ANAK ANDA SUSAH MAKAN? Klik Disini untuk Solusinya!
Powered by MaxBlogPress 


Punya Sahabat Biar Tetap Sehat  

TEMPO Interaktif, Memiliki hubungan sosial yang baik–seperti dengan teman, pernikahan, atau anak–sama baiknya untuk menjaga kesehatan, seperti halnya dengan berhenti merokok, menurunkan berat badan, atau bahkan makan obat. Demikian hasil penelitian di Amerika Serikat dua pekan lalu.

Orang dengan hubungan sosial yang kuat akan 50 persen lebih panjang umur dibanding mereka yang tanpa dukungan hubungan ini. Inilah kesimpulan temuan tim dari Brigham Young University di Utah. “Efek buruknya hubungan sosial sama dengan menghirup 15 batang rokok per hari,” kata Julianne Holt-Lunstad, psikolog yang memimpin penelitian itu.

Tim Holt-Lunstad melakukan analisis terhadap sejumlah penelitian tentang efek hubungan sosial pada kesehatan. Mereka menganalisis 148 penelitian terhadap lebih dari 308 ribu orang yang kehidupannya diikuti selama rata-rata selama tujuh setengah tahun. Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal PLos Medicine terbitan Public Library of Science.

Penelitian ini mengukur hubungan sosial dengan beberapa jalan. Seperti yang sederhana, melihat ukuran hubungan sosial yang dimiliki seseorang, misalnya apakah orang tersebut menikah atau tinggal sendirian. Penilaian juga dilihat dari persepsi seseorang, apakah mereka merasa akan ada orang lain yang akan membantunya saat mereka butuh pertolongan. Penilaian lain diambil dari seberapa kuat seseorang terlibat dalam komunitasnya. Hasil penelitian ini kemudian dicek silang dengan usia, jenis kelamin, status kesehatan, dan penyebab kematian saat orang tersebut meninggal.

Memiliki hubungan sosial yang buruk ternyata setara dengan menjadi pecandu alkohol. Ini lebih membahayakan dibanding tidak berolahraga dan dua kali lebih berbahaya dibanding obesitas atau kelebihan berat badan.

Tak memiliki hubungan sosial punya dampak yang lebih besar untuk kematian muda dibanding tidak melakukan vaksinasi untuk mencegah pneumonia atau radang paru-paru di usia muda, tidak mengkonsumsi obat tekanan darah tinggi, atau terpapar udara berpolusi.
“Saya tentu saja bukan menganggap remeh berbagai faktor risiko lain karena tentu saja ini penting untuk menjaga kesehatan,” kata Holt-Lunstad. “Tapi kita perlu menganggap masalah hubungan sosial sebagai sesuatu yang serius juga.”

Memang tak mudah untuk tiba-tiba saja menyuruh orang untuk punya sahabat atau tidak. Tapi menurut Holt-Lundstad, ada sejumlah bukti yang menyatakan bahwa menggaji orang untuk menemani seseorang sebagai pengurus tidak termasuk dalam upaya meningkatkan kesehatan. Misalnya pada kelompok usia lanjut yang mendapatkan seorang perawat, yang digaji anak-anaknya, untuk mengurusi mereka. “Alaminya, menjalin hubungan sangat berbeda dengan mendapatkan dukungan dari seseorang yang dibayar untuk tujuan itu,” kata Holt-Lunstad.

Lalu bagaimana kehidupan sosial kita bisa mempengaruhi kesehatan kita? Holt-Lunstad menjelaskan, keberadaan orang yang dekat secara emosional di sekeliling kitalah yang membuat kita mampu menghadapi stres hidup–sesuatu yang diketahui bisa menyebabkan kematian jika tak tertahankan.

“Saat kita menghadapi kejadian yang potensial menimbulkan stres dalam hidup kita, kita tahu bahwa ada orang-orang di sekeliling kita yang bisa kita andalkan. Ini menjadikan kita percaya bahwa mereka akan membuat kita mampu menghadapinya. Bisa juga keberadaan mereka mencegah berbagai efek negatif dari stres,” kata Holt-Lunstad.

