Panduan Menu Makanan Bayi s/d Balita
Powered by MaxBlogPress 

[X]


Langsing Dan Bugar Setelah Melahirkan

Setelah hamil dan melahirkan, berat badan seringkali menjadi momok bagi para wanita. Menjaga berat badan dengan mengontrol asupan, diikuti peningkatan aktivitas fisik, menjadi rumus dasar diet sehat. Prinsipnya, menyeimbangkan kalori masuk dan kalori yang keluar. Harvard Medical School merekomendasikan panduan diet sehat. Anda bisa mengaplikasikannya jika ingin tubuh bugar dan berat badan ideal.

Mengurangi tujuh asupan:
1. Garam
Kurangi asupan garam. Sebaiknya asupan garam kurang dari 2.300 miligram per hari. Asupan garam juga perlu dikurangi bagi mereka yang berusia di atas 51 tahun, dengan batasan 1.500 miligram per hari.

2. Kalori
Kurangi konsumsi kalori dari asam lemak jenuh. Hanya konsumsi asam lemak jenuh kurang dari 10 persen per hari. Sebaiknya perbanyak konsumsi asam lemak tak jenuh tunggal dan asam lemak tak jenuh ganda.

3. Lemak
Kurangi asupan lemak. Pastikan Anda mengasup lemak kurang dari 300 miligram per hari. Batasi konsumsi daging merah. Lemak tidak jenuh yang baik bagi kesehatan dapat diperoleh dari ikan (khususnya tuna dan salmon), alpukat, minyak zaitun, minyak jagung, kacang tanah, minyak biji aprikot, atau minyak bunga matahari.

4. Asam lemak trans
Pastikan asupan asam lemak trans rendah setiap hari. Kentang goreng, misalnya, mengandung asam lemak trans.

5. Gula
Kurangi asupan kalori dari konsumsi gula. Batasi asupan gula 3-5 sendok makan setiap hari.

6. Makanan manis
Batasi konsumsi makan-makanan dengan kandungan gula tinggi.

7. Alkohol
Batasi juga konsumsi alkohol. Batasi konsumsi alkohol sekali per hari untuk perempuan atau dua kali per hari untuk laki-laki.

Menambah delapan nutrisi:
1. Pastikan kalori tercukupi
Asup makanan secara bervariasi, namun pastikan kalori tak berlebihan.

2. Sayur dan buah
Konsumsilah buah dan sayuran secara bervariasi, jenis dan warna. Utamakan makan sayur warna hijau, merah, dan oranye, tambahkan juga buah serta kacang-kacangan.

3. Kacang-kacangan
Konsumsi setidaknya setengah porsi dari ragam biji-bijian. Masukkan asupan kacang-kacangan dalam menu harian.

4. Susu rendah lemak
Tingkatkan asupan susu rendah atau bebas lemak, serta produk olahan susu seperti yoghurt, keju, dan susu kedelai.

5. Makanan berprotein
Variasikan asupan makanan berprotein, seperti seafood, daging tanpa lemak (seperti bagian dada ayam dengan kandungan lemak rendah), unggas, telur, kacang polong, produk kedelai, dan kacang-kacangan.

6. Seafood
Pilih seafood daripada daging-dagingan dalam asupan harian.

7. Protein rendah lemak
Pilih makanan dengan kandungan protein rendah lemak dan rendah kalori.

8. Minyak sayur
Untuk memasak, pilih minyak sayur untuk mengurangi asupan lemak jenuh dalam makanan.


Bayi Prematur Lima Kali Berpeluang Derita Autisme

Bayi yang lahir lebih cepat dari waktu yang ditentukan dan bertubuh kecil memiliki peluang untuk menderita autisme lima kali lebih besar daripada bayi normal, demikian sebuah penelitian Amerika Serikat selama dua dasawarsa ini.

