Stres pada Perempuan Lebih Tinggi
KOMPAS.com – Perempuan menghadapi stres lebih tinggi, baik secara biologis, psikologis, dan emosi. Penyebabnya perempuan lebih memiliki kontrol eksternal dalam dirinya dengan lebih banyak menggunakan emosi daripada logika. Kebahagiaan perempuan pun cenderung ditentukan oleh orang lain, bukan oleh dirinya, terutama dalam hubungan berpasangan.
Sementara problem perempuan jauh lebih kompleks. Misalnya, perempuan harus menyesuaikan diri ketika menghadapi pubertas, menstruasi, kehamilan, dan melahirkan. Dengan masalah yang kompleks, perempuan lebih stres karena kecenderungannya otak perempuan lebih banyak mengandalkan kerja emosi daripada logika.
Psikolog klinis Zoya Amirin, MPsi, menjelaskan bahwa setiap individu berusia dewasa, secara psikologis harus memenuhi tugas perkembangan diri. Jika tugas ini tidak terpenuhi, akan muncul stres karena tekanan dalam diri maupun dari lingkungan.
Zoya menerangkan tugas itu antara lain berkaitan dengan hubungan berpasangan yang lebih serius, jenjang pernikahan, masa pacaran, membangun keluarga muda, menjadi orangtua muda, menanggung kehidupan orangtua, dan mengejar karier. Belum lagi pilihan antara melanjutkan pendidikan dengan mengurus anak dan keluarga.
“Sukses secara usia adalah dengan bertumbuh sebagai manusia dewasa secara normal, dengan pemenuhan semua tugas tersebut. Jadi wajar jika ada perempuan yang merasa tertekan ketika saat usia dewasa belum juga menikah, misalnya. Perasaan ini normal, karena memang menjadi tugas perkembangan yang perlu dipenuhi dan tidak bisa dihindari,” papar Zoya, usai bincang-bincang bertema “How to Manage Our Stress” bersama majalah Intisari di Jakarta, Jumat (11/6/2010) lalu.
Alhasil, masalah perempuan yang kompleks ini membuat stres pada perempuan lebih tinggi. Ditambah lagi perempuan cenderung diposisikan secara sosial (peran gender), lebih subordinan, sehingga perempuan cenderung sulit mengontrol dirinya dan selalu mengandalkan orang lain.
“Perempuan cenderung melihat dirinya seperti seakan mengatakan bahwa I don’t deserve to be happy. Perempuan lebih melihat apa yang membahagiakan orang lain,” kata Zoya.
Penting dimengerti bagi perempuan, bahwa dia harus memiliki kontrol atas hidupnya. Mengontrol segala sesuatu yang bisa dikontrol, setidaknya dengan mengatakan bahwa ia juga berhak bahagia dengan pilihan-pilihannya.
“Kesadaran ini harus dibangun, dan jika sudah sadar harus bisa keluar dari keadaan. Berapa banyak perempuan yang menyadari ini namun tak berani keluar karena khawatir tidak ada lagi yang mau menyayanginya. Akhirnya bertahan dalam hubungan yang tidak sehat, seperti kekerasan dalam rumah tangga misalnya, atau dating violence, yang kemudian tetap saja berujung pada pernikahan,” tandas Zoya.
Anda pun bisa mengatasi stres dengan mengambil alih kontrol diri. Berani mencoba?
