Panduan Menu Makanan Bayi s/d Balita
Powered by MaxBlogPress 

[X]


‘Lama Hubungan Seks yang Paling Diidamkan 7-13 Menit’  

TEMPO Interaktif, London – Sebuah survei yang dilakukan di Amerika Serikat menyimpulkan lama waktu bersetubuh yang paling diimpikan adalah tujuh sampai 13 menit.

Survei tersebut menyatakan waktu bersetubuh satu sampai dua menit ‘terlalu pendek’ dan tiga sampai tujuh menit dianggap ‘cukup’. Dan berlawanan dengan fantasi seks yang berkembang selama ini, bersetubuh selama 10 sampai 30 menit dianggap ‘terlalu lama’.

Para peneliti mensurvei 50 anggota Society for Sex Therapy and Research (Masyarakat untuk Terapi Seks dan Penelitian). Mereka terdiri dari para psikologis, pekerja sosial, sampai perawat.

Penulis hasil survei tersebut, Eric Corty dan Jenay Guardiani dari Penn State University, mengatakan, “Penafsiran seorang pria atau wanita terhadap fungsi seksnya maupun pasangannyaa tergantung pada kepercayaan pribadi yang muncul karena pesan-pesan di masyarakat baik formal maupun informal.”

“Sayangnya, budaya populer saat ini menekankan berbagai stereotipe soal aktivitas seksual,” lanjut mereka seperti dikutip Daily Mail, Kamis (24/6). “Mayoritas pria dan wanita percaya fantasi mengenai penis besar dan bersetubuh semalam penuh.”

Penelitian mereka sebelumnya menemukan kebanyakan pria dan wanita ingin seks berlangsung 30 menit atau lebih lama lagi. Namun, Corty mengatakan, “Situasi tersebut mungkin memicu kekecewaan dan ketidakpuasan.”

“Dengan survei ini, kami berharap bisa memupuskan fantasi-fantasi seperti di atas dan memberikan para pria dan wanita data realistik yang ada mengenai seks. Sehingga, itu bisa mencegah kekecewaan seks dan disfungsi seks.”

Hasil survei tersebut juga memiliki implikasi untuk pengobatan bagi orang-orang yang mengalami masalah seks.

“Jika seorang pasien khawatir mengenai berapa lama seksnya akan bertahan, data ini bisa membantu pasien menepis kekhawatiran mengenai masalah fisik dan itu bisa diobati hanya dengan penyuluhan, tanpa obat,” lanjut Corty.

DAILYMAIL| KODRAT SETIAWAN


Mungkinkah Bercinta Saat Tidur

VIVAnews - Melakukan aktivitas seksual seperti berhubungan intim menjelang tidur sudah menjadi hal lumrah yang dilakukan banyak pasangan berumah tangga. Tapi, bagaimana dengan mereka yang melakukannya saat tidur?

Bercinta saat tidur ternyata sangat mungkin terjadi. Dunia medis menyebutnya dengan sexsomnia. Jumlah penderita kelainan seks yang terjadi saat tidur ini bahkan terus menunjukkan peningkatan.

Para peneliti di Kanada menemukan, sekitar satu dari setiap 12 orang mengakui pernah mengalami aktivitas seksual saat mereka tengah terlelap. Sebanyak 3/4 pria yang menjadi responden positif mengidap sexsomnia. Perilaku seksual ketika tidur ini berkisar dari masturbasi sampai hubungan fisik.

Studi Sleep Research Laboratory di Universitas Kesehatan di Toronto menemukan, gangguan seks ini semakin umum terjadi dibandingkan masa-masa sebelumnya. Peneliti mewawancarai 832 pasien pria dan wanita yang diduga menderita semacam gangguan tidur.

Jumlah gangguan sexsomnia yang ditemukan pada pria lebih banyak dibandingkan wanita. Umumnya, penderita gangguan ini tidak ingat mereka terlibat dalam kegiatan tersebut. Para ahli menduga, sexsomnia disebabkan hasrat seks yang meninggi menjelang tidur.

