Panduan Menu Makanan Bayi s/d Balita
Powered by MaxBlogPress 


Perlengkapan Persalinan

Bagi ibu hamil yang akan melahirkan, maka satu hal yang tak boleh luput dari perhatian dan harus segera untuk disiapkan adalah perlengkapan persalinan. Perlengkapan untuk persalinan ini adalah barang yang akan diperlukan bagi ibu ketika akan menghadapi masa persalinan termasuk pada saat melahirkan.

Selain hal itu, perlengkapan persalinan juga menyangkut semua barang yang akan dibutuhkan oleh bayi segera setelah ia berhasil dilahirkan oleh si ibu ke dunia. Jadi ang dimaksud dengan perlengkapan untuk persalinan ini adalah menyangkut segala hal yang akan dibutuhkan oleh ibu dan juga bayi mendekati masa persalinan.

Bagi si ibu, perlengkapan persalinan yang ia butuhkan adalah beberapa potong baju yang ia kenakan saat mengalami kontraksi ataupun saat akan melahirkan si bayi. Karena tentu pada saat ini, si ibu akan mengeluarkan darah dan juga lendir yang akan mengotori baju yang dikenakan.

Maka dari itu, baju yang disiapkan haruslah lebih dari satu, sebut saja dua potong baju. Hal lain adalah sarung, saru adalah kain yang akan menutupi bagian bawah tubuh si ibu namun akan lebih mudah untuk dibuka ketiak bidan atau dokter membantu ibu dalam proses persalinan.

Setelah anak dilahirkan maka ibu akan membutuhkan baju baru yang akan dikenakan olehnya. Kalaupun bisa baju tersebut adalah baju untuk menyusui, yaitu yang memiliki kancing di depan. Karena tentunya si ibu akan segera untuk menyusui bayinya yang baru saja dilahirkan.

Selain itu, ibu baru melahirkan juga membutuhkan untuk memakai gurita bagi orang dewasa yang akan dipakai untuk membungkus perutnya. Karena perutnya pastilah akan terasa sangat kendor setelah si bayi keluar.

Tak lupa, perlengkapan bagi si ubu adalah pembalut khusus bersalin. Pembalut ini akan memiliki ukuran yang lebih besar daripada ukuran pembalut yang biasanya dipakai wanita saat menstruasi bulanan.

Bagi bayi, perlengkapan untuk persalinan yang perlu untuk disiapkan oleh si ibu adalah satu pasang baju bayi untuk dikenakan segera setelah dilahirkan. Tak lupa ibu juga membawakan handuk untuk membungkus bayi setelah dimandikan.

Satu pasang baju bayi lengkap ini adalah baju dalaman, baju atasan, popok, sarung tangan dan kaki, dan termasuk adalah gedongan. Gedongan amat dibutuhkan bagi si bayi yang baru lahir untuk membuat bayi menyesuaikan diri dengan suhu yang ada di luar tubuh si bayi. Tak lupa bayi dapat memaai topi dan juga dibungkus dengan selimut.

Itulah beberapa perlengkapan persalinan yang diperlukan untuk disiapkan ibu beberapa hari sebelum hari perkiraan melahirkan. Biasanya semua perlengkapan ini disiapkan dan ditaruh di dalam tas besar. Sehingga kapanpun ibu merasakan akan melahirkan si bayi, maka ibu dan siapa saja yang akan mendampingi ibu melahirkan akan dengan mudah membawa tas besar ini untuk dibawa ke rumah sakit atau rumah bersalin.

Tips Memijat Bayi


cimg1042Memijat adalah salah satu pengobatan alternatif yang  keefektifannya sudah diakui untuk terapi penyakit tertentu atau sekedar menjaga kebugaran tubuh. Bukan hanya pada orang dewasa, terapi ini pun bisa dilakukan pada bayi. Tujuannya untuk meningkatkan status kesehatan bayi, meningkatkan rasa nyaman, serta meningkatkan ikatan kasih sayang antara ibu dan anak. Tapi perlu diingat, terapi ini hanya bisa dilakukan pada bayi yang usianya lebih dari 6 bulan, bayi tidak dalam keadaan diare dan ada selang waktu dengan jam makan atau tidak dalam keadaan kenyang. Berikut ini adalah persiapan dan cara pelaksanaannya. [Read more]

Toilet Learning, Butuh Kesiapan Si Kecil

Kesiapan apa yang dibutuhkan si kecil untuk belajar buang air yang benar? Pertama, kesiapan fisik, yaitu kemampuan anak untuk jongkok atau duduk dengan baik di kloset. Bila tidak didukung dengan kemampuan fisik dikhawatirkan anak akan mogok di jalan sebab tidak merasa nyaman dalam melaksanakan toilet learning  ini.

