Panduan Menu Makanan Bayi s/d Balita
Powered by MaxBlogPress 

[X]


Ini yang Dipelajari Bayi Sebelum Muncul ke Dunia

Banyak penelitian sudah membuktikan bahwa bayi sudah mulai bisa belajar semenjak dalam rahim ibu. Lantas apa saja yang bisa dipelajari bayi sebelum lahir?

Studi prenatal (sebelum kelahiran) menunjukkan bahwa pembelajaran telah dimulai bahkan sebelum bayi dilahirkan ke dunia. Sebelum lahir, janin yang ada di rahim ibu sudah bisa belajar mengenal suara, rasa dan getaran di dalam rahim yang kemudian akan dibawanya sebagai kenangan setelah lahir. Janin juga sudah bisa mengenal emosi yang berasal di ibunya.

Psikolog William Fifer dari Columbia University menemukan bahwa bayi memasuki dunia dengan preferensi khusus setidaknya dengan dua suara, yaitu detak jantung ibu dan suaranya sendiri. Inilah yang menyebabkan bayi lebih suka mendengar suara ibunya sendiri ketimbang suara wanita lain.

Studi lain juga menemukan bahwa bayi yang baru lahir akan mengenali irama dari kata-kata atau nyanyian yang disenandungkan berulang kali oleh ibunya selama bulan-bulan kehamilan. Karena itu, banyak dokter kandungan yang merekomendasikan agar ibu sering menyanyikan lagu favoritnya pada bulan-bulan kehamilan. Ibu harus terus menyanyikan lagu yang sama setelah lahir agar bayi benar-benar merasa berasa di tempat yang sudah akrab dengannya.

“Bayi juga ingat rasa makanan yang tersedia di rahim ibu. Jika ibu makan bawang putih, maka rasa itu juga akan ada dalam cairan ketuban dalam rahim. Berbagai rasa dari makanan yang dimakan ibu juga akan diintegrasikan ke dalam air susu ibu (ASI). Pengenalan awal rasa dapat membentuk dasar dari beberapa piliahn makanan ketika anak tumbuh nanti,” jelas Julie Mennella dari Monnel Chemical Senses Center, Philadelphia, seperti dilansir mindpub, Selasa (13/12/2011).

Pengenalan rasa sejak janin dalam kandungan juga akan menentukan makanan apa yang akan disukai dan tidak disukai bayi. Itulah sebabnya, saat hamil sebaiknya ibu makan makanan yang sehat dan memperbanyak sayuran dan buah, sehingga kelak sang anak tidak menolak saat diminta makan sayur.

Hal lain yang dipelajari janin adalah getaran. Pada kehamilan 26 minggu, janin akan bergerak ketika getaran diberikan pada perut ibu. Tapi setelah getaran diberikan secara berulang, janin tidak akan bergerak lagi. Namun jika tipe getaran baru yang diberikan, janin akan kembali bergerak untuk meresponsnya. Ini menunjukkan bahwa janin dalam rahim dengan pengalaman.

Sebagian besar perilaku bayi yang baru lahir dapat ditelusuri ke perilaku yang hadir selama masa kehamilan. Sebagai contoh, beberapa janin suka mengisap jempol dan mereka akan terus melakukannya setelah lahir.

Selain itu, bayi juga belajar secara emosional dalam menanggapi lingkungan sebelum lahir. Bayi memasuki dunia ini dengan kecenderungan emosional tertentu. Kecenderungan-kecenderungan emosional tidak sepenuhnya berasal dari gen yang diwariskan, karena lingkungan juga berperan dalam membentuk kecenderungan emosional anak.

Keadaan emosional pikiran dan kesehatan fisik ibu selama kehamilan merupakan lingkungan ibu untuk bayi. Itulah sebabnya mengapa stres yang berlebihan atau depresi yang dialami oleh ibu hamil dapat mempengaruhi bayi dalam rahim. Bayi mungkin akan memasuki dunia ini dengan emosional yang sama dengan keadaan ibu saat hamil.

Temuan tentang kemampuan belajar dan memori bayi selama periode kehamilan dan pengaruh lingkungan ibu pada bayi yang belum lahir, membawa tanggung jawab yang lebih besar untuk keluarga.