Salah satu peneliti, Dr Sharon Chung, menjelaskan, proporsi penderita kini meningkat dari hanya segelintir menjadi satu diantara 12 orang. “Delapan persen adalah pengidap sexsomnia akut dan harus dibawa ke klinik tidur untuk pengobatan. Jika tak segera diobati sexsomnia bisa menyebabkan rasa lelah sepanjang hari, depresi dan perubahan perilaku,” ia menjelaskan seperti dimuat dalam laman Telegraph. (sj)

• VIVAnews


Alasan Wanita Tidak Suka Pria Pemalu

VIVAnews – Wanita cenderung tidak menyukai pria sederhana dan pemalu. Sebaliknya pria arogan dan sombong seperti Simon Cowell atau berperilaku ‘nakal’ seperti Hugh Grant, lebih menarik bagi wanita.

Namun, berbeda dari wanita, pria justru mencari wanita sederhana dan tidak terlalu menarik. Hal ini didapatkan dari percobaan ketiga peneliti yang menunjukkan lebih dari 200 rekaman video seorang pria dan wanita yang melamar pekerjaan sebagai manajer laboratorium komputer.

Para aktor pria dan wanita diminta untuk mengikuti naskah yang sama dalam wawancara dan bersikap rendah hati saat menceritakan prestasi mereka. Para relawan diminta untuk menilai mereka terkait kesederhanaan, kesukaan dan faktor lainnya.

Hasilnya, meskipun aktor sama-sama memenuhi syarat untuk pekerjaan itu, pria lebih kurang disukai daripada wanita. Sikap lemah lembut tampaknya membuat pria terlihat kurang percaya diri, tidak ambisius, lebih lemah, dan tidak stabil. Hal itu menurut laporan jurnal Psychology of Men & Masculinity.

“Pria sederhana tidak seperti wanita sederhana, karena mereka justru dilihat sebagai individu yang lebih lemah,” tulis peneliti dalam jurnal seperti dikutip dari Daily Mail.

Hasil penelitian menunjukkan, meskipun wanita telah mampu mengubah peran mereka menjadi lebih tegas, sedangkan pria masih menghadapi prasangka ketika mereka mencoba untuk berubah.

“Temuan kami menunjukkan bahwa pria menghadapi prangsangka ketika melakukan tindakan sederhana. Mereka juga meningkatkan kemungkinan bahwa orang dapat menghindari sikap rendah hati karena berisiko,” kata Profesor Laurie Rudman, dari Rutgers University, Amerika Serikat.

“Pria memang lebih diharapkan sukses, penuh kekuatan, dominan dan tidak menunjukkan kelamahannya serta menghindari sikap yang dianggap feminim,” katanya menambahkan.

• VIVAnews


Petualangan Seks dari Berbagai Penjuru Dunia

VIVAnews - Bosan dengan rutinitas saat melakukan hubungan seksual dengan pasangan dan berharap ada cara membumbui kehidupan seks Anda? Mungkin sekaranglah saatnya melakukan tur ke seluruh dunia dan menemukan tips seks dari berbagai belahan dunia.

Laman Quality Health menyajikan beberapa trik  yang bisa menghangatkan hubungan Anda dengan pasangan.

Belanda
Wanita di negeri kincir angin merasa lebih nyaman dengan citra tubuh, dan lebih terbuka saat mereka menginginkan seks. Sebagian besar wanita Belanda berterus terang pada pasangan dibandingkan wanita umumnya yang cenderung menganggap seks adalah pembicaraan tabu. “Wanita Belanda menikmati seks lebih baik,” kata Debra Laino, DHS, M.Ed., MS. “Mereka juga bersedia bereksplorasi  berbagai posisi dalam hubungan seksual.”

Prancis
Pria dan wanita Prancis bangga dengan aroma tubuh sendiri dan jarang mengkhawatirkan aroma yang keluar dari tubuh. Berbeda dari beberapa negara yang terkenal terlalu bersih, pria dan wanita Prancis menganggap aroma feromon alami  lebih seksi daripada aroma parfum dan aroma kebanyakan orang.

