Kondom Perempuan Pencegah Perkosaan Tuai Kontroversi
KOMPAS.com — Dokter Sonnet Ehlers, seorang dokter di Afrika Selatan, menciptakan kondom Rape-Axe, yakni kondom wanita yang bisa “mengigit” untuk mencegah perkosaan dan penyebaran HIV/AIDS lewat kontak cairan dari alat kelamin. Namun, beberapa pihak mengatakan, hal ini merupakan tindakan “perbudakan”.
Dikutip dari CNN, seorang pekerja di Centers for Disease Control and Prevention, Victoria Kajja, mengatakan bahwa kondom wanita dengan pengait ini bukanlah solusi jangka panjang dan membuat wanita makin rentan terhadap kekerasan dari pria-pria yang terkena alat ini. Penggunaan kondom tersebut juga bisa dianggap tindakan “perbudakan”. Yang ia maksud dengan perbudakan adalah tindakan mengenakan kondom sebagai antisipasi dari penyerangan merepresentasikan perbudakan, yang menurutnya bukanlah hal yang seharusnya dirasakan oleh wanita mana pun.
Menurut Kajja, hadirnya alat yang diberi nama Rape-aXe ini saja sudah mengingatkan perempuan akan kerentanan diri. ia tak hanya akan membuat wanita menyalahartikan keamanan, tapi juga trauma psikologi. Alat ini pun, menurutnya, tidak akan membantu masalah psikologis yang datang setelah serangan terjadi. Keuntungannya hanya satu, yakni adanya kemungkinan terhadap penegakan keadilan setelah pemerkosaan terjadi.
Dikabarkan oleh CNN, belum ada komentar dari organisasi kemanusiaan di Afrika mengenai hadirnya alat semacam ini, termasuk dari Human Rights Watch and Care International.
Alat ini diciptakan karena tingginya angka pemerkosaan perempuan di Afrika Selatan. Konon, wanita-wanita yang tersakiti tersebut tidak langsung mendapatkan akses untuk perawatan medis. Sementara itu, biaya terhadap tes DNA yang diperlukan untuk memeriksa bukti pun terlalu tinggi.
Menurut Ehlers, para wanita di Afrika Selatan mencoba berbagai cara untuk mencegah terjadinya pemerkosaan. Langkah itu mulai dari mengenakan celana pendek untuk olahraga sepeda yang sangat ketat hingga menyelipkan silet di bagian kemaluannya. Namun, cara terakhir ini tidak diterangkan lebih jauh.
Ada sebagian orang yang mengkritik bahwa Rape-aXe ini mirip alat pada abad pertengahan untuk mencegah pemerkosaan. Hal ini dijawab Ehlers, “Ya, alat ini mungkin seperti alat zaman dulu. Namun, ini adalah alat untuk mencegah perbuatan yang sudah ada sejak zaman dulu. Saya percaya, kita harus melakukan sesuatu, dan alat ini akan membuat pria berpikir kembali sebelum menyerang seorang perempuan.”
NAD
Editor: NF
Sumber: CNN
Olahraga Obat yang Ampuh untuk Mencegah dan Mengurangi Perasaan Marah
TEMPO Interaktif, Baltimore – Banyak penelitian telah menguji efek positif dari olahraga yang dapat memperbaiki suasana hati. Namun, baru sedikit penelitian yang menyelidiki efek olahraga terhadap perasaan marah. Penelitian terakhir yang dikemukakan dalam Pertemuan Tahunan American College of Sports Medicine ke-57 di Baltimore, Amerika Serikat, telah menemukan bahwa olahraga mungkin dapat memberikan efek yang menguntungkan terhadap rasa marah.
Tim peneliti itu menguji emosi dan rasa marah dari 16 orang di perguruan tinggi yang ada dalam keadaan “memiliki pembawaan pemarah” yang tinggi. Orang yang diteliti itu memperlihatkan pengaruh kemarahan sebelum dan sesudah olahraga sepeda selama 30 menit, yang dapat meningkatkan kadar oksigen maksimal menjadi 65 persen. Peneliti mengukur aktivitas gerakan otak, kemungkinan positif yang berhubungan dengan kejadian, dan catatan sendiri tentang kemarahan selama gambar diambil.
“Penemuan terbaru dari studi ini adalah bahwa olahraga dapat melawan rasa marah, hampir sama seperti fungsi aspirin untuk mencegah serangan jantung,” kata psikolog stres, Nathaniel Thom, yang memimpin penelitian ini. “Dengan kata lain, olahraga benar-benar merupakan obat. Namun, olahraga tidak mengubah respons EEG dalam munculnya emosi marah dalam penelitian kami.”
Dengan penelitian awal ini, Thom dan anggota timnya menyarankan adanya penelitian lebih lanjut untuk menyelidiki mekanisme yang mendasari efek olahraga dalam mengurangi rasa marah dan mempertimbangkan adanya metode induksi rasa marah alternatif.
Peneliti ini juga mengusulkan adanya pengujian efek dari olahraga untuk jangka panjang terhadap rasa marah. Olahraga yang telah menjadi gaya hidup mungkin akan dapat memberikan hasil yang berbeda.
American College of Sports Medicine/Medical News Today/Fanny Febiana