Bayi-bayi prematur telah lama dikenal memiliki sejumlah risiko masalah kesehatan dan penundaan kognitif, tetapi penelitian dalam jurnal Pediatrics itu adalah yang pertama kali mengaitkan hubungan antara berat badan di bayi di saat dilahirkan dengan autisme.

Peneliti AS mengamati 862 anak sejak lahir sampai usia dewasa muda. Mereka yang ada dalam penelitian itu lahir antara 1984 dan 1987 di tiga kawasan di New Jersey. Bayi-bayi itu memiliki berat antara 500 dan 2.000 gram (1,1-4,4 pon) pada saat lahir. Seiring waktu, lima persen dari bayi yang lahir dengan berat badan rendah didiagnosis menderita autisme, dibandingkan dengan prevalensi satu persen pada populasi umum.

“Pada saat kemampuan bertahan bayi-bayi dengan berat badan rendah membaik, gangguan terhadap mereka yang selamat memberikan tantangan baru di bidang kesehatan masyarakat,” kata penulis utama Jennifer Pinto-Martin, direktur Pusat Autisme, Cacat Tubuh dan Epidemiologi di Sekolah Ilmu Keperawatan University of Pennsylvania.

“Masalah kognitif pada anak-anak autisme boleh jadi menutupi penyakit autisme,” katanya. Ia mendesak orang tua untuk membawa anak mereka ke rumah sakit guna mendapatkan tes autisme apabila dicurigai mengalami gangguan spektrum autisme. “Intervensi dini meningkatkan hasil jangka panjang dan dapat membantu anak-anak baik di sekolah maupun di rumah.”

Autisme adalah istilah untuk berbagai kondisi mulai dari miskinnya interaksi sosial hingga ke perilaku repetitif dan sikap diam yang berlebihan. Kondisi itu langka, terutama menjangkiti anak-anak laki-laki, dan penyebabnya masih sengit diperdebatkan.

Sumber : http://www.republika.co.id


Makan Bersama Keluarga – Apa Masih Jamannya?

Seberapa penting sih makan bersama keluarga itu? Di jaman yang serba sibuk ini, memang susah sekali untuk meluangkan waktu untuk duduk dan makan bersama anggota keluarga. Dengan kesibukan masing-masing dan waktu pulang yang tidak bersamaan, pasti sulit sekali untuk mengatur waktu.

Ternyata, baru-baru ini ada penelitian yang dilakukan oleh University of Illinois di Urbana-Champaign, Amerika, yang menemukan hubungan yang erat antara makan malam keluarga dengan obesitas. Fakta yang ditemukan oleh tim ini setelah menganalisa 17 studi kasus mengenai obesitas, gangguan makan dan makan bersama keluarga adalah anak-anak yang orang tuanya terbiasa untuk makan malam bersama memiliki resiko lebih rendah untuk mengalami gangguan makan dan obesitas.

Hasil yang lebih terperinci dari penelitian ini adalah anak yang duduk makan bersama keluarga paling kurang dua atau tiga kali seminggu memiliki kemungkinan 12 persen lebih rendah untuk angka mengalami overweight. Juga kemungkinan 20 persen lebih rendah untuk angka anak mengalami gangguan makan. Kebiasaan untuk duduk makan malam bersama keluarga juga akan mengurangi kemungkinan anak makan junk food sebanyak 20 persen dan 24 persen peningkatan dalam jumlah anak yang mengkonsumsi makanan sehat.

Bukan hanya itu, kebiasaan makan bersama juga membantu kesehatan mental anak-anak remaja. Kebiasaan ini membantu meningkatkan kualitas komunikasi antara remaja dan orang tua menjadi lebih baik, yang mana sangat sulit untuk didapatkan saat ini. Makan bersama juga akan membantu anak-anak dalam pertumbuhan untuk mengembangkan kebiasaan makan yang lebih sehat sehingga anak-anak kita akan terhindar dari penyakit.

Jadi, setelah tahu manfaatnya, sekarang saatnya kita mempraktekkannya.


