Panduan Menu Makanan Bayi s/d Balita
Powered by MaxBlogPress 

[X]


Mengukur Sehatnya Hubungan dari Obrolan

KOMPAS.com – Merasa hubungan kita dengan kekasih hati tak berjalan ke mana-mana? Penasaran apa yang mengganjal, padahal segala upaya untuk meningkatkan kualitas hubungan sudah dilakukan? Coba telisik dengan topik apa saja yang kita pilih sebagai bahan pembicaraan, karena ternyata ini bisa mendeskripsikan ke mana hubungan kita akan berjalan.

Sebuah penelitian yang dipublikasi di Psychological Science mengungkapkan, sebenarnya sebagian besar dari kita justru merasa nyaman ketika berbicara mengenai topik-topik ringan. Ini disimpulkan setelah mengamati 79 orang perempuan yang berusia 20-25 tahun. Mereka diamati ketika berkumpul bersama pasangannya, kemudian dilihat apa saja yang dibicarakan selama pertemuan berlangsung.

Hasilnya 10 persen dari mereka merasa menikmati perbincangan ketika isu yang dibahas adalah hal-hal ringan. Ketika mulai membicarakan isu-isu yang berat, yang merasa tidak puas mencapai 28,3 persen. Alhasil, mereka tidak menemukan chemistry yang pas untuk membina hubungan.

Semakin ingin tahu perbincangan apa saja yang bisa membuat kita nyaman menghabiskan waktu bersama pasangan? Coba telisik trik mudah berikut ini:

1. Cerita kejadian memalukan. Setiap orang pasti pernah mengalami hal yang tak ingin dialami dua kali, tapi jika kita mengingatnya selalu saja meninggalkan senyum di wajah. Penelitian yang melibatkan 79 orang ini juga menyimpulkan, ketika kita berani berbagi cerita tak terlupakan pada pasangan, maka kita telah membuka diri. Ini adalah sinyal bagi pasangan untuk menerima keberadaan kita. Jangan takut, biasanya trik ini akan membuat pasangan bercerita mengenai hal yang sama. Dan bisa jadi lebih menggelikan dari yang kita alami.

2. Cerita masa kecil. Coba pancing pasangan kita untuk bercerita permainan apa yang disukainya saat itu. Apakah dia termasuk anak yang suka dipanggil kepala sekolah, atau justru anak yang jauh dari masalah? Biasanya ini akan membuat dia bercerita banyak, plus mungkin kita ikut terpancing. Karena, akui saja, sebenarnya kebanyakan dari kita suka kembali ke memori menggemaskan ini.

3. Cerita film atau acara televisi kesukaanEntertainment akan selalu menarik untuk dibahas. Mulai dari jalan cerita film, pemeran utamanya, hingga adegan atau episode mana yang mengesankan. Selain isunya yang ringan, trik ini juga akan membantu kita melihat bagaimana pasangan memberikan penilaian terhadap satu hal. Inilah cara menyenangkan untuk menyingkap salah satu karakter pasangan.

4. Cerita mengenai keluarga. Ketika kita membebaskan pasangan bercerita mengenai keluarganya, kita bisa mengetahui apa yang menjadi kebiasaan dari keluarganya. Ini akan membuat kita mengerti bagaimana proses pembentukan karakter yang dilaluinya.

Jika perbincangan-perbincangan ringan ini menarik perhatian dan membuatnya membuka diri terhadap kita, itu tandanya kita bisa mengajak pasangan untuk naik ke level selanjutnya dari sebuah hubungan. Selamat mencoba.

