Pure Aneka Buah
Bahan :
25 pepaya matang
25 gr pear hijau
25 gr apel manalagi
25 cc air jeruk manis
1 sdm susu formula lanjutan
100 cc air hangat
Cara Membuat :
Kupas apel,pear hijau,papaya,lalu iris kecil-kecil.
Didihkan air,masukkan buah-buahan tersebut dan rebus selama sekitar 5 menit,angkat
Masukkan air jeruk dan susu formula,lalu aduk hingga rata
Tunggu sampai agak dingin.
Haluskan dengan blender hingga lembut.
Bisa langsung sajikan,atau disimpan terlebih dulu di lemari pendingin kemudian direndam dengan air panas ketika akan disajikan.
Flek, Perdarahan & Keputihan Saat Hamil
| Flek Kehamilan itu apa, sih? Flek saat hamil terlihat mirip menstruasi. Ini sering terjadi pada awal kehamilan karena darah yang dilepas saat telur dibuahi melekatkan diri ke dinding rahim. Bila flek diikuti gejala lain, Ibu harus waspada. Bila terjadi perdarahan, mungkin saja terjadi keguguran atau kehamilan ektopik. Kalau begini, jangan tunda untuk menghubungi dokter. Perdarahan
Cairan vagina Lendir ini akan makin kental mendekati waktu persalinan yang menandai bayi Ibu sedang menuju jalan lahir. Tapi, lendir ini juga bisa jadi tanda adanya infeksi atau keputihan terutama bila disertai rasa gatal atau panas. Segera hubungi dokter bila lendir mengental, berwarna kekuningan dan berbau. |
Kompas Gramedia Luncurkan 4 Majalah Glossy
KOMPAS.com – Seakan tak mau berhenti berinovasi dan mengembangkan sayap, Kompas Gramedia (KG) kembali melakukan gebrakan. Kali ini, di usia pertengahan dasawarsa ke 4, KG meluncurkan empat majalah baru. Tak tanggung-tanggung, KG membawa empat majalah berlisensi dari Amerika sekaligus.
Ke-4 majalah tersebut adalah; Fortune dan InStyle besutan dari Time Inc., MORE dari Meredith Corporation, dan Martha Stewart Living keluaran Omni Media Inc. Mengambil lokasi yang tak lazim, yakni di bawah jembatan penghubung mal Grand Indonesia, KG menggelar sebuah perayaan yang diberi tajuk “The Rays of Gold”, Selasa (27/7/2010) lalu. Dalam sambutannya, CEO KG, Agung Adiprasetyo, mengungkapkan bahwa malam peluncuran empat majalah tersebut sebagai penanda kelahiran kembali masa emas KG.
Kepada Kompas Female, Reda Gaudiamo, publisher grup majalah KG bertutur, “Selama 45 tahun ini, Kompas Gramedia sudah membuktikan merupakan yang nomor 1 di industri majalah. Kini, kami ingin membuktikan hal yang baru, setting gol yang baru. Karena majalah glossy ini menjadi sesuatu yang baru untuk KG. Ini seperti menantang diri sendiri. Inilah satu step di atas yang kemarin. Untuk majalah lain, seperti majalah anak, otomotif, KG sudah cukup menguasai pasar. Tetapi untuk majalah license printed, belum ada. Mengapa majalah glossy, karena selama ini orang meragukan. Tetapi ke-4 majalah ini menjadi sebuah pembuktian, bahwa KG memang besar, dan memang bisa.”
Tiga dari empat majalah yang diterbitkan ini merupakan majalah untuk wanita. Padahal, saat ini sudah banyak sekali majalah khusus wanita diterbitkan di pasar. Namun Reda optimis ketiga majalah ini akan baik di pasaran. “Sebelum terbit saja sudah banyak yang menelepon kami untuk mau ikut berkontribusi, khususnya pengiklan. Ditambah lagi, memang isinya untuk pasar yang khusus. MORE, misalnya, untuk pasar usia 25-45, khususnya di usia 35 tahunan. Majalah lainnya pun memiliki pasar yang sangat spesifik dan dicari,” ujarnya.