Pil Kesuburan Agar Cepat Hamil

VIVAnews - Bagi mereka yang memiliki masalah reproduksi, banyak cara bisa diupayakan untuk mendapatkan keturunan. Di tengah popularitas program bayi tabung atau IVF treatment di tanah air, sejumlah dokter asal Israel mengklaim berhasil meracik obat kesuburan bagi wanita agar cepat hamil.

Seperti dikutip dari laman Idiva, obat berupa pil hormon antipenuaan itu diklaim bisa meningkatkan kemungkinan hamil pada wanita yang mengonsumsinya hingga 300 perBsen.

Temuan itu berdasar penelitian dan uji klinis yang dilakukan di Tel Aviv. Para dokter yang terlibat menguji penggunaan suplemen DHEA dalam membantu proses pembuahan pada wanita. Suplemen itu biasa dimanfaatkan untuk melawan penuaan dengan meningkatkan DHEA alami dalam tubuh.

DHEA pada dasarnya adalah hormon steroid yang dibuat tubuh manusia. DHEA dapat diubah bentuknya dalam tubuh menjadi testosteron, estrogen, atau steroid lain. Tingkat DHEA makin menurun dengan usia makin tua, dan mencapai puncak pada usia 20-30an tahun.

“Kami percaya bahwa pengurangan hormon DHEA alami seiring penuaan membuat sejumlah wanita yang mengalami gangguan reproduksi juga sulit menjalani program bayi tabung,” kata Dr Adrian Shulman, seorang profesor di Universitas Tel Aviv yang juga menjabat sebagai direktur Unit IVF di Meir Medical Center.

“Hasil yang dicapai telah melebihi impian kita yang paling liar sekalipun. Kami tidak percaya ada peningkatan peluang sebesar 300 persen bagi wanita untuk hamil dengan konsumsi suplemen itu,” Shulman menambahkan. (pet)

Baca juga: Nenek 70 Tahun Lahirkan Bayi Kembar & Mari Menghitung Masa Subur

• VIVAnews


Waspadai Bunyi Telinga Akibat Ponsel

TEMPO Interaktif, Sudah berapa lama Anda menggunakan telepon seluler? Berapa lama Anda menelepon dengan menggunakan ponsel tiap hari? Semakin lama menggunakan ponsel dan makin sering, makin tinggi pula Anda berisiko terkena tinnitus–muncul bunyi tertentu dari dalam telinga Anda.

Tinnitus dalam bahasa Latin berarti berdering. Gangguan itu bisa datang dan pergi atau hadir sepanjang waktu. Pada beberapa pengidap tinnitus, ada yang mendengar suara bernada tinggi, dengungan, desis, siulan, detik, klik, dan menderu seperti angin atau gelombang. Suara-suara itu dalam telinga tentu sangat menyiksa.

Menurut penelitian Hans-Peter Hutter, MD, dan timnya dari The Medical University of Vienna di Austria, pengguna ponsel yang lebih dari empat tahun ada kemungkinan lebih besar terserang tinnitus ketimbang orang yang menggunakan ponsel kurang dari empat tahun.

Dalam penelitian yang dipublikasikan melalui jurnal Occupational and Environmental Medicine itu, tim peneliti merekrut 100 orang dengan tinnitus dan 100 orang tanpa tinnitus. Keduanya lalu diperbandingkan dalam hal penggunaan ponsel.

Hasilnya, risiko terserang tinnitus 70 persen lebih besar daripada mereka yang menggunakan ponsel sehari-hari rata-rata 10 menit. “Maka kami merekomendasikan agar berhati-hati dalam menggunakan ponsel,” kata Hutter seperti dikutip laman www.msn.com.

Selain itu, mereka menemukan bahwa menggunakan telepon secara kumulatif mencapai lebih dari 160 jam bisa meningkatkan risiko terkena tinnitus hingga 60 persen.

Hutter mengatakan ada mekanisme biologis di mana ponsel dapat menimbulkan masalah telinga. Di dalam telinga ada organ bernama koklea, berbentuk spiral, yang berfungsi menerjemahkan suara menjadi impuls listrik agar dapat dipahami otak. Nah, ketika memakai ponsel, impuls listrik yang dipancarkan justru diserap ponsel.

