10 Pasangan Terkenal dan Terkaya Dunia (II)
VIVAnews – Seiring popularitas yang kian melejit, sejumlah selebriti berkolaborasi dengan pasangannya menimbun kekayaan melimpah. Kekayaan mereka seolah menjadi simbol kerja keras dan kesuksesan menembus gemerlap dunia hiburan.
Berikut 10 pasangan selebriti terkaya di dunia sepanjang 2009 versi Majalah Fobes, urutan 1 – 5:
5. David & Victoria Beckham (£28,5 juta)

Siapa yang tidak mengenal pasangan ini. David adalah bintang sepakbola kelas dunia. Sedangkan istrinya adalah mantan model dan personel Spice Girl yang kini merintis bisnis di dunia fashion.
Selain dari dunia olahraga, David menimbun kekayaannya melalui serangkaian produk fashion ternama yang ia promosikan seperti Armani. Dengan kekayaan lebih Rp 395 miliar, pasangan ini menjadi terkaya nomor lima.
4. Will Smith & Jada Pinkett Smith (£29,8 juta)

Tak ada yang menyangsikan bahwa Will Smith adalah bintang film besar di dunia. Banyak film yang dibintanginya menembus puncak box office. Majalah Forbes menuliskan bahwa film-filmnya menembus angka penjualan total £3.54 miliar atau hampir Rp 50 triliun. Sedangkan istrinya bekerja sebagai penulis dan produser film. Tak heran, jika pasangan ini menimbun kekayaan senilai Rp 413 miliar.
3. Brad Pitt & Angelina Jolie (£34 juta)

Dengan nilai kekayaan mencapai Rp470 miliar, pasangan ‘hot’ ini menempati deret ketiga daftar pasangan selebriti terkaya. Keduanya menimbun kekayaan melalui sejumlah film laris yang mereka bintangi.
Pada 2008, Pitt membintangi film ‘Benjamin Button’ yang menembus angka penjualan £207 juta atau lebih Rp 2,8 triliun di seluruh dunia. Sedangkan Jolie bermain dalam film ‘Wanted’ yang mencetak angka penjualan senilai £211,6 juta atau hampir Rp3 triliun.
2. Harrison Ford & Calista Flockhart (£42.8 juta)

Pasangan selebriti terkaya nomor dua ini memiliki total aset hampir Rp600 miliar. Ford menyumbang kekayaan terbesar melalui perannya di film ‘Indiana Jones’ and ‘The Crystal Skull’. Ia diperkirakan mengantongi £40,3 juta atau sekitar Rp 500 miliar melalui film itu. Sementara sang isteri menggenapi kekayaan mereka melalui peran utama dalam serial televisi ‘Brothers & Sisters’.
1. Jay Z & Beyonce (£75,7 juta sekitar Rp1 triliun)

Keduanya menempati urutan pertama sebagai pasangan selebriti terkaya di dunia dengan nilai kekayaan mencapai Rp1 triliun. Jay Z merupakan penyanyi rap, sekaligus pemilik perusahaan rekaman Roc-A-Fella Records.
Selain menggeluti musik, ia juga sukses mengelola sejumlah bisnis seperti tempat hiburan The 40/40 Club, manajemen artis Roc Nation, dan klub basket New Jersey Net. “Ia juga menjadi duta sejumlah produk ternama seperti American Express and Budweiser,” demikian paparan Forbes.
Sementara istrinya, Beyonce, merupakan penyanyi R&B yang tengah berada di puncak karier. Ia pernah membuat kontroversi saat menggelar konser eksklusif untuk putra pemimpin Libia, Colonel Gaddafi. Ia dikabarkan mendapat bayaran sebesar £1,25 juta atau sekitar Rp 17,4 miliar untuk konser itu.
Lihat pasangan selebriti terkaya di dunia lainnya, di sini!
Baca juga: 18 Selebriti Dunia Buka-bukaan Soal Seks
Operasi Plastik Seleb Dunia Paling Gagal
• VIVAnews
Makanan Terbaik Cegah Derita Menstruasi
VIVAnews - Menstruasi sering menjadi periode menyiksa bagi sebagian wanita. Perubahan hormon saat menstruasi mengubah kerja tubuh dan emosi wanita.
Untuk mengatasi keluhannya, simak beberapa jenis makanan yang dapat meringankan derita sindrom pra menstruasi (PMS) sekaligus mempertahankan tingkat energi, seperti dikutip dari Cosmopolitan.com.