Sementara dalam siarannya kepada media, Widi Kristawan, Direktur Group of Magazines Kompas Gramedia mengatakan, “Peluncuran keempat majalah ini merupakan salah satu langkah kami dalam memberi nilai tambah pada era informasi global di Indonesia. Tak sekadar menambah jumlah penerbitan yang ada, tetapi juga menghadirkan sumber informasi terbaik. Kami berharap kerjasama dengan tiga perusahaan media terkemuka di Amerika Serikat dan sekaligus menerbitkan majalah mereka di Indonesia dapat meningkatkan kualitas informasi yang kami berikan ke depan. Ini yang kami rasakan ketika menerbitkan National Geographic Indonesia, yang belum lama ini mendapatkan penghargaan Mochtar Lubis Awards.”
KG yang berawal dari sebuah majalah kecil bernama Intisari, kini menjadi perusahaan penerbitan terbesar di Indonesia yang memiliki belasan surat kabar nasional dan daerah dengan pembaca sekitar 6 juta orang setiap hari. Penerbitan periodikal, KG menerbitkan hampir 100 judul majalah dan tabloid yang mengisi lebih dari 30 persen pangsa pasar di Indonesia.
NAD
Editor: din
Bahaya Film Komedi Romantis
VIVAnews - Film komedi romantis adalah genre film yang banyak disukai kaum hawa. Ceritanya yang lucu dan romantis memang sangat menghibur. Tetapi, hiburan selama 90-120 menit tersebut ternyata bisa berdampak negatif pada hubungan cinta Anda dan pasangan. Hal itu menurut survei yang dilakukan pada 1.000 warga Australia.
Dari hasil survei diketahui hampir setengah partisipan mengungkap akhir cerita bahagia dari film komedi romantis telah merusak pandangan mereka tentang hubungan yang ideal. Satu dari empat responden mengatakan sekarang mereka ‘dipaksa’ untuk mengetahui apa yang dipikirkan pasangan.
Sedangkan, satu dari lima responden wanita mengharapkan bisa menerima hadiah atau bunga dari pasangan tanpa alasan istimewa.
“Percintaan dalam film komedi romantis menjadi isu universal bisa membuat wanita ‘kecanduan’ terhadap pemikiran ‘hidup bahagia selamanya’. Masalahnya, hal itu dapat memberikan dampak buruk yang mempengaruhi pandangan seseorang tentang hubungan sebenarnya dalam kehidupan nyata,” kata Gabrielle Morrissey, konselor hubungan asal Australia seperti dikutip dari NY Daily News.
“Hubungan cinta yang sebenarnya membutuhkan usaha dan kompromi. Hal itu lebih dibutuhkan daripada sebuket bunga atau hadiah sebagai tanda cinta,” katanya menambahkan.
Survei tersebut dilakukan oleh Warner Home Video sebagai peluncuran film “Valentine’s Day” dalam kemasan DVD.
Baca juga: 10 Hal yang Bikin Pria Makin Cinta
• VIVAnews
Mengapa Usia Wanita Jepang Paling Panjang
VIVAnews - Wanita Jepang menempati peringkat pertama usia paling panjang di dunia dengan harapan hidup mencapai hampir 86,5 tahun. Wanita Jepang memegang rekor usia paling panjang di dunia selama 25 tahun berturut-turut.
Data statistik Departemen Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang 2009 menunjukkan, dibandingkan tahun sebelumnya, masa hidup wanita Jepang rata-rata meningkat hampir lima bulan menjadi 86,44 tahun.
Sedangkan masa hidup pria Jepang rata-rata meningkat hampir empat bulan menjadi 79,59 tahun. Angka ini menempati urutan kelima dalam daftar usia pria paling panjang di dunia, menurun dari peringkat keempat pada tahun sebelumnya.
