Panduan Menu Makanan Bayi s/d Balita
Powered by MaxBlogPress 


Pendidikan yang Mencerdaskan Anak

Kecerdasan seorang individu di masa dewasa memang tidak sepenuhnya bergantung pada pendidikan yang diberikan dan pengalaman dijalaninya semasa kecil, namun orang tua yang mengamalkan cara mendidik anak agar cerdas secara tepat bisa jadi cukup membantu perkembangan anak. Sebab bagaimanapun juga, tidak semua orang di dunia ini seberuntung Einstein yang kecerdasannya—yang lebih tepat disebut kejeniusan—menonjol pada masa dewasanya sementara semasa kecil hingga remaja ia dianggap memiliki kekurangan pada kemampuan berpikirnya.

Kemampuan seorang individu hingga bisa dinilai cerdas bila belajar hingga bisa memahami apa yang dipelajari dan dialami, selain itu sanggup memecahkan masalah menggunakan rasio dan dapat menerapkan apa yang dipalajari. Kecerdasan seorang anak dapat dikatakan berkembang bila nalar, emosi, dan motoriknya dapat difungsikan dengan baik. Untuk bisa mencapai dan meraih semua itu, makanan, pengalaman, dan aktivitas fisik merupakan faktor penting. Makanan sehat dan bergizi bagi bayi yang dikonsumsi ibu semenjak kehamilan sampai yang diberikan setelah bayi lahir, jelas merupakan salah satu langkah penting dalam cara mendidik anak agar cerdas dengan ikan dan ASI sebagai menu utama. Makanan yang mesti dihindari oleh sang ibu maupun jabang bayi terutama, makanan mengandung bahan-bahan kimiawi berupa pengawet dan pewarna yang melebihi standar aturan yang ditetapkan.

Pengalaman untuk mempelajari dan mengalami hal-hal baru jelas menjadi faktor untuk menstimulasi perkembangan kcerdasan otak dan emosi anak. Selain itu, mengajak anak untuk melakukan kegiatan fisik seperti berolahraga, bermain, dan sebagainya, akan mengembangkan kemampuan motorik yang berdaya guna serta merupakan cara mendidik anak agar cerdas.

Jajan Es Juga Bisa Bikin Sehat, Kok

KOMPAS.com – Sejak kecil, kita mendengar orangtua memberikan nasihat agar memakan nasi sebelum minum es. Ada yang bilang terlalu banyak makan/minum es bisa membuat anak sakit. Mulai dari sakit tenggorokan, pilek, bahkan sakit perut. Ternyata, mitos tersebut tidak selalu benar. Berikut penjelasan dari dr Ida Gunawan, MS SpGK mengenai mitos tersebut.

Diterangkan oleh dr Ida, saat ini, hanya ada 5 persen anak sekolah yang membawa bekal dari rumah. Sebanyak 95 persen lainnya lebih memilih jajan di sekolah. Menurut data yang dilansir oleh PT Orang Tua Group terhadap 400 anak usia sekolah dasar, tiga makanan jajanan teratas yang disukai anak-anak adalah; siomay, batagor, dan es.

Namun, saat ini masih banyak orangtua masih khawatir dan percaya, bahwa jajanan es tidak baik untuk anak-anak. Dr Ida mengatakan, bahwa jajanan es tidak selamanya buruk untuk anak. Bahkan, bisa jadi baik untuk dikonsumsi anak-anak asalkan memenuhi syarat-syarat tertentu.

Diterangkan oleh dr Ida, bahwa jajanan dikatakan aman dikonsumsi anak-anak jika terjaga keamanan dari segi mikrobiologis dan kimia, serta memiliki kandungan gizi. Sementara, mengenai mitos bahwa jajan es bisa mengakibatkan pilek dan gangguan tenggorokan, hal ini dijawab dr Ida dengan riset dari G.J. Connet dan B.W yang mengatakan, penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) pada anak, seperti hidung tersumbat, pilek, radang tenggorokan baru akan muncul jika; 1. Kondisi badan sedang tidak sehat, dan 2. Dalam jumlah berlebihan.

Sehingga bisa dikatakan, asalkan tubuh anak sehat, jajan es tak akan menimbulkan masalah. Namun, ditambahkan pula, es yang dikudap pun harus memenuhi syarat pula, yakni; 1. Higienis, 2. Ada kandungan gizinya, 3. Aman secara biologi dan kimiawi. Dengan kata lain, jajan esnya pun tak boleh sembarangan. Harus terjaga kebersihan wadahnya, airnya sehat, kandungan zatnya bergizi, dan tidak mengandung zat-zat berbahaya untuk tubuh (pengawet atau pewarna).