Kedua, kesiapan mental, yaitu kemampuan anak dalam mengontrol keinginan untuk buang air kecil atau buang air besar. Anak sudah tahu bila dirinya ingin buang air kecil atau buang air besar dan mampu menahan keinginan tersebut sampai ia masuk ke dalam kamar mandi atau toilet.

Umumnya kesiapan mental dan fisik ini terjadi saat anak memasuki usia 18 bulan. Memang, usia ini tidak dapat dipukul rata. Orangtualah yang harus tahu dengan tepat kapan anaknya siap secara fisik dan mental untuk toilet learning.

TANDA-TANDA ANAK SIAP

Kesiapan fisik:

* Mampu berjalan dan duduk dengan stabil di potty chair (tempat latihan BAK yang bentuknya menarik). Dengan demikian, si kecil bisa duduk dan bangun berdiri sendiri saat menggunakan kloset atau pispot mininya. Kemampuan motoriknya juga sudah bisa mengangkat gayung, mengambil air, dan menyiramkan ke bekas pipisnya.

* Anak sudah mampu mengendalikan keinginan buang air. Ditandai dengan tidak ngompol atau tetap kering celananya selama beberapa jam. Atau, pola BAB dan BAK-nya sudah lebih teratur. Misalnya 3-4 jam sekali. Ciri lain, wajahnya menunjukkan ekspresi meringis saat hendak pipis, atau menunjukkan gelagat hendak buang hajat. Tanda ini memudahkan orangtua mengenali anak yang mau buang air

Kesiapan mental:

* Anak sedikitnya mampu memahami satu sampai 2 kalimat perintah. Si kecil pun mengerti, memakai pospak untuk buang air sangatlah tidak menyenangkan. Dia juga sudah bisa memberi tahu bila celananya basah dan minta segera diganti. Jika tidak digubris, ia akan mengekspresikannya dengan sikap rewel.

* Anak sudah bisa mengomunikasikan bahwa ia hendak BAB dan BAK. Bisa dengan mengucapkannya secara verbal atau nonverbal seperti menarik tangan, mengambil pispot, menunjuk-nunjuk celana, pergi ke sudut ruangan, dan lain-lain.

* Tertarik pada kamar mandi. Misalnya, dia mengikuti orang dewasa ke kamar mandi, mengetahui apa saja perlengkapan kamar mandi dan fungsinya, juga tertarik mengeksplorasi pakaiannya seperti menarik dan menurunkan celana atau roknya.

* Memiliki kemampuan mengontrol atau menahan BAB dan BAK hingga ke kamar mandi.

* Dapat diajak bekerja sama atau memiliki hubungan yang harmonis dengan gurunya (dalam hal ini orangtua atau pengasuhnya).

MENERAPKAN TOILET LEARNING

* Pengondisian

Dalam tahapan ini, orangtua hanya mengenalkan pentingnya toilet learning  dan mempersiapkannya secara bertahap. Tindakan pengondisian bisa dilakukan sejak anak umur 9-18 bulan.

Berikut Caranya:

– Saat mengetahui anak hendak BAB, (anak diam dengan raut gelisah), tanyakan “Adek, mau poop  ya” lalu, “Kalau mau poop atau pipis, bilang Mama ya.”

– Tuntun anak ke toilet atau ke pispotnya, lalu katakan, “Ini kloset/pispot, kalau mau poop  harus di tempat ini ya.”

– Kenalkan bagian tubuh yang berkaitan dengan toilet learning seperti penis, dubur, dan saluran kencing dekat vagina. Juga perlengkapan toilet  learning  dan fungsinya seperti kloset, pispot, gayung, shower dan lain-lain.

– Perlihatkan cara membersihkan kotoran si kecil. Dengan cara itu, anak tahu setiap selesai buang air, kloset/pispot harus disiram dengan bersih.

