Scan Otak Bisa Membantu Memilih Karir
TEMPO Interaktif, California – Tes bakat, baik umum maupun khusus, dan tes kemampuan mental merupakan alat penting memandu memilih bidang kejuruan. Kini para peneliti dari Universitas California, Amerika Serikat, mempertanyakan apakah kinerja dalam tes tersebut didasarkan pada perbedaan struktur otak, dan jika demikian, scan otak bisa sangat membantu dalam memilih karier?
Seperti yang ditulis di jurnal BMC Research Notes, peneliti menyelidiki seberapa baik delapan tes yang digunakan dalam memandu memilih kejuruan berkorelasi dengan daerah abu-abu di otak.
Penelitian yang dipimpin Richard Haier, dari Universitas California, menyelidiki dasar neurologis untuk kinerja tiap-tiap tes. Dia mengatakan, “Perbedaan individual dalam kemampuan kognitif memberikan informasi yang berharga untuk bimbingan kejuruan.”
Ia juga mengakui memang ada beberapa perdebatan, seperti apakah hasil tes kemampuan khusus perseorangan lebih membantu daripada hasil tes dengan faktor yang lebih luas, seperti kecerdasan umum. “Kami membandingkan jaringan otak yang diidentifikasi dengan menggunakan skor tes kemampuan kognitif yang luas dengan mereka yang yang diidentifikasi dengan menggunakan tes kognitif spesifik,” ujarnya. Perbandingan ini untuk menentukan apakah pendekatan yang relatif luas dan sempit ini memberikan hasil yang sama.
Dengan menggunakan MRI, peneliti mencari korelasi daerah abu-abu di otak dengan faktor-faktor kemampuan independen (kecerdasan umum, kecepatan penalaran, numerik, spasial, memori) dan dengan skor tes yang didapat dari tes kognitif yang diselesaikan oleh 40 individu dalam mencari panduan memilih kejuruan.
Berbicara tentang hasil ini, Haier mengatakan, “Pola kekuatan dan kelemahan kognitif seseorang terkait dengan struktur otak mereka. Dengan demikian, ada kemungkinan scan otak dapat memberikan informasi unik yang akan membantu untuk memilih kejuruan.”
ScienceDaily/NF
Menyelami Beragam Budaya Meningkatkan Kreativitas
TEMPO Interaktif, Northwestern – Kreativitas dapat ditingkatkan dengan mengalami budaya yang berbeda selain budaya sendiri, menurut sebuah studi yang dimuat di Personality and Social Psychology Bulletin, seperti dikutip ScienceDaily 29 Juni 2010.
Tiga penelitian menguji aspek-aspek kreativitas yang berbeda pada siswa yang tinggal di luar negeri dan yang tidak. Dibandingkan dengan kelompok kontrol, yang tidak mengalami budaya yang berbeda, peserta dalam kelompok budaya yang berbeda memberikan bukti lebih kreatif dalam berbagai standar tes sifat tersebut. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa pembelajaran multikultural adalah komponen penting dalam proses adaptasi, bertindak sebagai katalis kreativitas.
Para peneliti, William W. Maddux, Hajo Adam, dan Adam D. Galinsky, dari Universitas Northwestern, Amerika Serikat, percaya bahwa kunci untuk meningkatkan kreativitas berkaitan dengan pendekatan siswa untuk berpikiran terbuka dalam menyesuaikan diri dengan budaya baru. Dalam dunia global, di mana lebih banyak orang dapat memperoleh pengalaman multikultural dibandingkan sebelumnya, penelitian ini menunjukkan bahwa tinggal di luar negeri dapat lebih bermanfaat dari yang diduga sebelumnya.
ScienceDaily/NF
Aktivitas Fisik Mengurangi Risiko Menurunnya Kognitif
TEMPO Interaktif, Maryland – Perempuan yang aktif secara fisik pada setiap tahap kehidupannya (remaja, usia 30 tahun, umur 50, usia lanjut) memiliki risiko yang lebih rendah terkena kerusakan kognitif pada masa tuanya, dibandingkan dengan yang tidak aktif. Namun aktivitas fisik saat remaja tampaknya paling penting. Ini adalah temuan kunci dari penelitian yang melibatkan lebih dari sembilan ribu perempuan.
Hasil penelitian dipublikasikan Journal of the American Geriatrics Society edisi 30 Juni 2010, sebagaimana dikutip ScienceDaily 30 Juni 2010.
