ANAK ANDA SUSAH MAKAN? Klik Disini untuk Solusinya!
Powered by MaxBlogPress 

[X]


Terlalu Banyak Nonton Televisi Meningkatkan Risiko Kematian  

TEMPO Interaktif, Cambridge – Selama hampir satu dasawarsa, peneliti dari Bagian Epidemiologi Medical Research Council (MRC), Inggris, mempelajari 13.197 pria dan wanita setengah baya sehat. Mereka menemukan bahwa menonton televisi satu jam sehari meningkatkan risiko kematian akibat penyakit jantung. Bahkan setelah disesuaikan dengan faktor risiko lain seperti kurang olahraga, merokok, obesitas, dan pola makan yang buruk.

Peserta studi dengan riwayat penyakit terkait seperti stroke dan serangan jantung dikeluarkan dari sampel riset ini. Para peneliti mengukur waktu menonton televisi dari kuesioner yang diisi oleh peserta.

Riset ini menyebutkan 373 dari 13.197 peserta (1 dari 35) meninggal karena penyakit jantung. Dengan memperhitungkan semua variabel, jumlah waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi adalah penanda signifikan kemungkinan mereka mati akibat penyakit jantung.

Berkaitan dengan tayangan Piala Dunia di televisi, yang menguasai ruang keluarga, penulis studi ini, Dr Katrien Wijndaele dari MRC, memperingatkan: “Tubuh kita tidak dirancang untuk duduk dalam waktu yang lama dan kita harus menyadari bahwa, seperti yang kita lakukan saat berjam-jam menonton Piala Dunia di TV, risiko penyakit jantung mungkin meningkat. Hal ini mungkin tampak jelas bahwa menonton TV terkait dengan penyakit jantung.

“Kita membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk melihat apakah kegiatan duduk lainnya, seperti duduk di belakang komputer atau di mobil, membuahkan hasil yang sama,” kata Katrien.

Dr Ulf Ekelund, rekan Katrien dari Medical Research Council, memberikan ilustrasi hitungan sebagai berikut. Jika seseorang memiliki risiko normal mati akibat penyakit jantung sebesar 10 persen (dengan mempertimbangkan variabel lain seperti gaya hidup, jenis kelamin, dan usia), lalu menonton TV satu jam per hari, maka risiko ini meningkat menjadi 10,7 persen. Memang kecil tapi signifikan. Kalau menonton televisi empat jam per hari, risiko ini akan meningkat menjadi 13 persen.

Menurut peneliti, risiko itu bisa dikurangi dengan cara melakukan aktivitas fisik, seperti olahraga, sedikitnya 30 menit per hari.

Temuan ini diterbitkan International Journal of Epidemiology 24 Juni 2010

Medical News Today/Ngarto Februana


Karbohidrat Berlebih Pemicu Pusing

TEMPO Interaktif, Jakarta – Pola makan sarat karbohidrat meningkatkan kadar trigliserida dalam darah. Berpotensi menyebabkan stroke dan serangan jantung.

Rasa sakit kerap dirasakan Alex, 29 tahun, pada pundak dan leher bagian belakang. “Rasanya kaku dan pusing di kepala belakang,” ujar insinyur di perusahaan kontraktor ini. Meski sakit itu sudah berlangsung lama, ia mengabaikannya. Sampai tiga bulan lalu ia memutuskan melakukan tes darah.

Betapa terkejutnya Alex melihat hasil tes. Kadar trigliserida dalam darahnya 1.000. Angka yang fantastis mengingat kadar normalnya sekitar 150. “Waktu itu dokternya kaget. Dia bilang, untung saya enggak mati,” kata Alex. Soalnya, kelebihan kadar trigliserida bisa menyebabkan serangan jantung dan stroke.

Dokter yang memeriksa Alex juga menjelaskan bahwa ia terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat. Asupan karbohidrat ini sebenarnya berfungsi menyediakan energi. Tapi, ketika energi tak terpakai, karbohidrat ini akan bertumpuk dan meningkatkan kadar trigliserida.

Alex juga bercerita, ternyata biang dari masalah kesehatannya adalah pola makan yang tidak teratur. Benar saja, sejak diberi tugas kantornya ke Jepara untuk mengerjakan sebuah proyek akhir tahun lalu, Alex mengkonsumsi karbohidrat tinggi. “Konsumsi nasi saya banyak sekali waktu itu,” ujarnya.

Yang membuat lebih parah adalah kebiasaannya makan kentang goreng dengan minuman ringan bersoda. Dikombinasikan dengan minuman bersoda, kata Alex, kentang tak tercerna oleh tubuh sehingga mengendap selama berhari-hari.