* Perkenalkan pispot

Untuk awal toilet learning  disarankan menggunakan pispot (potty chair) daripada kloset. Alasannya, ukuran pispot lebih aman untuk anak-anak. Cara mengenalkannya:

– Mintalah anak duduk di pispotnya lakukan berulang-ulang sehingga ia merasa nyaman dan aman.

– Ajak anak duduk di potty chair setelah ngompol. Sampaikan bahwa pispot berguna bila ia ingin BAB atau BAK.

– Lihat pola biologis anak. Jika anak biasa pipis dan poop  setelah bangun tidur pada pukul 7 pagi, misalnya, begitu ia terbangun dari tidur langsung ajak duduk di pispotnya. Jika tidak keluar apa-apa, beri selang waktu beberapa saat, lalu minta ia kembali melakukan hal yang sama. Harapannya, anak dapat menemukan waktu-waktu tertentu untuk BAB dan BAK dan mampu menahan keinginannya sampai menemukan pispotnya.

* Beri contoh

Setelah toilet learning  di potty  chair  sukses, ajak anak untuk pipis atau poop di kloset sungguhan. Katakan padanya, sejak saat ini ia bisa mulai pipis atau poop  di kloset kamar mandi. Namun, sebaiknya gunakan alat bantu pada kloset agar tidak jatuh.

Ayah atau ibu harus memberi contoh bagaimana BAB dan BAK di kloset. Agar efektif dan tidak membuat anak bingung, ayah/kakak laki-laki sebaiknya memberi contoh kepada anak/adik laki-laki, dan ibu atau kakak perempuan memberi contoh kepada anak/adik perempuannya. Ajaklah si kecil ke kamar mandi atau toilet dan perlihatkan bagaimana cara pipis. Dari menurunkan celana, jongkok/duduk di kloset, pipis, menyiram kloset, menyemprot/membasuh kelamin dengan air, mengeringkan daerah kelamin, dan memakai celana.

Katakan semua proses tadi agar anak paham, seperti, “Sebelum pipis, kamu buka celanamu, berjongkok, lalu cebok agar kelaminmu tetap bersih….” Lakukan secara berulang-ulang. Saat terlihat si kecil hendak pipis atau poop , coba katakan, “Dek Adi, pipis yuk.” Lalu, “Cara pipisnya seperti yang Kak Joni lakukan, ya!” Selanjutnya, tanpa disuruh, anak pun bisa mengatakan dirinya ingin BAK. Hal yang sama dilakukan saat mengajari anak BAB. Perlihatkan bagaimana sang kakak duduk/berjongkok dan membersihkannya seusai BAB. Karena anak belum bisa cebok sendiri, orangtua bisa memberikan bantuan.

Bila masih gagal dalam menerapkan program ini, tak perlu kecewa. Itu pertanda si kecil belum siap. Hentikan dulu kegiatan toilet learning  selama 1 ­ 3 bulan sehingga anak tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang menakutkan. Beberapa bulan kemudian baru dicoba kembali.

YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM TOILET LERNING

1. Berikan penghargaan bila si anak berhasil menahan BAB atau BAK dan mengeluarkannya di potty chair. Dengan begitu, anak memahami tujuan dari program toilet learning yang sedang dilaksanakan bersama.

2. Jangan marah atau memberikan hujatan bila si kecil mengompol. Misalnya, “Adek payah nih enggak bisa nahan pipis.” Sebaiknya gunakan kalimat lain yang tidak menyalahkan anak. Misalnya, “Adek tadi enggak kuat nahan  pipis, ya? Lain kali coba ditahan sambil lari ke potty chair ya!”

3. Setelah berhasil beberapa kali, berikan penjelasan kepada anak bahwa ia sudah tidak butuh pospaknya. Kondisikan agar anak menyadari ini adalah sebuah peristiwa besar dalam hidupnya.

