah asalnya, menjadi kebanggaan sekaligus penyemangat untuk tetap mempertahankan keikutsertaan Kaltim dalam ajang PPI.
“Malu mengenakan selendang jika tak berhasil mempertahankan Kaltim dan lolos menuju tahapan berikutnya,” aku Nadila kepada Kompas Female.
Dalam unjuk bakat, mahasiswi yang juga pramugari ini tidak memperlihatkan keahliannya menari, melainkan memainkan alat musik kecapi khas Kaltim. Perempuan asli Kaltim ini memang bersemangat mempromosikan daerahnya melalui ajang PPI.
Menyaksikan ragam varian tarian Dayak menghadirkan suasana khas. Aroma mistik memenuhi ballroom di Aquarius Boutique Hotel, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Jumat (18/6/2010) lalu.
Tarian bukan sekadar pengisi acara, namun juga menunjukkan bagaimana karakter khas masing-masing daerah. Kalteng yang dikenal dengan kegigihannya, Kalsel dengan kelembutan masyarakatnya, serta Kaltim yang memadukan semua budaya dan karakter. Penduduk provinsi ini memang lebih beragam, seperti miniatur Indonesia, kata Pandit DM Bawana, salah satu juri yang menilai ajang unjuk bakat ini.
C1-10
Editor: din
Karantina PPI di Palangkaraya Membaurkan Kultur
PALANGKARAYA, KOMPAS.com – Karantina Pemilihan Puteri Indonesia (PPI) daerah Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, berbaur dalam satu rangkaian kegiatan berpusat di Kota Palangkaraya. Berlangsung mulai 16 – 20 Juni 2010, 20 finalis berkompetisi menuju grand final PPI 2010 untuk ketiga provinsi di pulau Borneo ini.
Noor Awaliah, Ketua Pelaksana PPI daerah Kalteng-Kaltim-Kalsel, mengatakan bahwa karantina yang menggabungkan tiga provinsi di Kalimantan ini memasuki tahun kedua.
“Dengan rangkaian kegiatan yang melibatkan tiga provinsi, karantina PPI menjadi lebih efisien dari segi waktu dan tenaga. Selain itu juga membangun kedekatan pesertanya,” papar perempuan yang akrab disapa Awal ini kepada Kompas Female di Aquarius Boutique Hotel, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Jumat (18/6/2010) lalu.
Kegiatan karantina efektif mulai 17 Juni 2010, dengan melakukan City Tour menjelajah Kalimantan Tengah. Destinasi wisata menjadi fokus utamanya. Maklum, potensi wisata Kalteng masih menjadi konsentrasi lantaran masih kalah populer dengan provinsi lain di Indonesia.
Finalis Kalteng (8), Kalsel (7), Kaltim (5) juga diberikan pembekalan seputar kebudayaan lokal, potensi pariwisata, hingga pengembangan personal seperti etika dan penampilan, public speaking, beauty class, dan juga perkembangan media.
Setiap peserta, dengan latar budaya berbeda, membawa pesan yang khas dengan kultur daerah asalnya. Seperti Yemima Eka Ampung (24). Finalis dari Palangkaraya (Kalteng) ini begitu semangat memperkenalkan budaya suku Dayak dan karakter kampung halamannya. Lain lagi dengan Nadila (22), perempuan muda asli Kutai dari Kalimantan Timur. Baginya, budaya Kaltim memiliki keunikan yang layak dipopulerkan melalui ajang PPI.
“Keunikan pada suku di pedalaman, bagaimana mereka bercocok tanam, baik perempuan dan lelaki memiliki telinga panjang dengan anting besi yang menunjukkan usianya. Tato pada suku Dayak yang dibuat dari tumbuh-tumbuhan tidak kalah bagusnya dengan tato modern. Tato bagi suku Dayak memaknakan kebangsawanan,” papar Dila bersemangat.
Kaltim merupakan provinsi dimana paling banyak terjadi pembauran budaya, dengan banyaknya pendatang, dibandingkan Kalsel dan Kalteng. Penduduk asli, meski minoritas, masih bisa ditemukan di kawasan pesisir pantai yang dikenal sebagai paser blengkong. Semakin bergesernya penduduk asli dan kultur masyarakat lokal inilah, yang menjadi semangat lima finalis dari Kaltim untuk mendukung pelestarian budaya dan pariwisata Kaltim.
