Melatih Kecakapan Sosial Melalui Silaturahmi
Sebagian besar anak memiliki pengalaman sosial yang terbatas. Padahal, interaksi sosial merupakan salah satu kunci kecakapan sosial yakni keterampilan yang digunakan sehari-hari sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat, misalnya hubungan dengan teman sebaya, orang yang lebih muda, dan orangtua.
Berikut Tips Membangun Kecakapan Sosial :
1. Tidak ada batasan usia. Sejak dini hingga dewasa dapat terus diajarkan.Semakin dini hasilnya akan semakin baik
2. Orang tua harus konsisten
3. Orangtua jangan hanya mengajak anak berkunjung tapi berikan ia pengertian dan pengetahuan tentang nilai moral yang terkandung di dalamnya, sehingga setiap momen, misalnya hari raya, tidak lewat begitu saja dan tidak hanya sebatas ritual atau tradisi tanpa pernah dimengerti anak.
Supaya Berhasil dalam Latihan Kecakapan Sosial
1. Orangtua harus menjadi model dengan menunjukkan perilaku yang pantas
2. Sering berlatih dengan anak
3. Selalu mengingatkan anak
4. Puji dan besarkan hati anak
5. Lingkungan sangat mempengaruhi keberhasilan latihan kecakapan sosial. Karena itu peran teman sebaya dan orang yang lebih tua sangat penting.
Pentingnya Memeriksakan Darah
VIVAnews - Melalui pemeriksaan darah, penyakit atau gangguan yang Anda alami dapat terdeteksi lebih cepat. Untuk itu, melakukan pemeriksaan darah secara rutin sangat dianjurkan. Lalu seberapa rutin seharusnya pemeriksaan darah dilakukan ?
Seperti dikutip dari Method Self Healing.com, bagi Anda yang tidak memiliki riwayat penyakit berat, pemeriksaan darah sebaiknya dilakukan sekali dalam setahun. Hal ini harus dilakukan pada waktu yang sama tiap tahunnya. Sebelum melakukannya Anda memang harus berkonsultasi dulu dengan dokter, akan sangat baik jika Anda melakukannya bersamaan dengan medical check-up tahunan.
Lalu, bagi yang memiliki riwayat penyakit, pemeriksaan darah harus dilakukan lebih sering. Untuk frekuensinya, tergantung dengan kondisi kesehatan Anda. Jika seseorang mengonsumsi obat dalam jangka waktu panjang, tes darah bisa dilakukan setiap enam atau tujuh minggu. Ini untuk melihat bagaimana efek pengobatan terhadap tubuh Anda.
Dokter mungkin dapat meminta tes darah khusus berdasarkan gejala-gejala yang Anda miliki, dalam kondisi fisik tahunan. Untuk pemeriksaan, kemungkinan besar terkait gula darah, masalah tiroid, elektrolit darah, dan tentu saja jumlah sel-sel darah merah dan putih.
Kadar kolesterol darah juga harus diperiksa. Tergantung pada usia, dokter mungkin akan melakukan tes tambahan yang dapat dilakukan dengan sampel darah.
• VIVAnews
“Stay Home Dad” Makin Populer
KOMPAS.com — Menggantikan peran istri menjaga sang buah hati sembari bekerja di rumah, kenapa tidak? Meski kadang menimbulkan dilema dengan pandangan umum, banyak keuntungan diraih dengan menjadi “ayah rumah tangga”.
Mungkin tak pernah terbayang sebelumnya, sebagai seorang kepala keluarga, suami harus tinggal di rumah untuk menggantikan peranan Anda sebagai ibu. Menjaga anak, melakukan pekerjaan rumah, dan menjalani karier sekaligus, sementara umumnya para suami pergi mencari nafkah di luar.
Namun, sebenarnya menjadi seorang “ayah rumah tangga” bukanlah pilihan yang buruk untuk dilakukan. Maksimalisasi waktu yang dimiliki dan kualitas kenyamanan yang didapat sudah barang tentu memengaruhi hasil dari pekerjaan yang dilakukan. Belum lagi kualitas hubungan ayah-anak yang didapat akan lebih baik dari sebelumnya.