Seorang ibu harus melakukan yang terbaik untuk meminimalkan tingkat stres dan tetap dalam suasana hati yang bahagia dan positif selama kehamilan. Seorang ayah harus melakukan yang terbaik untuk memberikan dukungan emosional yang maksimal kepada ibu hamil untuk membantu memberikan kemampuan yang luar biasa bayi ketika lahir ke dunia.
Sumber : “Merry Wahyuningsih – detikHealth”


Punya Sahabat Biar Tetap Sehat  

TEMPO Interaktif, Memiliki hubungan sosial yang baik–seperti dengan teman, pernikahan, atau anak–sama baiknya untuk menjaga kesehatan, seperti halnya dengan berhenti merokok, menurunkan berat badan, atau bahkan makan obat. Demikian hasil penelitian di Amerika Serikat dua pekan lalu.

Orang dengan hubungan sosial yang kuat akan 50 persen lebih panjang umur dibanding mereka yang tanpa dukungan hubungan ini. Inilah kesimpulan temuan tim dari Brigham Young University di Utah. “Efek buruknya hubungan sosial sama dengan menghirup 15 batang rokok per hari,” kata Julianne Holt-Lunstad, psikolog yang memimpin penelitian itu.

Tim Holt-Lunstad melakukan analisis terhadap sejumlah penelitian tentang efek hubungan sosial pada kesehatan. Mereka menganalisis 148 penelitian terhadap lebih dari 308 ribu orang yang kehidupannya diikuti selama rata-rata selama tujuh setengah tahun. Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal PLos Medicine terbitan Public Library of Science.

Penelitian ini mengukur hubungan sosial dengan beberapa jalan. Seperti yang sederhana, melihat ukuran hubungan sosial yang dimiliki seseorang, misalnya apakah orang tersebut menikah atau tinggal sendirian. Penilaian juga dilihat dari persepsi seseorang, apakah mereka merasa akan ada orang lain yang akan membantunya saat mereka butuh pertolongan. Penilaian lain diambil dari seberapa kuat seseorang terlibat dalam komunitasnya. Hasil penelitian ini kemudian dicek silang dengan usia, jenis kelamin, status kesehatan, dan penyebab kematian saat orang tersebut meninggal.

Memiliki hubungan sosial yang buruk ternyata setara dengan menjadi pecandu alkohol. Ini lebih membahayakan dibanding tidak berolahraga dan dua kali lebih berbahaya dibanding obesitas atau kelebihan berat badan.

Tak memiliki hubungan sosial punya dampak yang lebih besar untuk kematian muda dibanding tidak melakukan vaksinasi untuk mencegah pneumonia atau radang paru-paru di usia muda, tidak mengkonsumsi obat tekanan darah tinggi, atau terpapar udara berpolusi.
“Saya tentu saja bukan menganggap remeh berbagai faktor risiko lain karena tentu saja ini penting untuk menjaga kesehatan,” kata Holt-Lunstad. “Tapi kita perlu menganggap masalah hubungan sosial sebagai sesuatu yang serius juga.”

Memang tak mudah untuk tiba-tiba saja menyuruh orang untuk punya sahabat atau tidak. Tapi menurut Holt-Lundstad, ada sejumlah bukti yang menyatakan bahwa menggaji orang untuk menemani seseorang sebagai pengurus tidak termasuk dalam upaya meningkatkan kesehatan. Misalnya pada kelompok usia lanjut yang mendapatkan seorang perawat, yang digaji anak-anaknya, untuk mengurusi mereka. “Alaminya, menjalin hubungan sangat berbeda dengan mendapatkan dukungan dari seseorang yang dibayar untuk tujuan itu,” kata Holt-Lunstad.

Lalu bagaimana kehidupan sosial kita bisa mempengaruhi kesehatan kita? Holt-Lunstad menjelaskan, keberadaan orang yang dekat secara emosional di sekeliling kitalah yang membuat kita mampu menghadapi stres hidup–sesuatu yang diketahui bisa menyebabkan kematian jika tak tertahankan.

“Saat kita menghadapi kejadian yang potensial menimbulkan stres dalam hidup kita, kita tahu bahwa ada orang-orang di sekeliling kita yang bisa kita andalkan. Ini menjadikan kita percaya bahwa mereka akan membuat kita mampu menghadapinya. Bisa juga keberadaan mereka mencegah berbagai efek negatif dari stres,” kata Holt-Lunstad.

