Bahaya Film Komedi Romantis
VIVAnews - Film komedi romantis adalah genre film yang banyak disukai kaum hawa. Ceritanya yang lucu dan romantis memang sangat menghibur. Tetapi, hiburan selama 90-120 menit tersebut ternyata bisa berdampak negatif pada hubungan cinta Anda dan pasangan. Hal itu menurut survei yang dilakukan pada 1.000 warga Australia.
Dari hasil survei diketahui hampir setengah partisipan mengungkap akhir cerita bahagia dari film komedi romantis telah merusak pandangan mereka tentang hubungan yang ideal. Satu dari empat responden mengatakan sekarang mereka ‘dipaksa’ untuk mengetahui apa yang dipikirkan pasangan.
Sedangkan, satu dari lima responden wanita mengharapkan bisa menerima hadiah atau bunga dari pasangan tanpa alasan istimewa.
“Percintaan dalam film komedi romantis menjadi isu universal bisa membuat wanita ‘kecanduan’ terhadap pemikiran ‘hidup bahagia selamanya’. Masalahnya, hal itu dapat memberikan dampak buruk yang mempengaruhi pandangan seseorang tentang hubungan sebenarnya dalam kehidupan nyata,” kata Gabrielle Morrissey, konselor hubungan asal Australia seperti dikutip dari NY Daily News.
“Hubungan cinta yang sebenarnya membutuhkan usaha dan kompromi. Hal itu lebih dibutuhkan daripada sebuket bunga atau hadiah sebagai tanda cinta,” katanya menambahkan.
Survei tersebut dilakukan oleh Warner Home Video sebagai peluncuran film “Valentine’s Day” dalam kemasan DVD.
Baca juga: 10 Hal yang Bikin Pria Makin Cinta
• VIVAnews
Jajan Es Juga Bisa Bikin Sehat, Kok
KOMPAS.com – Sejak kecil, kita mendengar orangtua memberikan nasihat agar memakan nasi sebelum minum es. Ada yang bilang terlalu banyak makan/minum es bisa membuat anak sakit. Mulai dari sakit tenggorokan, pilek, bahkan sakit perut. Ternyata, mitos tersebut tidak selalu benar. Berikut penjelasan dari dr Ida Gunawan, MS SpGK mengenai mitos tersebut.
Diterangkan oleh dr Ida, saat ini, hanya ada 5 persen anak sekolah yang membawa bekal dari rumah. Sebanyak 95 persen lainnya lebih memilih jajan di sekolah. Menurut data yang dilansir oleh PT Orang Tua Group terhadap 400 anak usia sekolah dasar, tiga makanan jajanan teratas yang disukai anak-anak adalah; siomay, batagor, dan es.
Namun, saat ini masih banyak orangtua masih khawatir dan percaya, bahwa jajanan es tidak baik untuk anak-anak. Dr Ida mengatakan, bahwa jajanan es tidak selamanya buruk untuk anak. Bahkan, bisa jadi baik untuk dikonsumsi anak-anak asalkan memenuhi syarat-syarat tertentu.
Diterangkan oleh dr Ida, bahwa jajanan dikatakan aman dikonsumsi anak-anak jika terjaga keamanan dari segi mikrobiologis dan kimia, serta memiliki kandungan gizi. Sementara, mengenai mitos bahwa jajan es bisa mengakibatkan pilek dan gangguan tenggorokan, hal ini dijawab dr Ida dengan riset dari G.J. Connet dan B.W yang mengatakan, penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) pada anak, seperti hidung tersumbat, pilek, radang tenggorokan baru akan muncul jika; 1. Kondisi badan sedang tidak sehat, dan 2. Dalam jumlah berlebihan.
Sehingga bisa dikatakan, asalkan tubuh anak sehat, jajan es tak akan menimbulkan masalah. Namun, ditambahkan pula, es yang dikudap pun harus memenuhi syarat pula, yakni; 1. Higienis, 2. Ada kandungan gizinya, 3. Aman secara biologi dan kimiawi. Dengan kata lain, jajan esnya pun tak boleh sembarangan. Harus terjaga kebersihan wadahnya, airnya sehat, kandungan zatnya bergizi, dan tidak mengandung zat-zat berbahaya untuk tubuh (pengawet atau pewarna).
Bahkan, menurut dr Ida, mengkonsumsi es bisa dijadikan alternatif untuk memberikan makanan bagi anak yang seringkali malas atau menolak untuk makan nasi. Misal, dengan membuat sendiri sorbet dari buah-buahan yang memiliki vitamin atau memiliki kandungan baik untuk tubuh lainnya.
NAD
Editor: NF
Peringatan Bergambar tentang Bahaya Merokok Lebih Efektif Ketimbang Kata-Kata
TEMPO Interaktif, New York – Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penelitian telah menunjukkan bahwa sangat sedikit orang yang memahami risiko kesehatan akibat merokok. Sebuah survei 2009 di Cina menunjukkan bahwa hanya 27% perokok sadar bahwa merokok dapat menyebabkan penyakit jantung koroner, sementara hanya 17% yang tahu bahwa merokok bisa mengakibatkan stroke.
Mayoritas perokok yang sadar akan risiko terhadap kesehatan ingin berhenti merokok. Penelitian telah menunjukkan bahwa melalui konseling dan obat seseorang mungkin bisa berhenti merokok selamanya.
Menurut WHO, peringatan pada bungkus rokok dan produk tembakau lainnya, terutama yang memiliki foto, berdampak pada jumlah anak yang merokok.
Studi dilaksanakan di Brazil, Singapura, dan Kanada secara konsisten menunjukkan bahwa peringatan bergambar secara signifikan meningkatkan kesadaran publik tentang bahaya penggunaan tembakau:
* Meskipun peringatan bergambar diketahui bisa mencegah lebih kuat daripada kata-kata, hanya 19 negara, mewakili 24% dari populasi global, yang kukuh menggunakan peringatan bergambar.
* Hanya 15 negara, yang mewakili 7,6% dari populasi dunia, memenuhi standar tertinggi untuk peringatan bergambar, setidaknya setengah dari bagian depan dan belakang bungkus rokok.
Menurut WHO, konsumsi tembakau mungkin merosot jika diterapkan larangan terhadap iklan, promosi, dan sponsor rokok.
* Hanya 26 negara yang menerapkan larangan yang komprehensif terhadap iklan, promosi, dan sponsor rokok.
WHO/Medical News Today/NF







