Panduan Menu Makanan Bayi s/d Balita
Powered by MaxBlogPress 


KIAT AGAR ANAK GEMAR MEMBACA

Tentunya kita merasa senang jika putra-putri kita gemar membaca, baik itu bacaan sekolah (pelajaran sekolah) atau sekedar bacaan ringan seperti buku cerita atau majalah.

Seperti yang tertulis dalam buku karangan Mary Leonhardt yang berjudul 99 cara Menjadikan Anak  “Keranjingan”  Membaca (Penerbit Kaifa, 2000), beliau adalah seorang yang rajin mempromosikan pentingnya buku dikenalkan pada anak sedari kecil, di sini saya mencoba untuk merangkum beberapa tips yang bisa kita ambil dari buku Mary Leonhardt tersebut diantaranya ialah :

  1. Bila anak belum bisa membaca, berilah kebebasan pada anak utk memilih  sendiri buku apa yang dia suka untuk dibacakan, ini adalah salah satu kiat untuk menjadikan anak suka buku. Biarkan anak-anak memilih buku yang mungkin menurut kita kacangan atau kurang bermutu, biarkan mereka memilih buku yang sama berulang-ulang dan ingin dibacakan berulang-ulang pula (walaupun kita yang membacanya  sampe bosan setengah mati tapi tak mengapa), yang penting anak-anak menyadari bahwa kita menghormati mereka sehingga mereka merasa nyaman dan juga menikmatinya.
  2. Biasakanlah membacakan buku dengan sikap santai, ciptakanlah suasana kegembiraan, misalkan sesekali mengucapkan kata-kata  dalam buku tersebut dengan keliru supaya merangsang mereka untuk memperbaiki kesalah/kekeliruan anda. berkisahlah dengan beragam suara dan tertawalah bersama-sama, jadikanlah membaca sebagai saat-saat menyenangkan dan penuh kekonyolan canda tawa.
  3. Jika perhatian anak mulai mengendur, maka percepatlah bacaan anda. Karanglah akhir cerita dengan kontekstual yang anda perlukan, misalnya : “Dan sekarang anak beruang harus mandi – sama seperti anak bunda ini….!!”
  4. Hal yang tak kalah penting ialah dengan melibatkan kegiatan membaca buku dengan bermain, misalnya mendorong anak untuk membacakan dongeng kepada bonekanya sebelum tidur atau bermain tentang kegiatan ditoko buku atau perpustakaan, ini penting agar buku selalu menjadi bagian dari keseharian anak-anak.
  5. Bila anak sudah mulai bisa membaca sedikit-sedikit maka sebaiknya orang tua jangan terlalu sering membacakan cerita untuk mereka agar mereka tidak terlalu bergantung pada kita, ini bertujuan agar anak-anak keranjingan membaca bukan hanya terpesona dengan cerita orang tuanya dan agar anak-anak tidak manja atau malas membaca sendiri.    Salah satu cara agar anak menjadi mandiri dalam membaca ialah dengan berpura-pura kelelahan atau mengantuk ketika membacakan cerita sehingga tak sanggung menyelesaikan cerita dan minta anak untuk melihatnya sendiri buku cerita tersebut, tindakan ini akan mendorong anak untuk mo  berusaha membaca sendiri apalagi bila ceritanya menarik dan buku ceritanya itu favoritnya.
  6. Penuhi rumah dengan buku, untuk membiasakan anak suka buku ialah dengan membuat buku ada di sekeliling anak sejak kecil, taruhlah buku di tempat yang mudah di jangkau anak-anak sehingga anak bisa mengambilnya kapan pun ia suka.
  7. Terakhir yang amat penting agar anak suka membaca ialah orangtua juga harus rajin membaca, anak-anak adalah peniru yang baik, mereka akan meniru apa yang biasa dilakukan orangtuanya, jadi bila ingin anak gemar membaca maka tunjukanlah bahwa anda sebagai orangtua juga adalah pembaca yang baik, baik buku maupun media cetak lainnya. Pendeknya, orangtua harus memperlihatkan kalau membaca itu adalah kegiatan yang  mengasyikkan! dengan demikian kita berharap anak kita memfotocopy perilaku ini  dan mereka juga jadi suka membaca

Demikian tips agar anak gemar membaca, semoga bermanfaat….

