Panduan Menu Makanan Bayi s/d Balita
Powered by MaxBlogPress 


Tumbuh Kembang Bayi

Setiap pasangan suami istri selalu mendambakan hadirnya buah hati di dalam kehidupan mereka. Anak ibarat malaikat yang datang untuk mempererat tali cinta antara suami dengan istri dan juga makin menyatukan antara keluarga kedua belah pihak. Bahkan karena keinginan yg begitu kuat untuk memiliki anak, bermacam-macam usaha dilakukan pasangan suami istri. Mulai dari yang tradisional sampai yang paling modern. Namun sering kali besarnya keinginan untuk memiliki anak tidak dibarengi dengan pengetahuan yang cukup soal perkembangan anak dan cara merawatnya. Pada kali ini kami mencoba berbagi pengetahuan tentang perkembangan anak khususnya tumbuh kembang bayi 1 tahun.

Kita mulai dengan bayi yg baru dilahirkan. Bayi yang berumur 0 sampai 120 hari sangat amat sensitif dengan perubahan disekitarnya. Mulai dari perubahan cuaca hingga perubahan suhu. Hal ini dikarenakan semua organ tubuh bayi masih terlalu rentan. Mulai dari anggota tubuh yang paling luar yaitu kulit. Begitu rentannya kulit bayi yang berumur 0 sampai 3 bulan bahkan untuk memandikannya dibutuhkan sabun khusus. hal ini dilakukan agar kulit bayi tidak terjadi iritasi atau bahkan peradanganan. Selain kulit, rambut bayi yang masih terlalu muda ini juga sangat rentan. Karena jaringan rambut bayi masih terlalu tipis sehingga mudah kotor dan rontok sehingga Kulit kepala menjadi mudah dihinggapi debu dan kotoran.

Karena bayi masih terlalu muda dan anggota tubuh bayi masih belum optimal maka asupan gizi yang dibutuhkan bayi juga sangat banyak. Hal ini dikarenakan asupan gizi tersebut dibutuhkan untuk pembentukan sel dan jaringan yang membentuk organ tubuh yang optimal. Pemilihan makanan sebagai sumber gizi juga harus diperhatikan. bayi pada umur 0 sampai 3 bulan hanya dapat mengkonsumsi makanan cair atau lebih spesifik yaitu air susu ibu. Setelah usia 3 bulan ke atas barulah bayi dapat mulai diperkenalkan pada makanan padat halus. Setelah 5bulan ke atas bayi juga sudah diperbolehkan mengenal nasi yang dihaluskan atau berkuah.

Kesehatan bayi pada umur 0 sampai 3 bulan juga sangat amat rentan. Perubahan suhu yang drastis bisa membuat bayi gampang terserang penyakit. Selain perubahan suhu, kesehatan bayi juga dipengaruhi oleh kesehatan orang-orang yang ada disekitarnya khususnya yg paling dekat adalah ibunya. Sangat disarankan bagi ibu menyusui untuk menjaga kesehatan diri sendiri demi sang buah hati. Kesehatan lingkungan sekitar bayi juga ikut andil dalam mempengaruhi kesehatan bayi. Usahakan tempat dimana bayi beristirahat steril dari debu dan kotoran. Selain pencegahan dari luar, bayi juga membutuhkan pengebalan diri dari dalam. Caranya adalah melakukan pemeriksbn kesehatan bayi secara berkala kepada dokter anak. Selain itu mengikutkan bayi pada program imunisasi secara rutin.

Pendidikan Anak Usia Dini

Orang tua yang berpikir untuk memasukkan anaknya pada pendidikan anak usia dini kemungkinan berhadapan dengan berbagai masalah tentang ketidaksesuaian. Ada beberapa fasilitas yang menawarkan pendidkan anak dibawah 5 tahun yang sering disebut dengan tempat penitipan anak/ day care, namun ini bukanlah pendidikan anak usia dini yang formal. Akhir2 ini, pendidikan usia dini memfokuskan pada proses belajar formal dan kemampuan penting lainnya.

Menurut research, sebagian anak mendapatkan manfaat dari pendidikan usia dini. Pada dasarnya sekolah memberikan jaminan pada orang tua bahwa mereka akan menjaga sang anak aman di sekolah. Di antara tujuan utama dari pendidikan anak usia dini adalah onset awal dalam memperkenalkan proses belajar mereka. Keterampilan guru sangat penting dalam pendidikan anak usia dini. Kesabaran dan keanekaragaman diperlukan dalam menjaga anak-anak kecil tertarik.

Pendidikan anak usia dini dimulai pada saat lahir, atau bahkan mungkin sebelum itu. Ini dapat didefinisikan untuk tujuan artikel ini sebagai pendidikan yang diberikan bagi anak-anak sebelum mereka memasuki sistem formal wajib belajar.