Ada semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa orang-orang yang aktif secara fisik pada pertengahan dan akhir kehidupannya memiliki kesempatan yang lebih rendah dan lebih kecil terkena demensia–sebuah bentuk penurunan kognitif pada usia tua.
Para peneliti yang dipimpin oleh Laura Middleton, PhD, dari Pusat Ilmu Kesehatan Sunnybrook, Kanada, membandingkan aktivitas fisik dan kognisi pada remaja, usia 30 tahun, usia 50, dan usia lanjut dari 9.344 perempuan dari Maryland, Minnesota, Oregon dan Pennsylvania, untuk meneliti efektivitas aktivitas pada tahap kehidupan yang berbeda.
“Studi kami menunjukkan bahwa perempuan yang aktif secara fisik secara teratur pada usia berapa pun memiliki risiko yang lebih rendah terkena penurunan kognitif daripada mereka yang tidak aktif, tapi aktif secara fisik pada usia remaja yang paling penting dalam mencegah kerusakan kognitif,” kata Middleton.
Para peneliti juga menemukan bahwa wanita yang secara fisik tidak aktif pada saat remaja tetapi menjadi aktif secara fisik pada usia 30 dan usia 50 tahun secara signifikan mengurangi kemungkinan kerusakan kognitif.
Middleton menambahkan, “Sebagai hasilnya, untuk meminimalkan risiko demensia, kegiatan fisik harus didorong sejak dini.”
ScienceDaily/NgartoF
Jus Bit Menurunkan Tekanan Darah
TEMPO Interaktif, London - Kandungan nitrat dalam jus bit bermanfaat menurunkan tekanan darah, ungkap peneliti dari Universitas Queen Mary di London.
Penelitian yang dipublikasikan jurnal Hypertension edisi online ini menemukan bahwa tekanan darah turun dalam waktu 24 jam pada orang yang mengonsumsi tablet nitrat, dan orang-orang yang minum jus bit.
Penelitian ini akan menjadi berita menggembirakan bagi orang yang punya tekanan darah tinggi, yang merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskular.
Penulis studi ini, Amrita Ahluwalia, profesor biologi vaskuler di Institut Riset William Harvey Queen Mary, mengatakan penyelidikan ini mampu menunjukkan bahwa nitrat yang ditemukan di jus bit punya efek yang menguntungkan bagi kesehatan jantung dengan meningkatkan kadar gas nitrat oksida dalam sirkulasi.
Ahluwalia mengatakan: “Kami memberi kapsul nitrat anorganik atau jus bit pada sukarelawan sehat dan membandingkan respons tekanan darah mereka dan perubahan biokimia yang terjadi dalam sirkulasi.”
“Kami menunjukkan bahwa bit dan kapsul nitrat sama-sama efektif dalam menurunkan tekanan darah. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan nitrat dalam jus bit berpotensi untuk mengurangi tekanan darah,” kata Ahluwalia. “Kami juga menemukan bahwa hanya dengan sedikit jus bit, 250 mililiter, sudah punya efek menurunkan tekanan darah.”
“Penelitian kami sebelumnya dua tahun lalu menemukan bahwa minum jus bit menurunkan tekanan darah, sekarang kita tahu cara kerjanya.”
Penelitian sebelumnya, seperti dikutip ScienceDaily 7 Agustus 2009, menunjukkan bahwa nitrat dalam jus bit meningkatkan stamina, yang membuat olahraga tak begitu melelahkan. Karena, nitrat jus bit mengurangi penyerapan oksigen ke suatu tingkat yang tidak dapat dicapai dengan cara apa pun.
ScienceDaily/Ngarto Februana
Manfaat Kopi untuk Melindungi Diri Melawan Kanker Kepala dan Leher
TEMPO Interaktif, Salt Lake City – Hasil studi baru-baru ini menambah bukti bahwa kopi bisa melindungi terhadap kanker kepala dan leher.
Hasil studi ini diterbitkan online di jurnal Cancer Epidemiology, Biomarkers & Prevention terbitan Asosiasi Penelitian Kanker Amerika.
Menggunakan informasi dari analisis yang dikumpulkan dari sembilan studi sebelumnya yang dihimpun oleh International Head and Neck Cancer Epidemiology (INHANCE), peserta yang minum kopi secara reguler, yaitu, mereka yang minum empat cangkir atau lebih, memiliki penurunan 39 persen risiko kanker rongga mulut dan kanker pharynx, dibandingkan dengan mereka yang tidak minum kopi.
Data mengenai kopi bebas kafein terlalu jarang untuk analisis secara terperinci, tetapi tidak menunjukkan peningkatan risiko. Adapun asupan teh tidak berhubungan dengan risiko kanker dan kanker leher.