Sahabat atau orang dekat juga bisa mendorong berbagai perilaku sehat–juga tak sehat–yang bisa mempengaruhi hidup. Misalnya, teman kita mungkin bisa mengingatkan untuk makan lebih baik, berolahraga, cukup tidur, atau mengunjungi dokter. Memiliki hubungan sosial juga memberi arti dalam hidup kita dan mungkin mempengaruhi kita untuk menjaga diri kita lebih baik.

| UTAMI WIDOWATI | REUTERS | LIVESCIENCE | BE

Sehat Itu Rasanya:

-Merasa puas dalam menjalani hidup.
-Punya semangat menjalani hidup dan bisa tertawa dan bersenang-senang.
-Mampu menghadapi stres dan mengatasi kesulitan hidup.
-Merasa punya arti dan tujuan dalam hidup, baik dalam tiap aktivitas atau hubungan sosial.
-Punya kelenturan untuk mempelajari hal-hal baru dan beradaptasi dengan perubahan.
-Seimbang dalam bekerja, bermain, beristirahat, dan beraktivitas lainnya.
-Mampu membangun dan mempertahankan hubungan yang saling memuaskan dengan pasangan.
-Punya kepercayaan diri yang tinggi dan citra diri yang baik.

Ayo Mencari Teman

-Sesekali berpalinglah dari televisi, layar komputer, dan layar ponsel. Jangan ganti persahabatan nyata dengan yang sifatnya virtual.
-Luangkan waktu beberapa jam dalam sehari untuk kontak bertemu wajah dengan orang-orang yang disukai. Pilih teman, tetangga, kerabat, atau anggota keluarga yang seirama dan punya pandangan yang positif pada Anda.
-Ikuti kegiatan sosial yang bersifat sukarela. Lakukan sesuatu yang bisa menolong orang lain yang membutuhkan.
-Ikuti berbagai kegiatan yang memberi peluang bertemu dengan berbagai macam manusia yang mungkin punya selera dan minat yang sama dengan Anda, orang yang berpotensi menjadi teman Anda.

| BERBAGAI SUMBER


Banyak Teman, Kunci Menuju Sehat  

TEMPO Interaktif, Washington – Memiliki hubungan sosial yang baik – dengan teman, dalam pernikahan, atau dengan anak – sama pentingnya untuk kesehatan seperti berhenti merokok, mengurangi berat badan, serta melakukan pengobatan.

Penelitian di Brigham Young University di Utah, Amerika Serikat menyimpulkan bahwa orang yang memiliki hubungan sosial yang kuat akan 50 persen terhindar dari kematian dini dibandingkan orang yang tidak mendapat dukungan dalam lingkungan sosialnya.

Para peneliti itu menyarankan para pembuat kebijakan untuk mencari cara untuk membantu orang memelihara hubungan sosial sebagai cara untuk tetap sehat. “Kurangnya hubungan sosial setara dengan merokok lebih dari 15 batang sehari,” kata psikolog Julianne Holt-Lunstad yang memimpin penelitian.

Tim Julianne melakukan analisis meta yang menguji hubungan sosial dan efeknya terhadap kesehatan. Mereka meneliti 148 kasus yang meliputi 308.000 orang untuk dianalisis.

Penelitian itu juga menghasilkan kesimpulan bahwa memiliki tingkat hubungan sosial yang rendah juga setara dengan menjadi alkoholik, lebih berbahaya daripada tidak berolahraga, dan dua kali lebih berbahaya daripada obesitas.

Hubungan sosial memiliki dampak yang lebih besar pada kematian dini dibandingkan dengan mendapatkan vaksin dewasa untuk penyakit paru-paru. Memiliki hubungan sosial yang baik juga lebih menyehatkan dibandingkan meminum obat untuk menjaga tekanan darah dan jauh lebih penting dibandingkan menghindari polusi udara.

Fanny Febiana | MSNBC


Apakah Uang Membuat Hidup Anda Bahagia?

VIVAnews - Uang memang menawarkan berbagai kemudahan dan keamanan bagi pemiliknya. Tetapi, uang tak mampu membeli kebahagiaan dan kegembiraan seseorang.
 
Jajak pendapat terhadap 100 ribu orang dari seluruh dunia membuktikan, ada hubungan antara rasa aman dengan jumlah pendapatan. Namun, jumlah uang yang dimiliki tidak berpengaruh terhadap kebahagiaan seseorang.