Sayangnya, tidak semua orang menghargai pilihan ini. Pandangan negatif akan suami yang lebih banyak di rumah sering kali membuat seorang ayah rumahan menjadi tidak percaya diri menjalani peran barunya. Pandangan ini juga kerap membuat para ayah pekerja rumahan menjadi frustrasi dan lebih sensitif.
Hal ini tidak perlu terjadi asal dipersiapkan dengan matang. Caranya? Ikuti trik berikut ini.
Inventarisasi pekerjaan rumahan
Bukan mustahil seseorang menghasilkan uang tanpa harus pergi dari rumah. Namun, dibutuhkan keahlian khusus untuk menjalani sebuah karier ayah rumahan. Oleh karena itu, sebelum memutuskan menjadi ayah rumahan, ada baiknya persiapkan diri dengan menginventarisasi pekerjaan yang bisa dilakukan tanpa harus meninggalkan rumah.
Pekerjaan seperti mengelola e-bisnis, copywriter, hubungan masyarakat, ahli pembukuan, penulis, dan desainer website adalah beberapa pilihan pekerjaan yang bisa dilakukan sembari menjadi ayah rumahan. Tentu saja, pekerjaan-pekerjaan tersebut butuh keahlian, seperti menulis serta menguasai teknologi dan informasi. Di samping itu, dibutuhkan juga modal untuk menjaga semua tetap berjalan lancar.
Peroleh keahlian khusus dengan menjalani pelatihan dan kursus, juga persiapkan modal yang cukup sebelum memutuskan menjalani karier rumahan. Apabila perlu, jalin relasi dengan komunitas yang akan memberikan keuntungan bagi karier rumahan Anda.
Belajar dari pasangan
Sebelum benar-benar final untuk menjalani peran sebagai ayah rumahan, ada baiknya pelajari dahulu hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas rumahan.
Mulai dari cara berkomunikasi dengan anak, apa saja tugas rumah tangga yang harus dilakukan, berapa jam efektif yang dapat dimiliki, hingga bagaimana menggunakan peralatan rumah tangga. Hal ini penting untuk mempersiapkan mental menghadapi perubahan drastis dalam kehidupan sehari-hari.
Melakukan simulasi pada akhir minggu dengan mengerjakan berbagai pekerjaan rumah ataupun mengajak anak bercengkerama dapat saja diupayakan untuk memulainya.
Apabila perlu, tanyakan kepada pasangan apa pun yang perlu diketahui mengenai situasi rumah. Mintalah trik-trik yang biasa dilakukan pasangan untuk membuat situasi rumah terkendali.
Yakinkan diri
Bagi pria, bekerja bukan hanya memiliki arti sebagai sarana untuk menghasilkan uang. Lebih dari itu, kebanyakan pria meletakkan nilai harga diri dan bukti eksistensinya pada sebuah pekerjaan.
Tak heran, ketika orang bertanya mengenai pekerjaannya, pria lebih suka menyebutkan perusahaan besar tempatnya bekerja saat ini. Lantas bagaimana jika harus bekerja di rumah saja? Kebanyakan orang tidak paham, bekerja di rumah bukan berarti lebih buruk daripada bekerja pada sebuah perusahaan.
Menanamkan dalam diri sendiri mengenai pentingnya pencapaian dan maksimalisasi hasil ketimbang terikat dengan brand perusahaan tertentu sebaiknya dimiliki para ayah sebelum memutuskan untuk bekerja di rumah. Bukan hanya para ayah rumahan, pasangan pun sebaiknya memiliki pandangan yang sepaham dengannya.
Hal ini sangat penting dimiliki pasangan untuk menjaga keharmonisan hubungan suami-istri. Setidaknya ketika orang memandang sebelah mata kepada ayah rumahan, pasangan adalah tempat mendapatkan dukungan moril yang akan membuat pria tetap nyaman dengan pilihannya.
Atau paling tidak, pasangan suami-istri tidak terjebak saling menuntut ketika salah satu merasa kaget dengan peran-peran yang belum dikuasainya.
Memang, akan banyak orang yang mengkritisi atau bahkan nyinyir berbicara soal bekerja di rumah bagi seorang pria.
Jangan menyerah dengan semua perlakuan itu! Memang, sekali waktu para pria yang memutuskan bekerja di rumah akan mengalami hari-hari yang buruk, bahkan terkadang merasa tidak dihargai.