“Budaya Indonesia wajib dikenal supaya tidak direbut,” tegas Dila, yang juga penggiat tarian khas Dayan Gong Enggang, tarian penyambutan untuk tamu dan turis. Mempelajari tarian khas Dayak, bagi Dila, menjadi cara mengenal asal usul daerah. Karena tarian, katanya, menggambarkan berbagai cerita dari budaya daerah itu sendiri.
Saling mempelajari budaya serta mengembangkan destinasi wisata daerah, menjadi motivasi kebanyakan finalis. Namun, misi kedaerahan bukan menjadi satu-satunya tujuan. Menyadari besarnya peran Puteri Indonesia, wawasan dan kecerdasan juga menjadi kunci untuk menarik perhatian juri. Karenanya, bagian paling mendebarkan dari rangkaian karantina perdana di tingkat daerah ini adalah wawancara dengan lima juri.
Baik Yemima maupun Dila mengaku grogi menghadapi sesi wawancara dengan para juri, perwakilan dari ketiga provinsi, dan dari Yayasan Puteri Indonesia Jakarta. Bagaimana para finalis menjawab pertanyaan dan memberikan pandangannya, akan menunjukkan sejauhmana kualitas personality mereka.
Raut muka tegang dan berbagai cara mengatasi rasa grogi pun terlihat di hampir semua finalis. Meski begitu, keakraban yang dibangun lantaran kultur yang membaur, menjadi penyemangat sesama finalis. Dari sesi wawancara, terlihat bahwa para perempuan muda dari berbagai latar belakang ini tak sekadar ingin menyandang gelar puteri, namun juga menyuarakan realitas sosial dan budaya. Mulai dari pelestarian kultur dan potensi alam Kalimantan, hingga nasib para guru di pedalaman.
C1-10
Editor: din
Kini, Mereka Percaya Diri…
BREBES, KOMPAS.com – Itulah yang dikatakan Daryati, ibu 3 anak, yang sehari-harinya bekerja sebagai petani bawang di Desa Larangan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.
Daryati seorang ibu rumah tangga yang kini harus membanting tulang demi kelangsungan hidup dan pendidikan ketiga anaknya. Sejak tahun 2008 lalu, suami Daryati pergi begitu saja tanpa pesan. Statusnya “cerai gantung”. Namun, Daryati tak memusingkannya lagi. Kini ia dan ratusan rekannya sesama janda yang menjadi perempuan kepala keluarga, mulai percaya diri. Mereka mengikuti berbagai pelatihan yang dilakukan oleh lembaga donor maupun bantuan dari perusahaan-perusahaan yang berorientasi pada pengembangan pengetahuan para perempuan di wilayah pinggiran. Ibu-ibu ini di bawah asuhan Sekretariat Nasional (Seknas) Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA). Daryati yang tak lulus SD ini mengikuti program kejar paket A.
“Sekarang saya sudah bisa membaca, sudah bisa menghitung. Dulu saya bodoh, dibohongin suami saya. Enggak bisa ngitung dibohongin tetangga. Sekarang sudah tahu bikin usaha,” kata Daryati, seusai mengikuti pelatihan manajemen usaha melalui program “Dove Sisterhood” di Aula Kecamatan Larangan, Brebes, Jumat (18/6/2010) lalu.
Dove Sisterhood merupakan program Dove yang mengimplementasikannya dengan memberikan pelatihan dan bantuan modal usaha bagi para perempuan kepala keluarga, salah satunya di Brebes. Dalam pelatihan ini, ratusan ibu distimulasi untuk merencanakan usaha apa yang akan dibangun dalam tim. Total, terdapat 10 tim yang akan menjalankan usaha secara bersama. Jenis usahanya, pembibitan bawang dan penjualan bawang.
Daryati, yang awalnya buta huruf, kini berani tampil sebagai salah satu ketua tim. Bersama timnya, Daryati akan mengelola modal yang didapat. Sistem yang diterapkan adalah bagi hasil. Sekitar 20 persen akan dikembalikan ke Lembaga Keuangan Mikro yang menampung segala bantuan modal yang didapat untuk diputar kembali. Sisanya, yang 80 persen, akan dibagi oleh anggota kelompok.