Hari 1-5
Emosi mengalami periode yang sangat sensitif. Asupan makanan kaya magnesium seperti bayam dan berbagai biji-bijian akan memperbaiki emosi lebih baik. Dianjurkan juga makanan kaya asam lemak omega 3 seperti ikan salmon, sarden, dan kacang walnut yang menenangkan saraf.
Hari 6-13
Selama periode ini tubuh memproduksi hormon yang melindungi Anda dari stres hingga Anda lebih mudah makan makanan sehat. Perbanyak asupan buah dan sayur-sayuran.
Hari 14-17
Semua indra semakin peka, termasuk terhadap rasa makanan. Manjakan diri Anda dengan makanan mengandung protein seperti keju, lobster, daging sapi, dan wine.
Hari 18-23
Masa di mana jumlah hormon progesteron memuncak dalam tubuh serta kinerja usus melambat. Pada periode ini dianjurkan untuk mengasup makanan kaya serat seperti beras merah, barley, dan sayuran agar mengurangi sembelit sekaligus mempertahankan energi.
Hari 24-28
Merupakan puncak sindroma pra menstruasi (PMS) yang ditandai perubahan hormon dalam tubuh. Asup karbohidrat dan protein dengan porsi sesuai untuk menstabilkan gula darah. Kurangi konsumsi beras putih dan perbanyak buah dan sayur. Makanan yang bisa memperbaiki mood Anda saat ini adalah seporsi es krim.
Mayoritas wanita memiliki siklus menstruasi 28 hari. Namun, faktor lingkungan seringkali membuat siklus menstruasi bisa berubah dengan kisaran 22 sampai 36 hari. Siklus dihitung dari hari pertama menstruasi sampai hari terakhir sebelum menstruasi di bulan berikutnya. (pet)
• VIVAnews
Pil Kesuburan Agar Cepat Hamil
VIVAnews - Bagi mereka yang memiliki masalah reproduksi, banyak cara bisa diupayakan untuk mendapatkan keturunan. Di tengah popularitas program bayi tabung atau IVF treatment di tanah air, sejumlah dokter asal Israel mengklaim berhasil meracik obat kesuburan bagi wanita agar cepat hamil.
Seperti dikutip dari laman Idiva, obat berupa pil hormon antipenuaan itu diklaim bisa meningkatkan kemungkinan hamil pada wanita yang mengonsumsinya hingga 300 perBsen.
Temuan itu berdasar penelitian dan uji klinis yang dilakukan di Tel Aviv. Para dokter yang terlibat menguji penggunaan suplemen DHEA dalam membantu proses pembuahan pada wanita. Suplemen itu biasa dimanfaatkan untuk melawan penuaan dengan meningkatkan DHEA alami dalam tubuh.
DHEA pada dasarnya adalah hormon steroid yang dibuat tubuh manusia. DHEA dapat diubah bentuknya dalam tubuh menjadi testosteron, estrogen, atau steroid lain. Tingkat DHEA makin menurun dengan usia makin tua, dan mencapai puncak pada usia 20-30an tahun.
“Kami percaya bahwa pengurangan hormon DHEA alami seiring penuaan membuat sejumlah wanita yang mengalami gangguan reproduksi juga sulit menjalani program bayi tabung,” kata Dr Adrian Shulman, seorang profesor di Universitas Tel Aviv yang juga menjabat sebagai direktur Unit IVF di Meir Medical Center.
“Hasil yang dicapai telah melebihi impian kita yang paling liar sekalipun. Kami tidak percaya ada peningkatan peluang sebesar 300 persen bagi wanita untuk hamil dengan konsumsi suplemen itu,” Shulman menambahkan. (pet)
Baca juga: Nenek 70 Tahun Lahirkan Bayi Kembar & Mari Menghitung Masa Subur
• VIVAnews
Berburu Oleh-oleh di Cirebon
CIREBON, KOMPAS.com — Bertandang ke Kota Udang alias Cirebon tak lengkap jika tak memburu berbagai oleh-oleh. Ya, Cirebon salah satu kota yang menawarkan banyak pilihan buah tangan, mulai dari batik hingga beragam jenis makanan. Berburunya pun tak banyak memakan waktu. Soalnya, pusat belanja oleh-oleh berjarak lumayan berdekatan.