Umur panjang di Jepang mencerminkan perawatan medis yang membaik dan standar hidup yang tinggi. Namun, kenaikan angka harapan hidup itu tak disertai dengan kenaikan angka kelahiran. Proporsi kelompok lanjut usia di negara ini lebih tinggi dibandingkan kelompok anak.
Meningkatnya angka bunuh diri di kalangan orang dewasa diduga menjadi penyebab menurunnya harapan hidup di kalangan pria Jepang. Bunuh diri, kejahatan, dan alkoholisme di kalangan warga dewasa mulai berkembang karena penghasilan rendah dan kesempatan kerja yang tak stabil.
Sementara itu, angka harapan hidup wanita Hong Kong menempati urutan kedua dengan usia 86,1 tahun. Disusul wanita Prancis pada urutan ketiga dengan harapan hidup 84,5 tahun dan Swiss 84,4 tahun.
Untuk pria, Qatar menduduki peringkat pertama dengan harapan hidup 81 tahun, diikuti Hong Kong 79,8 tahun. Islandia dan Swiss berbagi tempat ketiga dengan 79,7 tahun.
Sedangkan angka harapan hidup di Amerika Serikat adalah 80,4 tahun untuk wanita dan 75,4 tahun untuk pria. Secara umum, wanita memiliki harapan hidup lebih lama dibandingkan laki-laki.(np)
Baca juga: Mau Panjang Umur? Nikahi Daun Muda & Mengapa Wanita Asia Terlihat Lebih Muda
• VIVAnews
Peragaan Busana Muslim Serumpun
TEMPO Interaktif, Jakarta -TEMPO Interaktif-Jakarta, Indonesia dan Malaysia mempunyai kedekatan yang tidak bisa terpisahkan. Sebagai negara serumpun Melayu, keduanya banyak memiliki persamaan selain keragaman dan keunikan dari kedua negara tersebut. “Saya ingin menyajikan Islamic Fashion Festival (IFF) 2010 ini sebagai satu pergelaran serumpun yang menguatkan hubungan Indonesia-Malaysia,” kata Raja Rezza Shah Raja Zurin, pendiri dan Ketua IFF yang sudah empat kali menyelenggarakan ajang mode bergengsi ini, di Jakarta.
Pria yang biasa disapa Dato’ Raja Rezza Shah ini sangat antusias menyelenggarakan IFF 2010 yang berlangsung di Hotel Dharmawangsa, Kebayoran, Jakarta, selama dua hari 29-30 Juni lalu. “Ada misi idealisme yang ingin saya hadirkan kembali dalam pergelaran kesembilan ini di Jakarta,” ujarnya ramah bersahaja. Pada ajang mode kali ini dia menyebutkan mengusung tema besar Cita Nusantara Showcase.
“Adapun tema kali ini mengandung tiga konsep yakni Dari Minimalis ke Maksimalis,
Sebuah Kolaborasi, dan Cinta Cita Nusantara. Kami menyajikan busana muslim
kolaborasi perancang dari dua negara yang memakai bahan kain dan kerajinan
Nusantara Indonesia-Malaysia. Saya inginkan peragaan busana muslim serumpun ini menjadi tonggak penting harmonisasi hubungan kedua negara yang belakangan
terganggu dengan adanya masalah klaim batik,” ungkapnya.
Diakui Dato’ Raja Rezza Shah, IFF merupakan upaya yang diprakarsainya. Dan
melalui ajang ini pihaknya selalu menyampaikan sebuah upaya untuk mengantarkan tren busana muslim ke belahan dunia lain. Baginya, tren mode bisa diterapkan pada jenis busana apa pun, termasuk busana muslim. “Saya melihat serta meyakini busana muslim tidak lagi dianggap monoton, melainkan bisa mengikuti perkembangan mode dunia bahkan diharapkan menjadi kiblat tren mode dunia,” ujarnya optimistis.