Sadar akan bahaya yang dapat mengancam kesehatannya, Alex pun mengubah pola makannya. “Sekarang saya kurangi konsumsi nasi menjadi setengahnya dibanding dulu. Konsumsi sayuran juga diperbanyak,” kata lajang ini. Dia pun meminum obat penurun kadar trigliserida.
Hingga saat ini banyak orang masih menganggap stroke dan serangan jantung hanya disebabkan oleh tingginya kadar kolesterol dalam darah kita. Padahal kadar trigliserida pun berperan penting dalam munculnya kedua penyakit ini. “Keduanya sama bahayanya,” kata dokter spesialis naturapati Riani Susanto ketika dihubungi via telepon pada Jumat lalu.

Riani menjelaskan perbedaan kolesterol dengan trigliserida lewat cara yang mudah. Kolesterol, kata dia, adalah minyak lemak yang berasal dari dalam tubuh manusia. Sedangkan trigliserida adalah minyak yang berasal dari luar tubuh. “Artinya khusus dari makanan.”

Karena itu, untuk orang yang mengalami kelebihan kadar trigliserida, kuncinya hanya pola makan yang sehat. Makanan yang dipantang agar kadar trigliserida tidak tinggi adalah minyak yang ada dalam gorengan, karbohidrat yang ada dalam nasi, terigu, dan daging.

Karbohidrat menjadi salah satu sumber tingginya kadar trigliserida karena, ketika karbohidrat tidak dibakar, ia akan menjadi glukosa. Dan bila tidak dibakar dalam tubuh yang tidak banyak bergerak, glukosa akan bertumpuk menjadi lemak dalam tubuh.

Ahli biokimia Prof dr Alfred A. Djajakusumah pun membenarkan bahwa kadar trigliserida yang tinggi murni akibat pola makan yang salah. “Intake karbohidrat berlebihan memang bisa mengarah ke peningkatan trigliserida,” kata Alfred. Apalagi, ujar Alfred, bila ditambah dengan konsumsi lemak yang berlebihan.

Rasio trigliserida, kata Alfred, sejalan dengan rasio kolesterol. Artinya, keadaan seseorang yang memiliki kadar kolesterol tinggi akan diperparah oleh kadar trigliserida yang tinggi juga. Itulah sebabnya, dalam masa penurunan kadar trigliserida, selain mengurangi asupan karbohidrat, pasien seperti Alex dilarang memakan seafood (kecuali ikan), santan, dan jeroan.

Fanny Febiana

Menurunkan Kadar Trigliserida

A.  Awali dengan mengubah pola pikir dari “kalau sakit tinggal ke dokter” menjadi “mencegah terjadi sesuatu (karena takut menjadi sakit) agar tidak ke dokter”.

B. Lakukan perubahan pola makan secara bertahap, antara lain, dengan mengurangi frekuensi makan. Misalnya, jika biasanya makan bakmi setiap hari, kini menjadi dua kali seminggu.

C. Jika kadar trigliserida Anda benar-benar tinggi. Biasanya, selama tiga bulan, Anda diharuskan mengkonsumsi makanan yang dikukus.

D. Lakukan pemeriksaan rutin kadar trigliserida. Jika kadar trigliserida masih tinggi, Anda harus lebih ketat mengatur pola makan. Bila sudah normal, tetap menjaga pantangan, seperti roti, bakmi, atau daging.

E. Jangan lupa berolahraga.

Fanny


Rasa Cemburu Picu Gangguan Seksual

VIVAnews - Kesehatan mental sangat mempengaruhi kesehatan fisik seseorang. Psikolog Austria menemukan gangguan kesehatan fisiologis kronis dipicu lima emosi negatif paling berbahaya.

Penelitian yang terbit dalam Majalah Science menjelaskan lima emosi negatif yang paling merusak kesehatan fisik manusia.

Rasa cemburu, iri hati, kecemasan berlebihan, terlalu mengasihani diri sendiri serta serakah adalah emosi paling negatif yang ada pada manusia.

Penelitian terhadap lebih dari 2.000 sukarelawan selama lima tahun, seperti dilansir Genius Beauty menunjukkan bahwa rasa cemburu mengancam hubungan dengan pasangan dan menyebabkan frustasi serta gangguan seksual.

Seseorang dengan sifat pembenci memiliki risiko 2,5 kali lebih besar terkena serangan jantung. Iri hati juga meningkatkan potensi terjadinya penyakit yang sama.

Rasa bersalah dan kecemasan berlebihan dapat menyebabkan terjadinya berbagai jenis kanker. Mengasihani diri sendiri menyebabkan sirosis hati, gastritis dan radang usus (ulkus). Sedangkan sifat serakah menyebabkan sembelit dan penyakit yang berkaitan dengan sistem pencernaan.