(Siagian Priska/Prevention Indonesia)

Editor: din


Jadwal Tidur Berubah-ubah Bisa Meningkatkan Risiko Bunuh Diri

TEMPO Interaktif, San Antonio – Piala Dunia membuat banyak orang mengubah jadwal tidurnya karena tak ingin ketinggalan menyaksikan sepak bola. Jangan remahkan perubahan jadwal tidur Anda karena bisa mengganggu kesehatan. Menurut penelitian, jadwal tidur yang sangat berubah-ubah diperkirakan meningkatkan risiko bunuh diri karena depresi pada orang muda. Abstrak penelitian ini–seperti dikutip ScienceDaily–yang dipresentasikan Selasa pekan lalu, di San Antonio, Texas, pada pertemuan tahunan ke-24  Associated Professional Sleep Societies LLC.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebuah sampel mahasiswa, yang melakukan upaya bunuh diri, menunda waktu tidur mereka pada pukul 02.08, total waktu tidur terbatas 6,3 jam, dan memiliki jadwal tidur yang sangat tidak teratur. Ketidakteraturan tidur ini hanya yang berhubungan dengan ketidakseimbangan suasana hati yang pada gilirannya diperkirakan meningkatkan gejala bunuh diri.

“Ini merupakan penelitian pertama yang mengevaluasi hubungan yang unik antara tidur dan risiko bunuh diri, dengan menggunakan penilaian obyektif mengenai tidur dan desain penelitian prospektif,” kata Rebecca Bernert, PhD, dari Jurusan Psikiatri dan Ilmu Perilaku di Universitas Stanford.

“Kami menemukan bahwa ketidakteraturan tidur yang sangat tinggi diperkirakan meningkatkan gejala bunuh diri,” ujarnya.

Bernert dan rekannya mempelajari 49 mahasiswa yang melakukan percobaan bunuh diri, berusia antara 19 dan 23 tahun, yang 71 persen adalah perempuan.

Menurut Bernert, mengidentifikasi ketidakteraturan tidur sebagai faktor risiko yang berdiri sendiri bagi ideation (mengkonsepkan gagasan atau menciptakan ide baru) bunuh diri bisa memiliki dampak klinis yang penting.

ScienceDaily/Ngarto Februana

Artikel Lain tentang Gangguan Tidur:

1. Tidur Terlalu Lama Bisa Meningkatkan Risiko Sindrom Metabolik
Durasi tidur yang panjang berkaitan dengan prevalensi tinggi terjadinya sindrom metabolik pada orang dewasa…

2. Kurang Tidur Bikin Sakit

3. Tidur Nyenyak Bikin Pria Perkasa
Menurut peneliti Universitas Montreal ini, kualitas tidur pria mulai berkurang saat usia 40 tahun….

4. Tidur Teratur Bisa Bikin Anak Terampil Membaca, Berbahasa, dan Matematika
Hasil penelitian menunjukkan, anak-anak yang orangtuanya memiliki aturan tentang jam berapa anak harus tidur, memiliki skor yang tinggi untuk untuk bahasa reseptif dan ekspresif, kesadaran fonologi, literasi, serta kemampuan awal matematika.

5. Gangguan Seks Saat Tidur
Sexsomnia (gangguan tidur yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan seksual saat mereka tidur) lebih sering terjadi pada pria daripada wanita, dan dilaporkan oleh hampir delapan persen pasien di sebuah klinik gangguan tidur…

6. Satu Malam Saja Kurang Tidur Bisa Memicu Resistensi Insulin
Temuan ini menunjukkan tidur malam yang singkat memiliki efek besar pada pengaturan metabolik…..


Tidur Teratur Bisa Bikin Anak Terampil Membaca, Berbahasa, dan Matematika

TEMPO Interaktif, San Antonio  – Beruntunglah anak-anak yang punya orang tua yang konsisten mengatur jadwal tidur. Soalnya, menurut penelitian, anak-anak usia prasekolah yang punya kebiasaan tidur teratur, lebih terampil dalam berbahasa, membaca, dan matematika. Abstrak penelitian ini disajikan pada 7 Juni 2010, di San Antonio, Texas, pada SLEEP 2010, pertemuan tahunan ke-24 Associated Professional Sleep Societies LLC.

