Kenapa Orang Dewasa Bisa Bertingkah Kekanakan
VIVAnews - Usia fisik belum tentu mencerminkan usia emosional seseorang. Itulah mengapa kita sering mendengar ada orang dewasa yang bersifat kekanakan, atau justru terkesan seperti orang tua melampaui usianya.
Kedewasaan dapat diukur dari pandangan dan perilaku saat di tempat kerja, pergaulan sehari-hari, hingga hubungan bersama pasangan. Saat memiliki kekasih, banyak orang merasa kembali seperti remaja, namun berubah menjadi ‘tua’ saat menasehati teman-teman yang sedang mengalami masalah.
“Pelacakan berapa umur kedewasaan seseorang dapat menjadi motivasi untuk membuat perubahan dalam hidup,” kata Michele Tugade, PhD, asisten profesor psikologi di Vassar College Poughkeepsie, New York seperti dikutip dari laman Self.
Dalam hal cinta, meski secara fisik berusia 20-an, secara emosional seseorang bisa mencapai usia 40-an yang ditandai dengan kebijaksanaan, lebih banyak berkompromi dengan pasangan, saling mempercayai dan bersikap jujur satu sama lain.
Namun, tak menutup potensi berubah menjadi seorang bocah ketika berurusan dengan keuangan. Usia kekanakan biasanya tercermin dari ketidakmampuannya mengontrol pengeluaran, tidak dapat membedakan kebutuhan penting, tidak mampu berinvestasi dan menabung, serta selalu berkeinginan bersenang-senang tanpa perencanaan untuk masa depan.
Menurut Tugade, lakukan identifikasi tujuan hidup yang ingin diraih dalam rentang waktu tertentu, seperti memiliki rumah atau berinvestasi. Tujuannya, agar lebih dewasa dalam menjalani hidup.
“Sehingga, saat ada keinginan bertindak seperti usia kanak-kanak, diri sendiri akan mengingatkan tujuan jangka panjang,” kata Tugade. Anda pun akan termotivasi membuat keputusan yang lebih bertanggung jawab. (pet)
Baca juga: Organ Tubuh Ternyata Tak Setua Umur
• VIVAnews
Efek Psikologis pada Anak yang Sering Ditinggal Orangtuanya, serta Solusinya
Contoh kasus ini sangat jamak terjadi di kehidupan kita, karena itu kami sepakat mengangkat pertanyaan dari seorang pengunjung setia InfoAnak.com menjadi sebuah artikel agar bisa bermanfaat bagi pembaca yang lain.
Berikut ini cuplikan dari pertanyaan seorang Ibu:
Tetangga saya mempunyai seorang anak laki-laki baru berumur 3 tahun, Ayahnya maerantau ke Jakarta. Ibunya kerja di pabrik tidak jauh dari rumah. Setiap hari, anak tersebut ditinggal oleh orangtuanya. Otomatis kurang mendapat perhatian. Kira-kira apakah efek negatif yang akan dialami anak itu baik secara psikologi maupun perkembangan kecerdasan anak tersebut?
Jawab:
Anda orang yang peduli dan perhatian sekali dengan anak, sungguh sangat menyenangkan mempunyai tetangga yang peduli dengan sesama.
Dengan sangat terbatasnya informasi, saya akan menjawab pertanyaan Anda.
Baik dan buruknya anak tergantung bagaimana orang tua mengasuh dan mendidik anak. Saat ini, karena sudah merupakan tuntutan banyak ibu yang bekerja, bahkan sampai keduanya berpisah kota hanya untuk memenuhi nafkah keluarga, seperti yang dialami oleh tetangga Anda. Namun keadaan yang terjadi bukanlah suatu akhir yang buruk, tetapi bagaimana kita bisa menyikapi secara positif dari segala keadaan. Nah, untuk ibu yang bekerja, belum tentu akan berkibat buruk kepada anak, tetapi bagaimana orang tua mengasuh dan mendidik anaknyalah yang akan menentukan pertumbuhan dan perkembangan dari anak. Berkaitan dengan kasus tetangga anda, meskipun ayah berbeda kota dan ibu bekerja, tetapi jika hubungan dalam keluarga bisa saling mengisi, terutama ibu bisa berperan ganda untuk anak, maka kemampuan anak masih dapat berkembang secara optimal sesuai dengan tahapan perkembangannya.
Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan ibu:
- Ketika ibu bekerja, siapakah pengganti dari ibu, karena peran pengganti figur ibu juga menentukan keoptimalan dari perkembangan anak. Untuk ibu perlu bekerja sama dengan pengasuh agar dapat terus memantau pertumbuhan dan perkembangan anak. Ibu harus aktif mencari tahu segala informasi mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak.
- Ibu harus meluangkan waktu untuk memenuhi waktu yang hilang bersama dengan anak. Dengan demikian kedekatan emosional masih terus terjaga dan ibu bisa terus memberikan stimulus pada anak supaya pertumbuhan dan perkembangan anak dapat berkembang secara optimal.