Kepercayaan diri pun tak hanya dirasakan Daryati. Maryani (56) juga merasakan hal yang sama. Ibu empat anak, yang suaminya sudah berpulang ini, harus bangkit. Tujuh tahun sudah ia menjadi petani bawang, tak lagi buruh. Sebelumnya, saat sang suami masih hidup, Maryani lebih banyak menggantungkan kebutuhan keluarga pada suaminya yang bekerja di Kantor Kecamatan Larangan. Ia sendiri bekerja sebagai buruh tani yang menggarap lahan pemilik modal. Penghasilannya, bagi hasil dengan orang yang memberinya modal menanam bawang. Hasil yang didapat tak sebesar jika sendiri menjadi petani yang memiliki modal sendiri.
“Setelah suami meninggal, saya harus berpikir bagaimana bisa dapat penghasilan lebih. Salah satunya, jadi petani, enggak buruh lagi. Akhirnya, saya ikut pelatihan PEKKA dan pelatihan-pelatihan lain, jadi percaya diri. Awalnya kurang pede, kurang pengalaman, kurang berani. Sekarang tambah teman, modal juga nambah,” katanya sambil tertawa.
Di wilayah Brebes, angka perempuan kepala keluarga memang cukup tinggi. Sebagian besar menjadi janda karena perceraian. Dari 1,9 juta jiwa, sebanyak 250 ribu jiwa berada dalam garis kemiskinan. Pemerintah pun melakukan upaya pemberdayaan, salah satunya dengan menggandeng berbagai pihak. Selain pelatihan mengenai kewirausahaan dan pendidikan, para perempuan kepala keluarga juga ditumbuhkan kesadaran hukumnya. Koordinator Usaha PEKKA, Romlawati mengungkapkan, pihaknya melatih sejumlah perempuan untuk menjadi penyuluh di wilayahnya masing-masing. Menurut Romla, meski tak ada jumlah pasti, dalam dampingan PEKKA sendiri terdapat lebih dari 100 perempuan kepala keluarga.
“Di sini, cerai mati banyak, cerai hidup juga banyak. Ada yang tidak dicerai, tapi cerai gantung. Maka kita dorong bagaimana mereka punya status resmi, bukan mendorong cerai ya. Tetapi, pada kenyataannya banyak yang sudah dicerai tapi tidak punya status legal seperti surat cerai. Banyak yang ditinggal begitu saja. Untuk mengurusnya mahal, wong untuk makan saja susah,” kata Romla.
Maka, salah satu advokasi yang diberikan adalah melalui prosedur prodeo sehingga pengurusan akte cerai lebih mudah. “Hakimnya sidang keliling, jadi ibu-ibu ini biayanya tidak terlalu mahal. Selama ini mereka itu nrimo karena tidak tahu informasi, maka diperlakukan begitu oleh para suaminya tidak bisa berbuat apa-apa,” ujarnya.
Status secara legal ini dinilai penting, sebab dari sisi sosial, stereotip sangat kuat terhadap janda yang selalu dicurigai sebagai orang yang tidak baik. Hal ini menjadi salah satu faktor penghambat bagi mereka untuk memulai usaha.
ING
Editor: din
Ini Dia Gejala Menopause pada Pria
TEMPO Interaktif, London – Untuk pertama kalinya, para peneliti dari sejumlah institusi di Eropa mengidentifikasi gejala “menopause pria”, suatu kondisi yang mengikuti penurunan hormon testosteron lelaki tua. Tidak seperti menopause pada perempuan, yang bisa menimpa semua wanita, menopause pada pria tergolong sangat langka, hanya mempengaruhi 2% dari laki-laki tua, dan sering dikaitkan dengan buruknya kesehatan secara umum dan obesitas. Temuan ini dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine edisi Juni 2010.
Para peneliti, dipimpin Profesor Fred Wu, dari Universitas Manchester, mengukur kadar testosteron dari 3.369 pria berusia antara 40 dan 79 tahun, dan menanyakan masalah seksual mereka, kesehatan fisik, dan psikologis.