Dari survei diketahui, 96 persen orang mengakui bahwa kepuasan hidup bertambah seiring meningkatnya pendapatan pribadi maupun negara bersangkutan. Meski begitu, ketimbang uang, perasaan bahagia lebih banyak dipengaruhi faktor lain seperti merasa dihormati, kemandirian, keberadaan teman serta memiliki pekerjaan yang memuaskan.

Seperti dikutip dari Telegraph, Profesor Ed Diener, psikolog di Universitas Illinois menyatakan kebahagiaan tergantung bagaimana mendefinisikannya. “Jika Anda melihat kebahagiaan hidup dan menilai hidup secara keseluruhan, hubungan antara pendapatan dan kebahagiaan sangat kecil.”

Studi yang dimuat dalam Journal of Personality and Social Psychology melibatkan responden dari 132 negara dari tahun 2005 hingga 2006. Para peneliti menyusun daftar yang membahagiakan, termasuk pendapatan dan standar hidup, kemudahan serta kebutuhan psikologis.

Ini merupakan studi “pertama” di dunia dengan sampel penduduk dunia yang membedakan antara kepuasan hidup, keyakinan filosofis bahwa hidup berjalan dengan baik serta pengalaman dari perasaan positif atau negatif di keseharian.

“Meskipun benar semakin kaya seseorang akan menjadikan orang tersebut  makin puas dengan kehidupannya, tapi tidak berkaitan erat seberapa bahagianya orang tersebut menikmati hidup.” (umi)

• VIVAnews


Olahraga Sebagai Obat Depresi

VIVAnews – Olahraga tak hanya menyehatkan tubuh. Tapi, juga bisa menjadi obat ampuh untuk mengatasi masalah kegelisahan termasuk depresi.

Seperti dikutip VIVAnews dari laman shineyahoo.com, Time melaporkan bahwa pada penelitian di Dallas klinik, psikolog Jasper Smits melakukan percobaan dengan latihan olahraga sebagai pengobatan untuk mengatasi kegelisahan dan berbagai gangguan suasana hati, termasuk depresi.

Sejak tahun 1999, banyak studi menunjukkan latihan aerobik adalah sebanding dengan Zoloft yakni suatu treatment untuk pengobatan depresi. “Tapi,” laporan Laura Blue ” latihan atau olahraga percobaan secara keseluruhan sangat kecil, dan kebanyakan hanya berjalan selama beberapa minggu, beberapa terganggu oleh masalah metodologis.

Namun, meskipun data yang terbatas, semua uji coba tampaknya menunjukkan arah yang sama, yakni melakukan olahraga untuk meningkatkan mood. Dari penelitian ini diketahui bahwa olahraga tidak hanya mengurangi gejala depresi tetapi juga mencegah munculnya depresi secara berulang.

Dalam beberapa kasus, orang yang depresi hampir tidak bisa bangun dari tempat tidur. Tapi timbulnya gagasan melakukan latihan atau olahraga sebagai pengobatan untuk depresi dapat mendorong. Ketimbang mengonsumsi obat antidepresan, melakukan olahraga akan lebih baik dan tidak mengeluarkan biaya.

Belum lagi efek negatif dari efek samping obat antidepresan yang bisa menimbulkan gangguan tidur, atau perubahan gairah seks yang cenderung menurun dan bahkan bisa merusak proporsional berat badan.

Dengan melakukan olahraga, Smith salah seorang penliti menyatakan bahwa hasil dari latihan yang rutin bisa mempengaruhi regulasi otak dari neurotransmiter utama seperti serotonin, dan norepinephrine adalah evolusioner tertanam. “Olahraga bisa menjadikan kondisi tubuh lebih normal,” kata profesor ilmu saraf Universitas Georgia Philip Holmes menambahkan.

Namun ada hal yang paling menyulitkan, bagi mereka yang tak suka berolahraga mereka lebih memilih jalan pintas menggunakan obat antidepresi. Memang keberhasilannya sangat baik menyembuhkan masalah suasana hati , namun berolahraga secar rutin tetap obat yang paling ampuh dan tanpa efek samping.

• VIVAnews


Kondom “Gigit” Pencegah Perkosaan

KOMPAS.com Menurut data dari situs Human Rights Watch, Afrika Selatan memegang angka tertinggi untuk tindakan kriminal pemerkosaan. Adapun data tahun 2009 dari Medical Research Council menunjukkan bahwa 28 persen pria di negara tersebut pernah memerkosa perempuan, baik dewasa maupun kecil. Hal ini mengundang keprihatinan dunia. Di sana pula tingkat infeksi HIV/AIDS menurut data terhitung sebagai yang paling tinggi.