 

Benarkah Belanja Bisa Picu Impoten?

VIVAnews – Sekarang pria punya alasan ampuh untuk menghindari belanja di supermarket. Berdasarkan penelitian, terlalu sering berbelanja bisa membuat mereka impoten.

Seperti dikutip dari laman Dailymail, para peneliti mendapat temuan mengejutkan bahwa struk belanja mengandung zat berbahaya Bisphenol A (BPA). Dalam konsentrasi tinggi zat ini mengganggu hormon pria.

Zat yang terkandung dalam tinta yang tercetak di struk belanja itu berpotensi masuk ke tubuh pria melalui perantaraan tangan dan makanan. Karena umumnya, pria jarang membersihkan tangan usai menerima struk belanja.

Profesor Frank Sommer, 42, seorang urolog yang bermarkas di Berlin, menjelaskan, “Zat seperti itu dapat mengganggu keseimbangan hormon seks pada pria. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menurunkan gairah seksual, mendorong terciptanya timbunan lemak dalam otot yang tentunya mempengaruhi kemampuan ereksi.”

Zat berbahaya itu juga terkandung dalam kaleng makanan, tirai mandi, mainan dan botol bayi. Pada remaja putri, paparan zat ini memicu pubertas dini serta meningkatkan risiko penyakit diabetes dan kanker. Olehkarenanya, penting dikeluarkan larangan pemakaian zat itu untuk produk konsumen.

Baca juga: Botol Plastik Picu Impotensi

• VIVAnews

Asupan Daging Pengaruhi Masa Pubertas Anak

VIVAnews – Remaja putri  yang banyak mengonsumsi daging selama masa kanak-kanak cenderung mengalami masa pubertas lebih dini ketimbang rekan sebayanya.

Peneliti Inggris dalam sebuah studi membandingkan diet lebih dari 3.000 gadis berusia 12 tahun. Mereka menemukan, konsumsi daging tinggi sejak usia tiga tahun (lebih dari delapan porsi seminggu) dan usia tujuh tahun (lebih dari 12 porsi) sangat terkait dengan terjadinya  masa menstruasi lebih awal.

Bahkan, anak perempuan usia tujuh tahun dengan konsumsi daging tinggi memiliki peluang lebih tinggi 75 persen mengalami haid dibandingkan anak dengan asupan daging wajar.

Hasil temuan yang dipublikasikan dalam Public Health Nutrition, menyatakan daging mempersiapkan tubuh untuk mempercepat kehamilan. Daging merupakan sumber makanan kaya akan zat besi dan seng yang membantu terciptanya peluang kehamilan. Selain memicu pubertas lebih cepat, diet daging juga meningkatkan obesitas dan berdampak pada hormon.

Pubertas dini pada remaja putri dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara. Kemungkinannya, wanita memproduksi hormon estrogen lebih tinggi selama kehidupannya.

Dr Ken Ong, pediatrik endokrinologi di Medical Research Council, mengatakan telah terjadi pergeseran waktu menstruasi pada wanita selama satu abad terakhir.

“Ini (pergeseran waktu menstruasi) tidak berhubungan dengan ukuran tubuh wanita yang makin besar, melainkan disebabkan oleh efek protein dan kadar hormon tubuh.” (umi)

• VIVAnews

Tabrani Yunis Melatih Seribu Calon Penulis

TEMPO Interaktif, “Hari ini akan berlangsung pelatihan menulis kreatif bagi perempuan akar rumput dari 18 kabupaten di Aceh yang diselenggarakan oleh majalah Potret dan CCDE di WTC (Women Training Center) CCDE.

Semoga mereka menjadi penulis yang produktif kelak.” Begitu Tabrani Yunis menulis di status Facebook-nya. Hari itu, Senin lalu, Tabrani memang mengadakan pelatihan menulis bagi puluhan perempuan di Banda Aceh.

Hari-hari Tabrani memang tidak jauh dari pelatihan, salah satunya menulis. Lewat lembaga yang dipimpinnya, Center for Community Development and Education (CCDE), hingga kini ia telah memberikan pelatihan menulis untuk 1.000 orang. Sebanyak 700 orang adalah perempuan yang terdiri atas ibu rumah tangga dan remaja putri. “Selebihnya pelajar dan guru,” kata Tabrani.