Tahun ini, ia sempat mengusung IFF dan memperkenalkani ke Abu Dhabi, New York dan Jakarta. Pada Agustus hingga September nanti, dia berencana akan membawa ke Monte Carlo, Qatar, dan Singapura. “Saya sangat berharap IFF menjadi simbol penting sebagai kiblat perhelatan akbar dunia. Dan saya sungguh berterima kasih selalu rutin bekerja sama dengan para perancang Indonesia yang siap dengan tangan terbuka menyajikan peragaan ini.”
IFF 2010 di Jakarta kali ini menampilkan karya para perancang Indonesia seperti Ghea Panggabean, Samuel Wattimena, MILO, Merry Pramono, Jeny Tjahyawati, Hannie Hananto, Iva Lativah, Nuniek Mawardi, Zainal Songket, Ian Adrian, Safitri, Anne Rufaidah, Alphiana Chandrayani, Erni Kosasih, dan Ida Royani. Sementara Malaysia menampilkan perancang Melinda Looi, Tom Abang Saufi, Khadani, Mona Din Hajaba, Noraini Jarumas dan koleksi dari Kraftangan Malaysia.
Melaui tema Cita Nusantara semua para perancang Indonesia Malaysia memakai,
menggunakan atau menciptakan pakaian yang berasaskan Tekstil Kraf Nusantara
seperti batik Malaysia, batik Jogja, batik Madura, batik Cirebon , lurik Jawa, songket Palembang, tenun Pontianak, tenun Kalimantan Timur, tenun Nusa Tenggara Timur, tenun Maluku dan tenun Pahang. Menurut dia, IFF selain aktif dan rutin menyelenggarakan show case atau peragaan busana, juga ikut berbagi memberikan dukungan dan bantuan sosial. Dia menegaskan pada malam penyelenggaraan IFF yang berlangsung November 2009 di Kuala Lumpur, hasil show casenya disumbangkan kepada Pundi Amal SCTV sebesar US$ 10.000. “Prinsip hidup saya harus ada keseimbangan. Menyelenggarakan peragaan oke, namun kegiatan sosial pun harus tetap kita dukung, tak boleh ditinggalkan.”
Malam itu, perancang Melindai Looi yang tengah hamil menyajikan karya bertema
Batique melalui keindahan elemen batik yang penuh dengan warna grey, honey
dan salmon yang sangat cocok dikenakan sebagai busana pesta. Sementara Milo,
perancang asal Bali menyajikan baju muslim khas Timur Tengah dengan rancangan
menyemburatkan aura kemewahan melalui motif garis dan zebra.
“Saya ingin penduduk dunia punya minat tinggi terhadap busana muslim rancangan
saya yang menyerupai gaun malam sangat tepat dikenakan oleh lintas agama, tak
hanya mereka yang muslim,” ujar Milo.
HADRIANI P / Credit Foto: Dok. Panitia IFF
Alkohol Membahayakan Sperma Anak
TEMPO Interaktif, Roma – Ibu yang minum alkohol selama hamil dapat merusak kesuburan anak lelakinya di kemudian hari, kata sebuah studi oleh ilmuwan Denmark, sebagaimana dikutip Sexual Health News 29 Juni 2010.
Para peneliti menemukan bahwa jika saat hamil si ibu minum minuman beralkohol sebanyak 4,5 atau lebih per minggu, konsentrasi sperma anak-anak mereka – sekitar 20 tahun kemudian – sepertiga lebih rendah ketimbang laki-laki yang tidak terkena alkohol semasa dalam kandungan.
Takaran minum diukur sebagai 12 gram alkohol, setara dengan 330 ml satu kaleng bir, satu gelas kecil anggur (120 ml).
Penelitian oleh ilmuwan di Universitas Aarhus di Denmark ini telah disampaikan pada konferensi Masyarakat Eropa Reproduksi Manusia dan Embriologi di Roma.