- Anak yang tumbuh dengan sehat maka kemampuannya juga akan berkembang dengan baik, dengan kata lain anak yang sehat secara fisik maka kecerdasannya juga akan berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki.
- Kecuali jika ada kasus-kasus khusus pada anak, misalnya autis, hiperaktif, dll maka hal ini diperlukan penanganan khusus.
Untuk Anda yang baik hati, Anda dapat membantu tetangga Anda dengan memberikan dukungan untuk selalu memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak. Banyak sekali informasi mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak dan bagaimana kita merangsang pertumbuhan dan perkembangan agar anak dapat berkembang secara optimal. Untuk anaknya, jika di lingkungan anda ada PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), maka akan lebih baik jika si anak diajak untuk ikut, karena disana ia akan belajar bersosialisasi dan mengembangkan keterampilannya sehingga dapat meningkatkan kecerdasan anak.
Selamat mencoba, terima kasih.
Siti Marini Wulandari, M.Psi. Psikolog
Apa Pentingnya Sebuah ‘Harga Diri’?
Hampir setiap saat kita mendengar kata ‘harga diri’, ‘kepercayaan diri’ dan kata-kata sejenisnya, tapi apakah kita memahami benar pentingnya sebuah ‘harga diri’ bagi kehidupan anak kita di masa yang akan datang? Apakah dengan memiliki harga diri ini mereka bisa berbahagia?
Dalam kehidupan, kita sering kali melihat orang-orang yang selalu merasa ‘kurang’, kurang cantik, kurang kaya, dan sebagainya, sehingga mereka tidak merasa bahagia, karena merasa tidak sekaya si-A, atau tidak seberuntung si-B, itulah gambaran orang-orang yang memiliki harga diri rendah, sehingga mereka selalu membutuhkan dukungan dari orang-orang sekitanya supaya dia merasa lebih baik atas dirinya sendiri. Sedangkan orang dengan harga diri tinggi, dalam situasi yang sama akan belajar untuk melewati masalahnya, dan berjuang untuk meningkatkan nilai tambah dalam dirinya.
Orang yang memiliki harga diri, cenderung lebih dapat menerima hal baru, lebih cepat pulih dalam menghadapi krisis, dan tidak takut mengambil resiko. Mereka tidak menghabiskan waktunya untuk ketakutan sambil memikirkan satu masalah terus menerus. Mereka cenderung lebih fleksibel dan memiliki keyakinan untuk mengambil tindakan dalam mengatasi masalah yang timbul. Dapat menyesuaikan diri dengan situasi yang terjadi, dan mudah bersosialisasi.
Dari sini dapat kita simpulkan, bahwa anak yang memiliki harga diri akan lebih bahagia, mudah beradaptasi, kreatif, lebih percaya diri dan ulet. Dan sebagai orangtua tentunya kita menginginkan anak kita tumbuh menjadi orang yang memiliki harga diri kan? Karena itu jangan pernah berhenti memberikan dorongan positif dan dukungan kepada anak anda, karena sikap anda sebagai orang tua merupakan faktor terpenting dalam menciptakan rasa percaya diri dan harga diri anak. Perlakuan orang tua selama masa pertumbuhan anak akan membawa pengaruh besar dalam kehidupan mereka selanjutnya.
Membangun Harga Diri Anak
Sebagai orang tua tentunya kita semua tahu apa yang terbaik untuk anak kita, karena setiap anak adalah unik, mereka memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, kemampuan dan bakat yang berbeda, sifat yang berbeda. Karena itu yang paling memahami anak adalah orang tuanya sendiri.
Namun, berikut adalah sedikit tips dan trick yang mungkin dapat berguna bagi orang tua:
Do…
- Cintailah anak apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tunjukkanlah kepada mereka bahwa anda mencintainya.
- Berhati-hatilah dengan perkataan anda, orangtua adalah manusia yang tentunya juga bisa khilaf saat marah, namun berusahalah untuk selalu menjaga perkataan anda, karena terkadang kata-kata yang ‘menjatuhkan’ bisa membekas di hati mereka.
- Berilah pujian atas keberhasilan mereka.
- Dengarkan lah cerita mereka, berikan simpati atas masalah yang mereka hadapi.
- Berikan dorongan kepada mereka untuk berpikir sendiri dan melakukan hal-hal yang mereka senangi.
- Berikan kesempatan untuk mereka melakukan hal-hal yang baru, jangan tergesa-gesa menawarkan bantuan.
- Luangkan waktu untuk bersama mereka, sekedar bersantai dan bermain, atau bertukar cerita.
- Berilah mereka tanggung jawab sesuai dengan umurnya.
- Ajari mereka bertanggung jawab atas perbuatannya, misalnya meminta maaf pada teman saat melakukan kesalahan.
Don’t…
- Jangan hanya mencintainya pada saat dia melakukan hal-hal yang sesuai keinginan anda.
- Jangan membandingkan anak dengan orang lain.
- Jangan melontarkan kritikan yang tidak membangun, seperti: “Kamu pemalas, tidak berguna”.
- Jangan menyalahkan anak atas sesuatu yang anda lakukan.