Pesertanya selalu datang dari berbagai kabupaten di Aceh. Mereka dibiayai untuk hadir di Banda Aceh. Materi penulisan yang diberikan bermacam-macam, misalnya pelatihan menulis, termasuk penulisan sastra, seperti cerpen. Selain dia sendiri, Tabrani mengundang para penulis yang sesuai dengan bidangnya untuk memberikan materi dalam pelatihan-pelatihan itu.

Bidang keahlian Tabrani sendiri adalah penulisan artikel opini. Alumnus Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala ini dikenal sebagai pengamat pendidikan di Aceh. Menulis sejak 1989, ia telah menghasilkan lebih dari 400 artikel yang tersebar di berbagai media cetak daerah dan nasional.

Tabrani bercerita, kegiatan pelatihan menulis untuk perempuan itu dimulai pada akhir 2002. Jumlah peserta pertama sebanyak 25 orang. Itu berangkat dari keprihatinan terhadap kehidupan mereka. “Mereka dihadapkan dengan berbagai masalah, tetapi tidak ada media ekspresi untuk menyampaikan masalah tersebut,” ujarnya.

Ia juga mengamati, kebanyakan tulisan yang muncul di media massa ditulis laki-laki. “Ketika membaca surat kabar atau majalah, saya mencoba mencari tulisan perempuan, tapi sangat jarang didapat,” ia melanjutkan. Maka itu, ia mendorong mereka agar punya keberanian, kemampuan, dan keinginan menulis. “Karena dengan menulis, bisa menjadi obat bagi mereka. Sekaligus bisa memberikan keuntungan ekonomi.”

Sebagai tempat belajar dan menampung tulisan para perempuan itu, pada 2003, Tabrani menerbitkan majalah <I>Potret<I>. Majalah ini khusus mengangkat isu-isu perempuan. Kini 60-70 persen penulis di majalah ini adalah perempuan yang pernah dilatih menulis itu. Selebihnya adalah penulis dari kalangan aktivis, pengamat, dan akademisi.

“Saya memberi honor setiap tulisan mereka yang dimuat di Potret,” tuturnya. Ia mengaku cukup bahagia menerima tulisan para ibu itu. Mereka tidak harus mengetik, karena orang di kampung jarang yang punya mesin ketik apalagi komputer. “Mereka cukup menulis tangan,” tutur guru bahasa Inggris di sebuah sekolah menengah atas di Banda Aceh ini.
Selain itu, sebagian kecil dari peserta pelatihan tersebut mulai menulis di media-media umum.

Tabrani lahir di Manggeng, Aceh, pada 10 Oktober 1962. Sebenarnya, bidang kegiatan lembaga yang dipimpinnya itu adalah pemberdayaan perempuan dan pendidikan. Nah, menulis adalah salah satu model pemberdayaan itu. Di luar menulis, ia juga mengadakan pelatihan-pelatihan kewirausahaan dan keterampilan bagi perempuan. Selain itu, ada pelatihan public speaking. “Sehingga perempuan-perempuan itu berani bicara di depan publik.”

Ia pun mengadakan diskusi bulanan bagi sejumlah guru menyangkut bagaimana cara mengajar yang menarik. Hal ini dilakukan untuk penguatan kapasitas guru, sehingga anak-anak semakin senang belajar. “Termasuk bagaimana membuat soal ujian yang tidak membuat pusing anak-anak,” ujarnya. Untuk itu semua, ia mendatangkan fasilitator ahli, antara lain dari Jakarta.

Berkaitan dengan bidang kegiatannya itu, Tabrani telah mengikuti tak kurang dari 46 kegiatan pelatihan, workshop, dan seminar tentang berbagai masalah, seperti masalah ekonomi, pemberdayaan, serta hak asasi manusia. Sebagian pelatihan itu diikuti di luar negeri, seperti Amerika Serikat, Melbourne (Australia), India, Swiss, Manila (Filipina), Thailand, Malaysia, Helsinki (Finlandia), dan Nepal.