“Studi kami menunjukkan bahwa ada hubungan antara minum alkohol dalam jumlah sedang selama kehamilan dan konsentrasi sperma lebih rendah pada anak,” kata Cecilia, yang memimpin penelitian ini.
Tapi ia mencatat bahwa karena penelitiannya bersifat observasional, para ilmuwan tidak dapat mengatakan dengan pasti apakah konsumsi alkohol adalah penyebab rendahnya konsentrasi sperma.
“Ada kemungkinan bahwa minum alkohol selama hamil memiliki efek berbahaya pada jaringan janin yang memproduksi air mani dalam testis – dan dengan demikian berdampak pada kualitas sperma di kemudian hari,” ujar Cecilia dalam laporannya. Menurut Cecilia, mengingat penelitian tentang kaitan alkohol dan sperma ini yang pertama kali, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan hubungan sebab akibat dan batas aman minum yang disarankan.
Namun, jika temuan ini direplikasi oleh studi lain di kemudian hari, dapat membantu menjelaskan mengapa kualitas air mani telah menurun dalam beberapa dekade terakhir, dan mengapa di beberapa negara lebih baik dari negara yang lain.
Tim peneliti Denmark mempelajari 347 anak yang lahir dari 11.980 perempuan, yang ambil bagian dalam studi antara 1984 dan 1987. Sekitar 36 minggu usia kehamilan, para ibu itu menjawab pertanyaan tentang gaya hidup dan kesehatan. Setelah anak-anak mereka berusia 18 dan 21 tahun, antara 2005 dan 2006, anak-anak tersebut diambil sampel sperma dan darahnya untuk dianalisis.
Data menunjukkan bahwa anak-anak dari ibu yang minum 4,5 atau lebih minuman beralkohol seminggu memiliki konsentrasi sperma rata-rata 25 juta per mililiter, sementara anak yang paling sedikit terkena alkohol memiliki konsentrasi sperma 40 juta per mililiter.
Sexual Health News/Ngarto Februana
Bercinta Tiap Hari, Normalkah?
Tanya:
Saya dan suami baru menikah tiga bulan lamanya. Setiap hari kami berhubungan intim. Apakah hal ini akan mengganggu kesehatan kami berdua? Atau, apakah secara psikologis hal ini dapat menyebabkan kebosanan nantinya?
jmxxx@yahoo.co.id
Jawab:
Anda memang masih termasuk pengantin baru. Bercinta, memang masih merupakan hal baru bagi sepasang pengantin baru. Biasanya, pada masa ini aktivitas intim berada pada frekuensi yang sedang tinggi-tingginya.
Selama ini, belum ada penelitian yang menyebutkan, bercinta setiap hari akan mengganggu kesehatan. Karena itu, nikmatilah masa mesra ini sepuasnya. Tidak beralasan jika Anda merasa khawatir hubungan seks yang sering dilakukan ini akan menimbulkan kebosanan.
Hubungan seks yang diikat oleh rasa cinta yang mendalam bukanlah hubungan yang bersifat mekanis. Ikatan Anda berdua tidak hanya murni jasmaniah, tetapi punya ikatan yang bernilai emosional juga.
Kebosanan mungkin saja terjadi nantinya, tetapi ingatlah bahwa seks merupakan suatu dunia sendiri, yang penuh hal-hal baru dan dapat dinikmati berdua serta penuh dengan eksplorasi. Hal ini merupakan tugas Anda berdua, untuk membuat hubungan seks sebagai kegiatan yang menarik, penuh dengan hal-hal baru sehingga dapat memberikan kenikmatan, tak saja jasmani tetapi juga emosional.
Konsultan: Wira Pramudya (konsultasi seks)
Baca juga: Tantangan Bercinta 30 Hari
• VIVAnews
Mengukur Sehatnya Hubungan dari Obrolan
KOMPAS.com – Merasa hubungan kita dengan kekasih hati tak berjalan ke mana-mana? Penasaran apa yang mengganjal, padahal segala upaya untuk meningkatkan kualitas hubungan sudah dilakukan? Coba telisik dengan topik apa saja yang kita pilih sebagai bahan pembicaraan, karena ternyata ini bisa mendeskripsikan ke mana hubungan kita akan berjalan.