Batik Trusmi
Tak lengkap rasanya jika tak menilik Kampung Trusmi yang terletak di kawasan Plered, Cirebon. Untuk mencapainya, kita hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit dari pusat Kota Cirebon.
Kampung ini memang terkenal sebagai cikal bakal Batik Cirebon yang khas dengan motif Mega Mendung. Konon, menurut cerita warga yang sempat dijumpai Kompas Female, Trusmi berasal dari kata “terus bersemi”. Sayangnya, tak ada yang tahu bagaimana sejarah nama kawasan ini. Yang jelas, budaya membatik di Trusmi telah dimulai sejak berabad-abad lalu.
Memasuki kampung itu, kita akan menjumpai hampir semua rumah memiliki toko di salah satu bagian rumahnya. Dari ujung ke ujung Kampung Trusmi, berderet toko-toko batik yang menawarkan beragam motif dengan harga yang variatif. Akhir pekan dan hari libur merupakan puncak kunjungan ke Kampung Trusmi. Mengapa tertarik batik Cirebon?
“Motifnya enggak tradisional. Warnanya juga cerah. Beda dengan batik Yogya atau Solo, kan sebagian besar warnanya coklat. Motifnya juga gitu-gitu aja,” kata Muthia, salah seorang pelancong asal Jakarta.
Salah satu toko yang cukup ramai dikunjungi adalah Toko EB. Menurut sang pelayan, toko tersebut sudah dua kali dikunjungi Presiden SBY dan tiga kali dikunjungi ibu negara, Ani Yudhoyono. Foto keduanya pun dipampang di salah satu sudut toko. Tak jarang, ada pembeli yang bertanya, jenis batik apa yang dibeli Presiden.
Batik dengan motif Mega Mendung yang menjadi ciri khas Batik Cirebon merupakan jenis paling banyak diburu. Kualitas yang ditawarkan pun beragam. Jika tak ingin yang terlalu menguras kantong, ada batik dengan motif tersebut yang dibanderol dengan harga Rp 25.000 per meternya. Mau yang mahal juga ada. Hingga ratusan ribu per meternya.
Bagi kaum muda, beberapa toko menyediakan motif yang tengah disenangi, yaitu motif kupu-kupu. Motif ini juga ditawarkan dengan harga beragam. Ada yang Rp 100.000 untuk 2 meter, ada pula yang Rp 200.000 per 2 meter. Harganya tergantung pada tingkat kehalusan kain. Yang lebih mahal, biasanya full batik tulis, sedangkan harga yang lebih murah, motif dicetak mesin atau campuran antara batik tulis dan cap.
Pusat oleh-oleh Kanoman
Salah satu pusat penjualan oleh-oleh makanan di Cirebon terletak di kawasan Kanoman. Di sana, ada salah satu toko yang cukup terkenal dengan jenis manisannya, yaitu Toko Sinta.
Mungkin tak terhitung, ada berapa jenis penganan oleh-oleh yang disediakan di sana. Sagala aya, alias segala ada. Manisan buah, dari mangga, pepaya, salak, ceri, dan lain-lain ditempatkan pada toples-toples kaca bening. Sangat menggoda selera saat melihatnya. Harganya cukup variatif. Kalau ingin mencicipi semua, siasati saja dengan membelinya dalam jumlah yang tak terlalu banyak. Plastik kemasan biasanya dimulai dari 2,5 ons atau ¼ kg.
Selain manisan, Cirebon juga terkenal dengan oleh-oleh aneka kerupuk. Lazimnya daerah Jawa Barat lainnya, rengginang dan pisang sale tak pernah ketinggalan. Rengginangnya agak unik, berbentuk bulatan kecil dengan aneka rasa, seperti keju dan jagung. Harganya lumayan juga, Rp 84.000 per kilogram.
Oya, berbagai jenis ikan asin yang sudah dikemas apik juga bisa Anda dapatkan di sini. Cirebon, yang merupakan daerah pesisir, memang menawarkan banyak jenis makanan laut. Ikan asin yang tersedia di antaranya gabus, cucut, dan jambal roti. Ada yang masih mentah, ada pula yang sudah digoreng. Sebagai teman makan ikan asin, ada juga sambal bajak yang sudah dikemas dalam wadah botol. Lengkap kan?