Dengan menjalani beragam kegiatan itu, Tabrani mengaku nyaris tidak punya waktu untuk keluarga. “Saya jarang jalan-jalan sama keluarga, misalnya ke pantai.” Di rumah pun terkadang ia kerap bekerja, yakni mengedit tulisan-tulisan para perempuan itu untuk dimuat di majalahnya. “Tapi istri saya memahami itu.” | MUSTAFA ISMAIL

Pernikahan di Mata Pria


KOMPAS.com – Pria dan perempuan memiliki pandangan yang berbeda tentang pernikahan. Dalam bayangan kita, pernikahan adalah hari-hari penuh kebersamaan. Mulai dari sarapan pagi dan berakhir dengan makan malam romantis di sudut ruangan rumah. Mengerjakan sesuatu bersama, dan berbagai hal yang biasa dilihat di film-film dongeng ala Cinderella. Sayangnya, hal-hal seperti ini jauh dari bayangan pria tentang pernikahan. Kepala mereka lebih banyak diisi oleh bayangan-bayangan ini:

Takut Salah Memilih Pasangan
Siapa sih yang tidak takut berakhir dengan pasangan yang salah? Semua orang pasti memiliki ketakutan yang sama. Apalagi bila hubungan pacaran terhitung singkat. Persoalannya, perempuan lebih mudah mengikis kekhawatiran ini ketimbang pria. Tapi sebenarnya ketakutan pria masih dalam batas wajar. Apa yang paling ditakutkan? Dia sangat takut seseorang yang di masa pacaran dianggapnya sebagai putri yang baik hati, ternyata menjadi seorang “nenek sihir” ketika menikah. Mungkin karena itu, dia terkesan santai dan tidak buru-buru menentukan target. Bukan karena tidak berminat terhadap pernikahan, dia hanya ingin benar-benar mengenal dan menyeleksi perempuan yang akan menjadi calon istrinya.

Siap Bertanggung Jawab
Tanggung jawab, itulah yang ada di kepala pria mendengar kata pernikahan. Segala hal yang berkaitan dengan pasangan resmi menjadi tanggung jawabnya ketika dia menikah. Itu berarti dia harus menjadi nahkoda dan memberikan materi yang cukup, bahkan berlebih untuk keluarganya. Dengan alasan ini, banyak pria mengaku memilih mengejar karier lebih dulu, mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya sebelum memutuskan menikah.

Takut Bosan
“Menikah? Duuh, ketemunya dia lagi, dia lagi dong, bosan aah.” Ya, inilah yang terlintas di kepala pria tentang pernikahan. Membayangkan bahwa dia akan menghabiskan sisa hidupnya dengan orang yang sama, seringkali membuat hatinya gentar. Tapi Anda tak perlu khawatir, tidak semua pria memiliki bayangan seperti ini. Biasanya, yang bisa mengatasi kecemasan ini adalah pria yang merasa telah menemukan belahan jiwa yang bisa dia cintai selamanya. Dia juga berharap, perempuan yang akan dinikahinya tak sekadar menjadi istri tapi juga teman yang menyenangkan. Sssst, diam-diam pria juga memiliki ketakutan pasangannya merasa jenuh dan memilih berselingkuh.

Menjadi Ayah
Status yang berubah dari lajang menjadi ayah, menjadi perhatian pria. Ada yang merasa takut membayangkan bakal ada mahluk mungil yang memanggilnya “ayah”. Namun, bagi yang merasa telah siap, bayangan tentang ini sangat menyenangkan. Sama seperti Anda, pria juga menanti kehadiran teman baru dalam hidupnya. Tak sabar untuk mengajak anak prianya bermain bola atau membelikan anak perempuannya sebuah boneka cantik. Dan dia selalu ingin menjadi ayah yang bisa dibanggakan oleh anak-anaknya.

Hidup Sehat dan Terawat
Menikah berarti ada yang merawat dan mengurus semua kebutuhannya di rumah. Ada yang menyediakan makanan, menyiapkan makanan, pakaian kerja, hingga merawatnya saat sakit. Bagi pria, bayangan ini akan terasa sempurna, ketika yang melakukannya adalah orang yang ia cintai. Hmm, enggak heran ya, kalau banyak pria yang berat badannya bertambah setelah menikah.