Seorang dokter di Afrika Selatan, dr Sonnet Ehlers, mencoba membantu para perempuan agar bisa melindungi dirinya dari pemerkosaan dengan menciptakan kondom pelindung yang bisa “menggigit” untuk perempuan. Kondom itu akan melakukan tugasnya terhadap penis yang mencoba masuk ke dalam liang vagina.

Empat puluh tahun lamanya dr Ehlers mencoba mencari bentuk kondom untuk perlindungan tersebut. Ide ini tercetus ketika seorang perempuan berusia 20 tahunan datang kepadanya untuk meminta bantuan seusai diperkosa. Perempuan itu berharap untuk memiliki “gigi” di organ intimnya supaya bisa membuat jera si pemerkosa. Untuk mencoba menciptakan kondom ini, dr Ehlers menjual mobil dan rumahnya agar bisa mendanai proyek untuk kondom tersebut.

Untuk membuat kondom yang diberi nama Rape-aXe ini, ia berkonsultasi dengan insinyur, ginekolog, dan psikolog. Cara penggunaannya cukup mudah. Si wanita cukup menyelipkannya di dalam vagina. Bagian dalam kondom ini memiliki “gigi” yang mirip kail-kail. Jika ada penis yang mencoba masuk, maka kail-kail tersebut akan mencengkeram dan akan sulit untuk dibuka. Makin dicoba untuk membuka, makin kencang gigitannya. Oleh karena itu, diperlukan dokter untuk bisa melepaskan kondom tersebut. Harapannya, ketika si pelaku harus ke dokter, si korban bisa melaporkan atau si pelaku bisa diproses oleh pihak berwajib.

Orang yang “tergigit” akan sulit untuk membuang air, bahkan sulit untuk berjalan kaki, tetapi ini tidak akan merusak kulit. Kondom yang terbuat dari lateks ini tidak akan menyebarkan cairan yang bisa saja menyebarkan infeksi HIV dari pelaku ke korban, asalkan tidak ada lubang.

Sebagai percobaan awal, dr Ehlers membagikan kondom ini di berbagai kota di Afrika Selatan, tempat pelaksanaan Piala Dunia tahun ini. Kabarnya, kondom ini akan dijual dengan harga sekitar 2 dollar AS. Menurutnya, situasi ideal untuk penggunaan kondom ini terjadi ketika seorang perempuan merasa akan melewati daerah yang dirasa berbahaya atau akan pergi kencan pertama dengan orang yang belum ia kenal dekat.

Sempat ditanyakan pula kepada beberapa pemerkosa di penjara apakah dengan adanya kondom ini akan membuat niat mereka untuk memerkosa berkurang. Beberapa napi di sana menjawab “ya”. Namun, kehadiran kondom ini pun menuai kritik, berita selengkapnya di sini.

Bagaimana menurut Anda?

NAD

Editor: NF

Sumber: CNN


Jurus Ampuh Ciptakan Sensasi Bercinta

VIVAnews - Hubungan mesra dan hangat di awal pernikahan bisa berubah menjadi tawar seiring berjalannya waktu. Itulah mengapa berbagai trik diperlukan untuk menjaga gairah pasangan pasangan tetap menggebu.

Psikolog Stella Resnick, PhD, sekaligus penulis ‘The Pleasure Zone’ memaparkan beberapa  jurus ampuh untuk menciptakan sensasi bercinta, seperti dikutip dari laman Cosmopolitan.

Kaos fantasi
Naikkan libido pasangan dengan godaan busana seksi. Tidak harus dengan lingerie berenda, Anda bisa menggoda pasangan dengan tank top atau kaus putih tipis yang tidak sengaja basah sehingga membentuk siluet tubuh.

Dengan kostum semacam itu, pasangan pasti tanggap untuk segera meresponsnya. “Pakaian menciptakan erotisme dan misteri. Lekuk tubuh akan terbentuk dan menampilkan Anda dalam bentuk feminin dan menggoda,” kata Resnick.

Matikan AC
Keringat memiliki efek menyegarkan bagi kehidupan seksual. “Saat berkeringat, pasangan akan tertarik pada feromon yang diekskresikan kulit,” kata psikiater Alan Hirsch, dari Research Foundation di Chicago. Feromon berfungsi menambah gairah asamara pasangan.