Sahabat atau orang dekat juga bisa mendorong berbagai perilaku sehat–juga tak sehat–yang bisa mempengaruhi hidup. Misalnya, teman kita mungkin bisa mengingatkan untuk makan lebih baik, berolahraga, cukup tidur, atau mengunjungi dokter. Memiliki hubungan sosial juga memberi arti dalam hidup kita dan mungkin mempengaruhi kita untuk menjaga diri kita lebih baik.

| UTAMI WIDOWATI | REUTERS | LIVESCIENCE | BE

Sehat Itu Rasanya:

-Merasa puas dalam menjalani hidup.
-Punya semangat menjalani hidup dan bisa tertawa dan bersenang-senang.
-Mampu menghadapi stres dan mengatasi kesulitan hidup.
-Merasa punya arti dan tujuan dalam hidup, baik dalam tiap aktivitas atau hubungan sosial.
-Punya kelenturan untuk mempelajari hal-hal baru dan beradaptasi dengan perubahan.
-Seimbang dalam bekerja, bermain, beristirahat, dan beraktivitas lainnya.
-Mampu membangun dan mempertahankan hubungan yang saling memuaskan dengan pasangan.
-Punya kepercayaan diri yang tinggi dan citra diri yang baik.

Ayo Mencari Teman

-Sesekali berpalinglah dari televisi, layar komputer, dan layar ponsel. Jangan ganti persahabatan nyata dengan yang sifatnya virtual.
-Luangkan waktu beberapa jam dalam sehari untuk kontak bertemu wajah dengan orang-orang yang disukai. Pilih teman, tetangga, kerabat, atau anggota keluarga yang seirama dan punya pandangan yang positif pada Anda.
-Ikuti kegiatan sosial yang bersifat sukarela. Lakukan sesuatu yang bisa menolong orang lain yang membutuhkan.
-Ikuti berbagai kegiatan yang memberi peluang bertemu dengan berbagai macam manusia yang mungkin punya selera dan minat yang sama dengan Anda, orang yang berpotensi menjadi teman Anda.

| BERBAGAI SUMBER

Organ Tubuh Ternyata Tak Setua Umur

VIVAnews - Menjadi tua itu pasti. Penandanya adalah usia. Namun tahukah Anda bahwa usia organ tubuh kita tidak sama dengan usia berdasarkan tahun kelahiran. Organ tubuh kita ternyata tidak setua usia berdasar tahun kelahiran.

Organ tubuh memiliki kemampuan luarbiasa untuk segera memulihkan diri. Simak beberapa organ vital beserta kemampuannya meregenerasi diri berikut ini, seperti dikutip dari laman Daily Mail. 

1. Hati: 5 bulan
Regenerasi hati tergolong cepat berkat kapasitas sel darah yang diterimanya. Sel-sel hati secara teratur memperbaiki diri dalam 150 hari, tak terkecuali pada pecandu alkohol. Bahkan, jika 70 persen hati seseorang dipotong, organ ini memiliki kemampuan kembali ke ukuran normal hampir 90 persen, hanya dalam dua bulan. Namun, hati penderita kasus sirosis tidak dapat meregenerasi.

2. Otak: Tidak regenerasi
Hanya beberapa sel dalam otak yang bisa meregenarasi seumur hidup manusia. Saat lahir, manusia memiliki 100 miliar sel otak yang sebagian besar tidak akan memulihkan diri.

3. Jantung: 20 tahun
Studi yang dilakukan oleh New York Medical College menunjukkan bahwa ada sel-sel induk jantung yang yang membantu regenerasi hati terus-menerus. Sel-sel ini berganti tiga hingga empat kali selama seumur hidup.

4. Paru paru: 2-3 minggu
Sel-sel di paru-paru memperbarui diri dengan interval berbeda. Permukaan sel paru diperbarui tiap 2-3 minggu. Dan, bagian dalam paru-paru diperbaiki dalam waktu satu tahun.

5. Lidah: 10 hari
Lidah dilengkapi dengan sekitar 9.000 sel perasa dan diperbarui tiap 10 hari atau maksimal dua minggu. Namun, sel lidah bisa rusak karena infeksi atau panas dan asap rokok. Sehingga,  pertumbuhan sel tidak sensitif.

6. Mata: Tidak beregenerasi
Mata adalah salah satu bagian tubuh yang tidak banyak berubah sepanjang hidup. Satu-satunya komponen yang terus-menerus regenerasi adalah kornea. Dalam kasus kecelakaan, kornea dapat sembuh dalam 24 jam.