C1-10
Editor: din
Pernikahan di Mata Pria
KOMPAS.com – Pria dan perempuan memiliki pandangan yang berbeda tentang pernikahan. Dalam bayangan kita, pernikahan adalah hari-hari penuh kebersamaan. Mulai dari sarapan pagi dan berakhir dengan makan malam romantis di sudut ruangan rumah. Mengerjakan sesuatu bersama, dan berbagai hal yang biasa dilihat di film-film dongeng ala Cinderella. Sayangnya, hal-hal seperti ini jauh dari bayangan pria tentang pernikahan. Kepala mereka lebih banyak diisi oleh bayangan-bayangan ini:
Takut Salah Memilih Pasangan
Siapa sih yang tidak takut berakhir dengan pasangan yang salah? Semua orang pasti memiliki ketakutan yang sama. Apalagi bila hubungan pacaran terhitung singkat. Persoalannya, perempuan lebih mudah mengikis kekhawatiran ini ketimbang pria. Tapi sebenarnya ketakutan pria masih dalam batas wajar. Apa yang paling ditakutkan? Dia sangat takut seseorang yang di masa pacaran dianggapnya sebagai putri yang baik hati, ternyata menjadi seorang “nenek sihir” ketika menikah. Mungkin karena itu, dia terkesan santai dan tidak buru-buru menentukan target. Bukan karena tidak berminat terhadap pernikahan, dia hanya ingin benar-benar mengenal dan menyeleksi perempuan yang akan menjadi calon istrinya.
Siap Bertanggung Jawab
Tanggung jawab, itulah yang ada di kepala pria mendengar kata pernikahan. Segala hal yang berkaitan dengan pasangan resmi menjadi tanggung jawabnya ketika dia menikah. Itu berarti dia harus menjadi nahkoda dan memberikan materi yang cukup, bahkan berlebih untuk keluarganya. Dengan alasan ini, banyak pria mengaku memilih mengejar karier lebih dulu, mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya sebelum memutuskan menikah.
Takut Bosan
“Menikah? Duuh, ketemunya dia lagi, dia lagi dong, bosan aah.” Ya, inilah yang terlintas di kepala pria tentang pernikahan. Membayangkan bahwa dia akan menghabiskan sisa hidupnya dengan orang yang sama, seringkali membuat hatinya gentar. Tapi Anda tak perlu khawatir, tidak semua pria memiliki bayangan seperti ini. Biasanya, yang bisa mengatasi kecemasan ini adalah pria yang merasa telah menemukan belahan jiwa yang bisa dia cintai selamanya. Dia juga berharap, perempuan yang akan dinikahinya tak sekadar menjadi istri tapi juga teman yang menyenangkan. Sssst, diam-diam pria juga memiliki ketakutan pasangannya merasa jenuh dan memilih berselingkuh.
Menjadi Ayah
Status yang berubah dari lajang menjadi ayah, menjadi perhatian pria. Ada yang merasa takut membayangkan bakal ada mahluk mungil yang memanggilnya “ayah”. Namun, bagi yang merasa telah siap, bayangan tentang ini sangat menyenangkan. Sama seperti Anda, pria juga menanti kehadiran teman baru dalam hidupnya. Tak sabar untuk mengajak anak prianya bermain bola atau membelikan anak perempuannya sebuah boneka cantik. Dan dia selalu ingin menjadi ayah yang bisa dibanggakan oleh anak-anaknya.
Hidup Sehat dan Terawat
Menikah berarti ada yang merawat dan mengurus semua kebutuhannya di rumah. Ada yang menyediakan makanan, menyiapkan makanan, pakaian kerja, hingga merawatnya saat sakit. Bagi pria, bayangan ini akan terasa sempurna, ketika yang melakukannya adalah orang yang ia cintai. Hmm, enggak heran ya, kalau banyak pria yang berat badannya bertambah setelah menikah.
Dapat Teman Hidup
Bagi pria, menikah berarti memiliki teman hidup yang siap berbagi saat senang dan sedih. Pria berharap, pasangannya dapat menjadi seseorang yang bisa memberikan dukungan dalam segala kondisi. Serta bisa menerima segala kekurangan dan kelebihannya. Tenang, ia takkan menuntut Anda untuk membantunya menyelesaikan pekerjaan kantor yang sangat banyak. Ia hanya membutuhkan Anda sebagai teman untuk berkeluh kesah dan berdiskusi. Perempuan seperti apa yang ia butuhkan? Yang pasti perempuan yang bisa diajak bicara, sekaligus mau mendengarkan.