Satu lagi yang tak boleh Anda lewatkan adalah sirup Tjampolay. Sirup ini juga salah satu minuman khas Cirebon. Rasanya memang agak sedikit unik. Sayangnya, rasa itu tak bisa hanya diceritakan lewat tulisan. Anda harus mencobanya!
Mau tahu gejrot?
Satu lagi makanan kecil khas Cirebon adalah tahu gejrot. Makanan yang mencampur tahu goreng dengan bumbu asam gula merah plus rawit, bawang merah, dan bawang putih ini memang lumayan mengundang selera.
Jika ingin membawanya sebagai oleh-oleh, maka tepat di seberang Toko Sinta, Anda bisa membeli tahu gejrot yang sudah dipisah tahu, bahan baku sambal, dan kuahnya. Harganya Rp 17.500 per paket. Satu paketnya terdiri atas sekitar 50 tahu, satu bungkus kuah, dan satu bungkus bumbu yang terdiri dari rawit dan bawang merah. Menurut si abang penjual, dengan dipisah seperti itu, pembeli tak perlu khawatir tak tahan lama. Bahkan, tahu bisa bertahan tiga hari tanpa dimasukkan ke pendingin.
Selamat berburu!
ING
Editor: din
Menikmati Tarian Aurora di Langit Trondheim
TEMPO Interaktif, Trondheim -Jika kau ditanya tentang kota di Eropa yang pada akhir April salju masih turun di sana, Trondheim adalah salah satunya. Ia terletak hampir 500 kilometer ke arah utara dari ibu kota Norwegia, Oslo. Kota yang didirikan oleh Raja Norwegia Olav Tryggvason pada 997 ini memang memiliki pesona alam yang khas.
Letaknya yang mendekati lingkar Kutub Utara membuat kota ini akan sangat unik di puncak musim dingin dan musim panas. Memasuki Mei, saya sempat terpaku mengamati jadwal salat bulanan yang saya dapatkan dari Masjid Komunitas Muslim Trondheim. Betapa tidak, di akhir Mei, matahari terbit pada pukul 03.26 dan baru akan tenggelam pada pukul 23.07.
Dari tetangga kamar yang asli orang Norwegia, saya menjadi tahu bahwa di sekitar pertengahan Juni-Juli, rentang waktu dari matahari terbenam hingga terbit tak sampai empat jam, sehingga bisa dibilang ketika itu Trondheim nyaris tak punya malam. Saya jadi teringat potongan syair lagu kelompok musik asal Swedia, Roxette, berjudul June Afternoon. “It’s a bright June afternoon, it never gets dark. Wah-wah! Here comes the sun“.
Saya sulit membayangkan bagaimana umat Islam berpuasa pada bulan Juni atau Juli di sini. Tak hanya soal ibadah, saya pun merasa agak kesulitan mengikuti irama perubahan waktu yang menjadikan siang merentang semakin panjang. Merasa lebih nyaman belajar (membaca dan menulis) di saat malam, kini saya agak kerepotan mengatur jadwal kerja ketika hari terasa tak kunjung petang. Padahal, di sepanjang Mei, saya mesti berkejaran dengan tenggat akhir penulisan tesis.
Sebaliknya, di puncak musim dingin, antara akhir Desember dan awal Januari, siang hanya berlangsung sekitar empat jam. Cuaca pun bisa menjadi sangat ekstrem. Beberapa hari di akhir Februari yang lalu, saya sempat mengalami suhu 20-24 derajat Celsius di bawah nol!
Di tengah suhu ekstrem dan guyuran salju, saya tetap memberanikan diri berjalan kaki dari asrama mahasiswa Moholt Studentby ke kampus Universitas Sains dan Teknologi Norwegia atau Norges Teknisk-Naturvitenskapelige Universitet (NTNU) Dragvoll. Jarak 2,2 kilometer terasa lebih jauh. Di samping karena mendaki, guyuran dan tumpukan salju di jalan terasa cukup memperlambat dan membuat berat langkah-langkah kaki saya.
Namun saya tahu bahwa mungkin saya akan cukup kesulitan untuk punya pengalaman seperti ini lagi. Sebab, menurut kabar di koran lokal Trondheim, cuaca hari itu memang terbilang ekstrem, dan menurut catatan hanya terpecahkan oleh cuaca pada 52 tahun yang lalu.