Bahkan, menurut dr Ida, mengkonsumsi es bisa dijadikan alternatif untuk memberikan makanan bagi anak yang seringkali malas atau menolak untuk makan nasi. Misal, dengan membuat sendiri sorbet dari buah-buahan yang memiliki vitamin atau memiliki kandungan baik untuk tubuh lainnya.

NAD

Editor: NF

Dawet Langganan Bu Menteri  

TEMPO Interaktif, Surakarta Bukan hanya beragam barang belanjaan, tapi pasar ini juga kaya wisata kuliner tradisional. Salah satu yang paling top adalah Dawet Telasih Bu Dermi. Tak sulit mencari Dawet ini, letaknya tak jauh dari pintu keluar Utara.

Segarnya sajian dawet telasih Pasar Gede kerap membuat kangen warga Surakarta yang merantau ke luar kota. Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari misalnya, dia selalu menyempatkan diri untuk menikmati sajian dawet telasih ketika pulang ke tanah kelahirannya.

 

Sepintas, dawet telasih Bu Dermi tersebut tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan dawet lain. Bahkan tempat berjualannya pun sempit, dan hanya disediakan sekitar lima tempat duduk bagi pengunjung yang ingin minum dawet di tempat tersebut. Aroma kurang sedap juga cukup terasa, sebab penjual dawet tersebut berada di dekat penjual daging serta ikan asin.

Namun kondisi yang kurang sedap tersebut akan hilang seketika jika telah menikmati segarnya santan bercampur cendol yang dijual seharga Rp 4.000 tiap porsi tersebut. Sajian dawet yang disajikan oleh generasi keempat dari Bu Dermi tersebut memang cukup lengkap.

Selain cendol hasil buatan sendiri, dawet tersebut juga dilengkapi dengan bubur sumsum, ketan hitam, biji telasih serta irisan nangka. Jika pembeli ingin lebih lengkap, dengan menambah uang sebesar Rp 500 maka penjual akan menambahkan tape ketan yang cukup lezat. Campuran gula yang tepat membuat dawet terasa segar ketika masuk ke kerongkongan.

Hampir semua bahan yang tersaji dalam dawet telasih tersebut merupakan buatan sendiri. “Untuk memastikan jika bahan yang digunakan benar-benar sehat dan aman dikonsumsi,” kata Tulus Subekti, generasi keempat dari Bu Dermi. Untuk pewarna cendol misalnya, dia memilih menggunakan daun suji daripada memakai bahan pewarna yang dijual di pasaran.

Meski saat ini sudah ada beberapa pedagang serupa, dawet telasih Bu Dermi tetap banyak dicari. Maklum, dawet telasih Bu Dermi sudah ada sejak pasar tersebut selesai dibangun pada 1930. Penjual dawet tersebut masih tetap eksis meski Pasar Gede telah dua kali direnovasi akibat kebakaran yang terjadi pada tahun 1947 serta 1999.

Tiap hari, Tulus Subekti mulai berjualan pada pukul 07.00 WIB. Biasanya, dia berhasil menjual 400 porsi dalam waktu beberapa jam. Namun jika hari libur, seluruh dagangannya ludes sebelum tengah hari. Pembeli pun harus rela minum dawet sembari berdiri dan berdesakan.

Salah seorang pembeli, Diah Marwanti mengaku selalu singgah di dawet telasih Bu Dermi tiap berbelanja ke Pasar Gede, dua kali sepekan. Namun, dia memilih membeli untuk dibawa pulang. “Buat oleh-oleh di rumah,” kata Diah.

AHMAD RAFIQ

Mencegah Noda Gigi  

TEMPO Interaktif, Jakarta – Ada beberapa makanan dan minuman alami yang bisa menyebabkan gigi kotor. Selain itu, banyak pula makanan dan minuman yang sarat dengan pewarna. Berikut tips untuk mencegah gigi dari noda makanan dan minuman.

1. Gunakan sedotan
Sedotan dipercaya bisa membantu menjaga noda minuman dari gigi, khususnya gigi depan. Mungkin sedotan tak cocok untuk minum kopi atau anggur. Tapi sedotan bisa digunakan kala minum cola, jus, dan es teh.

2. Telan makanan segera
Menelan makanan dan minuman dengan segera bisa membantu melindungi gigi dari noda. Tapi makanan tetap harus dikunyah dengan benar sebelum ditelan, jangan asal cepat telan. Tapi jangan mempertahankan sesuatu di mulut Anda untuk jangka waktu yang lama.

3. Kumur dengan air
Susah untuk sikat gigi tiap usai makan atau minum. Jadi, lebih aman berkumur dengan air untuk mengurangi bekas makanan atau minuman di gigi

nur rochmi | webmd

17 queries