Keterkaitan yang lebih kuat terlihat di antara mereka yang mengkonsumsi lebih dari empat cangkir kopi sehari.
Pemimpin penelitian ini, Mia Hashibe, Ph.D., asisten profesor di Universitas Utah, Salt Lake City, mengatakan, “Apa yang menjadikan hasil studi kami sangat unik adalah bahwa kami memiliki ukuran sampel yang sangat besar, dan karena kami menggabungkan data melalui banyak penelitian, kami memiliki kekuatan statistik untuk mendeteksi hubungan antara kanker dan kopi.”
Studi sebelumnya oleh peneliti dari Harvard menunjukkan bahwa orang yang minum kopi memiliki risiko kanker prostat 60 persen lebih rendah daripada pria yang tidak minum kopi.
Hasil studi lain yang diterbitkan Cancer Epidemiology, Biomarkers & Prevention edisi Januari menunjukkan penurunan risiko gliomas, atau tumor otak, yang terkait dengan kopi. Keterkaitan ini ditemukan di antara mereka yang minum lima cangkir kopi atau teh setiap hari, menurut para peneliti dari Imperial College, London.
ScienceDaily/Ngarto Februana
Berita Lain tentang Manfaat Kopi dan Teh bagi Kesehatan:
Manfaat Kopi dan Teh untuk Jantung Anda
Senin, 21 Juni 2010. TEMPO Interaktif, Utrecht – Para penggemar kopi dan teh tak perlu khawatir dengan jumlah konsumsi kedua minuman itu, baik banyak atau sedang, minum kopi dan teh diperkirakan bisa menurunkan risiko penyakit jantung.
Minum Kopi Bisa Mengurangi Risiko Diabetes
Sebuah tim ilmuwan melaporkan adanya bukti baru bahwa minum kopi dapat membantu mencegah diabetes, yang diperkirakan sebagian besar karena kandungan kafein dalam kopi…. SELENGKAPNYA
Kafein Tidak Membuat Anda TerjagaPenelitian di Inggris menyebutkan bahwa tidak benar kafein membuat kita lebih segar sehingga tetap terjaga…
Diet Gaya Mediterania Bisa Meningkatkan Fungsi Jantung
TEMPO Interaktif, Bloomington - Gaya makan Mediterania, yang biasa dilakukan penduduk Eropa bagian selatan seperti Yunani dan Spanyol, dan Timur Tengah, menurut penelitian, bisa memperbaiki fungsi jantung.
Menurut penelitian yang dimuat Circulation: Cardiovascular Quality and Outcomes, jurnal terbitan Asosiasi Jantung Amerika, itu, bahwa pria yang melakukan pola makan gaya Mediterania punya jantung dengan tingkat variabilitas (HRV) lebih besar dibandingkan mereka yang diet gaya Barat.
HRV mengacu pada variasi dalam selang waktu di antara ketukan jantung sehari-hari. Menurunnya HRV merupakan faktor risiko untuk penyakit arteri koroner dan kematian mendadak.
“Ini berarti bahwa sistem otonom yang mengendalikan detak jantung seseorang bekerja lebih baik pada orang dengan pola makan Mediterania,” kata Jun Dai, MD, Ph.D., penulis studi ini dan asisten profesor gizi dan epidemiologi di Universitas Indiana Bloomington.
Gaya makan Mediterania ditandai dengan mengonsumsi lemak tak jenuh, dan banyak makan ikan, buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, minyak zaitun, dan sereal–yang mengurangi faktor risiko penyakit jantung. Tapi sampai sekarang, bagaimana diet ini bisa membantu mengurangi risiko penyakit jantung koroner ini masih belum diketahui.
Dai dan rekan-rekannya menganalisis data diet dari 276 pria kembar identik. Mereka memberikan skor pada setiap peserta tentang cara asupan makanan yang erat berkorelasi dengan diet Mediterania; semakin tinggi skornya, semakin besar pula kesamaannya dengan diet gaya Mediterania.
ScienceDaily/NF
Ini Dia Gejala Menopause pada Pria
TEMPO Interaktif, London – Untuk pertama kalinya, para peneliti dari sejumlah institusi di Eropa mengidentifikasi gejala “menopause pria”, suatu kondisi yang mengikuti penurunan hormon testosteron lelaki tua. Tidak seperti menopause pada perempuan, yang bisa menimpa semua wanita, menopause pada pria tergolong sangat langka, hanya mempengaruhi 2% dari laki-laki tua, dan sering dikaitkan dengan buruknya kesehatan secara umum dan obesitas. Temuan ini dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine edisi Juni 2010.