Selain itu, kata Hutter, menelepon dengan menggunakan ponsel sambil berjalan bisa mempengaruhi aliran darah di sisi kepala.

Namun penelitian ini dinilai belum tuntas dan mengulang. Menurut Veronica Kennedy, konsultan dan penasihat British Tinnitus Association, temuan hubungan antara tinnitus dan medan elektromagnetik itu ide lawas.

“Faktor penyebab tinnitus kompleks, tapi belum dibahas dalam penelitian ini,” kata dia. “Hubungan antara penggunaan ponsel dan tinnitus tetap belum terbukti. Penelitian ini masih harus dilanjutkan,” ujar dia.

Tinnitus terbagi menjadi dua jenis, yakni tinnitus obyektif dan tinnitus subyektif. Pada tinnitus obyektif, dokter yang memeriksa Anda juga bisa mendengar suara yang sama. Tinnitus jenis ini jarang terjadi. Biasanya tinnitus jenis ini disebabkan oleh infeksi telinga bagian dalam. Pada tinnitus subyektif, hanya pengidap yang mendengar suara. Ini jenis tinnitus yang umum terjadi.

Tinnitus bukanlah penyakit, melainkan gejala yang dihasilkan dari berbagai penyebab yang mendasari. Penyebab umum tinnitus meliputi infeksi telinga, masuknya benda asing atau lilin di telinga, alergi hidung yang mendorong cairan lilin telinga, dan cedera.

Tinnitus juga disebabkan oleh efek samping beberapa obat oral, seperti aspirin, dan mungkin juga hasil dari aktivitas hormon serotonin. Pengobatan biasanya dilakukan dengan menjalani terapi medan elektromagnetik, terapi suara, atau terapi tradisional. | nur rochmi | berbagai sumber

Menggunakan Ponsel Secara Sehat

- Batasilah intensitas menelepon. Jika menelepon, lebih baik durasinya pendek. Menelepon selama 2 menit ditemukan untuk mengubah aktivitas elektrik alami otak untuk sampai 1 jam kemudian. Untuk anak-anak, gunakan telepon seluler dalam kondisi darurat saja. Radiasi dapat menembus jauh lebih dalam karena tengkorak mereka masih berkembang.
- Pakailah headset airtube. Headset kabel biasa justru menarik medan magnet di sekitarnya. Jika menggunakan ponsel tanpa headset, tunggu panggilan tersambung sebelum meletakkan ponsel di telinga.
- Jangan menaruh ponsel di saku baju atau ikat pinggang. Tubuh bagian bawah memiliki konduktivitas yang baik dan menyerap radiasi lebih cepat daripada kepala.
- Jangan gunakan ponsel di ruang tertutup penuh logam, seperti mobil atau lift, ketika perangkat mungkin menggunakan daya lebih untuk memancarkan radiasi.
- Jangan membuat panggilan ketika kekuatan sinyal cuma satu bar atau kurang, yang berarti ponsel harus bekerja lebih keras untuk membuat sambungan.
- Pakailah ponsel dengan level specific absorption rate (SAR) rendah. Level SAR adalah cara untuk mengukur jumlah frekuensi radio (RF) energi yang diserap oleh tubuh. Makin rendah level SAR, makin baik. Kebanyakan telepon memiliki tingkat SAR yang tercantum dalam buku manualnya.
- Konsumsilah suplemen gizi, khususnya antioksidan yang mengandung melatonin, zinc, ginkobiloba, atau ekstrak bilberry. Sebab, radiasi adalah bagian dari oksidasi.

| nur rochmi | berbagai sumber


Maskapai India Beri Bonus untuk Siswa  

TEMPO Interaktif, New Delhi -  Maskapai India, Jet Airways, memberikan bonus menarik kepada siswa India yang diterima di lembaga pendidikan luar negeri. Program itu disebut Edujetter. Pejabat Kepala Komersial maskapai, Sudheer Raghavan, mengatakan tujuan Edujetter sebagai dukungan maskapai terhadap kualitas generasi muda. “India masa depan terletak di tangan orang-orang muda yang cerdas,” katanya.