Dapat Teman Hidup
Bagi pria, menikah berarti memiliki teman hidup yang siap berbagi saat senang dan sedih. Pria berharap, pasangannya dapat menjadi seseorang yang bisa memberikan dukungan dalam segala kondisi. Serta bisa menerima segala kekurangan dan kelebihannya. Tenang, ia takkan menuntut Anda untuk membantunya menyelesaikan pekerjaan kantor yang sangat banyak. Ia hanya membutuhkan Anda sebagai teman untuk berkeluh kesah dan berdiskusi. Perempuan seperti apa yang ia butuhkan? Yang pasti perempuan yang bisa diajak bicara, sekaligus mau mendengarkan.

(Bestari Kumala Dewi/Majalah Chic)

Editor: NF

Berjumpa Si Putih Madonna di Keukenhof  

TEMPO Interaktif, Lisse – Matahari pagi di awal Mei lalu yang bersinar cerah membuatku nekat hanya mengenakan satu jaket untuk keluar dari hotel. Aku kecele. Hawa dingin, sekitar 11 derajat Celsius, ternyata masih kuat menyelimuti Bussum, kota kecil tak jauh dari Amsterdam, Belanda. Toh, hajatku dan lima rekan wartawan lain untuk segera menikmati kecantikan warna-warni bunga tulip mampu mengatasi hawa dingin.

Beruntung, kereta yang akan mengantar kami ke Stasiun Schiphol, sekitar 30 menit perjalanan, segera muncul. Meski penumpang tak sampai berdesakan, udara di dalam kereta relatif lebih hangat. Lumayan. Di stasiun, kami membeli tiket menuju Taman Bunga Keukenhof, di Kota Lisse. Taman bunga tulip ini tak cuma terbesar di Negeri Kincir Angin, tapi juga di dunia.

Biar nanti tak mengantre lagi, kami sengaja membeli tiket bus berikut tiket masuk ke taman. Total biaya yang harus kami bayar 21 euro (setara Rp 252 ribu) per orang. Waktu tempuh perjalanan Schiphol-Lisse dengan bus nomor 58 sekitar satu jam. Kota Lisse berada di barat daya Amsterdam, di Provinsi South Holland, termasuk dalam wilayah yang disebut Duin-en Bollenstreek (Dune and Bulb Region), karena ciri khasnya banyak bukit pasir pantai dan perkebunan bunga.

Kami beruntung berada di Belanda pada musim semi, saat bunga tulip bermekaran. Dan Taman Keukenhof hanya dibuka untuk umum pada 18 Maret hingga 16 Mei, mulai pukul 8.00 sampai 19.30. Tahun depan, taman ini dibuka dari 17 Maret sampai 15 Mei. Tiap tahun, taman ini menggelar pameran bunga internasional.

Dari riset kecil melalui Internet, terungkap tema pameran bunga internasional ke-61 tahun ini adalah From Russia with Love”. Karena itu, sebuah bagian dari taman ditata menurut gaya lanskap Rusia, lengkap dengan koleksi bunga-bunga khas Rusia. Sebuah mozaik bunga berbentuk Katedral Saint Basil di Moskow juga dihadirkan.

Svetlana Medvedeva, istri Presiden Rusia Dmitry Medvedev, didampingi Putri Maxima dari Kerajaan Belanda, membuka pameran pada 17 Maret lalu. Digelar pula pameran rangkaian bunga bergaya negara pecahan Negeri Beruang Merah itu.

Awalnya, Taman Keukenhof merupakan sebuah area perkebunan pribadi yang dimiliki oleh Countess of Holland Jacoeba van Beieren, yang memerintah kerajaan tersebut pada 1401-1436. Area seluas 32 hektare ini dipergunakan untuk menanam berbagai jenis sayuran, tanaman obat-obatan, dan juga tumbuhan rempah-rempah untuk bahan memasak makanan keluarga kerajaan. Karena itulah, tempat ini dinamakan keukenhof, yang artinya ‘kebun dapur’.