7. Kulit: 2-4 minggu
Sel-sel pada permukaan kulit diperbarui setiap 2-4 minggu. Gunanya untuk melindungi tubuh dari rangsangan eksternal, seperti cedera dan polusi.

8. Tulang: 10 tahun
Kerangka manusia terus memperbarui diri dengan siklus selama 10 tahun.

9. Usus: 2-3 hari
Karena bagian ini paling sering terpapar bahan kimia, seperti asam korosif, usus memperbarui diri selama 3-5 hari.

10. Sel Darah Merah: 10 bulan
Sebagai sistem transportasi vital tubuh, sel darah merah memperbaharui diri setiap empat bulan. Sel-sel tua dihancurkan di limpa. Cedera atau menstruasi menyebabkan jumlah sel darah berkurang sehingga tubuh terus memproduksi sel darah merah.

• VIVAnews

Tembakau Bisa Bikin Kulit Lebih Muda

TEMPO Interaktif, Jerusalem – Mungkinkah tumbuhan tembakau bisa memberikan sesuatu yang berguna untuk kosmetik? Jawabannya, sangat mungkin. Setidaknya itulah kesimpulan yang diperoleh dari jurnal Biomacromolecules.

Bagi orang yang terobsesi pada kecantikan, masalah nomor satu dari merokok adalah karena rokok dapat mempercepat kulit menjadi tua. Namun diperlukan teknik baru yang dapat memanfaatkan kembali tumbuhan tembakau untuk kecantikan dan membuat kulit terlihat muda.

Peneliti Oded Shoseyov dari Hebrew University of Jerusalem telah menemukan bagaimana cara tumbuhan tembakau memproduksi substansi yang mirip dengan kolagen manusia. Kolagen adalah protein utama yang ada dalam jaringan kulit, urat, tulang rawan, tulang, dan sendi. Kadar kolagen biasanya menurun seiring dengan proses penuaan secara normal, yang membuat pipi menjadi kendor dan berkerut.

Kolagen sintetis sebenarnya sudah dipasarkan untuk kepentingan medis –seperti untuk perbaikan tulang dan jantung. Namun selain itu, ternyata di masa yang akan datang kolagen sintetis yang baru dapat digunakan untuk kepentingan komestik.

“Ini adalah kolagen yang sangat unik,” kata Noa Lapido, asisten wakil presiden CollPlant, perusahaan yang menangani hak paten dari temuan yang dihasilkan oleh laboratorium milik Oded. “Kolagen sintetis dari tembakau ini sangat mirip dengan kolagen manusia. Dan karena tidak mengalami kontak dengan hewan, kolagen ini jauh lebih aman dan lebih baik dibanding kolagen lain.”

Kebanyakan kolagen sintetis yang dihasilkan saat ini berasal dari hewan yang sengaja dipelihara, seperti sapi, babi, atau bangkai manusia. Kolagen yang dihasilkan dari sumber-sumber ini dapat membawa virus dan protein mikroskopik yang mirip dengan virus, seperti virus yang disebabkan oleh penyakit sapi gila. Sedangkan kolagen yang baru ini, menurut para peniliti, mencegah timbulnya risiko-risiko seperti itu.

Peneliti juga menegaskan bahwa tanaman tembakau tidak dapat memberi keuntungan medis dan keuntungan kecantikan secara langsung dan alamiah. Namun memproduksi kolagen yang mirip manusia dari tumbuhan tembakaulah yang merupakan prestasi teknologi, termasuk menghidupkan lima gen spesifik dari tumbuhan tembakau yang dimodifikasi secara genetis secara simultan.

Penggunaan kosmetik dari kolagen yang baru sebelumnya dianggap tidak mungkin. Karena, kata Noa, harganya beberapa ratus kali atau bahkan beberapa ribu kali lebih mahal dibanding kolagen lain. Namun “dalam waktu beberapa tahun yang akan datang”, katanya, hal ini mungkin bisa dilakukan.

LIVE SCIENCE / FANNY FEBIANA


Uveitis Intai Perokok  

TEMPO Interaktif, Jimmy, 44 tahun, seorang perokok berat, beberapa minggu terakhir mengeluhkan penglihatannya yang mulai berkurang. Matanya sering tampak merah, nyeri, meski bukan karena kurang tidur. Ketika memeriksakan diri ke dokter, dia dinyatakan mengidap uveitis akibat kebiasaannya merokok.