Edujetter memberikan kelonggaran untuk kelebihan bagasi antara 30 hingga 90 kilogram. “Tergantung tujuan,” kata Raghavan. Selain diskon untuk penukaran mata uang asing, maskapai juga memberikan asuransi kesehatan ICICI Lombard, dan gratis bicara dari Clay Telecom tanpa aktivasi, deaktivasi atau biaya pengiriman.

Maskapai juga memberikan diskon 35 persen untuk pengiriman barang luar negeri, kartu perjalanan ICICI, serta diskon 20 persen untuk pembelian koper Samsonite beserta aksesorisnya. Tiket gratis, kata Raghavan, bisa diperolah bagi siswa yang mendaftar pada program JetPrivilage setelah penerbangan pertama.

Program ini hanya diberikan kepada siswa yang yang melakukan penerbangan ke negara Persemakmuran Inggris, Australia, Eropa, Singapura, Malaysia, Hong Kong, Amerika Serikat, dan Kanada. Edujetter berlaku mulai 26 Juli tahun hingga 31 Maret tahu depan.

TRAVEL DAILY NEWS| AKBAR TRI KURNIAWAN


Obesitas Dorong Risiko Kematian di Asia-Pasifik

TEMPO Interaktif, OSLO -  Risiko kematian akibat kegemukan dan kanker di kawasan Asia-Pasifik meningkat secara signifikan. Menurut sebuah studi baru dari Universitas Oslo di Norwegia, kematian karena kanker pada orang kelebihan berat badan lebih besar dibanding mereka yang memiliki berat badan normal.

Para peneliti menganalisis data dari lebih dari 424.500 orang dewasa di Asia, Australia dan Selandia Baru. Secara keseluruhan, mereka yang kelebihan berat badan, 21 persen meninggal karena kanker dibanding orang dengan berat badan normal. ”Angka itu belum termasuk penyebab penyakit kematian paru-paru dan saluran pencernaan atas,” tulis Christine Parr, dari Universitas Oslo di Norwegia.

Penelitian ini juga menemukan, dibandingkan orang dengan berat badan normal, orang obesitas lebih mungkin mati karena masalah usus besar, rektum, ovarium, serviks dan kanker prostat dan leukemia. Wanita obesitas berusia lebih dari 60 tahun juga lebih mungkin mati karena kanker payudara dibandingkan wanita dengan berat badan normal.

Meski berbeda gaya hidup dan pola makan dibandingkan negara negara Barat, penelitian ini tak menemukan risiko yang lebih tinggi untuk kematian kanker pada indeks massa tubuh yang sama, sebagaimana telah disarankan untuk diabetes dan penyakit kardiovaskuler.

Christine menyerukan untuk mencegah peningkatan proporsi orang yang kelebihan berat badan dan obesitas dalam populasi Asia untuk mengurangi beban kanker yang dikhawatirkan berkembang jika epidemi obesitas terus.

nur rochmi | healthday

Berita tentang Obesitas Lainnya:

Atasi Obesitas, Iklan Makanan Cepat Saji Dilarang

Obesitas Membatasi Kemampuan Melawan Flu
Obesitas membatasi kemampuan tubuh untuk mengembangkan kekebalan terhadap virus influenza, khususnya infeksi sekunder, dengan menghambat kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk ‘mengingat’ bagaimana ia berjuang dari serangan penyakit serupa sebelumnya….[SELENGKAPNYA]

Obesitas Faktor Paling Berpengaruh pada Kasus Kematian di Inggris

Insulin Mengurangi Peradangan Akibat Obesitas


Apakah Uang Membuat Hidup Anda Bahagia?