Namun, yang terpenting ketika hal buruk itu datang, ingatlah jika pilihan ini adalah pilihan rasional dan paling tepat untuk dilakukan demi diri sendiri dan keluarga.
Tak ada salahnya mencatat atau mengingat-ingat kembali alasan-alasan untuk menjadi ayah rumahan. Pada intinya, yang harus Anda beri kesan adalah keluarga dan diri sendiri, bukan orang lain.
(Tabloid NOVA/Laili Damayanti)
Editor: din
Kompas Gramedia Luncurkan 4 Majalah Glossy
KOMPAS.com – Seakan tak mau berhenti berinovasi dan mengembangkan sayap, Kompas Gramedia (KG) kembali melakukan gebrakan. Kali ini, di usia pertengahan dasawarsa ke 4, KG meluncurkan empat majalah baru. Tak tanggung-tanggung, KG membawa empat majalah berlisensi dari Amerika sekaligus.
Ke-4 majalah tersebut adalah; Fortune dan InStyle besutan dari Time Inc., MORE dari Meredith Corporation, dan Martha Stewart Living keluaran Omni Media Inc. Mengambil lokasi yang tak lazim, yakni di bawah jembatan penghubung mal Grand Indonesia, KG menggelar sebuah perayaan yang diberi tajuk “The Rays of Gold”, Selasa (27/7/2010) lalu. Dalam sambutannya, CEO KG, Agung Adiprasetyo, mengungkapkan bahwa malam peluncuran empat majalah tersebut sebagai penanda kelahiran kembali masa emas KG.
Kepada Kompas Female, Reda Gaudiamo, publisher grup majalah KG bertutur, “Selama 45 tahun ini, Kompas Gramedia sudah membuktikan merupakan yang nomor 1 di industri majalah. Kini, kami ingin membuktikan hal yang baru, setting gol yang baru. Karena majalah glossy ini menjadi sesuatu yang baru untuk KG. Ini seperti menantang diri sendiri. Inilah satu step di atas yang kemarin. Untuk majalah lain, seperti majalah anak, otomotif, KG sudah cukup menguasai pasar. Tetapi untuk majalah license printed, belum ada. Mengapa majalah glossy, karena selama ini orang meragukan. Tetapi ke-4 majalah ini menjadi sebuah pembuktian, bahwa KG memang besar, dan memang bisa.”
Tiga dari empat majalah yang diterbitkan ini merupakan majalah untuk wanita. Padahal, saat ini sudah banyak sekali majalah khusus wanita diterbitkan di pasar. Namun Reda optimis ketiga majalah ini akan baik di pasaran. “Sebelum terbit saja sudah banyak yang menelepon kami untuk mau ikut berkontribusi, khususnya pengiklan. Ditambah lagi, memang isinya untuk pasar yang khusus. MORE, misalnya, untuk pasar usia 25-45, khususnya di usia 35 tahunan. Majalah lainnya pun memiliki pasar yang sangat spesifik dan dicari,” ujarnya.
Sementara dalam siarannya kepada media, Widi Kristawan, Direktur Group of Magazines Kompas Gramedia mengatakan, “Peluncuran keempat majalah ini merupakan salah satu langkah kami dalam memberi nilai tambah pada era informasi global di Indonesia. Tak sekadar menambah jumlah penerbitan yang ada, tetapi juga menghadirkan sumber informasi terbaik. Kami berharap kerjasama dengan tiga perusahaan media terkemuka di Amerika Serikat dan sekaligus menerbitkan majalah mereka di Indonesia dapat meningkatkan kualitas informasi yang kami berikan ke depan. Ini yang kami rasakan ketika menerbitkan National Geographic Indonesia, yang belum lama ini mendapatkan penghargaan Mochtar Lubis Awards.”
KG yang berawal dari sebuah majalah kecil bernama Intisari, kini menjadi perusahaan penerbitan terbesar di Indonesia yang memiliki belasan surat kabar nasional dan daerah dengan pembaca sekitar 6 juta orang setiap hari. Penerbitan periodikal, KG menerbitkan hampir 100 judul majalah dan tabloid yang mengisi lebih dari 30 persen pangsa pasar di Indonesia.
NAD
Editor: din
Pria Tak Setia Saat Pasangannya Sakit?