Bukan asap rokok yang diembuskannya yang secara langsung meracuni matanya. Justru proses munculnya penyakit itu berlangsung di dalam tubuhnya. Satu alasan kuat untuk Jimmy agar segera menghentikan kecanduannya pada rokok.

Uveitis adalah peradangan yang menyerang bagian uvea mata. “Disebut uvea karena bentuknya yang seperti anggur. Bagian ini terdiri atas choroid, iris, dan ciliary body. Di bagian-bagian ini banyak pembuluh darah yang mengalirkan darah ke mata,” kata Dr Rini Mahendrastari Singgih, Ped. Opthal/DSM di kliniknya di Bintaro, Jakarta Selatan, kemarin.
Karena uvea ini mengandung banyak banyak pembuluh darah, apa pun yang meracuni darah akan langsung terasa akibatnya di area uvea ini. Tapi tentu saja hal itu bergantung pada imunitas atau sistem daya tahan tubuh masing-masing orang.

Parahnya, “Rokoknya itu di tiap bagiannya adalah racun yang melemahkan sistem kekebalan tubuh kita, termasuk pembuluh darah. Uveitis bukan penyakit ringan karena, selain bisa terjadi relapse atau kekambuhan, jika dibiarkan bisa berujung pada kebutaan,” kata Rini.

Sebuah penelitian yang dilansir pada Maret lalu menyimpulkan dengan jelas hubungan antara kebiasaan merokok dan uveitis di klinik di University of California, San Francisco, dan Proctor Foundation dari 2002 hingga 2009.

Penelitian yang dipimpin oleh Nisha Acharya, MD juga menyebut, di Amerika Serikat, sekitar 10 persen penderita kebutaan adalah karena uveitis. Acharya meneliti catatan medis dan status kebiasaan merokok dari semua pasien uveitis.

Setelah mempertimbangkan faktor usia usia, ras, gender, dan pendapatan rata-rata, Acharya menyimpulkan, para perokok 2,2 kali lebih berisiko mengidap uveitis dibanding mereka yang tak pernah merokok.

“Rokok mengandung sejumlah komponen yang menstimulasi peradangan dalam pembuluh darah. Inilah yang berkontribusi dalam mengganggu sistem imun tubuh hingga muncul uveitis,” kata Acharya. Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengkonfirmasi temuan Acharya, tapi hal ini bisa jadi peringatan bagi para perokok untuk segera menghentikan kebiasaannya.

Penelitian ini dilaporkan dalam American Academy of Ophthalmology.
Meski sebagian besar penyebab uveitis tidak diketahui, tapi ada beberapa masalah yang menyertai uveitis, seperti infeksi virus, infeksi jamur, infeksi parasit, penyakit yang berhubungan dengan beberapa bagian tubuh, seperti artritis, penyakit pencernaan, dan penyakit autoimun, seperti lupus, atau sebab eksternal, seperti cedera akibat benturan pada mata.

Gejala uveitis ialah mata merah, penglihatan kabur, rasa nyeri, gelap dengan titik-titik hitam dalam penglihatan, dan sensitif terhadap cahaya. Uveitis bisa menyerang salah satu mata, meski bisa juga menyerang keduanya.

Gejala ini bisa muncul dengan tiba-tiba, tapi bisa juga berangsur dan berlangsung dalam hitungan bulan hingga tahunan. Uveitis bisa membahayakan struktur penting, seperti iris di depan mata dan retina, jaringan yang sangat sensitif terhadap cahaya di balik mata, yakni citra atau gambar yang dilihat akan difokuskan dan dikirim di saraf penglihatan.

Meski lebih sering muncul karena berantakannya sistem imun tubuh, dan bukan sebab khusus, uveitis dengan mudah bisa muncul pula pada mereka yang mengidap penyakit autoimun, seperti multiple sclerosis, juvenile arthritis, atau mereka yang terserang infeksi seperti herpes simpleks atau tuberkulosis.

Ada beberapa jenis uveitis. Paling sering terjadi adalah adalah uveitis anterior. Peradangan terjadi di bagian depan mata, dan sering disebut iritis karena umumnya hanya berefek di iris. Iritis sering terjadi pada usia muda dan usia pertengahan.