Matikan AC dan perlahan pijat pasangan. Lakukan gerakan memijat disertai sentuhan lembut dan hembusan napas ke bagian sensitif. Anda berdua mungkin tidak akan menyelesaikan sesi pijat, dan segera meluncur ke ‘pergulatan’ sensasional.

Membuai ‘titik panas’
Sebuah kejutan dingin di bagian kulit akan meningkatkan gairah dan memberi kenikmatan berbeda.

Gunakan botol sprai untuk menyemprot air es ke kulit pasangan demi memicu respons lebih intens. Bagian dada, belakang leher, paha dalam, tulang selangka, atau bagian belakang lutut Anda adalah bagian yang paling manjur sebagai ‘titik panas’.

Nyalakan bara
Es krim dan buah segar mampu membuat sensasi segar dan menggairahkan. Selingi kegiatan saling menyuap camilan dingin dan tinggalkan jejak di tubuhnya. Tak akan butuh waktu lama untuk membuatnya ‘menyala’.

Nikmati suasana
Jangan tergesa-gesa menyalakan AC usai berhubungan intim. Biarkan tubuh tetap hangat dan nikmati pos-orgasmic dalam tubuh. Bila Anda langsung menyalakan AC atau mandi air dingin, tubuh akan syok dan segera terbangun dari pascaklimaks. Sebaiknya, nikmati dan mengobrol santai dengan pasangan sebagai afterplay.

• VIVAnews


Rasa Cemburu Picu Gangguan Seksual

VIVAnews - Kesehatan mental sangat mempengaruhi kesehatan fisik seseorang. Psikolog Austria menemukan gangguan kesehatan fisiologis kronis dipicu lima emosi negatif paling berbahaya.

Penelitian yang terbit dalam Majalah Science menjelaskan lima emosi negatif yang paling merusak kesehatan fisik manusia.

Rasa cemburu, iri hati, kecemasan berlebihan, terlalu mengasihani diri sendiri serta serakah adalah emosi paling negatif yang ada pada manusia.

Penelitian terhadap lebih dari 2.000 sukarelawan selama lima tahun, seperti dilansir Genius Beauty menunjukkan bahwa rasa cemburu mengancam hubungan dengan pasangan dan menyebabkan frustasi serta gangguan seksual.

Seseorang dengan sifat pembenci memiliki risiko 2,5 kali lebih besar terkena serangan jantung. Iri hati juga meningkatkan potensi terjadinya penyakit yang sama.

Rasa bersalah dan kecemasan berlebihan dapat menyebabkan terjadinya berbagai jenis kanker. Mengasihani diri sendiri menyebabkan sirosis hati, gastritis dan radang usus (ulkus). Sedangkan sifat serakah menyebabkan sembelit dan penyakit yang berkaitan dengan sistem pencernaan.

• VIVAnews


Sering Berganti Pasangan Seksual, Tanda Hiperseks?

KOMPAS.com — Hubungan seksual memberikan kesenangan bahkan kebahagiaan jika pasangan suami istri (pasutri) saling terpuaskan. Namun, bagaimana jika kejenuhan seksual muncul, apalagi jika pasangan memiliki kecenderungan mencari pengalaman seksual dengan banyak perempuan?

Kasus yang menghebohkan dari musisi mirip Ariel dan beberapa teman wanitanya bisa menjadi contoh. Meskipun pemusik tersebut belum memberikan pernyataan resminya, tetapi perilaku pria dalam video tersebut telah dibahas dari berbagai sisi. Beberapa pihak menyikapi kasus ini berbeda. Satu persamaan sikap yang bisa ditarik, perilaku seksual seperti ini tidak bisa didiagnosis begitu saja tanpa ada konsultasi langsung dengan individunya.

Psikolog klinis, Lita Gading, menerangkan, untuk menyikapi perilaku seksual seperti pria mirip Ariel tersebut, perlu dilakukan kolaborasi antara psikolog, psikiater, bahkan polisi (terkait motif perekaman, penyebaran video porno, dan unsur eksploitasi). Namun, tegas Lita, diperlukan kemauan dan kesadaran dari si pelaku untuk melakukan konsultasi seksualnya.

Lita menilai perilaku seksual dengan banyak pasangan (atas dasar kesenangan dan saling menikmati), direkam, serta dilakukan terus-menerus dan menjadi kebiasaan (melihat kasus Ariel) merupakan modus baru.