Tim menemukan hanya sembilan dari 32 gejala yang benar-benar berhubungan dengan rendahnya kadar testosteron; yang paling penting terdapat tiga gejala seksual: penurunan frekuensi ereksi pagi hari, penurunan frekuensi dorongan seksual, dan disfungsi ereksi.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberadaan ketiga gejala seksual tersebut, bersama dengan rendahnya kadar testosteron, memerlukan diagnosis hipogonadisme. Gejala-gejala lain termasuk tiga gejala fisik yakni ketidakmampuan melakukan berbagai kegiatan, seperti berjalan atau mengangkat benda berat, ketidakmampuan untuk berjalan lebih dari 1 kilometer, dan ketidakmampuan untuk membungkuk, berlutut atau membungkuk – dan tiga gejala psikologis: kehilangan gairah, kesedihan, dan kelelahan. Namun, gejala-gejala non-seksual hanya sedikit terkait dengan testosteron rendah.
ScienceDaily/NgartoF
Nonton Video Mesum Bisa Mengakibatkan Penyimpangan Seks?
TEMPO Interaktif, Jakarta – Beredarnya video mesum yang diduga dilakukan artis mirip Ariel Peterpan, Luna Maya, dan Cut Tari menimbulkan keprihatinan banyak kalangan. Sejumlah pemerintah daerah mengimbau agar dilakukan blokade terhadap peredaran video mesum tersebut. Bahkan beberapa sekolah merazia telepon seluler siswanya. Para orangtua pun tak kalah cemas.
Kecemasan itu terkait dengan dampak negatif video porno (dan bahan pornografi lain), yang diperkirakan bisa mengakibatkan perilaku seksual menyimpang atau kekerasan seksual. Topik efek negatif bahan-bahan pornografi (termasuk di film, buku, video, internet) telah menjadi bahan kajian pada sejumlah studi. Berikut beberapa contoh:
* Sebuah studi di pada 1987 menemukan bahwa wanita yang teraniaya, atau menjadi subyek pelecehan seksual, memiliki pasangan yang kerap melihat pornografi.
* Penelitian dengan metode meta-analisis pada 1995 menemukan bahwa pornografi diperkirakan memperkuat perilaku agresif dan sikap negatif terhadap perempuan.
* Sebuah studi di Amerika Serikat menyebutkan bahwa remaja yang mengonsumsi pornografi: dua pertiga dari laki-laki dan 40 persen perempuan ingin mencoba beberapa perilaku yang mereka saksikan. Dan, 31 persen dari laki-laki dan 18 persen dari perempuan mengaku melakukan beberapa adegan seksual yang mereka lihat di bahan-bahan pornografi dalam beberapa hari setelah melihat.
* Sebuah studi pada 1993 menemukan: eksposur terhadap bahan seksual yang merangsang dapat menyebabkan perilaku agresif pada remaja. Bahan-bahan yang berisi kekerasan seksual menyebabkan perilaku agresif yang lebih besar dan berdampak negatif pada sikap pria terhadap perempuan.
* Evaluasi pada 1984 menyebutkan meningkatnya jumlah kasus pemerkosaan di berbagai negara sangat berkolerasi dengan liberalisasi pembatasan pornografi.
Canadian Institute for Education on the Family, pada 2004, melakukan penelitian mengenai hal ini. Dalam ringkasan penelitian, Peter Stock, penulis studi ini mengatakan bahwa masyarakat Kanada telah menjadi masyarakat yang semakin pornografi dalam beberapa dekade terakhir yang berimplikasi mengganggu anak-anak yang dibesarkan di dalamnya. Sejumlah studi ilmiah telah menunjukkan korelasi kuat antara paparan pornografi dan perilaku seksual yang menyimpang oleh anak-anak.
Ada pula penelitian yang menyatakan bahwa pornografi merugikan anak-anak. Alasannya perkembangan seksual seorang anak terjadi secara bertahap dari masa kanak-kanak. Paparan terhadap pornografi membentuk perspektif seksual anak dengan menyediakan informasi mengenai aktivitas seksual. Namun, jenis informasi yang diberikan oleh pornografi tidak dengan perspektif seksual yang normal.
Mengutip studi pada 2004 yang dilakukan Institut Kesehatan Anak Nasional Amerika Serikat, menyatakan bahwa menonton seks di TV diperkirakan bisa mempercepat inisiasi seksual remaja.