Sebuah penelitian yang dipublikasi di Psychological Science mengungkapkan, sebenarnya sebagian besar dari kita justru merasa nyaman ketika berbicara mengenai topik-topik ringan. Ini disimpulkan setelah mengamati 79 orang perempuan yang berusia 20-25 tahun. Mereka diamati ketika berkumpul bersama pasangannya, kemudian dilihat apa saja yang dibicarakan selama pertemuan berlangsung.
Hasilnya 10 persen dari mereka merasa menikmati perbincangan ketika isu yang dibahas adalah hal-hal ringan. Ketika mulai membicarakan isu-isu yang berat, yang merasa tidak puas mencapai 28,3 persen. Alhasil, mereka tidak menemukan chemistry yang pas untuk membina hubungan.
Semakin ingin tahu perbincangan apa saja yang bisa membuat kita nyaman menghabiskan waktu bersama pasangan? Coba telisik trik mudah berikut ini:
1. Cerita kejadian memalukan. Setiap orang pasti pernah mengalami hal yang tak ingin dialami dua kali, tapi jika kita mengingatnya selalu saja meninggalkan senyum di wajah. Penelitian yang melibatkan 79 orang ini juga menyimpulkan, ketika kita berani berbagi cerita tak terlupakan pada pasangan, maka kita telah membuka diri. Ini adalah sinyal bagi pasangan untuk menerima keberadaan kita. Jangan takut, biasanya trik ini akan membuat pasangan bercerita mengenai hal yang sama. Dan bisa jadi lebih menggelikan dari yang kita alami.
2. Cerita masa kecil. Coba pancing pasangan kita untuk bercerita permainan apa yang disukainya saat itu. Apakah dia termasuk anak yang suka dipanggil kepala sekolah, atau justru anak yang jauh dari masalah? Biasanya ini akan membuat dia bercerita banyak, plus mungkin kita ikut terpancing. Karena, akui saja, sebenarnya kebanyakan dari kita suka kembali ke memori menggemaskan ini.
3. Cerita film atau acara televisi kesukaan. Entertainment akan selalu menarik untuk dibahas. Mulai dari jalan cerita film, pemeran utamanya, hingga adegan atau episode mana yang mengesankan. Selain isunya yang ringan, trik ini juga akan membantu kita melihat bagaimana pasangan memberikan penilaian terhadap satu hal. Inilah cara menyenangkan untuk menyingkap salah satu karakter pasangan.
4. Cerita mengenai keluarga. Ketika kita membebaskan pasangan bercerita mengenai keluarganya, kita bisa mengetahui apa yang menjadi kebiasaan dari keluarganya. Ini akan membuat kita mengerti bagaimana proses pembentukan karakter yang dilaluinya.
Jika perbincangan-perbincangan ringan ini menarik perhatian dan membuatnya membuka diri terhadap kita, itu tandanya kita bisa mengajak pasangan untuk naik ke level selanjutnya dari sebuah hubungan. Selamat mencoba.
(Siagian Priska/Prevention Indonesia)
Editor: din
Media Massa, Teknologi, dan Perkembangan Mental Anak
Hari-hari terakhir ini, kita hampir tidak dapat dilepaskan dari hingar bingar berita skandal video porno mirip artis yang sudah tersebar bebas di internet. Lepas dari segala kecaman maupun berita yang disorotkan ke artis yang terlibat, kita memang perlu prihatin bahwa tersebarnya rekaman tersebut, sudah terjangkau hingga ke berbagai kalangan, termasuk anak-anak. Bahkan jauh sebelum kehebohan video ini muncul, kita tentu masih ingat tersebarnya pula rekaman video seks mantan pejabat, mahasiswa, ganti baju artis, dan masih banyak lagi.