Saat berumur dua atau tiga tahun sebagian besar anak secara efektif telah belajar berbicara. Proses belajar ini sangat dipengaruhi oleh sikap orang tua pada anaknya dalam konteks pendidikan anak usia dini.

Kesiapan merupakan konsep penting dalam pendidikan. Yang dimaksud disini adalah bila ada kekurang siapan saat anak telah siap belajar maka hal ini tidak dapat dipelajari kemudian. Dunia terbuka seperti tempat yang menakjubkan untuk anak-anak. Pemerintah, organisasi pendidikan, guru, dan orang tua semuanya memainkan peran dalam perkembangan pendidikan setiap anak. Pemerintah menetapkan pedoman spesifik dan standar pendidikan. Pendidikan di tahun-tahun anak usia dini cenderung untuk fokus pada keterampilan motorik dan “bermain”. Anak-anak di tahun-tahun belajar sangat melalui “bermain”. Konsultasikan dokter, konselor, dan profesional pendidikan untuk menentukan kesiapan anak Anda

 

 

 

AGAR ANAK BERANI TAMPIL DI DEPAN AUDIENS

Gugup di depan audiens?? keringan mengucur, tubuh gemetar, tangan dingin dan berbagai gejala lainnya yang biasa dialami baik oleh orang dewasa maupun anak-anak yang “terpaksa” tampil didepan orang/umum untuk pidato sambutan, kompetisi menyanyi ataupun berpuisi di depan umum, kata-kata yang udah dihafalkan hilang begitu saja saat berhadapan dengan audiens (di depan orang banyak).

Sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi jika saja kita mengenali sumber rasa takut dan gugup dan tau langkah-langkah utk mengatasinya, urusan tampil di depan umum erat kaitannya dengan kepercayaan diri. Sejak dini anak-anak bisa diasah kepercayaan dirinya agar berani tampil di depan umum, antara lain sebagai berikut :

  1. Buatlah persiapan materi tentang apa yang akan ditampilkan, banyaklah berlatih didepan cermin agar tau gaya dan penampilan kita bila tampil nanti, bila perlu ajak teman2 utk melihat latihan kita.
  2. Jangan sering disalahkan atau dihakimi karena ini akan membuat anak takut pada penilaian-penilaian terhadap dirinya.
  3. Kritik dibolehkan asala disertai solusi dan petunjuk tentang yang benar dan yang salah.
  4. Hargai anak dan hindari penilaian yang aneh dan buruk bagi anak.
  5. Latih anak untuk berani bersuara dan bicara.
  6. Libatkan dalam kegiatan-kegiatan bersama atau sosial karena dengan begitu ia terbiasa berinteraksi dengan banyak orang.
  7. Bila ingin tampil di depan umum biasakan selalu datang lebih awal agar anak bisa bersosialisasi dahulu dengan audiens atau teman-temannya, dengan mengenal audiens dan bersosialisasi dahulu itu akan mengurangi tingkat ketakutan anak, karena bila datang terlambat itu akan membuat anak jadi gugup dan tambah takut.

Semoga tips diatas bisa membangkitka rasa percaya diri pada anak kita, selamat mencoba…..

 

www.erobiznet.tk

 

Kalau Anak Suka Menggigit

Setiap harinya saat saya bekerja,  saya menitipkan anak saya yang berusia 17 bulan di day care. Beberapa hari yang lalu, saya dibuat kaget oleh laporan pengasuhnya di sana, bahwa anak saya menggigit tangan temannya yang berumur 11 bulan, sampai berbekas dan membiru. Sungguh kaget, karena anak saya di rumah tidak suka menggigit papa atau mamanya.

Pada anak usia bayi hingga balita, ternyata memang ada kalanya anak menjadi suka menggigit, karena masih terbatasnya kemampuan anak untuk berkomunikasi. Saat mereka merasa kurang nyaman, merasa terancam, mencari perhatian atau giginya sedang tumbuh mereka akan mengungkapkannya dengan menggigit. Sebagai orang tua kita perlu mengenali lebih jelas alasan mengapa anak suka menggigit.