Kaitannya dengan ledakan pertumbuhan internet, peneliti mengatakan pornografi bebas yang tersedia di internet merupakan ancaman bagi keselamatan anak-anak. Mengutip sebuah penelitian lain, Peter Stock mengatakan bahwa satu dari lima anak, berusia antara 10 dan 17, menerima ajakan seksual melalui Internet pada tahun 1999. Beberapa peneltian juga telah menyimpulkan bahwa banyak industri pornografi, dengan miliaran dolar, memfokuskan sasaran anak laki-lagi usia 12-17 tahun, dengan tujuan menciptakan kecanduan– seperti halnya strategi pemasaran yang diduga biasa dilakukan industri rokok.
Tampaknya, di kalangan peneliti, topik ini masih menimbulkan perdebatan. Penelitian lain pada akhir 2009, seperti yang dimuat di ScienceDaily, 1 Desember 2009, mengungkapkan hal yang berbeda. Simon Louis Lajeunesse, kandidat doktor dan dosen di School of Social Work Université de Montréal, Kanada, melakukan penelitian mengenai pengaruh pornografi pada pria usia 20-an tahun.
“Kami mulai penelitian dengan mencari pria usia dua puluhan yang tidak pernah mengkonsumsi pornografi. Kami tidak dapat menemukan apa pun,” ujar Lajeunesse.
Lebih jauh, kemudian ia mewawancarai 20 mahasiswa laki-laki heteroseksual yang mengkonsumsi pornografi.
“Mereka berbagi sejarah seksual mereka, dimulai dengan kontak pertama mereka dengan pornografi, pada masa awal remaja mereka. Tidak satu pun subyek memiliki patologi seksualitas.Bahkan, semua praktek-praktek seksual mereka sangat konvensional,” kata Lajeunesse.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa 90 persen pornografi dikonsumsi di Internet, sedangkan 10 persen berasal dari toko video. Rata-rata, pria lajang menonton pornografi tiga kali seminggu selama 40 menit. Lajeunesse menemukan kebanyakan anak laki-laki mencari materi pornografi pada usia 10 tahun. Namun, mereka segera membuang apa yang tidak mereka sukai.
Lajeunesse menyangkal pengaruh buruk yang sering dikaitkan dengan pornografi sementara banyak penelitian lain mengatakan pornografi bisa berdampak buruk termasuk terhadap perilaku seksual.
CIEF/ScienceDaily/Ngarto Februana
Putus Cinta Lebih Berpengaruh pada Pria Muda dibanding Wanita
TEMPO Interaktif, Toronto – Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa kualitas hubungan lebih berpengaruh pada laki-laki muda dibanding pada pasangannya.
Toronto Sun melaporkan bahwa profesor sosiologi di Universitas Wake Forest, Robin Simon, telah melakukan studi terhadap seribu laki-laki dan perempuan yang belum menikah dengan rentang usia 18 hingga 23 tahun.
Hasil studinya menunjukkan bahwa efek dari suatu hubungan dirasakan lebih tinggi oleh seorang laki-laki muda dibandingkan oleh wanita. Hal ini berbeda dengan stereotype gender selama ini.
Laki-laki, menurut studi itu, mengalami manfaat emosional yang lebih besar ketika mereka bahagia dalam hubungannya dan memiliki tingkat stres yang lebih besar ketika mereka tidak bahagia. Robin menduga rasa menghargai dirinya sendiri akan terluka ketika hubungannya dengan pasangan menjadi buruk.
Alasan yang masuk akal dari kesimpulan ini adalah bahwa pasangan dari laki-laki menganggap pasangannya sebagai sumber keintiman yang utama. Sedangkan wanita, menurut Robin, masih lebih mungkin memiliki hubungan dengan keluarga dan teman-temannya di samping dengan pasangannya.
Robin juga berpendapat bahwa laki-laki dan wanita memiliki cara yang berbeda dalam menangani stres. “Wanita mengekspresikan kesusahan emosionalnya melalui cara depresi. Sedangkan laki-laki mengekspresikan emosinya dengan masalah yang hakikat,” kata Robin.
Hasil studi ini, yang menurut Robin mengejutkan, adalah salah satu bagian dari studi jangka panjang mengenai kesehatan mental dan transisi menuju masa dewasa. Penelitian ini dipublikasikan dalam Journal of Health and Social Behavior bulan ini.