VIVAnews – Kesetiaan pasangan Anda ternyata bisa di tes. Apalagi saat salah satu dari Anda sedang diuji dengan salah satu penyakit. Dari sini kesetiaan pasangan bisa diketahui.
Seperti dikutip dari laman shineyahoo.com, sebuah survei mengungkap bahwa hampir 25 persen dari suami meninggalkan istri mereka setelah mengetahui pasangnnya didiagnosis dengan penyakit mematikan seperti kanker. Dari statistik ini juga diketahui, biasanya mereka yang mengalami cobaan berat dalam hidup seperti ini, akan mengalami gonjang ganjing kesetiaan.
Namun, dari survei juga diketahui dibanding dengan pria, wanita sebagai istri diketahui lebih setia, hanya 3 persen wanita meninggalkan suami mereka dalam keadaan sakit.
Kebanyakan pria pun diketahui tidak telaten saat memberikan perawatan pada pasangannya yang dalam keadaan sakit. Bukan saja kepada pasangan, termasuk pada anak dan orangtuanya sendiri.
Dari penelitian ini pun terungkap bahwa kebanyakan pria tidak dibesarkan untuk menjadi perawat. Rata-rata pria lebih mengutamakan kepentingan seksnya.
Sebagai tambahan mereka mungkin takut mengakui kematian mereka dan Anda, dan mereka mungkin takut bagaimana suatu penyakit mematikan seperti kanker akan mempengaruhi kehidupan seksnya. Maka tak heran jika banyak pria yang memutuskan untuk menikah lagi setelah ditinggal sang istri.
Seperti diketahui, banyak anak laki-laki yang ingin selalu bercita-cita menjadi pahlawan. Dan disaat menghadapi cobaan sang istri tengah berjuang melawan penyakit, sesungguhnya disitulah perannya sangat dibutuhkan sekaligus untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang pahlawan keluarga.
Adanya cobaan dan ujian pernikahan dari suatu penyakit bisa bisa menguji kesetiaan cinta manusia. Dan tak jarang dari mereka yang mengalaminya mengalami krisis cinta yang butuh banyak dukungan dan pikiran optimis.
Suami yang paling baik akan menunjukkan dan mengatakan istri mereka betapa istimewanya , betapa mereka dihargai dan dicintai. Merawatnya dengan baik dikala sakit adalah kesempatan untuk menunjukkan cintanya pada Anda, bahkan bisa menjadi obat mujarab bagi si penderita penyakit untuk tetap semangat dan sembuh dari penyakit.
“Tidak ada yang mengatakan ini akan mudah, tetapi suatu kekuatan akan timbul dari semangat yang diberikan seseorang dengan tulus.” kata penulis Brenda yang juga sebagai survivor penderita kanker.
• VIVAnews
Agar Tak Canggung Pada Kencan Pertama
VIVAnews – Kencan pertama tidak pernah mudah. Pengharapan, gugup, kesenangan bercampur aduk dan muncul begitu saja meskipun Anda berusaha bersikap tenang. Tapi, faktanya, pada kencan pertama sebagian besar orang akan bersikap aneh dan canggung.
Hal ini sangat wajar, karena untuk pertama kalinya Anda dan si dia menghabiskan waktu bersama hanya berdua saja. Sebenarnya, ada cara yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi sikap canggung saat kencan pertama. Ini dia tipsnya:
1. Pilih kegiatan yang sudah biasa dilakukan
Pilih aktivitas yang sudah biasa Anda dan dia lakukan. Misalnya lari pagi bersama atau menonton film. Memang “klasik”, tapi kegiatan yang sudah biasa dilakukan akan membuat Anda dan dia merasa lebih nyaman dan tidak terlalu canggung saat menghabiskan waktu bersama. Jika memang ingin mencoba hal baru, sebaiknya tunda hingga kencan kedua atau ketiga.
2. Gunakan busana yang nyaman
Wanita memang selalu ingin berpenampilan cantik dan berkesan. Tetapi rasa nyaman berpakaian tetap nomor satu. Pilih pakaian yang menurut Anda paling membuat Anda nyaman sekaligus cantik. Jangan memilih pakaian yang membuat Anda terlihat cantik tetapi tidak membuat nyaman. Karena, bisa membuat Anda malah sibuk dengan pakaian bukan pada kencan.