Semuanya merupakan aktivitas yang cenderung ditabukan dalam kultur masyarakat kita, terutama bagi anak-anak. Dan tidak dapat dipungkiri, kasus yang melibatkan artis-artis terkenal ini menjadi perhatian public maupun pemerintah yang cukup besar karena mereka adalah figur public, sehingga membuat lebih banyak kalangan yang cenderung ingin tahu, apa yang sedang diberitakan media massa.
Harus kita akui, di jaman yang serba modern ini, penyebaran informasi apapun, baik yang positif maupun negative, relative sulit dihindari, termasuk juga informasi-informasi yang seharusnya diperuntukkan untuk orang dewasa yang sudah siap lahir dan batin menerima informasi tersebut. Apalagi, perkembangan internet dan perangkatnya yang semakin murah dan semakin kita butuhkan untuk aktivitas sehari-hari sehingga memungkinkan akses yang semakin mudah.
Tentu tidak akan efektif bila kita sebagai orang tua, hanya sekedar melarang anak kita dan memarahinya bila kita mendapatinya sedang mengkonsumsi informasi yang tergolong dewasa, baik melalui internet, handphone, televisi ataupun alat teknologi lain, karena hal itu akan memunculkan rasa penasaran yang besar pada anak, dan ujung-ujungnya, akan mudah tergoda untuk mencari tahu dalam bentuk praktek nyata, seperti yang kebanyakan diberitakan selama ini di berbagai media massa.
Oleh sebab itu, kunci utama untuk melindungi buah hati kita dari dampak negative kemajuan teknologi, dengan tetap kita mampu memaksimalkan segi positif dari teknologi tersebut, adalah KOMUNIKASI. Seperti layaknya setiap hubungan apapun itu, termasuk hubungan antar suami-istri, KOMUNIKASI merupakan sarana yang paling efektif untuk saling memberikan masukan, saling memahami, saling memberikan pengertian, dan saling belajar satu sama lain dalam mencapai win-win solution di setiap masalah apapun.
Marah, memaksa, melarang, menghukum, maupun tindakan emosional lainnya, cenderung meningkatkan perasaan tertekan dan keinginan memberontak pada anak, yang ujung-ujungnya, akan menyulitkan orang tua dalam penanaman nilai secara tepat.
Komunikasi antar orang tua-anak yang terjalin dengan baik (artinya, anak merasa nyaman setiap kali berkomunikasi dengan orang tuanya, bukan malah tertekan atau takut), akan jauh lebih efektif untuk menanamkan nilai-nilai dibandingkan factor luar. Hanya pada saat anak tidak merasa nyaman ketika ia di rumah, itulah saatnya factor luar (teman, media massa, dll) memberikan pengaruh yang signifikan.
Lantas, bagaimana caranya ber-KOMUNIKASI yang efektif agar anak mudah memahami pengertian yang dimaksud orang tua?
Di sini, dibutuhkan KESESUAIAN antara inti informasi yang dikomunikasikan orang tua dengan perkembangan mental anak, yang umumnya mengikuti perkembangan usianya.
Tidak dapat dipungkiri, perkembangan intelektual dapat semakin cepat dan semakin dini berkat pengaruh gizi, lingkungan, maupun pola asuh. Namun sebaliknya, perkembangan mental perlu proses sinergi terus menerus antara orang tua-anak-lingkungan hingga anak mulai mampu mengambil tanggung jawab secara mandiri di masa dewasa.
Oleh sebab itu, kami sajikan beberapa tips berikut ini yang dapat dicoba orang tua dalam menanamkan nilai-nilai normative (khususnya terkait perilaku seks bebas):
1. Memanfaatkan Perumpamaan/ Metafora CINTA dan RESMI
Hal ini terutama saat anak berusia di bawah sekurang-kurangnya 7 tahun (sekitar SD kelas 2), bertanya dari mana ia dilahirkan.