Hasil penelitian menunjukkan, anak-anak yang orangtuanya memiliki aturan tentang jam berapa anak harus tidur, memiliki skor yang tinggi untuk untuk bahasa reseptif dan ekspresif, kesadaran fonologi, literasi, serta kemampuan awal matematika.

Penelitian ini juga menyediakan banyak informasi tentang pola tidur yang khas pada anak-anak 4 tahun. Menurut American Academy of Sleep Medicine, anak-anak prasekolah harus mendapatkan minimal 11 jam tidur setiap malam. Sebaliknya, anak-anak yang tidurnya kurang dari yang disarankan tidur, peneliti menemukan, memiliki nilai yang lebih rendah pada kesadaran fonologi, keaksaraan dan keterampilan matematika awal. Data menunjukkan bahwa banyak anak yang tidak mendapatkan waktu tidur yang disarankan,  mungkin memiliki konsekuensi negatif bagi perkembangan dan prestasi sekolah.

Pemimpin penelitian ini, Erika Gaylor, PhD, mengatakan, “Dokter spesialis anak dapat dengan mudah mempromosikan waktu tidur yang teratur, yang pada gilirannya menyebabkan tidur yang sehat.” Gaylor merekomendasikan para orang tua agar dapat membantu anak prasekolah tidur cukup dengan menetapkan waktu yang tepat untuk anak mereka serta berinteraksi dengan anak sebelum tidur dengan bercerita atau membacakan buku.

Penelitian sebelumnya, yang dimuat di Sleep Medicine edisi Agustus 2009, juga menekankan pentingnya waktu tidur lebih awal dan rutin yang konsisten bagi anak-anak. Anak-anak yang tidur setelah pukul 09:00 membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur dan memiliki total waktu tidur yang lebih singkat.

ScienceDaily/Ngarto Februana


Tidur Terlalu Lama Bisa Meningkatkan Risiko Sindrom Metabolik  

TEMPO Interaktif, San Antonio – Durasi tidur yang panjang berkaitan dengan prevalensi tinggi terjadinya sindrom metabolik pada orang dewasa, demikian menurut sebuah abstrak penelitian yang dikutip ScienceDaily 8 Juni 2010. Kesimpulan penelitian tersebut telah  disajikan pada 8 Juni 2010, di San Antonio, Texas, pada pertemuan tahunan ke-24 Associated Professional Sleep Societies LLC.

Sindrom metabolik adalah sebuah kombinasi gangguan kesehatan yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler, diabetes, dan stroke. Seseorang dengan setidaknya tiga dari lima faktor risiko dianggap telah mengalami sindrom metabolik: kelebihan lemak di perut, trigliserida tinggi (lemak dalam darah), rendahnya kolesterol HDL (kolesterol “baik”), tekanan darah tinggi, dan gula darah tinggi.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa para peserta penelitian yang melaporkan punya kebiasaan tidur sehari-hari selama delapan jam atau lebih termasuk tidur siang memiliki kemungkinan 15 persen lebih tinggi mengalami sindrom metabolik. Hubungan ini tetap tidak berubah setelah dilakukan penyesuaian dengan faktor-faktor seperti demografi, gaya hidup, dan kebiasaan tidur.

“Aspek yang paling mengejutkan dari studi kami adalah bahwa tidur lama berkaitan dengan sindrom metabolik,” kata penulis penelitian ini, Teresa Arora, ilmuwan di Sekolah Kedokteran Universitas Birmingham, Inggris. Arora menegaskan bahwa durasi tidur yang panjang menyebabkan peningkatan risiko sindrom metabolik akan memiliki implikasi penting bagi kesehatan masyarakat.

Penelitian ini melibatkan 29.310 orang di Guangzhou, Cina, berusia 50 tahun atau lebih.