3. Pilih tempat makan yang santai
Jika berencana untuk makan bersama, pilihlah tempat yang tidak terlalu kaku atau resmi. Pilih saja yang bersuasana santai. Tempat makan sangat memengaruhi sikap Anda dan dia. Jadi, pilihlah tempat makan yang membuat Anda dan dia nyaman dan tidak kaku.
4. Pilih tempat yang nyaman untuk berbicara
Hindari tempat ramai saat kencan pertama. Karena, akan mempersulit Anda dan dia berkomunikasi untuk mengenal satu sama lain. Bisa jadi Anda malah sibuk mencari tempat untuk sekedar duduk dan makan. Berbicara pun seadanya karena suasana sangat ramai. Tentunya juga tidak akan tidak nyaman untuk saling bercerita dalam waktu lama. (umi)
• VIVAnews
Bercinta Tiap Hari, Normalkah?
Tanya:
Saya dan suami baru menikah tiga bulan lamanya. Setiap hari kami berhubungan intim. Apakah hal ini akan mengganggu kesehatan kami berdua? Atau, apakah secara psikologis hal ini dapat menyebabkan kebosanan nantinya?
jmxxx@yahoo.co.id
Jawab:
Anda memang masih termasuk pengantin baru. Bercinta, memang masih merupakan hal baru bagi sepasang pengantin baru. Biasanya, pada masa ini aktivitas intim berada pada frekuensi yang sedang tinggi-tingginya.
Selama ini, belum ada penelitian yang menyebutkan, bercinta setiap hari akan mengganggu kesehatan. Karena itu, nikmatilah masa mesra ini sepuasnya. Tidak beralasan jika Anda merasa khawatir hubungan seks yang sering dilakukan ini akan menimbulkan kebosanan.
Hubungan seks yang diikat oleh rasa cinta yang mendalam bukanlah hubungan yang bersifat mekanis. Ikatan Anda berdua tidak hanya murni jasmaniah, tetapi punya ikatan yang bernilai emosional juga.
Kebosanan mungkin saja terjadi nantinya, tetapi ingatlah bahwa seks merupakan suatu dunia sendiri, yang penuh hal-hal baru dan dapat dinikmati berdua serta penuh dengan eksplorasi. Hal ini merupakan tugas Anda berdua, untuk membuat hubungan seks sebagai kegiatan yang menarik, penuh dengan hal-hal baru sehingga dapat memberikan kenikmatan, tak saja jasmani tetapi juga emosional.
Konsultan: Wira Pramudya (konsultasi seks)
Baca juga: Tantangan Bercinta 30 Hari
• VIVAnews
Audisi The Biggest Loser Asia: Supaya Dapat Pekerjaan dan Jodoh
KOMPAS.com – David Gurnani, asal Indonesia keluar menjadi pemenang dalam acara The Biggest Loser Asia pertama yang diadakan tahun lalu di Malaysia. Dalam upayanya tahun lalu, ia berhasil menurunkan bobot tubuhnya dari 157 kg menjadi 83 kg. Kondisi obesitas bukanlah kondisi yang bisa dibiarkan begitu saja. Banyak ketidaknyamanan yang dirasa oleh mereka yang memiliki kondisi ini. Kompas Female sempat berbincang dengan 3 wanita yang mengikuti audisi The Biggest Loser Asia (TBLA) kedua di Fitness First, Pacific Place, beberapa waktu lalu.
Motivasi
Menjelang sore, Kompas Female bertandang ke lokasi audisi TBLA. Di sana, sudah ada Mira Maryani Sembiring (28), salah seorang peserta yang sedang duduk dan bercengkrama bersama beberapa wanita lain. Ia baru beberapa jam menunggu di sana. Ketika ditanya apa motivasi wanita yang bekerja sebagai pekerja di gereja, bagian kepemudaan, ia menjawab lantang, “Saya ingin punya body yang efisien. Efisien supaya bisa mudah bergerak ke sana ke mari.”