LO, KOK, TOILET LEARNING ? BUKAN TOILET TRAINING

Istilah toilet training  yang kita kenal selama ini hanya mengacu pada soal melatih anak untuk belajar pipis dan BAB di tempat yang seharusnya. Latihan ini tidak terlalu mementingkan kesiapan fisik dan mental si kecil. Tak heran beberapa orangtua menerapkan toilet training  terlalu dini pada anaknya, bahkan kala si kecil masih bayi. Padahal toilet training  yang terlalu terburu-buru (tanpa memerhatikan kesiapan mental dan fisik anak) justru tidak efektif karena anak akan merasa dipaksa saat melakukan latihan itu. Dampaknya, ia masih akan mengompol meski hanya sekali-kali. Contoh, saat di TK, tiba-tiba anak ngompol di kelas (padahal sebelumnya ia sudah tak pernah mengompol). Ini karena tanpa disadari anak kehilangan kemampuan mengontrol buang air kecilnya (karena waktu dilatih ia belum siap untuk itu). Berbeda dari toilet learning.  Istilah ini menitikberatkan pada kesiapan anak secara mental dan fisik untuk diajak buang air kecil atau besar di tempat seharusnya

 

Melatih Kecakapan Sosial Melalui Silaturahmi

Sebagian besar anak memiliki pengalaman sosial yang terbatas. Padahal, interaksi sosial merupakan salah satu kunci kecakapan sosial yakni keterampilan yang digunakan sehari-hari sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat, misalnya hubungan dengan teman sebaya, orang yang lebih muda, dan orangtua.

Berikut Tips Membangun Kecakapan Sosial :

1. Tidak ada batasan usia. Sejak dini hingga dewasa dapat terus diajarkan.Semakin dini hasilnya akan semakin baik

2. Orang tua harus konsisten

3. Orangtua jangan hanya mengajak anak berkunjung tapi berikan ia pengertian dan pengetahuan tentang nilai moral yang terkandung di dalamnya, sehingga setiap momen, misalnya hari raya, tidak lewat begitu saja dan tidak hanya sebatas ritual atau tradisi tanpa pernah dimengerti anak.

Supaya Berhasil dalam Latihan Kecakapan Sosial

1. Orangtua harus menjadi model dengan menunjukkan perilaku yang pantas

2. Sering berlatih dengan anak

3. Selalu mengingatkan anak

4. Puji dan besarkan hati anak

5. Lingkungan sangat mempengaruhi keberhasilan latihan kecakapan sosial. Karena itu peran teman sebaya dan orang yang lebih tua sangat penting.

 

Benarkah Ponsel Anda Lebih Kotor dari Toilet

VIVAnews– Telepon seluler sudah menjadi sahabat paling dekat sejak kemunculannya. Tetapi, Anda mungkin tak lagi menjadi ‘penggemar berat’ ponsel Anda begitu menyimak temuan terbaru para ilmuwan Inggris.

Sebuah studi terbaru menemukan, rata-rata ponsel menyimpan kuman 18 kali lebih banyak daripada pegangan alat penyiram (flush) toilet.

Peneliti Inggris mengungkap seperempat ponsel sangat kotor dan mengandung 10 kali lipat jumlah bakteri yang dapat diterima. Tingginya tingkat bakteri dalam ponsel menunjukkan miskinnya kebersihan pemicu kuman penyakit.

Satu dari empat ponsel terbukti mengandung jumlah bakteri yang sangat tinggi, mencapai 170 kali dari batas normal  hingga bisa menyebabkan gangguan perut serius bagi pemiliknya. Bakteri membahayakan yang ada dalam ponsel diantaranya Salmonella, bakteri feses E.coli, bakteri keracunan makanan dan Stafilokokus aureus.

Temuan berdasarkan 30  sampel ponsel yang menunjukkan 14,7 juta dari 63 juta pengguna ponsel di Inggris. “Tingkat bakteri yang berpotensi sangat membahayakan ada pada satu dari empat ponsel. Ponsel perlu disterilkan,” ungkap peneliti utama Jim Francis seperti dikutip Daily Mail.

“Sebagian besar bakteri dari ponsel tidak berbahaya. Tapi, bakteri berkembang biak dan ditransfer bolak-balik dari tangan ke ponsel hingga menyebabkan penyakit,” katanya.

Melihat aplikasi ponsel berulang-ulang seperti foto secara bergantian dengan orang adalah salah satu penyebaran kuman. Temuan sebelumnya mengungkap komputer desktop juga menyimpan kuman lebih tinggi daripada toilet. Untuk membersihkan ponsel dan menghilangkan kuman, seka ponsel menggunakan lap halus yang dibasahi alkohol secara teratur.