FOX NEWS / FANNY FEBIANA
Agar Bisa Hamil Sesuai Waktunya
KOMPAS.com – Banyak perempuan yang begitu mudah hamil, banyak pula yang harus berjuang keras untuk bisa hamil. Perempuan dari kelompok yang sulit hamil ini tentu tidak pernah mengira bahwa dirinya harus melakukan banyak upaya agar dikaruniai momongan. Setelah menikah, setahun, dua tahun, dan seterusnya, dan si kecil tak juga hadir di tengah-tengah kehidupannya, barulah ia merasa khawatir.
Agar Anda tidak merasa panik belakangan, karena harus menjalani berbagai pemeriksaan dan pengobatan untuk bisa hamil, sebaiknya ubah gaya hidup Anda sedini mungkin. Selalu ada jalan keluar bila Anda mau berusaha, kan?
Ingin hamil 10 tahun lagi
Jangan merokok, karena merokok bisa merusak telur dan rahim Anda, demikian pendapat
Rebecca Booth, MD, dokter kandungan dan kebidanan dari Louisville, Kentucky.
“Dengarkan” tubuh Anda. “Jika Anda merasakan sakit, konsultasikan,” saran Jamie Grifo, MD, PhD, dari NYU Fertility Center. Sakit di bagian panggul, atau menstruasi yang berat, tidak teratur, dan terasa sangat sakit, menunjukkan suatu kondisi yang mengganggu kesuburan, seperti endometriosis.
Ingin hamil dalam 1-3 tahun lagi
Makan sehat dan berolahraga. “Makanan yang terlalu manis atau karbohidrat yang mengandung zat tepung, dan jarang berolahraga, bisa melepaskan ovulasi,” kata Dr Booth. Sebagai gantinya, pilih gandum utuh, protein tanpa lemak, buah-buahan, dan sayuran, serta latihan selama 30 menit, lima hari seminggu.
Jaga berat subur. Sebanyak 12 persen kasus-kasus ketidaksuburan disebabkan karena perempuan mengalami overweight, atau justru underweight. Indeks Massa Tubuh (IMT) Anda yang paling subur adalah antara 18,5 dan 24,9. IMT sendiri merupakan ukuran mengenai berapa sehat berat Anda untuk tinggi badan Anda. Rumus mengukur IMT adalah: Berat Badan (kg)/(Tinggi Badan (cm)/100)2.
Ingin hamil… sekarang!
Rileks. Semua orang selalu mengatakan, stres akan menyulitkan terjadinya kehamilan. Meskipun hal ini masih diperdebatkan, banyak pula ahli kesehatan yang menyetujuinya. Ketika stres, tubuh Anda melepaskan kortisol, hormon yang dapat menekan ovulasi. Untuk mengatasi stres, cobalah untuk melakukan meditasi atau yoga.
Cari tahu penyebabnya. Jika Anda sudah berusia di atas 35 tahun dan belum hamil setelah setahun menikah, segeralah berkonsultasi dengan dokter. Kebanyakan perempuan berusia di atas 35 tahun baru hamil setelah setengah tahun menikah. Di Amerika, 70 persen pasangan hamil dalam enam bulan pertama setelah menikah.
DIN
Editor: din
Sumber: Glamour
Sering Berganti Pasangan Seksual, Tanda Hiperseks?
KOMPAS.com — Hubungan seksual memberikan kesenangan bahkan kebahagiaan jika pasangan suami istri (pasutri) saling terpuaskan. Namun, bagaimana jika kejenuhan seksual muncul, apalagi jika pasangan memiliki kecenderungan mencari pengalaman seksual dengan banyak perempuan?
Kasus yang menghebohkan dari musisi mirip Ariel dan beberapa teman wanitanya bisa menjadi contoh. Meskipun pemusik tersebut belum memberikan pernyataan resminya, tetapi perilaku pria dalam video tersebut telah dibahas dari berbagai sisi. Beberapa pihak menyikapi kasus ini berbeda. Satu persamaan sikap yang bisa ditarik, perilaku seksual seperti ini tidak bisa didiagnosis begitu saja tanpa ada konsultasi langsung dengan individunya.
Psikolog klinis, Lita Gading, menerangkan, untuk menyikapi perilaku seksual seperti pria mirip Ariel tersebut, perlu dilakukan kolaborasi antara psikolog, psikiater, bahkan polisi (terkait motif perekaman, penyebaran video porno, dan unsur eksploitasi). Namun, tegas Lita, diperlukan kemauan dan kesadaran dari si pelaku untuk melakukan konsultasi seksualnya.