Nama Keukenhof tetap dipertahankan hingga saat ini sejak tempat ini mulai dibuka untuk umum pada 1949 oleh Wali Kota Lisse, W.J.H. Lambooy. Kala itu, dia bekerja sama dengan 10 perusahaan pengembang tanaman bunga terkemuka di daerah itu. Ide awalnya, Wali Kota ingin mempromosikan keberadaan Lisse sebagai pusat industri bunga segar di Belanda dan berniat mengadakan pameran bunga tahunan. Bertindak sebagai penata taman adalah JD dan LP Zocher, perancang Taman Vondelpark di Amsterdam.

Keelokan warna-warni tulip sebetulnya sudah memikat mata saya saat pertama kali menjejakkan kaki di Belanda, di halaman Bandara Schiphol. Tapi saya tak sempat menyentuhnya karena harus segera tiba di hotel. Persentuhan dengan tulip baru dilakukan di halaman hotel tempat kami menginap untuk pelatihan tentang multimedia di Radio Netherland Training Center di Hilversum.

Beberapa ratus meter sebelum memasuki kawasan Taman Keukenhof, hamparan tulip yang berwarna-warni membuat pesona tersendiri. Seperti foto di kartu-kartu pos yang banyak terpajang di toko-toko suvenir. “Woowww…, keren, seperti permadani,” ujarku.

Turun dari bus, suhu udara ternyata belum bersahabat. Malah terasa lebih menusuk tulang ketimbang di Bussum. Tapi penderitaan itu terimbangi oleh kecantikan aneka jenis tulip yang terhampar rapi. Menurut informasi di situs resmi Taman Keukenhof (www.keukenhof.nl), terdapat 7 juta tumbuhan bunga yang ditanam dengan tangan di taman ini, dan sekitar 4,5 juta di antaranya merupakan tulip dalam 100 varietas.

Mengingat luasnya area, semula kami sepakat terus berjalan bersama. Tapi, entah karena masing-masing punya selera jenis dan warna sendiri, kami akhirnya terpencar begitu saja. Masing-masing sibuk membidikkan kamera ke arah bunga-bunga beraneka warna: putih, kuning, oranye, merah, jingga, pink, ungu…, sungguh menyegarkan dan memanjakan mata. Pokoknya, serasa berada di “negeri pelangi”!

Meski Belanda dijuluki Kerajaannya Tulip, bunga tulip sejatinya berasal dari Iran dan Turki. Kata “tulip” sendiri berasal dari bahasa Turki, yang artinya “sorban”. Bagi bangsa Iran dan Turki, tulip adalah bunga nasional mereka.

Di Keukenhof, entah ada berapa ratus nama untuk tulip yang ditanam di sana. Yang sempat kucatat di antaranya Golden, Giant Parrot, Maytime, Abu Hasan, Vvedenskyi. Selebihnya, aku tak peduli. Menikmati keindahan bunga-bunga itu lebih asyik ketimbang mengingat-ingat namanya.

Untuk ragam varietasnya, bunga tulip ada berbagai macam, seperti Single Early, Double Early, Kaufmaniana, Fosteriana, Triumph, Darwin Hybrid, Greigii, Single Late, Double Late, Lily-flowered Tulip, Fringed Group, Viridiflora, dan Rembrandt.

Ada juga tulip varietas baru hasil persilangan yang disebut sebagai tulip-tulip “Walk of Fame”. Tulip-tulip ini dinamai sesuai dengan nama pesohor dunia. Mulai dari penyanyi pop Madonna, pesepak bola Ronaldo dan Del Piero, tokoh kartun Donald Duck dan Spongebob, hingga merek-merek mobil seperti Ferrari, Renault, dan Toyota.
 
Bunga tulip Madonna berwarna putih merekah, genit bergoyang ditiup semilir angin. Sementara itu, Del Piero warnanya putih bersemu pink, sedangkan Monalisa berwarna kekuningan dengan semburat merah.

Di bagian lain, penataan tulip sengaja dikelompokkan dengan warna acak seperti di dekat papan catur raksasa yang sedang dimainkan dua orang penggemar olahraga itu.

Menjelang tengah hari, sinar mentari tak kunjung bertambah kekuatannya. Kenyataan itu memberi eksotika tersendiri terhadap bunga yang diyakini berkhasiat sebagai obat kanker darah itu. Sebab, kami masih bisa menikmati titik-titik embun di kuncup, kelopak, atau daun tulip.