Para peneliti, dipimpin Profesor Fred Wu, dari Universitas Manchester, mengukur kadar testosteron dari 3.369 pria berusia antara 40 dan 79 tahun, dan menanyakan masalah seksual mereka, kesehatan fisik, dan psikologis.
Tim menemukan hanya sembilan dari 32 gejala yang benar-benar berhubungan dengan rendahnya kadar testosteron; yang paling penting terdapat tiga gejala seksual: penurunan frekuensi ereksi pagi hari, penurunan frekuensi dorongan seksual, dan disfungsi ereksi.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberadaan ketiga gejala seksual tersebut, bersama dengan rendahnya kadar testosteron, memerlukan diagnosis hipogonadisme. Gejala-gejala lain termasuk tiga gejala fisik yakni ketidakmampuan melakukan berbagai kegiatan, seperti berjalan atau mengangkat benda berat, ketidakmampuan untuk berjalan lebih dari 1 kilometer, dan ketidakmampuan untuk membungkuk, berlutut atau membungkuk – dan tiga gejala psikologis: kehilangan gairah, kesedihan, dan kelelahan. Namun, gejala-gejala non-seksual hanya sedikit terkait dengan testosteron rendah.
ScienceDaily/NgartoF
Kopi Rebus Bisa Menurunkan Risiko Kanker Payudara
TEMPO Interaktif, Swedia – Wanita yang minum kopi rebus Skandinavia, yang secara kimiawi menyerupai kopi Prancis dan Turki/Yunani, lebih dari empat kali sehari berisiko lebih rendah terkena kanker payudara dibandingkan wanita yang minum kopi kurang dari sekali sehari. Hal ini ditunjukkan oleh Lena Nilsson dan rekan-rekannya dari Universitas Umeå, Swedia, dalam sebuah artikel dalam di jurnal Cancer Causes and Control.
Perbedaan utama antara kopi yang direbus dan yang disaring adalah kopi rebus berisi sampai 80 kali lebih banyak asam lemak khas kopi. Asam lemak ini sebelumnya telah dipakai dalam percobaan untuk menghambat pertumbuhan kanker pada binatang.
Di kalangan wanita yang minum kopi rebus lebih dari empat kali sehari, terdapat penurunan risiko kanker payudara dibandingkan dengan wanita yang minum kopi kurang dari sekali sehari. Sementara itu, di kalangan wanita yang minum kopi yang disaring, ada peningkatan risiko kanker payudara dini (di bawah usia 49 tahun) dan penurunan risiko untuk kanker payudara kasep (usia di atas 55 tahun). Di kalangan pria peminum kopi rebus terdapat peningkatan risiko kanker pankreas dan kanker paru-paru.
ScienceDaily/NgartoF
Berita Lain tentang Manfaat Kopi bagi Kesehatan:
Minum Kopi Bisa Mengurangi Risiko Diabetes
Sebuah tim ilmuwan melaporkan adanya bukti baru bahwa minum kopi dapat membantu mencegah diabetes, yang diperkirakan sebagian besar karena kandungan kafein dalam kopi…. SELENGKAPNYA
Kafein Tidak Membuat Anda TerjagaPenelitian di Inggris menyebutkan bahwa tidak benar kafein membuat kita lebih segar sehingga tetap terjaga…
Jadwal Tidur Berubah-ubah Bisa Meningkatkan Risiko Bunuh Diri
TEMPO Interaktif, San Antonio – Piala Dunia membuat banyak orang mengubah jadwal tidurnya karena tak ingin ketinggalan menyaksikan sepak bola. Jangan remahkan perubahan jadwal tidur Anda karena bisa mengganggu kesehatan. Menurut penelitian, jadwal tidur yang sangat berubah-ubah diperkirakan meningkatkan risiko bunuh diri karena depresi pada orang muda. Abstrak penelitian ini–seperti dikutip ScienceDaily–yang dipresentasikan Selasa pekan lalu, di San Antonio, Texas, pada pertemuan tahunan ke-24 Associated Professional Sleep Societies LLC.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebuah sampel mahasiswa, yang melakukan upaya bunuh diri, menunda waktu tidur mereka pada pukul 02.08, total waktu tidur terbatas 6,3 jam, dan memiliki jadwal tidur yang sangat tidak teratur. Ketidakteraturan tidur ini hanya yang berhubungan dengan ketidakseimbangan suasana hati yang pada gilirannya diperkirakan meningkatkan gejala bunuh diri.