Selain demi menghemat biaya hidup yang relatif lebih mahal dibanding negara Eropa lainnya, berjalan kaki ke kampus Dragvoll memang menyenangkan. Mendaki jalanan yang menanjak, saya mendapatkan pemandangan Kota Trondheim yang seolah menyerupai negeri dongeng.
Saat mulai mendekati Dragvoll, saya dapat menyaksikan lanskap Kota Trondheim dari ketinggian. Menara Tyholt di area kampus Departemen Teknologi Kelautan NTNU tampak menjulang. Di menara setinggi 124 meter itu, saya pernah menikmati pemandangan Kota Trondheim yang masih bertabur salju di sebuah restoran yang bergerak memutar di puncak menara.
Dari atas bukit menuju Dragvoll, di seberang kota yang penduduknya hanya sekitar 170 ribu jiwa ini, tampak teluk kecil dan perbukitan bertutup salju menjadi batas akhir pandangan mata saya. Tapi yang paling menarik perhatian saya adalah sisi yang berseberangan dengan hamparan Kota Trondheim itu, yakni bukit-bukit yang hampir sepanjang lerengnya dipenuhi dengan rumah kayu berwarna-warni. Ada yang merah, kuning, hijau, biru, putih, abu-abu, dan berbagai nuansa warna indah yang agak sulit saya gambarkan.
Balkon dan gazebo kecil di beberapa rumah tampak benar-benar memikat. Salah satu di antaranya tampak sebuah bangunan besar yang membentuk seperti tangga berundak mengikuti kontur bukit. Memang bukitnya tak setinggi dan securam Minas Tirith, tapi cukup untuk mengingatkan saya pada kota rekaan J.R.R. Tolkiens dalam trilogi terakhir The Lord of the Rings, yang tergambar begitu eksotik di versi filmnya, itu.
Saat menyusuri jalan ke Dragvoll, sering kali saya terpesona ketika mendapati langit benar-benar cerah dan biru serta sisa-sisa salju masih tampak di atap-atap rumah dan sisi bukit yang terjal itu. Lalu langkah-langkah sepatu saya di atas salju melahirkan bunyi yang khas. Mendekati kampus Dragvoll, lereng yang dipenuhi rumah kayu berganti dengan hutan kecil yang mengelilingi salah satu sisi kampus. Sungguh pemandangan yang benar-benar indah.
Moholt atau Dragvoll mungkin bisa dibilang sudah mendekati pinggiran Kota Trondheim. Sementara itu, pusat kota Trondheim sendiri yang tak begitu luas terbilang cukup unik. Ia berada di sebuah “pulau kecil” yang terbentuk oleh liukan mulut Sungai Nidelva yang berjumpa dengan Trondheimsfjorden–teluk kecil Trondheim yang berada di sisi utara.
Sebagaimana pusat kota pada umumnya, di sana ada beberapa pusat belanja, toko-toko, dan kantor pemerintah. Sebuah pusat belanja, Trondheim Torg, berada tepat di pusat kota. Trondheim Torg terasa tampak sangat sederhana untuk ukuran kota terbesar ketiga di Norwegia.
Hal paling menarik di pusat kota tentu saja adalah Katedral Nidaros. Ia merupakan landmark kota yang pernah menjadi ibu kota Norwegia hingga 1217 ini. Katedral yang mulai dibangun pada 1070 ini hingga sekarang menjadi monumen bangunan Gothic terpenting di Norwegia dan menjadi tujuan utama para peziarah sejak Abad Pertengahan untuk Eropa wilayah utara. Peran pentingnya terlihat dari fakta bahwa raja Norwegia dinobatkan di sini.
Pesona alam dan jejak sejarah menyatu dalam kota yang menjadi pusat pendidikan dan riset teknologi di Norwegia ini. Masih di kawasan pusat kota, setiap pulang Jumatan, saya sering sulit menahan godaan untuk menikmati pemandangan rumah-rumah kayu yang di antaranya berasal dari abad ke-18. Rumah kayu tipikal Skandinavia yang berwarna-warni itu berderet rapi di tepi Sungai Nidelva yang meliuk, tepatnya di dekat kawasan Kota Lama.
Di situ pula ada jembatan tua yang pertama dibangun menjelang akhir abad ke-17. Berdiri di tengah jembatan, saya menatap ke arah liukan sungai dengan airnya yang bersih dan tenang, sementara di kejauhan tampak gedung tua kampus NTNU Gløshaugen berdiri di atas ketinggian bukit. Sungguh akan sempurna jika mendung tak sedang menutupi angkasa.