Posterior uveitis berdampak pada bagian belakang uvea, yang mempengaruhi choroid prima, lapisan dalam pembuluh darah dan jaringan penghubung dengan bagian tengah mata. Tipe uveitis ini disebut choroiditis. Jika retina juga terserang, disebut choroiretinitis. Bagian lain dari uveitis adalah pars planitis. Ini adalah inflamasi yang menyerang area sempit antara bagian warna mata atau iris dan choroid.

Pemeriksaan yang komplet pada catatan medis dan pemeriksaan mata harus dilakukan. Tes laboratorium harus dilakukan untuk menemukan adanya infeksi atau penyakit autoimun.
Pemeriksaan yang teliti oleh ahli mata atau ophthalmologist sangat penting ketika gejala mulai muncul. Selain pemeriksaan mata bagian tengah, mungkin akan dilakukan pemeriksaan darah, tes kulit, atau pemeriksaan dengan sinar-X untuk melengkapi diagnosis.
Karena uveitis bisa berhubungan dengan penyakit di bagian tubuh lain, ahli mata mungkin akan ingin mengetahui kesehatan secara keseluruhan. Mungkin akan ada konsultasi dengan dokter umum atau spesialis yang biasa merawat kesehatan.

Dengan pengobatan yang tepat, serangan uveitis bisa pergi dalam hitungan hari atau minggu. Tapi kekambuhan sangat mungkin terjadi meski pengobatan pertama sudah tuntas. “Maka, kita tidak hanya mengobati, tapi juga harus melakukan perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat,” kata Rini.

Sciencedaily | berbagai sumber | utami

Makanan dan Minuman Pengotor Gigi  

TEMPO Interaktif, Jakarta -Jika Anda ingin menjaga gigi Anda tetap putih, periksalah daftar makanan dan minuman Anda. Warna dalam makanan dan minuman berasal dari chromogens, molekul berpigmen yang bisa menempel pada gigi. Begitu juga dengan keasaman makanan dan minuman. Keasaman membuat warna makanan mengikis gigi, sehingga gigi lembek dan chromogens mudah menempel.

Selain menghindari rokok dan menyikat gigi tiap hari, ada beberapa makanan/minuman yang perlu dipertimbangkan untuk dihindari. Berikut daftar makanan/minuman tersebut.

1. Anggur
Anggur merah, minuman asam yang berisi chromogens dan tanin, terkenal bisa menodai gigi. Anggur putih juga mengalami pewarnaan.

2. Teh
Seperti anggur, teh hitam biasa kuat warnanya. Kemampuan menodai gigi lebih besar daripada kopi. Teh herbal, teh hijau, dan teh putih lebih kecil kemungkinannya mengotori gigi dibandingkan teh hitam.

3. Soda
Cola sangat kaya asam dan chromogen. Walau berwarna terang, cola cukup asam untuk membuat gigi ternoda. “Minuman bersoda memiliki keasaman mirip dengan asam baterai,” kata Matthew J. Messina, DDS, dokter gigi di Cleveland.

4. Minuman berenergi
Penelitian terbaru menemukan minuman berenergi yang sangat asam bisa melunakkan email gigi – setting panggung untuk pewarnaan.

5. Buah beri
Blueberry, blackberry, cranberry, ceri, anggur, delima, dan buah-buahan sangat berwarna lainnya (dan jus, kue, dan makanan lain dan minuman yang terbuat dari mereka) bisa menyebabkan noda.

6. Saus
Saus kedelai, saus tomat, saus kari, dan saus lainnya sangat berwarna dan mengalami proses pewarnaan yang signifikan.

7. Permen
Permen, permen karet, es loli, dan permen lain sering mengandung pewarnaan. Jika lidah anda berubah warna saat memakan permen, kemungkinan besar gigi Anda akan terpengaruh.

nur rochmi | webmd

Akibat Rokok, Penyakit Jantung Makin Menyerang Orang Muda  

TEMPO Interaktif,  Penyakit jantung koroner kini menjangkiti pada usia makin muda. Dr Taufik Pohan, SpJP, pernah menangani penderita jantung koroner berusia 26-29 tahun. “Padahal dulu usia sekitar 40 tahunan baru kena,” kata dokter spesialis jantung dari Rumah Sakit Pondok Indah ini.

Dokter spesialis jantung dari RS Jantung Harapan Kita, Jakarta, Dr Aulia Sani, SpJP, bahkan pernah menangani pasien jantung koroner pemuda usia 22 tahun. “Dia merokok sejak usia 9 tahun,” kata Sani. Pembuluh darah koroner pemuda itu terpaksa dipasangi cincin (stent).