Australia
Warga Australia senang berpetualang dan melakukan hubungan seksual di luar kamar tidur. Pengalaman melakukan hubungan intim di udara terbuka seperti mobil diakui warga Australia akan menghapuskan kebosanan. 

Yunani
Di Yunani, berjemur di pantai tanpa busana jauh lebih diterima daripada di negara lainnya. Walaupun di beberapa negara berjemur tanpa mengenakan bra bisa dianggap tak senonoh, itu merupakan hal wajar di banyak pantai di Eropa.

Italia
Makanan dan anggur di negara ini hampir dianggap semacam pengantar sebelum seks, layaknya sebuah foreplay. Namun, ada hal lain mengapa pria Italia terkenal romantis. “Rayuan di Italia dalam suasana santai dan menggoda bernilai lebih daripada makanan,” kata Laino.

India
Di negara ini, seks lebih mengenai perjalanan daripada tujuan. Dengan kata lain, India memberi waktu lebih panjang untuk foreplay. Mereka  memperlambat serta menikmati proses berhubungan intim dan  tidak terlalu peduli dengan orgasme.

Jepang
Feng Shui sangat penting bagi negara ini dan sebagian besar negara di Asia. Judy Kuriansky, Ph.D. mengatakan untuk menjamin kehidupan seks yang bahagia dan hubungan antarpasangan tetap positif, furnitur kamar tidur harus ditempatkan dalam cara tertentu. Pasangan harus tidur dalam posisi tertentu, barang atau hiasan dalam kamar tidur. Misalnya, lukisan burung harus ada dua yang melambangkan pasangan.

• VIVAnews


Efek Dahsyat Sentuhan 60 Detik

VIVAnews – Kurangnya waktu komunikasi memang merupakan masalah paling krusial yang terjadi pada pasangan sibuk. Biasanya, ketika sama-sama baru pulang dari kantor pada malam hari dalam keadaan kelelahan, Anda dan pasangan bisa langsung beristirahat dan tidur. Lalu, kapan ngobrol-nya?

Jika Anda dan pasangan mengalami kondisi di atas, cobalah maksimalkan waktu yang ada. Misalnya, saat bersiap-siap ke kantor, Anda bisa mengajak suami membahas sesuatu, atau yang lebih baik lagi adalah memaksimalkan waktu di akhir pekan, saat aktivitas tak sepadat hari kerja. Cobalah mencuri-curi waktu berdua agar hubungan makin hangat.

– Sentuhan 60 detik
Tidak hanya pengantin baru yang bisa selalu saling menyentuh. Anda dan suami masih bisa tetap bergandengan tangan, duduk berdekatan, berpelukan, atau memberikan ciuman-ciuman kejutan. Mulailah bersikap asertif dengan menyentuh pasangan lebih sering. Meski cuma selama 60 detik, sentuhan ini cukup bermakna.

Ngobrol berdua minimal lima menit setiap hari
Meski hanya pertanyaan sepele atau membicarakan topik sederhana, yang penting Anda berdua merasa nyaman. Sebenarnya, topiknya tidak perlu yang serius, bercanda berdua sudah menjadi suatu obrolan berkualitas.

– Jalan-jalan berdua tiap minggu
Liburkan dari dari anak-anak setidaknya 4-5 jam pada akhir pekan. Titip mereka pada orang tua atau kakak Anda. Kali ini, posisi Anda berdua sebagai pria dan wanita yang sedang menghabiskan waktu bersama bersenang-senang, layaknya sedang pacaran.

– Habiskan waktu seharian sebulan sekali
Tentukan satu hari tiap bulan, saat Anda berdua bisa meluangkan waktu seperti pasangan, sebagai bumbu perkawinan. Misalnya, check in di hotel atau keluar kota selama sehari.