Lita menilai perilaku seksual dengan banyak pasangan (atas dasar kesenangan dan saling menikmati), direkam, serta dilakukan terus-menerus dan menjadi kebiasaan (melihat kasus Ariel) merupakan modus baru.
“Perilaku ini tidak bisa langsung dikatakan kelainan seksual atau ekshibisionis. Harus digali lebih dalam masalah pendokumentasian dan untuk siapa dokumentasi dikonsumsi. Kita tidak bisa langsung men-judge,” papar Lita kepada Kompas Female beberapa waktu lalu.
Lita melihat adanya kecenderungan hiperseks, melihat adanya eksploitasi seksual diri sendiri (pelakunya) dengan beberapa perempuan. Sementara pakar seksologi Prof Dr dr Wimpie Pangkahila, ApAnd FAACS, mengatakan tidak mudah mendiagnosis apakah ada kelainan seksual dari perilaku semacam ini.
“Perlu konsultasi langsung dengan pelaku untuk mendiagnosis perilaku seksualnya,” kata Prof Wimpie pada kesempatan terpisah menambahkan, tidak mudah mengatakan perilaku seksual seperti ini sebagai hiperseks jika tidak mengenal individunya.
Menurut Prof Wimpie, individu yang berhubungan seks lalu merekamnya dengan kesepakatan bersama pasangan, kemudian melakukan hal yang sama dengan pasangan yang berbeda, biasanya berangkat dari motif kesenangan dan kepuasan diri. Persoalan merekam hubungan seks, katanya lagi, menjadi pemenuhan fantasi seksualnya dan juga untuk meningkatkan libido jika melihatnya kembali. Keisengan juga bisa melatari pendokumentasian hubungan seksual bersama pasangan.
Baik Lita maupun Wimpie memiliki kesamaan pandangan bahwa orang yang menjalani hiperseks pada awalnya tidak menyadarinya. Artinya, perlu pihak lain yang memberitahukan kepadanya. Setidaknya untuk menyadarkan orang dengan hiperseks agar lebih bisa mengontrol dirinya, menyalurkan dorongan seksnya yang tinggi, atau mengatasi kejenuhan seks dengan cara lain.
“Kejenuhan seks dengan pasangan bisa diatasi dengan mengubah penampilan, mengubah variasi rangsangan, posisi, bahkan suasana,” jelas Prof Wimpie.
C1-10
Editor: din
Asupan Daging Pengaruhi Masa Pubertas Anak
VIVAnews – Remaja putri yang banyak mengonsumsi daging selama masa kanak-kanak cenderung mengalami masa pubertas lebih dini ketimbang rekan sebayanya.
Peneliti Inggris dalam sebuah studi membandingkan diet lebih dari 3.000 gadis berusia 12 tahun. Mereka menemukan, konsumsi daging tinggi sejak usia tiga tahun (lebih dari delapan porsi seminggu) dan usia tujuh tahun (lebih dari 12 porsi) sangat terkait dengan terjadinya masa menstruasi lebih awal.
Bahkan, anak perempuan usia tujuh tahun dengan konsumsi daging tinggi memiliki peluang lebih tinggi 75 persen mengalami haid dibandingkan anak dengan asupan daging wajar.
Hasil temuan yang dipublikasikan dalam Public Health Nutrition, menyatakan daging mempersiapkan tubuh untuk mempercepat kehamilan. Daging merupakan sumber makanan kaya akan zat besi dan seng yang membantu terciptanya peluang kehamilan. Selain memicu pubertas lebih cepat, diet daging juga meningkatkan obesitas dan berdampak pada hormon.
Pubertas dini pada remaja putri dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara. Kemungkinannya, wanita memproduksi hormon estrogen lebih tinggi selama kehidupannya.
Dr Ken Ong, pediatrik endokrinologi di Medical Research Council, mengatakan telah terjadi pergeseran waktu menstruasi pada wanita selama satu abad terakhir.
“Ini (pergeseran waktu menstruasi) tidak berhubungan dengan ukuran tubuh wanita yang makin besar, melainkan disebabkan oleh efek protein dan kadar hormon tubuh.” (umi)
• VIVAnews