  • Tumbuh Gigi: pada fase ini, anak akan merasa kurang nyaman dengan gusinya, dia akan melampiaskan rasa kurang nyamannya ini dengan menggigit mainan atau jari tangannya sendiri untuk membantu mengurangi rasa tidak nyamannya ini.
  • Tahap eksplorasi: saat anak masih bayi, baru belajar makan, merangkak dan belajar berjalan, indera mereka juga ikut semakin berkembang. Untuk mengenali barang baru biasanya anak akan menggigit barang tersebut. Hal ini harus menjadi perhatian orang tua agar kebiasaan menggigit ini tidak terbawa sampai dia beranjak balita dan menggigit adalah tindakan yang dapat melukai.
  • Mencari perhatian: Saat anak merasa kurang menerima perhatian yang cukup oleh orang dewasa di sekitarnya, ia akan menggigit tangan orang-orang yang ada di sekitarnya. Ia berpikir bahwa gigitan tersebut cukup efektif untuk membuat perhatian orang dewasa beralih kepadanya.
  • Komunikasi: Anak ingin memiliki mainan yang sedang dimainkannya oleh kawannya dan susah untuk direbut, untuk memudahkan mendapatkannya anak akan menggigit temannya. Hal ini sangat perlu menjadi perhatian orang tua, orang tua harus mengajarkan kepada anak bahwa menggigit bukanlah cara untuk mendapatkan barang atau mainan.
  • Meniru: Anak melihat salah satu teman seusianya sering menggigit dan dia melihat bahwa tindakan itu asyik dan tidak membuat orang sakit, sehingga ia pun ikut melakukannya.
  • Merasa terancam: Saat anak diserang oleh teman sebayanya atau anak yang berusia diatas dia, dan merasa bahwa posisinya terancam dan tidak tahu harus berbuat apa, hal yang paling mudah akan dilakukannya adalah menggigitnya lawannya.

Sebagai orang tua yang anaknya memiliki kebiasaan menggigit jangan dibiarkan saja, atau memiliki pikiran bahwa kebiasaan itu nantinya akan hilang dengan sendirinya seiring usia anak semakin bertambah. Kita harus menanamkan sejak dini kepada anak, bahwa menggigit adalah kebiasaan yang buruk dan dapat menyakiti orang-orang disekitarnya yang mengasihinya. Berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan oleh orang tua:

  • Terapkan aturan: Aturan di rumah adalah tidak boleh menggigit, selalu terapkan dan tanamkan pada anak.
  • Meminta maaf: Jika anak menggigit kawannya, tunjukkan perhatian kepada kawannya dan ajarkan pada anak untuk langsung minta maaf kepada kawannya. Agar anak tahu bahwa tindakannya itu menyakiti dan membantu memuculkan sikap empati pada anak.
  • Tindakan Disiplin: Jika diperlukan, saat anak tertangkap sedang menggigit orang lain berilah tindakan mendudukan sang anak di sudut ruangan atau di anak tangga selama selang waktu 1-5 menit atau tergantung kebutuhan orang tua. Selalu kembalikan anak ke tempat yang anda sediakan karena anak pasti akan menangis dan memberontak. Karena selang waktu ini bisa dipakai untuk mengeluarkan emosinya dan membantu meredakannya juga. Di saat emosi dan tangis anak mereda, itu adalah saat yang tepat untuk mengajakanya berbicara dan mengajarkan bahwa menggigit adalah tindakan yangburuk dan melukai. Selalu ingatkan anak, jika anak mengulangi perbuatannya, dia akan mendapatkan tindakan disiplin.
  • Konsekuensi: Yang dimaksud disini adalah pemberian hal yang positif kepada anak. Jika anak tidak menggigit temannya atau orang lain, anak akan mendapatkan konsekuensi pelukan, pujian dan ciuman atau hal-hal lain yang disukai oleh sang anak. Hal ini mengajarkan kepada anak bentuk perbuatan benar yang boleh dilakukannya.
  • Perhatian: Sebagai orang tua yang sibuk bekerja, selalu manfaatkan waktu yang terbatas untuk memberi perhatian yang berkualitas kepada anak anda. Supaya anak memahami walaupun orang tua bekerja tetapi kasih sayang dan perhatian tetap cukup diterimanya.

Semoga hal ini bisa membantu orang tua yang mengalami hal yang sama seperti saya, sehingga pertumbuhan emosi anak kedepannya menjadi lebih baik.

MENGATASI ANAK GALAK….

Perilaku anak yang galak seperti suka memukul dan menendang teman atau orang yang tidak disukainya kadang membuat kita kerepotan karena bisa jadi ia akan dijauhi oleh teman-temannya, perilaku ini membutuhkan arahan orang dewasa sehingga ia mampu mengalihkan ekspresi emosi pada prilakku yang lebih bisa diterima oleh lingkungan. Di sini peran orang tua sangat dibutuhkan dalam mengarahkan anak dalam mengekspresikan pikiran dan perasaannya, tanpa arahan yang jelas dan tegas , anak semakin sering menampilkan prilaku tersebut.