 

Baca juga: Pria Bernasib Naas Itu Punya Wajah Baru

• VIVAnews

Enam Pemicu Pernikahan Gagal

VIVAnews – Usai mengucap janji pernikahan, setiap pasangan tentu berniat menjaga hubungan harmonis selamanya. Namun seiring berjalannya waktu, mereka seringkali tanpa sadar menunjukkan sikap yang menggoyahkan pijakan bagi sebuah pernikahan yang stabil.

Ada enam hal yang menjadi penyebab utama gagalnya pernikahan, seperti dikutip dari Your Tango.

Terlalu bergantung pada pasangan
Berharap pasangan dapat memenuhi segala kebutuhan dan keinginan Anda sangat sulit tercipta dalam kehidupan nyata. Mungkin, pada awalnya ia akan berusaha keras untuk menjadi yang paling sempurna dan memenuhi semua keinginan Anda.

Tetapi, satu kebutuhan tidak dapat dipenuhi hanya seorang diri. Untuk itu, hargai apa yang diberikan pasangan Anda dan cobalah membantunya bila dibutuhkan.

Hanya memikirikan diri sendiri
Saat menikah, lupakan berpikir hanya tentang diri sendiri. Karena ikatan baru ini artinya menggabungkan dua kehidupan. Saling kompromi dan mengurangi egoisme antarpasangan adalah solusinya.

Menjadikan pasangan pusat kehidupan
Dalam kenyataan, pernikahan tak seperti film romantis yang hanya memikirkan kebahagiaan pasangan. Perkawinan memang sesuatu yang istimewa, tetapi jangan sampai melupakan hidup Anda dan menjadikan pasangan sebagai pusat kehidupan. Sembari saling belajar satu sama lain, berikan pasangan dan diri sendiri ruang untuk tumbuh.

Pikiran tentang kebahagiaan menjadi terpenting
Setiap pasangan yang menikah mendambakan kebahagiaan. Namun, kebahagiaan bukanlah hal yang paling penting dalam pernikahan. Pakar perkawinan Dr Corey Allan menyatakan, yang paling penting dalam pernikahan adalah pelajaran untuk lebih baik. Dan, seringkali proses mencapai kebahagiaan kita harus mengalami sesuatu yang menyakitkan.

Membandingkan pernikahan dengan orang lain
Membandingkan pernikahan yang sedang dijalani dengan orang lain cenderung berujung pada kegagalan. Menemukan sesuatu yang tidak dimiliki dalam hubungan dengan pasangan, bisa menimbulkan sakit hati dan ketidakpuasan. Akibatnya, bisa memicu keretakan hubungan.

Menganggap pernikahan hanya perasaan romantis
Gairah akan memudar seiring berjalannya waktu. Agar pernikahan tetap langgeng, Anda dan pasangan harus berkomitmen dan tidak peduli bagaimana perasaan Anda.

Perasaan romantis dapat datang dan pergi, tetapi kebersamaan dan kasih sayang dapat terus dipupuk. Pasangan bisa berakting sebagai pelajar yang selalu belajar mengenai mitranya. Ini akan membuat pasangan tetap mempertahankan ketertarikan dan perasaan cinta. 

• VIVAnews

Sorak Penuh Keyakinan Meningkatkan Kesuksesan Tim Sepak Bola  

TEMPO Interaktif, Groningen –  Perilaku itu menular. Jika Anda melihat seseorang menguap atau tersenyum, sering Anda melakukan hal yang sama beberapa detik kemudian. Perilaku meng-kopi ini ternyata juga berlaku di lapangan sepak bola.

“Semakin meyakinkan seseorang merayakan keberhasilan mereka dengan rekan satu tim, semakin besar kemungkinan tim akan menang,” kata Dr Gert-Jan Pepping, ilmuwan sepak bola dan dosen di Universitas Groningen, Belanda.

Dari sudut pandang evolusi, perilaku ‘menular’ ini mudah dijelaskan. Kemampuan untuk menyalin perilaku tertentu merupakan sesuatu yang penting untuk bertahan hidup dalam kelompok-kelompok sosial.