Faktor utama penyakit jantung koroner, kata Aulia, memang rokok. Penyakit ini menjadi penyebab kematian nomor wahid. Data WHO menyebutkan, pada 2005 rokok diperkirakan menyebabkan 400 ribu kematian atau 23,7 persen dari 1,7 juta kematian.

Masalahnya, tidak mudah bagi perokok untuk berhenti merokok. Menurut Dr Tribowo T. Ginting, SpKJ, dari RS Persahabatan, 70 persen perokok ingin berhenti. “Tapi hanya 5-10 persen yang bisa berhenti tanpa bantuan,” ujarnya. Mereka yang bisa berhenti biasanya perokok yang belum kecanduan. Dengan susahnya berhenti merokok, jumlah perokok selalu naik.

Di Indonesia, menurut data WHO, tren jumlah konsumsi rokok dan jumlah perokok muda kian besar. Dari 1960 hingga 2004, konsumsi rokok naik 6,2 kali lipat, dari 35 miliar batang menjadi 217 miliar batang per tahun. Jumlah anak yang memulai merokok sebelum umur 19 tahun juga naik 10 persen dari 2001 hingga 2004. Pada 2001-2004, perokok usia 15 tahun ke atas jumlahnya naik 2,9 persen.

Survei Global Tembakau Pemuda-Indonesia pada 2006 menyebutkan, satu dari tiga anak (37,3 persen) pernah merokok. Mereka yang pertama kali merokok sebelum genap 10 tahun sebanyak 30,9 persen. Anak muda yang tetap merokok 12,6 persen dan 3,2 persen di antaranya dilaporkan kecanduan. Jika kecanduan, susah berhenti.

Jumlah perokok pasif juga naik. Aulia Sani memaparkan, dari rokok yang disulut, 20 persen asapnya diisap perokok. Sebanyak 5-10 persen tersangkut di filter rokok. Sisanya beredar di udara. Akibatnya, perokok pasif bisa terserang batuk dan bronkitis. “Begitu tua, perokok pasif bisa kena jantung koroner,” kata Aulia.

Perokok pasif, ujarnya, memiliki risiko terkena kanker paru dan jantung koroner hingga 20-30 persen dibanding yang tak terpapar asap rokok. Ruang khusus merokok, kata dia, tiada guna.

Ini senada dengan hasil pengukuran Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta dengan Swisscontact Foundation Indonesia. Kedua lembaga itu menemukan, nikotin yang banyak beredar di udara berukuran 2,5 mikrometer (PM 2.5) di kawasan dilarang merokok total kurun waktu Agustus-September 2009.

Di sekolah, 32 persen lokasi udaranya terkontaminasi nikotin. Di rumah sakit, ditemukan 68 persen wilayah udara tercemar nikotin. Paling parah adalah di tempat hiburan, di antaranya restoran. Di restoran ditemukan 86 persen lokasi hiburan yang udaranya tercemar nikotin. “Di restoran, kadar PM 2.5 mendekati 2.000 mikrogram/m3,” kata Kepala Bidang Penegakan Hukum BPLHD Ridwan Panjaitan.

Padahal kadar maksimal yang ditoleransi menurut WHO adalah 25 mikrogram/m3. Menurut Direktur Eksekutif Swisscontact Foundation Indonesia Dollaris Riauaty Suhadi, ukuran PM 2.5 merupakan partikel yang sangat kecil dan bisa masuk ke paru-paru. “Tak ada teknologi yang bisa menyaringnya.”

Sementara itu, menurut Aulia Sani, ada dua hal yang bisa dilakukan untuk mengerem laju penyakit jantung koroner usia muda ini. Pertama, mencegah lahirnya perokok baru dan, kedua, menyembuhkan pecandu rokok. Pencegahan perokok dini dilakukan dengan melakukan edukasi terhadap anak yang belum pernah merokok. “Kampanye dilakukan sejak anak-anak masih kecil,” kata dia.

Untuk itu, perlu dilakukan kampanye antitembakau di sekolah-sekolah sejak taman kanak-kanak. Sedangkan bagi yang telanjur merokok dan belum kecanduan, bisa dilakukan terapi perilaku. Yang telanjur kecanduan pun masih bisa diobati, salah satunya dengan obat generik Varenicline Tartrate.