ScienceDaily/Ngarto Februana


Pria Pengidap Disfungsi Ereksi Berisiko Terkena Pengapuran Arteri Koroner  

TEMPO Interaktif, San Francisco – Pria pengidap disfungsi ereksi memiliki risiko yang signifikan terhadap peningkatan skor pengapuran arteri koroner yang tinggi (CACS), yang menjadi pertanda terjadinya penyakit jantung kardiovaskuler di masa depan. Demikian menurut peneliti di Sekolah Kedokteran Mount Sinai, New York, yang dipresentasikan baru-baru ini di pertemuan Asosiasi Urologi Amerika (AUA) di San Francisco, Amerika Serikat.

Penelitian ini mengevaluasi 1.119 orang yang terdaftar di Program Penyembuhan dan Pemantauan Medis World Trade Center, yang mana 327 orang mengalami disfungsi ereksi. Usia rata-rata peserta penelitian ini adalah 50 tahun. Semua pasien dievaluasi dengan CT scan jantung untuk menentukan skor pengapuran arteri koroner. Peneliti mengetahui bahwa setelah disesuaikan dengan komorbiditas (gangguan lain yang ikut serta dan muncul secara bersamaan), pria dengan disfungsi ereksi mempunyai kemungkinan 54 persen lebih besar terkena pangapuran arteri koroner dibandingkan laki-laki tanpa disfungsi ereksi.

“Data kami lebih lanjut memperkuat konsep bahwa disfungsi ereksi merupakan indikator terjadinya penyakit jantung sekarang dan mendatang,” kata Natan Bar-Chama, MD, profesor urologi di Sekolah Kedokteran Mount Sinai. “Data ini menunjukkan kaitan yang tak terbantahkan antara disfungsi ereksi dan aterosklerosis.”

ScienceDaily/Ngarto Februana


Olahraga Obat yang Ampuh untuk Mencegah dan Mengurangi Perasaan Marah  

TEMPO Interaktif, Baltimore – Banyak penelitian telah menguji efek positif dari olahraga yang dapat memperbaiki suasana hati. Namun, baru sedikit penelitian yang menyelidiki efek olahraga terhadap perasaan marah. Penelitian terakhir yang dikemukakan dalam Pertemuan Tahunan American College of Sports Medicine ke-57 di Baltimore, Amerika Serikat, telah menemukan bahwa olahraga mungkin dapat memberikan efek yang menguntungkan terhadap rasa marah.

Tim peneliti itu menguji emosi dan rasa marah dari 16 orang di perguruan tinggi yang ada dalam keadaan “memiliki pembawaan pemarah” yang tinggi. Orang yang diteliti itu memperlihatkan pengaruh kemarahan sebelum dan sesudah olahraga sepeda selama 30 menit, yang dapat meningkatkan kadar oksigen maksimal menjadi 65 persen. Peneliti mengukur aktivitas gerakan otak, kemungkinan positif yang berhubungan dengan kejadian, dan catatan sendiri tentang kemarahan selama gambar diambil.

“Penemuan terbaru dari studi ini adalah bahwa olahraga dapat melawan rasa marah, hampir sama seperti fungsi aspirin untuk mencegah serangan jantung,” kata psikolog stres, Nathaniel Thom, yang memimpin penelitian ini. “Dengan kata lain, olahraga benar-benar merupakan obat. Namun, olahraga tidak mengubah respons EEG dalam munculnya emosi marah dalam penelitian kami.”

Dengan penelitian awal ini, Thom dan anggota timnya menyarankan adanya penelitian lebih lanjut untuk menyelidiki mekanisme yang mendasari efek olahraga dalam mengurangi rasa marah dan mempertimbangkan adanya metode induksi rasa marah alternatif.

Peneliti ini juga mengusulkan adanya pengujian efek dari olahraga untuk jangka panjang terhadap rasa marah. Olahraga yang telah menjadi gaya hidup mungkin akan dapat memberikan hasil yang berbeda.