- Lebih baik orang tua menghindari jawaban yang sulit diterima akal sehat karena kelak di masa depan, anak akan sulit percaya kepada orang tua bila ternyata kenyataannya tidak seperti yang disampaikan orang tua.
- Lebih baik orang tua memberikan jawaban dari Cinta, seperti cerita cinta dongeng Cinderella dan dari Cinta itulah, anak dilahirkan. Maka, konsep terlahir dari “Cinta”, menjadi norma yang terekam di informasi anak.
- Di atas usia 7 th – awal masa akil balik, orang tua bisa menambahkan konsep “Cinta” tersebut dengan konsep “Resmi”, di mata agama dan hukum, seperti anak yang terlahir dari Cinta yang telah dipersatukan secara resmi oleh agama dan hukum dalam bentuk pernikahan yang sah.
- Maka ketika anak sudah memasuki masa akil balik (remaja ke atas), nilai-nilai “Cinta” dan “Resmi” sudah terekam di kepribadian anak, sehingga selanjutnya, tugas orang tua relative lebih ringan dengan membimbing anak untuk beradaptasi dengan perubahan fungsi organ tubuh yang sudah mulai matang. Baru pada saat itulah, anak baru dapat belajar mengenai awal mula “Proses Biologis” terbentuknya kelahiran anak dengan nilai-nilai “Cinta” dan “Resmi” yang tertanam.
2. Menunjukkan kebahagiaan yang terpancar dari foto-foto perkawinan orang tua
3. Menunjukkan kebahagiaan yang terpancar dari dokumen kelahiran anak, hasil dari Cinta kasih yang diwujudkan dalam bentuk pernikahan Resmi.
4. Menekankankan dan selalu mengulang kata “Ayah dan Ibu PERCAYA sama Adik (atau nama panggilan anak), dan bahwa Adik akan selalu menggunakan kepercayaan Ayah dan Ibu dengan baik”
5. Menjelaskan bahwa perilaku seks bebas seperti yang ditunjukkan oleh artis maupun orang lain seperti yang diberitakan di berbagai media massa maupun internet, itu bukanlah “Cinta” karena tidak dipertanggungjawabkan secara “Resmi” di hadapan agama dan hukum. Maka dari itu, perilaku semacam itu, tidak akan menghasilkan kebahagiaan bagi diri sendiri.
- Hal ini-pun berlaku ketika anak sudah menginjak remaja dan mulai menjalin hubungan pacaran, sehingga dengan nilai/ kata kunci “Cinta”, “Resmi”, maupun “Orang tua Percaya” yang telah tertanam dalam prinsip hidup anak, kondisi mental anak akan relative sudah siap untuk menjaga diri sendiri dari godaan untuk melakukan hubungan seksual sebelum waktunya, walaupun dengan pacar sendiri.
6. Yang terakhir dan tak kalah pentingnya, adalah PANUTAN dari orang tua. Tanpa “PANUTAN” yang sesuai dengan kenyataan yang dilihat anak, maka langkah 1 s/d 5 akan menjadi kurang efektif, atau lebih tepatnya, sia-sia.
Seperti sebuah pepatah mengatakan, “Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.” Demikian juga dengan perkembangan mental pada generasi muda masa datang, khususnya anak-anak kita.
Kita tidak dapat memperbaiki masa lalu, kita tidak dapat menutup diri dari perkembangan jaman, kita juga tidak dapat menghindari kemajuan teknologi yang sangat cepat, tapi kita dapat belajar dari kesalahan dan memperbaikinya demi masa depan yang lebih baik. Dan, itu semua tergantung dari diri kita masing-masing saat ini.
Selamat menjadi orang tua yang berbahagia! ^_^
Penulis :
Siti Marini Wulandari, M.Psi., Psikolog, dan
Suwito Hendraningrat Pudiono, M.Psi., Psikolog