Di sebelah Mira, ada Kiki (24), yang sehari-hari bekerja di sebuah konsultan arsitektur. Sama seperti Mira, tentu, Kiki ingin melawan obesitas yang dirasanya sejak ia masih kecil. Menurutnya, bobot ini ia rasa sejak sekolah dasar, sejak selesai operasi amandel, bobotnya terus naik. Kebiasaan dan gaya hidup yang tidak sehat membuat Kiki merasa harus berbuat sesuatu. “Setiap hari saya kerja di depan komputer dari pagi hingga malam. Lalu malam pun pulang, makan, lalu tidur lagi, besok begitu lagi.” Tak hanya itu, ia pun merasa kesulitan saat berada di lingkungan umum, “Saya suka merasa kesulitan kalau berada di luar dan harus naik angkutan umum. Kebanyakan angkutan umum tidak mau berhenti untuk saya, kadang saya malah takut naik ojek, takut mereka tidak mau angkut. Beda kalau di Singapura, misalnya, yang sudah jelas angkutan umumnya, seperti MRT yang lebih mudah untuk siapa saja dengan kondisi apa pun.”
Lain lagi dengan Dede (26), yang tinggal di sekitar Rawamangun, pekerjaannya adalah membantu orang tua di toko kelontong milik mereka. Bobot tubuhnya yang melebihi batas BMI 25, ditengarainya pun karena ada keturunan dari keluarga yang berasal dari Padang. Kegemaran di rumahnya adalah memasak makanan bersantan dan pedas, plus pekerjaannya sekarang dikelilingi dengan makanan ringan, membuatnya mudah tergoda. Bobot tubuhnya sekarang membuatnya merasa tidak nyaman, ia sering mengalami rasa sakit di sekitar leher, tulang punggung, dan sendi lutut, juga pergelangan kaki. Kesulitan untuk bergerak ini pun membuatnya sulit untuk mendapatkan pekerjaan. “Saya pernah mencoba melamar pekerjaan ke suatu rumah sakit, jadi koki, bareng teman saya. Setelah dites, teman saya yang diterima, saya tidak. Kata teman saya, mereka bilang karena tubuh saya membuat saya tidak gesit bergerak. Ternyata sulit dapat pekerjaan dengan ukuran tubuh seperti ini,” terang Dede ditutup dengan tawa kecil.
Tantangan
Mira mengaku pernah menonton acara yang dari Amerika dan Asia, tapi cuma sekilas saja. “Pernah nonton, tapi enggak ngikutin. Pernah lihat yang Amerika, pesertanya diforsir untuk olahraga dan mengatur makanan. Meski berat tantangannya, tapi, dengan mengendalikan diri dan pikiran saya yakin bisa. Seberat apa pun tantangan di depan, tergantung pikiran kita. Kalau kita pikir itu mudah, pasti mudah. Kita harus mengubah mindset. Kalau mau perubahan, harus mau berubah. Di sana juga kita harus kurus untuk kepentingan diri dan kepentingan tim. Kita pun akan dikarantina, dan tak boleh memakan apa pun yang kita suka. Nah, itu tuh yang susah,” canda Mira dengan tawa renyah. Senada dengan Mira, Kiki dan Dede pun merasa latihan yang akan diikuti pasti tak akan mudah, karena tak biasa untuk memaksa diri berolahraga dan harus mengurangi asupan makanan yang mereka sukai selama kurang lebih 3-5 minggu di lokasi yang akan ditentukan nanti.
Upaya yang pernah dilakukan selama ini
Jangan mengira mereka yang bertubuh tambun ini pasrah dan tidak berusaha. Mira, misalnya, “Saya sudah pernah coba berbagai macam obat-obatan, totok kuping, akupunktur, bahkan program pelangsingan ternama sekalipun. Tapi karena motivasi dan mindset kurang bagus, jadinya balik lagi. Saya rasa di situ kelemahan orang-orang gemuk, tidak punya mindset yang kuat. Harus mengubah lifestyle. Sebulan ini saya coba olahraga terus, tetapi makan enggak ditahan, sekarang sudah turun 6 kg.”
Sementara Kiki, “Upaya sudah banyak dicoba, seperti akupunktur di beberapa dokter, coba minum berbagai macam obat, sampai totok perut. Pernah sih, turun 12 kg, tapi naiknya malah lebih banyak lagi. Saya kurang tahu juga kenapa bisa begitu, mungkin kondisi badan dan gaya hidup saya saja yang seperti itu.”
Target
Bagi Kiki, yang ia inginkan adalah kenyamanan untuk menjalani hari di mana pun, seperti diutarakan kesulitan yang ia hadapi sehari-hari. “Saya sih jarang sakit, paling waktu operasi amandel dulu. Pernah juga kena tifus, tapi selebihnya sehat-sehat saja. Saya sekarang 125 kg, ingin mengurangi 80 kg. Niat awal saya memang ingin kurus.”