American College of Sports Medicine/Medical News Today/Fanny Febiana


Matador, Kematian di Sore Hari

TEMPO Interaktif, Jakarta – Perjalanan, bagaimanapun bentuknya, adalah pertemuan, dialog dengan sesuatu yang lain, bukan hanya dengan dunia luar, juga dengan diri sendiri. Sayangnya, ini tidak datang tiap saat dan sering kali terjadi pada momen ketika kita bersentuhan dengan sesuatu yang tidak biasa. Seperti yang saya alami ketika duduk di kerumunan penonton pertunjukan adu banteng pada awal Maret 2010 lalu di Plaza de Toros de Castellon, Spanyol.

Saya beruntung menyaksikan pertunjukan itu bersama Naries, istri, karena ia mendapat kesempatan datang dari Indonesia menjenguk saya di Castellon, sekitar 423 kilometer dari Madrid. Dosen saya di Universitat Jaume I, Professor Ricardo Queros, mengatakan menonton adu banteng butuh pemahaman kultural dan ketahanan perut. Untunglah, di rumah, kami sudah membaca banyak literatur mengenai tradisi tersebut, dan makan kenyang.

Adu banteng, atau bullfighting dalam bahasa Inggris, tauromachy dalam bahasa Yunani, atau corrida te toros bahasa Spanyolnya, merupakan sebuah pertunjukan tradisional yang unik dan bisa dikatakan sangat melekat pada bangsa Spanyol. Sesungguhnya tidak hanya dimainkan di Spanyol, tapi juga di sebagian wilayah Portugal, Prancis selatan, Meksiko, dan sebagian negara Amerika Selatan.

Namun, bagi para Spaniard, pertunjukan ini menjadi kebanggaan identitas, membedakan mereka dengan bangsa lain di Eropa. Pertunjukan ini telah berlangsung sejak zaman prasejarah. Diperkirakan, awalnya ia merupakan pemujaan dan sekaligus pengorbanan bangsa Romawi (yang menguasai Semenanjung Iberia) kepada Mitrhas, dewa perang mereka. Kemudian menjadi tradisi yang melambangkan eksotisisme, keberanian, kejantanan, dan semangat pantang menyerah.

Klasiknya tradisi ini di Spanyol dapat ditelusuri dari bagaimana mereka menyiapkan pertunjukan itu. Banteng yang akan diadu adalah dari ras khusus yang berasal dari dan hanya dibiakkan di ranch tertentu. Umumnya berasal dari kawasan Andalusia, di pesisir selatan Spanyol. Misalnya saja dari ranch Miura di Seville, yang sangat legendaris.

Banteng-banteng Miura ini sangat tenar karena sangat agresif, telah terbukti mampu bertahan lama di arena dan bahkan membunuh banyak matador. Banteng-banteng di sana dipelihara secara khusus, diberi makan dengan pakan tertentu, dan diberi nama sesuai dengan karakternya. Hanya banteng jantan pilihan dengan bobot rata-rata setengah kuintal yang boleh masuk arena. Dan hanya banteng yang berumur tiga tahun (novilla) atau lebih dari tiga tahun (corrida) yang diizinkan berpentas.

Keklasikannya juga dapat dilihat dari desain pertunjukan. Durasi adegan dan desain gelanggang (plaza de toros) tidak berubah sejak dulu. Warna, komposisi, dan struktur gelanggang sama, di mana pun lokasinya. Berbentuk bundar, dengan pasir berwarna kuning, dikelilingi tembok pembatas berwarna kemerahan, pintu masuk matador dan pengiringnya. Dan panggung khusus tempat pengawas pertunjukan, seseorang yang sangat dihormati.

Tepat pukul lima sore, saat matahari tidak terlalu menyengat, genderang dan trompet dibunyikan. Penonton berdiri. Tepuk tangan bergemuruh mengikuti paseillo, iring-iringan yang diawali tiga torero (matador) yang menjadi lakon utama, banderilleros (asisten matador), diikuti para picadores dan rejoneadores di atas kuda. Suasana sontak bergairah.