Barangkali karena pengaruh suhu dan luasnya taman, stamina tubuhku merosot drastis. Perut pun keroncongan. Sambil melepas letih, aku menyantap setangkup roti yang sengaja aku sisihkan saat sarapan di hotel. Beberapa teman membeli wafel hangat. Seusai santap siang, kami lanjutkan perjalanan ke Oranje Nassau, tempat berlangsung pameran rangkaian bunga bergaya Rusia.

Agar tak membosankan, Taman Keukenhof dilengkapi dengan taman labirin, taman bermain anak, serta taman burung dan ayam. Juga tersebar 80 buah patung karya pematung tersohor Belanda. Kami meneruskan langkah mencari kincir angin yang mulai beroperasi sejak 1920-an hingga 1957 itu. Kini, kincir angin itu hanya difungsikan sebagai atraksi wisata dan dapat dinaiki pengunjung. Kami pun berfoto-foto di atasnya.

Bagi Anda yang emoh berjalan jauh dan ingin sedikit lebih rileks, hamparan tulip dapat dinikmati dengan “perahu whisper” yang menyusuri sungai-sungai kecil yang membelah taman. Ada tarif tambahan tentunya, 7,5 euro per orang. Satu perahu menampung sekitar 20 orang. Bagi mereka yang sudah sepuh dan harus berkeliling dengan kursi roda, tak perlu bersusah payah membawanya dari rumah karena pengelola menyiapkannya, gratis.

Semakin siang, pengunjung ke Keukenhof terus bertambah. Tak jarang tampak pasangan muda-mudi asyik bermesraan di rerumputan di sela-sela kebun bunga. Ada pula sepasang calon pengantin yang sengaja bergaya untuk foto pre-wedding, lengkap dengan fotografer dan pengarah gayanya.

“Memang romantis tempat ini, apalagi sama pasangan,” ujar seorang teman dari Surabaya. “Sayang istrimu tidak di sini ya, Pak,” aku meledeknya. Kami pun terkekeh.

Di tengah perjalanan, kami pun sempat bersua pasangan muda asal Indonesia yang sedang menikmati liburan di sela tugas sekolah di Hamburg, Jerman. Vinda namanya, datang bersama suami dan anak sulungnya yang berbaring di kereta dorong. “Indah sekali di sini. Kalau di Jerman, hanya melihat bangunan dan museum,” ujar Vinda.

Menjelang sore, seiring langkah yang kian lunglai, kami memutuskan untuk kembali ke Bussum melalui rute yang sama. Tiba di hotel bertepatan dengan jam makan malam. Di kamar masing-masing, kami kembali menikmati keelokan taman pelangi tulip. Kali ini, lewat layar digital lensa kamera. Keindahannya pun terbawa hingga ke dalam mimpi.

DIAN YULIASTUTI

Angka dan Fakta Keukenhof

– 44 juta orang datang mengunjunginya dalam 60 tahun terakhir. 
– 4,5 juta bunga tulip dari 100 varietas ditanam di sini. 
–  7 juta bunga ditanam secara manual.
– 93 pemegang izin Kerajaan menyuplai bibit bunganya.
– 30 ribu bunga lili dari 300 varietas dan ratusan bunga anggrek dari 25 ribu varietas juga ditanam.
– 2.500 lebih pohon dari 87 varietas ada di taman ini.
– 15 kilometer panjang jalur pejalan kakinya.
– 350 juta euro per tahun modal kembali yang dihasilkan oleh industri pameran taman bunga ini, menyumbangkan 23 persen pendapatan bagi Provinsi Belanda Selatan.
– Merupakan taman patung terbesar di Belanda.
– Merupakan tempat yang paling sering difoto di dunia.
– Mempunyai jalur pejalan kaki sepanjang 15 kilometer.
– Mulai tahun lalu terdapat Walk of Fame tulip, yang dinamai dengan nama-nama orang terkenal.
– Memperkenalkan gaya lanskap taman mulai dari gaya Inggris, taman bersejarah dengan spesies tulip lama, hingga gaya lanskap taman Jepang.
– Taman ini tidak disubsidi oleh pemerintah

Sumber: www.keukenhof.nl

30 queries