(Bestari Kumala Dewi/Majalah Chic)
Editor: NF
Rahasia Pernikahan Langgeng Sepanjang Masa
VIVAnews – Semua pasangan suami istri mendambakan pernikahan awet dan saling mencintai satu sama lain. Masalahnya, untuk memiliki ikatan kuat dengan pasangan hingga sehidup semati tidaklah semudah membalikkan tangan.
Namun, bukan berarti Anda dan suami tidak bisa menjalani perkawinan bahagia. Praktekkan tips berikut ini agar ikatan perkawinan Anda makin kuat, seperti laman rd.com.
1. Empat ciuman sehari
faktor penting yang sering dilupakan ketika pasangan melangkah ke dalam kehidupan rumah tangga adalah ciuman. Melakukannya empat kali sehari akan mempererat ikatan emosional.
Ciuman tak melulu beradu bibir, namun juga bentuk-bentuk ciuman hangat di kening atau pipi. Biasakan mengomunikasikan rasa sayang dengan ciuman hangat menjelang berangkat kerja, atau beranjak tidur.
2. Kejutan
Saling memberikan kejutan bisa membuat Anda atau pasangan merasa diperhatikan. Perasaan ini bisa membuat rasa cinta makin kuat, dan sulit ‘goyang’ bila diterpa masalah. Berikan kejutan buat pasangan, meski bukan di saat-saat istimewa. Dijamin, pasangan juga akan berbuat hal sama untuk Anda.
3. Jangan pernah pisah ranjang
Usahakan untuk selalu tidur bersama. Meskipun sedang bertengkar, sebaiknya Anda dan pasangan tidak pisah ranjang. Tanpa Anda berdua sadari, tidur bersama walau ada masalah, bisa meredakan hati ‘panas’, sehingga lebih mudah mencari solusi keesokan paginya.
4. Anak-anak
Tidak memiliki anak-anak dalam sebuah pernikahan terkadang menjadi satu alasan banyak pasangan berpisah. Namun, ada sebagian pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak. Jika memang sudah menjadi kesepakatan bersama hal itu tidak menjadi masalah besar. Karena, bagi sebagian orang, memiliki anak juga bisa menjadi penyebab frustasi.
Tapi, perlu Anda ingat, memiliki anak-anak justru bisa membuat perkawinan dalam keluarga lebih kuat. Sebab, anak adalah ikatan Anda berdua yang sulit dipisahkan.
5. Bercinta secara teratur
Idealnya, aktivitas bercinta dilakukan minimal 2-3 kali seminggu. Seks teratur, selain membuat tubuh kebal penyakit, juga dipercaya bisa mempererat ikatan batin pasangan suami istri.
Namun, tak bisa dipungkiri, terkadang gairah seseorang bisa redup. Jika Anda atau pasangan mengalami masalah ini, jangan didiamkan. Nyalakan kembali hasrat bercinta dengan mencari tahu pokok masalah yang membuat gairah ‘merosot’. (pet)
• VIVAnews
Hal-hal yang Dirindukan Wanita Menikah
VIVAnews – Setelah menikah, orang mengalami perubahan dalam kehidupan pribadi. Sering kali kita ingin bernostalgia dan rindu melakukan hal-hal tertentu yang pernah dilakukannya di saat masih berstatus lajang.
Wanita-wanita menikah sering melamunkan, kalau saja saya masih lajang, saya akan melakukan ini atau itu. Sebetulnya, apa saja sih yang dirindukan mereka?
- Belanja pakaian lucu untuk kencan
Saat jatuh cinta pada seorang ‘pangeran tampan’, wanita sangat mudah membenarkan diri sendiri berbelanja pakaian. Dalam pikirannya, pakaian bagus selama kencan adalah investasi dan akan membuka kesempatan berikutnya. Namun, setelah menikah, Anda mungkin harus berpikir berulang kali sebelum mengisi lemari pakaian dengan baju dan sepatu baru.
- Mengendalikan remote
Pasangan suami istri dengan keinginan berbeda bisa saling memperebutkan remote televisi saat menonton acara kesukaan masing-masing. Saat mengalah dan menyaksikan dia menonton acara politik, sepakbola dan film perang kesukaannya, Anda kemungkinan besar akan merindukan suasana di saat Anda menonton televisi sendiri tanpa berbagi dengan siapapun.