Para torero dikenali dari pakaian yang ketat tapi fleksibel, mencirikan pakaian tradisional Andalusia (yang dianggap sebagai ibu kota pertunjukan ini karena hampir semua matador dan banteng hebat berasal dari dan dididik di sini). Para matador mengenakan montera (topi) dan setelan jas yang flamboyan, traje de luces (jas cahaya) berwarna emas, yang seakan bersinar jika diterpa matahari senja.

Hari itu torero yang masuk gelanggang adalah Alejandro Talavante, Daniel Luque, dan Ruben Pinar. Ketiganya cukup punya nama di dunia matador. Bahkan, Daniel Luque dianggap penerus Juan Belmonte (1892–1962), matador terbesar sepanjang sejarah.

Diawali bunyi trompet, dimulailah adegan pertama tercio de varas. Seekor banteng berwarna hitam tiba-tiba berlari masuk arena, dengan napas mendengus-dengus, dan tampak garang sekali. Segera, para asisten berkerumun menguji kekuatan, kecepatan, dan agresivitas si banteng. Sementara itu, si matador, Alejandro, mengawasi dari tepi arena. Setelah mendapat gambaran, si matador lalu turun mengusik si banteng agar menyeruduk muleta (kain) berwarna merah muda yang dikembangkan.

Adegan ini berlangsung kira-kira lima menit, dan di sinilah kesan pertama penonton terhadap si matador dibangun: seberapa lincah ia beradaptasi dengan gerakan si banteng. Setelah itu, seorang picadores memasuki arena, dengan kuda yang penuh diselimuti peto (pelindung) sambil membawa vara (tombak panjang).

Si banteng, yang terusik oleh kehadiran picador, dengan beringas lalu menyeruduk kudanya. Rupanya, kesempatan itulah yang dimanfaatkan picador untuk menusukkan tombaknya di morillo, bagian lembut di pundak banteng yang menjadi target pedang matador. Kejam, karena tombak itu tetap ditekan-tekan sampai darah muncrat.

Trompet dan genderang dibunyikan sebagai tanda dimulainya adegan kedua: tercio de banderillas. Para banderilleros masuk sambil membawa banderillas, tongkat berbulu-bulu warna cerah (hijau, kuning, putih, atau biru) yang berujung runcing. Banderillero mengacungkan dua buah tongkat dan berlari menuju banteng yang juga berlari mendekatinya. Ketika jarak tinggal semeter, banderillero melompat dan menancapkan banderillas di pundak banteng.

Lalu, tibalah pada adegan utama: tercio de muerte. Pertarungan satu lawan satu antara banteng dan matador. Si matador berjalan pelan ke tengah arena, membekali diri dengan pedang runcing dan sebuah muleta merah. Sebenarnya banteng yang buta warna tidak akan mengenali warna muleta. Matador lalu mengelilingi arena. Pas di hadapan panggung kehormatan, matador mengangkat topinya dengan anggun, lalu meletakkan topinya di tanah, mengibaskan lengannya sambil membungkuk dan bersiap.

Bagian ketiga mempertontonkan atraksi menghindar (faena). Matador berdiam di satu tempat, dengan sikap berdiri yang kaku penuh gaya. Ia berkonsentrasi penuh terhadap gerakan banteng, sekecil apa pun. Lalu, muleta dikembangkan, memprovokasi banteng. Dan ketika banteng menyerang, dengan lembut ia hanya menggeser salah satu kakinya, mengibaskan muleta dengan tangkas, berkelit dengan sangat tipis. Ketika banteng ada di sampingnya, ia menepuk pantat banteng sambil membalikkan badan.

Tiba-tiba trompet dan genderang berbunyi lagi, kali ini dengan nada yang lain, lebih lirih dan mengentak. Matador berjalan agak menjauh dari banteng. Ia lalu berdiri membentuk kuda-kuda. Kaki kiri di depan, pedang tipis berujung silang tajam yang lurus terhunus ke arah banteng. Punggung matador melengkung. Matanya tajam memperhatikan gerakan banteng maju-mundur.