Obat itu menyuplai pengganti nikotin. “Varenicline Tartrate mengganti nikotin tapi tak membuat kecanduan,” kata dia. Menurut Sani, Varenicline Tartrate akan memancing pelepasan dopamine dan endorphin.

NUR ROCHMI

BERITA TERPOPULER LAINNYA:

Pengadilan Tolak Praperadilan Susno Duadji

Catatan Penumpang Kapal yang Ditembaki Israel

Survei Membuktikan, Warga Belanda dan Kanada Hidupnya Paling Bahagia

Forum Santri Akan Diskusikan Cincin Darah Nia Ramadhani

Bentrokan di Cengkareng, Ketua Forkabi Tewas

Megan Fox Buka-bukaan di Bandara

Lionel Messi Dituding Lupa Daratan

 

 

 

Wanita Wajib Berani Berkata Tidak Pada Rokok

VIVAnews – Dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Departemen Kesehatan menggelar aksi simpatik di Bunderan Hotel Indonesia dengan tema saatnya melindungi rokok dari perempuan dan anak-anak. Tak hanya itu, wanita juga diharapkan bisa membantu memerangi rokok.

Menurut Kepala Promosi Departemen Kesehatan, Lilik Sulistyowati mengatakan jumlah perokok baru terus meningkat. Para perokok baru itu terdiri dari anak-anak bahkan balita. Hal ini tentu saja menimbulkan keprihatinan.

Untuk menyikapinya peran perempuan yang dianggap memiliki peranan penting dalam lingkungan keluarga sangat dibutuhkan untuk menjaga anak-anak jangan sampai bersentuhan dengan rokok.

“Sekarang perempuan harus berani bilang tidak pada rokok dan melarang merokok di dalam rumah,” kata Lilik saat ditemui di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Sabtu 29 Mei 2010.

Dari data yang didapat, rokok atau tembakau itu sangat berbahaya bagi kesehatan. Rokok atau tembakau mengandung lebih dari 4000 senyawa kimia yang membahayakan bagi kesehatan.

Dan 57 persen dalam rumah tangga di Indonesia itu diketahui mempunyai sedikitnya satu perokok. Tak hanya itu, hampir semua perokok itu sekitar 91, 8 persen merokok di dalam rumah.

Seseorang yang bukan perokok dan menikah dengan perokok dikhawatirkan akan mempunyai resiko menderita kanker paru-paru sebesar 20 sampai 30 persen. Selain itu, juga berresiko terkena penyakit jantung.

• VIVAnews

Malas Sikat Gigi Picu Penyakit Jantung

VIVAnews - Menyikat gigi minimal dua kali sehari bukan hanya untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut, tetapi mencegah penyakit kronis. Orang yang menyikat gigi kurang dari dua kali sehari memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit jantung.

Studi di Skotlandia terhadap lebih 11 ribu orang dewasa menemukan, orang dengan kesehatan oral buruk berisiko 70 persen lebih tinggi terkena penyakit jantung. Hal serupa diungkap dalam studi British Medical Journal, yang menunjukkan kaitan masalah gusi dan penyakit jantung.

Peradangan dalam tubuh, termasuk mulut dan gusi, berperan menyumbat arteri dan menyebabkan serangan jantung. Jika tidak menyikat gigi secara rutin, mulut dapat terinfeksi bakteri penyebab radang.

Penelitian menganalisis perilaku gaya hidup, seperti merokok, aktivitas dan rutinitas fisik serta kesehatan mulut. Mereka dengan kebersihan mulut buruk positif memiliki protein darah yang memicu peradangan.

Pimpinan studi, Profesor Richard Watt, dari University College London, seperti dikutip dari laman BBC, mengatakan, studi lanjutan yang lebih mendalam dibutuhkan untuk mengonfirmasi apakah kesehatan mulut merupakan penyebab atau hanya penanda risiko penyakit jantung. Namun, ia mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan mulut dari rokok atau pola makan yang buruk. (jn)

• VIVAnews

Mengapa Balita Bisa Candu 40 Rokok per Hari

VIVAnews - Perilaku anak berkiblat pada lingkungan sekitarnya, terutama orangtua. Tidak mungkin kasus Ardi, balita dua tahun asal Musi Banyuasin Sumatera Selatan yang mengalami candu rokok, muncul tanpa ‘dosa’ orangtua dan lingkungan sekitarnya.

Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka mengatakan kasus Ardi muncul akibat adanya ‘fasilitas’ yang diberikan keluarga. “Jelas ini karena faktor lingkungan sosial di sekitar anak yang memfasilitasi keinginannya,” katanya pada VIVAnews di Jakarta, Jumat 28 Mei 2010.

Komnas PA bersama pihak terkait sedang melakukan observasi yang meliputi unsur kesehatan, kejiwaan, dan latar belakang keluarga Ardi. Observasi diperkirakan selesai dalam 2-3 hari. Selanjutnya, terapi penyembuhan dari candu dilakukan dengan melibatkan Dinas Kesehatan. “Perhatian anak akan dialihkan agar tidak mengisap rokok lagi,” kata Arist.

Pemulihan juga akan melibatkan orangtua agar tidak menuruti keinginan anak untuk melanjutkan kebiasaan yang merugikan kesehatan. “Orangtua mengetahui mana yang buruk, jadi semestinya melindungi anak. Bukan justru memfasilitasi kebiasaan tersebut,” katanya.

Agar anak tidak terpapar asap rokok, Arist mendorong agar UU yang digagas mengenai rokok termasuk iklan dan promosi tembakau dibatasi. “Segera tindaklanjuti untuk membatasi peredaran nikotin pada anak,” tambahnya.

Fenomena seperti ini, menurut Arist, bukan hal yang baru. Sejauh ini telah ada enam kasus serupa yang menunjukkan anak memiliki kebiasaan tak sehat seperti merokok, makan kapas, batu bata, kayu dan sebagainya. Bahkan di Binjai, Sulawesi Selatan ada anak yang merokok sejak usia 1,5 tahun.
 
Berdasar data survei sosial ekonomi nasional terakhir pada 2004, perokok pemula di Indonesia usia 5-9 tahun meningkat empat kali lipat dalam kurun waktu 2001-2004. Mayoritas perokok pemula adalah usia remaja 15-19 tahun.

Rokok bukan hanya menggerogoti kesehatan, tapi juga menghancurkan perekonomian keluarga. Bayangkan, konsumsi 40 batang rokok sehari yang dilakukan Ardi membutuhkan biaya sekitar Rp 50 ribu. Itu belum termasuk biaya dampak kesehatan yang nantinya timbul akibat rokok. (umi)

• VIVAnews

Cegah Alzheimer dengan Bir

VIVAnews - Para peneliti mengklaim bahwa mengasup minuman beralkohol dalam porsi wajar dapat menjauhkan penyakit Alzheimer, terutama pada wanita nonperokok.

Seperti dikutip dari laman Telegraph, Dr Ana Garcia dari Universitas Valencia, mengatakan, “Hasil penelitian menunjukkan efek perlindungan dari konsumsi alkohol pada nonperokok untuk mencegah Alzheimer.”

Tim peneliti asal Spanyol membandingkan kesehatan pribadi dan latar belakang 176 pasien Alzheimer dengan 246 orang sehat pada usia yang sama. Penelitian menunjukkan, alkohol dan rokok mempengaruhi kinerja saraf otak.

Meski demikian, paparan rokok tidak menunjukkan pengaruh langsung yang dapat meningkatkan risiko Alzheimer. Sedangkan konsumsi alkohol dalam porsi wajar berpengaruh signifikan untuk meningkatkan kerja otak.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Alzheimer’s Disease itu menjelaskan, hanya sedikit faktor lingkungan yang memengaruhi terjadinya penyakit ini.

Rebecca Wood, Chief Executive dari Alzheimer’s Research Trust, mengungkap, meski ada peluang bahwa mengonsumsi alkohol mampu melindungi dari penyakit pikun atau demensia dan Alzheimer, perlu penelitian lebih lanjut mengenai hal tersebut. Menurutnya, gaya hidup sehat yang paling memengaruhi risiko Alzheimer.

“Yang paling terbukti mengurangi risiko demensia adalah dengan makan makanan sehat, berolahraga, menjaga tekanan darah dan kadar kolesterol terutama pada usia setengah baya.” Lebih dari 800ribu orang di Inggris mengidap Alzheimer dan demensia. (jn)

Baca juga:

Minum Bir Perkuat Tulang & Minum Wine Bikin Langsing

 

• VIVAnews

18 queries