- Obrolan seks
Bersantai di hari libur sambil mengobrol cara menaklukkan pria menarik dan bercerita seputar masalah seks dengan teman-teman wanita adalah hal yang bisa menyegarkan suasana di akhir pekan. Walaupun kehidupan pernikahan yang Anda miliki saat ini terasa sempurna, Anda mungkin merindukan sensasi obrolan ‘para gadis’ lagi.
- Ketegangan menaklukan si dia
Bagi semua lajang, tak ada yang lebih menegangkan daripada petualangan menantang merebut hati pria yang tepat. Anda mungkin mengingat-ingat bagaimana rasanya bertemu seorang pria saat berjalan-jalan dengan sahabat. Atau bagaimana menjalani kencan buta dengan sesorang yang Anda kenal lewat chatting dan online.
- Kesenangan membangun hubungan baru
Ketika lajang, sosok suami hanya berupa khayalan, dan kita belum mengetahui pasti siapa yang akan menjadi pendamping hidup. Saat berhubungan dengan seseorang, semua telepon, pesan pendek, email dan kencan membuat kita mempelajari sesuatu yang baru mengenai dirinya. Ketika resmi menjadi suami, mungkin ia mulai jarang mengirim email atau SMS lucu yang membuat kita selalu mengingatnya saat bekerja.
Agar kehidupan berumah tangga tak hambar dan monoton, sesekali terapkan taktik lajang ini pada suami. Anda bisa menghidupkan kembali hubungan dengan pasangan dengan memutar kembali asmara di awal hubungan. (umi)
• VIVAnews
Sebelum Memotong Pendek Rambut Anda
KOMPAS.com — Cuaca yang semakin panas menggiring kita untuk memiliki potongan rambut yang simpel dan pendek. Selain adem, potongan pendek juga akan memberikan kita kesan segar dan muda. Tetapi sayangnya, tren model ini belum tentu cocok bagi setiap orang jika salah penerapannya. Wujudkan tampilan rambut pendek baru yang fresh dan cocok dengan wajah kita dengan 5 tip di bawah ini:
1. Sebelum memangkas habis rambut. Coba ingat-ingat apakah ada hari penting (pernikahan atau hari penting lainnya) yang harus kita hadiri dan memerlukan penataan rambut tertentu. Sebab, membutuhkan waktu antara 6 bulan sampai 1 tahun untuk menumbuhkan kembali rambut kita yang “bondol”.
2. Perhatikan juga bentuk wajah, tekstur rambut, dan perawatan rambut yang dibutuhkan nantinya. Memutuskan untuk memotong rambut menjadi pendek bisa memberikan perubahan yang besar terhadap penampilan kita. Jadi, pilihlah model yang cocok dengan fitur wajah dan jenis rambut kita. Jangan hanya terbuai dengan tren yang ada, sebab tidak semua model rambut pendek bisa diaplikasikan pada tiap orang.
3. Untuk meminimalisasi kesalahan potong, kita bisa melakukan prediksi terlebih dahulu. Kita bisa melakukan “uji coba” secara virtual, seperti yang terdapat pada www.thehairstyler.com. Di sini kita bisa melihat kira-kira bagaimana model rambut yang kita pilih dengan bentuk wajah kita.
4. Jangan biarkan stylist menerka-nerka apa yang ada di kepala kita. Supaya tidak salah, berikan foto atau gambar dari model rambut pendek yang inginkan kepada stylist kita. Kuncinya, kita harus mau mendengarkan saran yang diberikan stylist, dan beranilah untuk berkata “tidak” jika memang tidak sesuai dengan selera.
5. Jangan lupa untuk berkonsultasi kepada stylist mengenai produk perawatan dan tatanan rambut seperti apa saja yang bisa kita aplikasikan pada “rambut baru” kita. Apakah perlu menggunakan catokan lurus, hairdryer, atau gel tertentu.
(Prevention Indonesia/Astrid Anastasia)
Editor: din