“Ini merupakan penelitian pertama yang mengevaluasi hubungan yang unik antara tidur dan risiko bunuh diri, dengan menggunakan penilaian obyektif mengenai tidur dan desain penelitian prospektif,” kata Rebecca Bernert, PhD, dari Jurusan Psikiatri dan Ilmu Perilaku di Universitas Stanford.
“Kami menemukan bahwa ketidakteraturan tidur yang sangat tinggi diperkirakan meningkatkan gejala bunuh diri,” ujarnya.
Bernert dan rekannya mempelajari 49 mahasiswa yang melakukan percobaan bunuh diri, berusia antara 19 dan 23 tahun, yang 71 persen adalah perempuan.
Menurut Bernert, mengidentifikasi ketidakteraturan tidur sebagai faktor risiko yang berdiri sendiri bagi ideation (mengkonsepkan gagasan atau menciptakan ide baru) bunuh diri bisa memiliki dampak klinis yang penting.
ScienceDaily/Ngarto Februana
Artikel Lain tentang Gangguan Tidur:
1. Tidur Terlalu Lama Bisa Meningkatkan Risiko Sindrom Metabolik
Durasi tidur yang panjang berkaitan dengan prevalensi tinggi terjadinya sindrom metabolik pada orang dewasa…
3. Tidur Nyenyak Bikin Pria Perkasa
Menurut peneliti Universitas Montreal ini, kualitas tidur pria mulai berkurang saat usia 40 tahun….
4. Tidur Teratur Bisa Bikin Anak Terampil Membaca, Berbahasa, dan Matematika
Hasil penelitian menunjukkan, anak-anak yang orangtuanya memiliki aturan tentang jam berapa anak harus tidur, memiliki skor yang tinggi untuk untuk bahasa reseptif dan ekspresif, kesadaran fonologi, literasi, serta kemampuan awal matematika.
5. Gangguan Seks Saat Tidur
Sexsomnia (gangguan tidur yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan seksual saat mereka tidur) lebih sering terjadi pada pria daripada wanita, dan dilaporkan oleh hampir delapan persen pasien di sebuah klinik gangguan tidur…
6. Satu Malam Saja Kurang Tidur Bisa Memicu Resistensi Insulin
Temuan ini menunjukkan tidur malam yang singkat memiliki efek besar pada pengaturan metabolik…..
Diet Sehat Terkait dengan Rendahnya Risiko Katarak pada Wanita
TEMPO Interaktif, Madison – Wanita yang mengonsumsi makanan kaya vitamin dan mineral mungkin memiliki risiko lebih rendah terkena katarak, menurut laporan yang dimuat jurnal Archives of Ophthalmology seperti dikutip ScienceDaily 14 Juni 2010.
Katarak merupakan penyebab kebutaan yang paling penting di dunia. Di Amerika Serikat, katarak merupakan penyebab paling umum terjadinya gangguan penglihatan. Sejauh ini, sudah ada studi terbatas yang mengevaluasi faktor risiko gizi dan gaya hidup lainnya yang dikaitkan dengan kesehatan mata.
Julie A. Mares, Ph.D., dari Universitas Wisconsin, Madison, dan rekannya mempelajari 1.808 perempuan (usia 55-86). Mares mengatakan bahwa makanan yang memberikan kontribusi bagi diet dengan skor yang lebih tinggi adalah sayuran,, susu, biji buah-buahan, daging (atau kacang-kacangan, ikan, atau telur).
Menurut penelitian ini, katarak nuklir (terjadi di dalam nukleus atau pusat lensa dan biasanya terkait dengan penuaan alami) dalam sampel ini sebanyak 29 persen, (454 wanita) melaporkan menderita penyakit mata dengan menggunakan lensa di salah satu mata. Selain itu, 282 perempuan (16 persen) telah melaporkan menderita ekstraksi katarak di kedua mata. Secara keseluruhan, 736 perempuan (41 persen) menderita katarak nuklir baik terlihat dari foto lensa maupun dilaporkan memiliki katarak yang diekstraksi. Kata Mares, “Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa diet yang sehat lebih kuat berhubungan dengan rendahnya kejadian katarak nuklir.”
“Sebagai kesimpulan, penelitian ini menambah literatur yang menyarankan bahwa diet yang sehat berhubungan dengan risiko lebih rendah terjadinya katarak,” tulis penulis.
ScienceDaily/NF