Tak jauh dari jembatan itu, terdapat Sykkelheisen Trampe, lift untuk sepeda yang merupakan satu-satunya di dunia. Lift yang dibangun pada 1993 itu panjangnya 130 meter, tepat berada di perempatan kawasan Kota Lama. Sayang, saat terakhir saya ke sana, lift itu tampak belum dioperasikan–mungkin karena tumpukan salju belum benar-benar bersih.
Lebih dari itu semua, pengalaman paling menarik selama tinggal di Trondheim sejak awal Februari lalu adalah saat saya menyaksikan aurora. Sebelumnya, saya tak menyangka bahwa di Negeri Viking ini saya akan dapat menyaksikan salah satu fenomena alam yang hanya ada di beberapa tempat di belahan bumi itu.
Aurora Borealis, cahaya langit di dekat wilayah lingkar Kutub Utara yang terlihat di malam hari, saya saksikan di pekan kedua April lalu. Begitu mengetahui akan ada aurora dari laman ramalan cuaca yang biasa saya lihat, menjelang tengah malam saya bersiap di puncak salah satu bukit di kawasan kompleks asrama Moholt. Bersama puluhan mahasiswa lain yang ternyata sudah berada di sana lengkap dengan kamera mereka, saya begadang menikmati tarian aurora di langit utara.
Dari atas bukit itu, aurora kadang tampak melintang seumpama selendang yang dikibarkan di atas bangunan kompleks mahasiswa Moholt Studentby. Jauh di belakang, tampak bukit yang bercahaya oleh lampu-lampu kota. Warna kehijauan bertaburan di langit di balik pohon yang tampak masih meranggas. Titik-titik bintang kecil bersinar keputihan di kejauhan.
Cahaya kehijau-hijauan itu berpendar di langit. Kadang ia membentang panjang dari timur ke barat, berkelebat, lalu mengental, meremang, menebal, dan menipis. Di saat yang lain, ia tampak menumpuk di langit utara dalam area yang cukup melebar, lalu sesekali mementaskan tarian lembut sebelum akhirnya menghilang ditelan langit cerah bertabur bintang. Dari sudut yang berbeda, kadang cahaya kehijauan itu membentuk seperti tanduk Viking yang menggantung di langit.
Saya tahu, teman-teman saya, mahasiswa Indonesia, yang berada di negara Eropa lainnya mungkin akan merasa iri melihat foto dan catatan saya menyaksikan aurora, karena aurora hanya ada di langit utara. Tapi saya juga perlu memberi tahu bahwa tinggal di Trondheim menuntut ketahanan mental.
Bagaimanapun, kota yang topografinya berbukit dan beriklim maritim ini bisa dibilang cukup terpencil. Ya, Norwegia, seperti juga Swedia, adalah negeri yang sunyi. Di dua negara Skandinavia ini, wilayah yang dimanfaatkan tak lebih dari 4 persen. Selebihnya hanya lahan kosong, hutan, danau, dan semacamnya. Setelah Oslo, kota besar terdekat dari Trondheim adalah Bergen, yang berjarak sekitar 650 kilometer.
Kesunyian mungkin akan terasa semakin menjadi-jadi saat musim dingin begitu panjang, dan salju masih tetap saja turun bahkan hingga awal bulan Mei. Rumput tak kunjung menghijau, pepohonan masih kerontang, dan langit cukup sering berwajah muram. Saya kadang menjadi agak heran, mengapa St. Olav dahulu menamai kota ini Trondheim, yang berarti “rumah yang nyaman ditinggali”?
Saya bertanya-tanya, jika awal Mei salju masih turun, seperti saat saya menulis catatan ini, lalu kapan saya akan menikmati daun dan bunga-bunga yang bersemi? Semoga Juni. Ya, mungkin Juni, bersama Judas Priest yang akan mengentak dan meramaikan Kota Trondheim dalam ajang festival musik rock tahunan (Trondheim Rock) di sini.
Memandangi butiran salju yang turun pagi ini, saya pun berharap semoga salju yang saya saksikan di pekan pertama bulan Mei ini tak akan menjadi salju terakhir dalam pengalaman hidup saya.
M Mushthafa, mahasiswa program Erasmus Mundus Masters Course in Applied Ethics NTNU Trondheim, Norwegia