• VIVAnews


Olahraga Obat yang Ampuh untuk Mencegah dan Mengurangi Perasaan Marah  

TEMPO Interaktif, Baltimore – Banyak penelitian telah menguji efek positif dari olahraga yang dapat memperbaiki suasana hati. Namun, baru sedikit penelitian yang menyelidiki efek olahraga terhadap perasaan marah. Penelitian terakhir yang dikemukakan dalam Pertemuan Tahunan American College of Sports Medicine ke-57 di Baltimore, Amerika Serikat, telah menemukan bahwa olahraga mungkin dapat memberikan efek yang menguntungkan terhadap rasa marah.

Tim peneliti itu menguji emosi dan rasa marah dari 16 orang di perguruan tinggi yang ada dalam keadaan “memiliki pembawaan pemarah” yang tinggi. Orang yang diteliti itu memperlihatkan pengaruh kemarahan sebelum dan sesudah olahraga sepeda selama 30 menit, yang dapat meningkatkan kadar oksigen maksimal menjadi 65 persen. Peneliti mengukur aktivitas gerakan otak, kemungkinan positif yang berhubungan dengan kejadian, dan catatan sendiri tentang kemarahan selama gambar diambil.

“Penemuan terbaru dari studi ini adalah bahwa olahraga dapat melawan rasa marah, hampir sama seperti fungsi aspirin untuk mencegah serangan jantung,” kata psikolog stres, Nathaniel Thom, yang memimpin penelitian ini. “Dengan kata lain, olahraga benar-benar merupakan obat. Namun, olahraga tidak mengubah respons EEG dalam munculnya emosi marah dalam penelitian kami.”

Dengan penelitian awal ini, Thom dan anggota timnya menyarankan adanya penelitian lebih lanjut untuk menyelidiki mekanisme yang mendasari efek olahraga dalam mengurangi rasa marah dan mempertimbangkan adanya metode induksi rasa marah alternatif.

Peneliti ini juga mengusulkan adanya pengujian efek dari olahraga untuk jangka panjang terhadap rasa marah. Olahraga yang telah menjadi gaya hidup mungkin akan dapat memberikan hasil yang berbeda.

American College of Sports Medicine/Medical News Today/Fanny Febiana


Sapi di Padang Rumput Lebih Joss Susunya

TEMPO Interaktif, New York – Susu memang baik buat tubuh apalagi jantung. Tapi tahukan Anda bahwa kandungan susu bisa dilipat menjadi lima kali lebih bermanfaat?

Harvard School of Publik Health, Boston, Amerika Serikat melakukan studi terhadap pola makanan sapi sebagai penghasil susu segar. Hasilnya, sapi yang mengkonsumsi rumput segar langsung dari tanah, menghasilkan susu yang lebih bermanfaat. Yaitu mengandung lima kali lemak tak jenuh, atau yang disebut Conjugated Linoleic Acid (CLA) atau senyawa asam linoleat, dari susu yang dihasilkan sapi yang memakan rumput di dalam kandang.

“Karena sapi yang makan di padang rumput menghasilkan CLA yang sangt tinggi, pola makan seperti ini harus dilakukan para peternak,” kata Hanniah Campos, kordinator penelitian itu seperti dikutip Reuters (31/5). Asam linoleat atau CLA, katanya, sangat bermanfaat bagi jantung, dan sangat membantu mengurangi berat tubuh manusia.

Campos bersama rekannya melakukan penelitian besarnya kandungan CLA ini kepada empat ribu koresponden. Mereka diberikan asupan susu yang biasa makan di padang rumput. Hasilnya, 36 persen dari koresponden memiliki risiko serangan jantung lebih kecil. Meski koresponden itu menderita tekanan darah tinggi, dan perokok.

Penelitian ini sekaligus kritikan Campos kepada sapi-sapi penghasil susu di Amerika Serikat yang kebanyakan memakan rumput di dalam kandang. Campos bersama rekannya bahkan terbang ke Kosta Rika demi penelitian ini. Di sana, sapi-sapi makan di padang rumput. Dan warga mereka yang mengkosumsi susu, memiliki risiko serangan jantung lebih kecil.

Reuters | MUSTAFA SILALAHI
 


Cinta dengan Jantung Anda, Rajinlah Gosok Gigi  

TEMPO Interaktif, London – Jangan abaikan menggosok gigi. Sebuah penelitian mengingatkan bahwa tidak sering menggosok gigi bisa menyebabkan penyakit jantung.

Sebuah penelitian baru menemukan bahwa orang yang tidak pernah atau jarang sikat gigi, ternyata 70 persen lebih mungkin untuk menderita penyakit jantung dibandingkan dengan yang dua kali sehari menggosok gigi.