VIVAnews - Uang memang menawarkan berbagai kemudahan dan keamanan bagi pemiliknya. Tetapi, uang tak mampu membeli kebahagiaan dan kegembiraan seseorang.
 
Jajak pendapat terhadap 100 ribu orang dari seluruh dunia membuktikan, ada hubungan antara rasa aman dengan jumlah pendapatan. Namun, jumlah uang yang dimiliki tidak berpengaruh terhadap kebahagiaan seseorang.

Dari survei diketahui, 96 persen orang mengakui bahwa kepuasan hidup bertambah seiring meningkatnya pendapatan pribadi maupun negara bersangkutan. Meski begitu, ketimbang uang, perasaan bahagia lebih banyak dipengaruhi faktor lain seperti merasa dihormati, kemandirian, keberadaan teman serta memiliki pekerjaan yang memuaskan.

Seperti dikutip dari Telegraph, Profesor Ed Diener, psikolog di Universitas Illinois menyatakan kebahagiaan tergantung bagaimana mendefinisikannya. “Jika Anda melihat kebahagiaan hidup dan menilai hidup secara keseluruhan, hubungan antara pendapatan dan kebahagiaan sangat kecil.”

Studi yang dimuat dalam Journal of Personality and Social Psychology melibatkan responden dari 132 negara dari tahun 2005 hingga 2006. Para peneliti menyusun daftar yang membahagiakan, termasuk pendapatan dan standar hidup, kemudahan serta kebutuhan psikologis.

Ini merupakan studi “pertama” di dunia dengan sampel penduduk dunia yang membedakan antara kepuasan hidup, keyakinan filosofis bahwa hidup berjalan dengan baik serta pengalaman dari perasaan positif atau negatif di keseharian.

“Meskipun benar semakin kaya seseorang akan menjadikan orang tersebut  makin puas dengan kehidupannya, tapi tidak berkaitan erat seberapa bahagianya orang tersebut menikmati hidup.” (umi)

• VIVAnews


Organ Tubuh Ternyata Tak Setua Umur

VIVAnews - Menjadi tua itu pasti. Penandanya adalah usia. Namun tahukah Anda bahwa usia organ tubuh kita tidak sama dengan usia berdasarkan tahun kelahiran. Organ tubuh kita ternyata tidak setua usia berdasar tahun kelahiran.

Organ tubuh memiliki kemampuan luarbiasa untuk segera memulihkan diri. Simak beberapa organ vital beserta kemampuannya meregenerasi diri berikut ini, seperti dikutip dari laman Daily Mail. 

1. Hati: 5 bulan
Regenerasi hati tergolong cepat berkat kapasitas sel darah yang diterimanya. Sel-sel hati secara teratur memperbaiki diri dalam 150 hari, tak terkecuali pada pecandu alkohol. Bahkan, jika 70 persen hati seseorang dipotong, organ ini memiliki kemampuan kembali ke ukuran normal hampir 90 persen, hanya dalam dua bulan. Namun, hati penderita kasus sirosis tidak dapat meregenerasi.

2. Otak: Tidak regenerasi
Hanya beberapa sel dalam otak yang bisa meregenarasi seumur hidup manusia. Saat lahir, manusia memiliki 100 miliar sel otak yang sebagian besar tidak akan memulihkan diri.

3. Jantung: 20 tahun
Studi yang dilakukan oleh New York Medical College menunjukkan bahwa ada sel-sel induk jantung yang yang membantu regenerasi hati terus-menerus. Sel-sel ini berganti tiga hingga empat kali selama seumur hidup.

4. Paru paru: 2-3 minggu
Sel-sel di paru-paru memperbarui diri dengan interval berbeda. Permukaan sel paru diperbarui tiap 2-3 minggu. Dan, bagian dalam paru-paru diperbaiki dalam waktu satu tahun.

5. Lidah: 10 hari
Lidah dilengkapi dengan sekitar 9.000 sel perasa dan diperbarui tiap 10 hari atau maksimal dua minggu. Namun, sel lidah bisa rusak karena infeksi atau panas dan asap rokok. Sehingga,  pertumbuhan sel tidak sensitif.