– Rencanakan liburan romantis enam bulan sekali
Setelah terkurung dalam rutinitas kantor dan rumah, alangkah nikmatnya jika bisa melakukan liburan romantis berdua suami. Tempat tujuannya tak harus di luar kota atau luar negeri. Lokasi di dalam kota pun banyak yang bisa dipilih sebagai tempat untuk ‘mengisi energi’ perkawinan Anda. Ke mana pun tujuannya, sebaiknya jangan mengajak anggota keluarga lain. (adi)

• VIVAnews


Stres di Kantor Picu Asma

VIVAnews - Memiliki pekerjaan yang kompleks dengan setumpuk tugas rentan memicu stres. Tanpa sadar, mereka yang sulit meninggalkan beban pekerjaan di kantor semakin berisiko mengidap asma.

Seperti dikutip laman Dailymail, studi menunjukkan bahwa tekanan pekerjaan dapat memicu pengembangan asma di usia dewasa. Meskipun kebanyakan berkembang pada anak usia pertumbuhan, namun jumlah yang signifikan terdiagnosis pada orang dewasa.

Penelitian dari Universitas Heidelberg di Jerman menunjukkan, stres di tempat kerja menjadi salah satu jawabannya. Penelitian dilakukan terhadap 5.000 pria dan wanita usia antara 40 dan 65 tahun selama delapan tahun.

Seluruh responden bebas dari penyakit asma pada awal penelitian. Namun, setelah delapan tahun penelitian, sebanyak 40 persen responden dengan beban kerja yang berat mengalami asma. Responden yang terdeteksi asma umumnya memiliki jam kerja yang panjang, tertekan dengan pekerjaan, kondisi kerja yang tidak nyaman, dan tidak memiliki kemampuan santai selepas pulang kerja pada malam hari.

“Studi kami menunjukkan stres kerja dan ketidakmampuan untuk bersantai bekerja setelah berhubungan dengan peningkatan risiko asma.” Demikian kesimpulan penelitian yang termuat dalam Jurnal Alergi.

Penelitian sebelumnya menunjukkan, stres menyebabkan pelepasan bahan kimia yang mendorong alergi dan mengganggu cara tubuh menghentikan radang pada saluran udara. (umi)

• VIVAnews


Lebih Romantis dengan Terima Kasih

VIVAnews - Ucapan terima kasih pada pertolongan kecil yang dilakukan pasangan bisa membuat hubungan lebih romantis dan langgeng. Peneliti dari University of North Carolina, Amerika Serikat, meneliti perilaku pasangan dalam merespons ‘perlakuan manis’ pasangannya.

Mereka menemukan bahwa melakukan sesuatu untuk pasangannya, tidak secara otomatis menghasilkan rasa terima kasih. Jika menganggap bantuan pasangannya sebagai bagian dari rutinitas atau aktivitas biasa, mereka justru akan merasa berutang budi.

Tetapi, mereka yang merespons secara positif dan menunjukkan perasaan syukur serta terima kasih atas perlakuan ‘manis’ pasangannya, cenderung menunjukkan harapan dan rasa puas yang lebih besar terhadap hubungannya.
 
“Pria dan wanita dengan pasangan yang bersikap menghargai dan sering menunjukkan rasa terima kasihnya, merasa lebih puas dan hubungannya lebih romantis,” kata peneliti dalam Journal Personal Relationships, seperti dikutip dari laman Telegraph.

Penelitian ini melibatkan 67 pasangan yang diharuskan menulis buku harian selama dua minggu untuk merekam kegiatan mereka sendiri. Catatan harian itu berisi tindakan bijak dari pasangannya, respons emosional, dan bagaimana perasaan tentang hubungan mereka.

Semua pasangan telah menjalani hubungan selama tiga bulan dan rata-rata berusia 25 tahun. Peneliti menemukan rasa syukur dan terimakasih membantu orang menemukan, mengingatkan, dan mengikatkan diri dengan orang lain yang peduli pada mereka. “Respons emosi rasa syukur sehari-hari merupakan isyarat interpersonal yang bisa memperkuat hubungan.” (mt)

• VIVAnews


49 queries