Ketika dirasa sudah siap, sambil berlari matador itu dengan secepat kilat menusukkan pedang melewati pundak banteng, langsung ke jantungnya. Jika tusukan itu sukses, yang tampak hanya tinggal gagang pedang saja. Seluruh badan pedang sepanjang setengah meter masuk ke tubuh banteng. Penonton berteriak riuh, sambil tegang menunggu berapa lama banteng akan roboh.

Akhirnya, ketika banteng itu roboh dan tewas di antara matador dan banderilleros yang mengelilinginya, penonton berdiri, melambai-lambaikan tangan atau alas tempat duduk sambil berteriak-teriak. Lalu, pertunjukan akan berulang dengan matador kedua, Daniel Luque, dan dilanjutkan dengan Ruben Pinar.

Banteng memang diharuskan mati dan berdarah-darah di arena. Tapi, untuk beberapa kejadian, matador dapat mengampuni nyawa si banteng, dengan tidak menusuknya, jika dianggap banteng itu mampu memberikan perlawanan yang luar biasa, tidak kenal lelah dan selalu agresif. Dan jika ini terjadi, si banteng akan dikembalikan ke ranch-nya, tidak akan diadu lagi, diberi sertifikat khusus, lalu berbiak guna menghasilkan keturunan petarung unggul.

Dalam pertunjukan ini, memang nyawa taruhannya. Dan memang harus ada kematian di gelanggang, demikian kata Ernest Hemingway, yang pernah tinggal di Madrid, Spanyol, pada era 1930-an. Dalam Death in the Afternoon, ia secara apik menggambarkan tradisi, perayaan, dan kebesaran adu banteng di Spanyol tersebut, dan mengapa lelaki Spanyol menggemari adu banteng: “Every man’s life ends the same way. It is only the details of how he lived and how he died that distinguish one man from another.”

Saat keluar dari gelanggang, hari sudah gelap dan lampu sorot di arena telah penuh menggantikan cahaya matahari. Udara masih dingin, walau saat itu sudah masuk awal musim semi. Orang-orang bergegas pulang, sebagian berjalan menuju Centro Ciudad karena malam itu masih bagian dari Festival Maria Magdalena, orang kudus pelindung kota, yang diselenggarakan satu minggu di Castellon.

Kontroversi akan pertunjukan ini marak di mana-mana. Bahkan, menurut jajak pendapat terakhir, hanya sekitar 30 persen dari penduduk Spanyol yang masih menyukainya. Alasannya jelas, telah ribuan banteng, ratusan kuda, dan manusia yang terbunuh di arena. Biasanya, adu banteng berlangsung dari Maret sampai Oktober, dilaksanakan selama seminggu sampai sepuluh hari di satu kota dalam satu festival. Ada 52 provinsi di seluruh Spanyol, negara yang dikenal sangat menggemari festival.

Tentangan paling ekstrem datang dari pemerintah Catalunya. Mereka melarang pertunjukan itu diadakan di seluruh wilayahnya. Slogan mereka, “Kekejaman bukan kultur kami!”. Tapi itu soal politik, dan saya tidak mau berpikir lebih jauh ke arah situ. Yang saya tahu, ucapan penutup Prof. Ricardo mungkin benar.

”Handi, jika kamu tinggal di Spanyol tapi belum pernah melihat adu banteng dengan mata kepala sendiri, orang bilang kamu belum benar-benar di Spanyol. Jadi, saran saya, lihat sekali. Sesudah itu, jangan lagi.” Sambil tersenyum, profesor Catalan tua itu berkata. Sama juga seperti saya bagi Naries, menonton pertunjukan seperti ini tidak bakal diulanginya lagi. “Terlalu berdarah-darah,” katanya.

  Faustinus Handi, mahasiswa Universitas Jaume I, Castellon, Spanyol.


49 queries