Pepping mencontohkan perilaku ikan, yang saling mensinkronkan perilaku satu sama lain, dengan melakukan hal yang sama persis sebanyak mungkin, akan meningkatkan kesempatan ikan-ikan bertahan hidup. Selain itu, perilaku mencontek memiliki fungsi lain: belajar dari satu sama lain. Kedua fungsi ini berarti kita mengkomunikasikan tujuan individu dan kelompok melalui gerakan. Juga perilaku gerakan emosional, seperti bersorak-sorai, bisa dipahami dengan cara ini.

Emosi sering dipahami dan dijelaskan dalam konteks apa yang baru saja terjadi. Penelitian Pepping mengungkapkan, emosi juga dapat mempengaruhi masa depan. Kelompok risetnya menyelidiki apakah cara pemain sepak bola mengekspresikan kegembiraan mereka pada penalti yang sukses mempengaruhi hasil akhir dari adu penalti. Pepping mengatakan: “Apa yang baik tentang adu penalti adalah tujuan individual atas skor penalti secara langsung diarahkan pada tujuan kelompok dalam memenangkan pertandingan.”

Mengenai sikap positif, Pepping dan kelompok risetnya mengungkapkan bahwa sikap positif seorang pemain menular ke tim.

Saling memotivasi satu sama lain, menurut Pepping, juga penting. Ia menganalogikan dengan situasi di kantor, satu sama lain saling memotivasi demi kinerja kelompok, dan merayakan keberhasilan kelompok bersama-sama. “Itu berarti bahwa seluruh tim akan berbagi perasaan kebanggaan dan kepercayaan, yang meningkatkan kinerja,” ujarnya. “Namun, Anda harus berhati-hati untuk tidak membesar-besarkan dengan mengekspresikan kebahagiaan atau kebanggaan itu di luar konteks.”

Di beberapa negara orang cenderung bereaksi terhadap keberhasilan dengan cara yang kurang panas dibandingkan dengan orang lain. “Di Belanda banyak orang tampaknya sudah lupa bagaimana bereaksi gembira.” Menurut Pepping, jika Anda ingin meningkatkan peluang keberhasilan Anda, baik di bidang olahraga maupun dalam kehidupan sehari-hari, penting untuk ‘melepas rem’. Itu sorak yang wajar sebagai reaksi atas kemenangan. Terlebih lagi, seperti yang diungkapkan oleh penelitian, bila kepentingan individu dan kelompok bersesuaian hal itu juga sebuah reaksi yang sangat fungsional. Lebih bersorak berarti lebih sukses.

ScienceDaily/Ngarto Februana

Mungkinkah Bercinta Saat Tidur

VIVAnews – Melakukan aktivitas seksual seperti berhubungan intim menjelang tidur sudah menjadi hal lumrah yang dilakukan banyak pasangan berumah tangga. Tapi, bagaimana dengan mereka yang melakukannya saat tidur?

Bercinta saat tidur ternyata sangat mungkin terjadi. Dunia medis menyebutnya dengan sexsomnia. Jumlah penderita kelainan seks yang terjadi saat tidur ini bahkan terus menunjukkan peningkatan.

Para peneliti di Kanada menemukan, sekitar satu dari setiap 12 orang mengakui pernah mengalami aktivitas seksual saat mereka tengah terlelap. Sebanyak 3/4 pria yang menjadi responden positif mengidap sexsomnia. Perilaku seksual ketika tidur ini berkisar dari masturbasi sampai hubungan fisik.

Studi Sleep Research Laboratory di Universitas Kesehatan di Toronto menemukan, gangguan seks ini semakin umum terjadi dibandingkan masa-masa sebelumnya. Peneliti mewawancarai 832 pasien pria dan wanita yang diduga menderita semacam gangguan tidur.

Jumlah gangguan sexsomnia yang ditemukan pada pria lebih banyak dibandingkan wanita. Umumnya, penderita gangguan ini tidak ingat mereka terlibat dalam kegiatan tersebut. Para ahli menduga, sexsomnia disebabkan hasrat seks yang meninggi menjelang tidur.

Salah satu peneliti, Dr Sharon Chung, menjelaskan, proporsi penderita kini meningkat dari hanya segelintir menjadi satu diantara 12 orang. “Delapan persen adalah pengidap sexsomnia akut dan harus dibawa ke klinik tidur untuk pengobatan. Jika tak segera diobati sexsomnia bisa menyebabkan rasa lelah sepanjang hari, depresi dan perubahan perilaku,” ia menjelaskan seperti dimuat dalam laman Telegraph. (sj)

• VIVAnews

Asupan Daging Pengaruhi Masa Pubertas Anak

VIVAnews – Remaja putri  yang banyak mengonsumsi daging selama masa kanak-kanak cenderung mengalami masa pubertas lebih dini ketimbang rekan sebayanya.