Mira mengakui, “Bulan lalu berat saya 132 kg, setelah program olahraga saya sebulan ini, barusan saya timbang lagi, sudah 129 kg. Saya ingin menjadi 60 kg, kata yang mengukur saya tadi sih sebaiknya segitu. Kalau David Gurnani bisa, saya juga pasti bisa. Target lainnya untuk ikut acara ini karena saya ingin membentuk karakter dan body. Saya baru dengar hadiahnya beberapa ribu dolar. Kalau keluar dari sini, saya ingin jadi berkat untuk semua orang. Yang jelas, persembahan buat gereja dan keluarga. Ada beban di diri saya, sudah usia segini, belum bisa membiayai diri sendiri maupun keluarga.”
Sementara Dede, “Targetnya yang penting kurangin berat badan. Lagipula usia saya sudah segini, saya ingin dapat pekerjaan, dan jodoh,” ujarnya sambil diiringi tawa kecil dan malu-malu.
Menjelang sore penutupan audisi di Fitness First yang merupakan kesempatan langsung para calon peserta untuk langsung diwawancara oleh para juri dan David Gurnani, baru didatangi sekitar 150-an peserta, sedikit berkurang dari jumlah peserta yang datang pada audisi tahun lalu, yakni sekitar 200 peserta. Menurutnya, karena cara mengikuti TBLA tahun ini dibuat lebih fleksibel, yakni dengan mendaftar lewat online, di situs www.biggestloserasia.com hingga tanggal 5 Juli 2010. Di situs itu, peserta diminta mengisi formulir pendaftaran dan memberikan presentasi atau motivasinya.
Acara yang dirancang untuk memerangi obesitas ini bisa diikuti dengan syarat; pendaftar warga asli Asia berusia 18-55 tahun, memiliki obesitas (Indeks Massa Tubuh di atas 25), berbicara bahasa Inggris dengan lancar, memiliki keinginan dan komitmen menurunkan berat tubuh untuk mencapai kesempatan yang lebih baik. Hadiah untuk kontestan yang berhasil menurunkan berat dan lemak tubuh terbanyak adalah USD 100.000. Namun, dalam kesempatan dan tantangan mingguan pun akan ada hadiah-hadiah lainnya.
NAD
Editor: NF
Sering Berganti Pasangan Seksual, Tanda Hiperseks?
KOMPAS.com — Hubungan seksual memberikan kesenangan bahkan kebahagiaan jika pasangan suami istri (pasutri) saling terpuaskan. Namun, bagaimana jika kejenuhan seksual muncul, apalagi jika pasangan memiliki kecenderungan mencari pengalaman seksual dengan banyak perempuan?
Kasus yang menghebohkan dari musisi mirip Ariel dan beberapa teman wanitanya bisa menjadi contoh. Meskipun pemusik tersebut belum memberikan pernyataan resminya, tetapi perilaku pria dalam video tersebut telah dibahas dari berbagai sisi. Beberapa pihak menyikapi kasus ini berbeda. Satu persamaan sikap yang bisa ditarik, perilaku seksual seperti ini tidak bisa didiagnosis begitu saja tanpa ada konsultasi langsung dengan individunya.
Psikolog klinis, Lita Gading, menerangkan, untuk menyikapi perilaku seksual seperti pria mirip Ariel tersebut, perlu dilakukan kolaborasi antara psikolog, psikiater, bahkan polisi (terkait motif perekaman, penyebaran video porno, dan unsur eksploitasi). Namun, tegas Lita, diperlukan kemauan dan kesadaran dari si pelaku untuk melakukan konsultasi seksualnya.
Lita menilai perilaku seksual dengan banyak pasangan (atas dasar kesenangan dan saling menikmati), direkam, serta dilakukan terus-menerus dan menjadi kebiasaan (melihat kasus Ariel) merupakan modus baru.
“Perilaku ini tidak bisa langsung dikatakan kelainan seksual atau ekshibisionis. Harus digali lebih dalam masalah pendokumentasian dan untuk siapa dokumentasi dikonsumsi. Kita tidak bisa langsung men-judge,” papar Lita kepada Kompas Female beberapa waktu lalu.