Sebenarnya hubungan antara sakit gigi dan masalah jantung telah dikenal. Namun para ahli sebelumnya tidak mampu mengukur pengaruh rutinitas sehari-hari kesehatan mulut.

Para ahli dari University College London menganalisa data lebih dari 11.000 orang dengan usia rata-rata 50 tahun yang ambil bagian dalam Survei Sehat Skotlandia.

Mereka tampak menyikat gigi sebagai daya hidup mereka, seperti mereka merokok atau olahraga. Orang-orang bertanya seberapa sering mereka mengunjungi dokter gigi dan seberapa sering mereka menyikat gigi.

Secara terpisah rincian sejarah medis mereka dikumpulkan, dari tekanan darah dan sejarah keluarga mereka dari penyakit jantung. Sampel darah juga diambil untuk mengukur penanda peradangan dalam darah.

Ada lebih dari enam di antara 10 yang mengunjungi dokter gigi setiap enam bulan sedangkan tujuh orang dari sepuluh menyikat gigi mereka dua kali sehari. Selama delapan tahun berlanjut, ada 555 contoh masalah jantung yang serius, yang kebanyakan disebabkan oleh penyakit jantung, termasuk serangan jantung.

ITN| NUR HARYANTO


Malas Sikat Gigi Picu Penyakit Jantung

VIVAnews - Menyikat gigi minimal dua kali sehari bukan hanya untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut, tetapi mencegah penyakit kronis. Orang yang menyikat gigi kurang dari dua kali sehari memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit jantung.

Studi di Skotlandia terhadap lebih 11 ribu orang dewasa menemukan, orang dengan kesehatan oral buruk berisiko 70 persen lebih tinggi terkena penyakit jantung. Hal serupa diungkap dalam studi British Medical Journal, yang menunjukkan kaitan masalah gusi dan penyakit jantung.

Peradangan dalam tubuh, termasuk mulut dan gusi, berperan menyumbat arteri dan menyebabkan serangan jantung. Jika tidak menyikat gigi secara rutin, mulut dapat terinfeksi bakteri penyebab radang.

Penelitian menganalisis perilaku gaya hidup, seperti merokok, aktivitas dan rutinitas fisik serta kesehatan mulut. Mereka dengan kebersihan mulut buruk positif memiliki protein darah yang memicu peradangan.

Pimpinan studi, Profesor Richard Watt, dari University College London, seperti dikutip dari laman BBC, mengatakan, studi lanjutan yang lebih mendalam dibutuhkan untuk mengonfirmasi apakah kesehatan mulut merupakan penyebab atau hanya penanda risiko penyakit jantung. Namun, ia mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan mulut dari rokok atau pola makan yang buruk. (jn)

• VIVAnews


Makan Daging Olahan Mungkin Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung dan Diabetes  

TEMPO Interaktif, Harvard – Dalam sebuah penelitian baru, peneliti dari Sekolah Kesehatan Masyarakat Harvard (HSPH) menemukan bahwa makan sosis daging olahan berkaitan dengan meningkatnya risiko 42% lebih tinggi terkema penyakit jantung dan risiko 19% lebih tinggi terkena diabetes tipe 2. Sebaliknya, para peneliti tidak menemukan risiko lebih tinggi terkena penyakit jantung atau diabetes di kalangan mereka yang mengonsumsi daging merah yang belum diproses, seperti daging sapi, babi, atau domba. Karya ini merupakan review sistematis pertama tentang kaitan antara makan daging mentah merah dan daging olahan dengan risiko penyakit jantung dan diabetes.

Menurut peneliti, daging merah yang belum diproses didefinisikan sebagai daging yang diolah dari daging sapi, domba atau babi, tidak termasuk unggas. Adapun  daging olahan didefinisikan sebagai daging yang diawetkan dengan pengasapan, atau penggaraman, atau dengan penambahan bahan pengawet kimia; contoh bacon, salami, sosis, hot dog.

Studi ini muncul di jurnal Circulation, edisi online 17 Mei 2010.

Renata Micha, anggota penelitian dari jurusan epidemiologi HSPH, dan penulis utama studi tersebut, mengatakan, penelitian sebelumnya kebanyakan juga mempertimbangkan dampak kesehatan dari makan daging merah mentah versus daging olahan.

“Untuk menurunkan risiko serangan jantung dan diabetes, orang harus mempertimbangkan jenis daging yang mereka makan. Daging olahan seperti bacon, salami, sosis, hot dog, mungkin yang paling penting untuk menghindari,” kata Micha.

ScienceDaily/Ngarto Februana


49 queries