6. Mata: Tidak beregenerasi
Mata adalah salah satu bagian tubuh yang tidak banyak berubah sepanjang hidup. Satu-satunya komponen yang terus-menerus regenerasi adalah kornea. Dalam kasus kecelakaan, kornea dapat sembuh dalam 24 jam.

7. Kulit: 2-4 minggu
Sel-sel pada permukaan kulit diperbarui setiap 2-4 minggu. Gunanya untuk melindungi tubuh dari rangsangan eksternal, seperti cedera dan polusi.

8. Tulang: 10 tahun
Kerangka manusia terus memperbarui diri dengan siklus selama 10 tahun.

9. Usus: 2-3 hari
Karena bagian ini paling sering terpapar bahan kimia, seperti asam korosif, usus memperbarui diri selama 3-5 hari.

10. Sel Darah Merah: 10 bulan
Sebagai sistem transportasi vital tubuh, sel darah merah memperbaharui diri setiap empat bulan. Sel-sel tua dihancurkan di limpa. Cedera atau menstruasi menyebabkan jumlah sel darah berkurang sehingga tubuh terus memproduksi sel darah merah.

• VIVAnews


Terlalu Banyak Nonton Televisi Meningkatkan Risiko Kematian  

TEMPO Interaktif, Cambridge – Selama hampir satu dasawarsa, peneliti dari Bagian Epidemiologi Medical Research Council (MRC), Inggris, mempelajari 13.197 pria dan wanita setengah baya sehat. Mereka menemukan bahwa menonton televisi satu jam sehari meningkatkan risiko kematian akibat penyakit jantung. Bahkan setelah disesuaikan dengan faktor risiko lain seperti kurang olahraga, merokok, obesitas, dan pola makan yang buruk.

Peserta studi dengan riwayat penyakit terkait seperti stroke dan serangan jantung dikeluarkan dari sampel riset ini. Para peneliti mengukur waktu menonton televisi dari kuesioner yang diisi oleh peserta.

Riset ini menyebutkan 373 dari 13.197 peserta (1 dari 35) meninggal karena penyakit jantung. Dengan memperhitungkan semua variabel, jumlah waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi adalah penanda signifikan kemungkinan mereka mati akibat penyakit jantung.

Berkaitan dengan tayangan Piala Dunia di televisi, yang menguasai ruang keluarga, penulis studi ini, Dr Katrien Wijndaele dari MRC, memperingatkan: “Tubuh kita tidak dirancang untuk duduk dalam waktu yang lama dan kita harus menyadari bahwa, seperti yang kita lakukan saat berjam-jam menonton Piala Dunia di TV, risiko penyakit jantung mungkin meningkat. Hal ini mungkin tampak jelas bahwa menonton TV terkait dengan penyakit jantung.

“Kita membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk melihat apakah kegiatan duduk lainnya, seperti duduk di belakang komputer atau di mobil, membuahkan hasil yang sama,” kata Katrien.

Dr Ulf Ekelund, rekan Katrien dari Medical Research Council, memberikan ilustrasi hitungan sebagai berikut. Jika seseorang memiliki risiko normal mati akibat penyakit jantung sebesar 10 persen (dengan mempertimbangkan variabel lain seperti gaya hidup, jenis kelamin, dan usia), lalu menonton TV satu jam per hari, maka risiko ini meningkat menjadi 10,7 persen. Memang kecil tapi signifikan. Kalau menonton televisi empat jam per hari, risiko ini akan meningkat menjadi 13 persen.

Menurut peneliti, risiko itu bisa dikurangi dengan cara melakukan aktivitas fisik, seperti olahraga, sedikitnya 30 menit per hari.

Temuan ini diterbitkan International Journal of Epidemiology 24 Juni 2010

Medical News Today/Ngarto Februana


Next Page »

49 queries