Lita melihat adanya kecenderungan hiperseks, melihat adanya eksploitasi seksual diri sendiri (pelakunya) dengan beberapa perempuan. Sementara pakar seksologi Prof Dr dr Wimpie Pangkahila, ApAnd FAACS, mengatakan tidak mudah mendiagnosis apakah ada kelainan seksual dari perilaku semacam ini.
“Perlu konsultasi langsung dengan pelaku untuk mendiagnosis perilaku seksualnya,” kata Prof Wimpie pada kesempatan terpisah menambahkan, tidak mudah mengatakan perilaku seksual seperti ini sebagai hiperseks jika tidak mengenal individunya.
Menurut Prof Wimpie, individu yang berhubungan seks lalu merekamnya dengan kesepakatan bersama pasangan, kemudian melakukan hal yang sama dengan pasangan yang berbeda, biasanya berangkat dari motif kesenangan dan kepuasan diri. Persoalan merekam hubungan seks, katanya lagi, menjadi pemenuhan fantasi seksualnya dan juga untuk meningkatkan libido jika melihatnya kembali. Keisengan juga bisa melatari pendokumentasian hubungan seksual bersama pasangan.
Baik Lita maupun Wimpie memiliki kesamaan pandangan bahwa orang yang menjalani hiperseks pada awalnya tidak menyadarinya. Artinya, perlu pihak lain yang memberitahukan kepadanya. Setidaknya untuk menyadarkan orang dengan hiperseks agar lebih bisa mengontrol dirinya, menyalurkan dorongan seksnya yang tinggi, atau mengatasi kejenuhan seks dengan cara lain.
“Kejenuhan seks dengan pasangan bisa diatasi dengan mengubah penampilan, mengubah variasi rangsangan, posisi, bahkan suasana,” jelas Prof Wimpie.
C1-10
Editor: din
Saat Putus Cinta, Pria Lebih Merana
KOMPAS.com - Pria juga manusia; karena itu mereka pun bisa menangis saat putus cinta. Tetapi siapa mengira, putus cinta ternyata lebih “memukul” pria daripada wanita?
Anda mungkin tidak percaya (karena si dia tampaknya terlihat cuek setelah putus hubungan dengan Anda), tetapi fakta tersebut merupakan hasil penelitian dari Wake Forest University di North Carolina. Dalam penelitian yang melibatkan 1.000 orang dewasa (tidak menikah) berusia 18-23 tahun, terlihat bahwa hubungan yang tidak bahagia lebih mempengaruhi pria daripada wanita. Hanya saja, pria mengekspresikan kesedihannya dengan cara yang berbeda.
“Perempuan mengekspresikan kesedihannya dengan depresi, sementaranya pria mengekspresikannya dengan masalah-masalah substansi,” ujar Simon.
Robin Simon, profesor bidang sosiologi dari universitas tersebut, juga mendapati bahwa pria mendapat keuntungan emosional yang lebih besar dari aspek-aspek positif hubungan cinta yang sedang berlangsung. Kurang lebih begini penjelasannya: bagi pria muda, pasangan mereka sering menjadi sumber utama curahan kasih sayang. Berbeda dengan perempuan, yang cenderung punya kedekatan dengan keluarga dan teman-temannya.
Ketegangan dalam suatu hubungan sendiri sering dihubungkan dengan kesehatan emosional yang rendah, karena hal itu mengancam identitas dan penghargaan diri pria.
Kemudian, jika pria secara emosional lebih dipengaruhi oleh kualitas hubungannya saat ini, perempuan lebih dipengaruhi oleh kenyataan apakah mereka memiliki hubungan cinta atau tidak. Tidak heran, perempuan lebih cenderung mengalami depresi ketika hubungan itu berakhir, dan sebaliknya mendapat manfaat lebih hanya dengan berada dalam suatu relationship.
Survei ini awalnya dilakukan untuk studi jangka panjang mengenai kesehatan mental dan transisi ke kedewasaan. Karena itu menurut Simon, masih banyak yang perlu dipelajari mengenai hubungan antara pria dan wanita pada usia dewasa muda. Studi ini sendiri dipublikasikan di
Journal of Health and Social Behavior edisi Juni.
DIN
Editor: din
Sumber: The Daily Mail