“Perilaku ini tidak bisa langsung dikatakan kelainan seksual atau ekshibisionis. Harus digali lebih dalam masalah pendokumentasian dan untuk siapa dokumentasi dikonsumsi. Kita tidak bisa langsung men-judge,” papar Lita kepada Kompas Female beberapa waktu lalu.

Lita melihat adanya kecenderungan hiperseks, melihat adanya eksploitasi seksual diri sendiri (pelakunya) dengan beberapa perempuan. Sementara pakar seksologi Prof Dr dr Wimpie Pangkahila, ApAnd FAACS, mengatakan tidak mudah mendiagnosis apakah ada kelainan seksual dari perilaku semacam ini.

“Perlu konsultasi langsung dengan pelaku untuk mendiagnosis perilaku seksualnya,” kata Prof Wimpie pada kesempatan terpisah menambahkan, tidak mudah mengatakan perilaku seksual seperti ini sebagai hiperseks jika tidak mengenal individunya.

Menurut Prof Wimpie, individu yang berhubungan seks lalu merekamnya dengan kesepakatan bersama pasangan, kemudian melakukan hal yang sama dengan pasangan yang berbeda, biasanya berangkat dari motif kesenangan dan kepuasan diri. Persoalan merekam hubungan seks, katanya lagi, menjadi pemenuhan fantasi seksualnya dan juga untuk meningkatkan libido jika melihatnya kembali. Keisengan juga bisa melatari pendokumentasian hubungan seksual bersama pasangan.

Baik Lita maupun Wimpie memiliki kesamaan pandangan bahwa orang yang menjalani hiperseks pada awalnya tidak menyadarinya. Artinya, perlu pihak lain yang memberitahukan kepadanya. Setidaknya untuk menyadarkan orang dengan hiperseks agar lebih bisa mengontrol dirinya, menyalurkan dorongan seksnya yang tinggi, atau mengatasi kejenuhan seks dengan cara lain.

“Kejenuhan seks dengan pasangan bisa diatasi dengan mengubah penampilan, mengubah variasi rangsangan, posisi, bahkan suasana,” jelas Prof Wimpie.

C1-10

Editor: din


Efek Buruk Terlalu Banyak Tidur

VIVAnews – Anda pasti sudah mengetahui bahwa kurang tidur bisa berdampak buruk pada kesehatan fisik dan psikologis. Ternyata, terlalu banyak tidur juga bisa menimbulkan dampak yang sama.

Penelitian menunjukkan tidur lebih dari 6 hingga 8 jam dapat menurunkan harapan hidup orang dewasa sebesar 17 persen. Lalu, menurut ahli medis asal India, Dr. Prakash Lulla tidur terlalu banyak bisa menyebabkan diabetes, hipertensi, migrain, dan meningkatnya risiko penyakit jantung.

“Jika seseorang tiba-tiba tidur terlalu lama, itu juga bisa menjadi tanda adalah masalah pada sistem tiroid, kelainan pusat saraf atau kelainan metabolisme,” Dr. Prakash Lulla, ahli medis asal India, seperti dikutip dari Idiva.

Hal yang menjadi masalah bukan tidur itu sendiri, tetapi penyebab terlalu banyak tidur. Menurut dr. Dube sebanyak 15 persen pasien depresi tidur terlalu lama. Trauma dan syok juga bisa membuat seseorang tidur lebih lama.  

“Salah satu efek yang paling sering terjadi dari terlalu banyak tidur adalah obesitas. Kelelahan dan rasa nyeri juga efek yang sering muncul,” kata psikolog, Dr. Sunita Dube, seperti dikutip dari Idiva.com.

Kurang olahraga juga bisa mengurangi kualitas tidur dan kompensasinya adalah seseorang tidur lebih lama dari seharusnya. Untuk mengatasinya cobalah lakukan olahraga sederhana, seperti berjalan atau berlari di pagi hari sebelum memulai aktivitas.

Pola makan Anda juga sangat berpengaruh. Sebaiknya hindari atau kurangi konsumsi makanan-makan cepat saji. Pilihlah makanan yang dibuat dari bahan segar dan alami. Dengan begitu kualitas tidur menjadi lebih baik dan tubuh akan terasa fit. (mt)

• VIVAnews


Next Page »

51 queries