Peneliti Inggris dalam sebuah studi membandingkan diet lebih dari 3.000 gadis berusia 12 tahun. Mereka menemukan, konsumsi daging tinggi sejak usia tiga tahun (lebih dari delapan porsi seminggu) dan usia tujuh tahun (lebih dari 12 porsi) sangat terkait dengan terjadinya  masa menstruasi lebih awal.

Bahkan, anak perempuan usia tujuh tahun dengan konsumsi daging tinggi memiliki peluang lebih tinggi 75 persen mengalami haid dibandingkan anak dengan asupan daging wajar.

Hasil temuan yang dipublikasikan dalam Public Health Nutrition, menyatakan daging mempersiapkan tubuh untuk mempercepat kehamilan. Daging merupakan sumber makanan kaya akan zat besi dan seng yang membantu terciptanya peluang kehamilan. Selain memicu pubertas lebih cepat, diet daging juga meningkatkan obesitas dan berdampak pada hormon.

Pubertas dini pada remaja putri dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara. Kemungkinannya, wanita memproduksi hormon estrogen lebih tinggi selama kehidupannya.

Dr Ken Ong, pediatrik endokrinologi di Medical Research Council, mengatakan telah terjadi pergeseran waktu menstruasi pada wanita selama satu abad terakhir.

“Ini (pergeseran waktu menstruasi) tidak berhubungan dengan ukuran tubuh wanita yang makin besar, melainkan disebabkan oleh efek protein dan kadar hormon tubuh.” (umi)

• VIVAnews

Seperti Apa Tahapan Kemampuan Bicara Anak?


KOMPAS.com – Orangtua sebaiknya mengetahui tahapan perkembangan kemampuan bicara anak. Jadi, ketika terlihat ada yang tidak sesuai dengan tahap usia, mereka bisa segera mencari solusinya. Tahap perkembangan bicara anak secara garis besar adalah sebagai berikut:

* Sebelum 12 bulan

Perhatikan apakah si kecil mulai menggunakan suara mereka untuk “berkomunikasi” dengan lingkungan mereka. Tahap awal perkembangan bicara adalah mengoceh (babbling).

Seiring pertambahan usia (di usia sekitar 9 bulan), anak-anak mulai menggabungkan suara dan mengucapkan kata seperti “mama” dan “dada” (tanpa tahu maknanya). Dan, sebelum usia 12 bulan, anak mulai lebih tertarik begitu mendengar suara.

Anak-anak yang kelihatannya memandang sesuatu tapi tanpa bereaksi harus diwaspadai sebagai tanda kehilangan pendengaran (hearing loss).

* Usia 12-15 bulan

Di usia ini anak-anak mulai menguasai satu atau dua kata bermakna (di luar kata “mama” atau “dada”). Biasanya kata-kata awal yang mereka kuasai adalah kata benda. Mereka juga mulai mengerti dan mampu mengikuti perintah sederhana, seperti, “Mama minta bolanya, ya?”

* Usia 18-24 bulan
Anak memiliki sekitar 20 kosakata di usia 18 bulan, dan berkembang menjadi 50 atau lebih kosakata ketika berusia 2 tahun. Di usia 2 tahun, anak juga mulai belajar menggabungkan 2 kata sederhana. Mereka mulai bisa mengikuti 2 perintah sekaligus, misalnya, “Ambil bolanya dan toling berikan kotaknya, ya.”

* Usia 2-3 tahun

Orangtua seringkali menyaksikan “ledakan” kemampuan berbahasa anak di tahap usia ini. Kosakata mereka meningkat tajam. Secara rutin, mereka juga mulai menggabungan 3 atau lebih kata menjadi 1 kalimat. Misalnya, “Letakkan di meja, ya?” Mereka juga mulai bisa mengenal warna dan konsep perbandingan (besar-kecil).

(Hasto Prianggoro/Tabloid Nova)

Editor: NF

Next Page »

34 queries