Untuk mengatasi masalah tersebut ada beberapa hal yang harus kita lakukan sebagai orang tua yaitu :

  1. Amati prilaku orang dewasa dan anak-anak yang ada di sekitarnya, adakah yang berprilaku kasar seperti itu? jika ada maka prilaku kasar/galak akan semakin menguat karna anak mencontoh dan meniru orang-orang disekitarnya. Oleh karena itu sebisa mungkin jauhi tindak kekerasan dari anak kita.
  2. Prilaku kasar/galak bisa didasari oleh perasaan tidak nyaman atau tidak aman, sebagai orang tua kita perlu menggali perasaan anak dan mencari tau hal-hal apa saja yang membuatnya tidak senang atau yang membuatnya senang.
  3. Arahan yang tegas dan jelas, bila anak akan memukul katakan padanya “tidak boleh” dan jelaskan kalau dipukul itu sakit jadi kamu tidak boleh memukul. Biasanya pada anak usia 3 tahun keatas biasanya dia mulai mempertahankan keinginannya, oleh karena pada usia ini anak bila dilarang akan semakin terdorong utk melakukan. Daripada melarang anak lebih baik mengalihkan perhatiannya atau bersikap tegas dengan memberikan konsekuensi dengan tindakan, misalnya menghentikan aktifitasnya dan membuatnya diam sejenak di tempat yg berbeda.
  4. Tangkap perasaan anak, misalnya dengan mengatakan : “kakak kesal yaa..sini nak peluk mamah…kakak cerita yaa apa yang bikin kamu kesal?” dengarkan anak cerita dan bilang padanya “iya mamah mengeri kenapa kamu kesal…tapi kamu tetap tidak boleh memukul teman kamu karna memukul itu membuat orang jadi sakit”. cara ini bisa mengajarkan anak untuk belajar cara menyampaikan perasaannya.
  5. Ajari anak untuk berani mengeluarkan  perasaannya, kenali ia dengan kata tidak mau, tidak boleh, hentikan dan sebagainya.
  6. Semarah apapun kita tidak dibenarkan memukul atau  mencubit sebagai cara mendisiplinkan anak karena anak akan semakin menyakini klu tindakan kekerasan itu wajar untuk menyatakan ketidak nyamanan, oleh karena itu tidak perlu malu untuk meminta maaf pada anak bila tindakan kita salah.
  7. Terakhir, dalam membesarkan anak bukan hanya mengasuh dan menyediakan kebutuhannya saja tapi kehadiran dan peran serta orang tua dalam hal mendampingi, mendidik dan mengajari banyak hal adalah sangat penting utk tumbuh kembang anak.

mudah2an anak2 kita menjadi anak yang berbakti kepada orang tua dan menjadi penyejuk hati kita amien…

Salam Hangat

EROH

www.erobiznet.tk

 

 

Pertolongan Pertama Diare Untuk Bayi

Saat kita diare, biasanya kita akan kekurangan cairan tubuh. Cara yang paling cepat untuk mengembalikan cairan tubuh adalah dengan meminum air putih. Nah, ternyata air putih berbahaya jika diberikan kepada bayi yang berusia dibawah 6 bulan, tapi bila kita memiliki bayi yang berusia dibawah 6 bulan yang terkena diare, apakah kita boleh memberikan air putih kepadanya sebagai pertolongan pertama?

Bunda, ternyata untuk pertolongan pertama diare kepada bayi yang berusia kurang dari 6 bulan, tetaplah ASI saja. Memang, kebutuhan akan cairan saat diare akan meningkat, namun pemberian ASI cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Semakin sering si ibu menyusui maka semakin banyak pula ASI yang diproduksi, sehingga Bunda tidak perlu khawatir ASI-nya tidak cukup ya.

Ingat, kandungan ASI sudah lengkap, termasuk kandungan elektrolitnya. Sehingga pemberian cairan elektrolit khusus bayi tetap tidak disarankan. (Toddie, Sept-Okt 11)

Kenali gejala autis sejak dini

Ternyata austisme dapat dideteksi sejak usia dini. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa autisme dapat dikenali pada bayi sejak tahun pertama.

Autisme dapat disebabkan banyak faktor, penelitian itu bahkan mengungkapkan bahwa bayi dengan berat yang kurang,  memiliki potensi mengidap autisme.

“Gejala -gejalanya dikarakteristikkan oleh respon otak yang berbeda ketimbang bayi lainnya,” Ujar Direktur dari Center for Brain and Cognitive Development at Birkbeck College, University of London, Johnson, seperti dikutip dari laman medicmagic.

Temuan  itu, yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biolog, adalah kesimpulan dari   104 penelitian terhadap bayi berusia enam hingga sepuluh bulan. Penelitian dilanjutkan ketika bayi berusia tiga tahun.

Untuk kepentingan penelitian, para peneliti menggunakan sensor pasif  pada kulit kepala. Perangkat itu mampu mencatat aktivitas otak seiring  wajah bayi  dihadapkan  dengan yang lainnya.

Anak yang menderita autisme memiliki pola yang tak biasa ketika merespon kontak mata dengan yang lainnya. Wajah mereka sering berpaling setelah dihadapkan langsung dengan bayi lain.

Bayi-bayi yang tumbuh bersama saudara lelaki dan perempuan austistik, lebih besar berpotensi menderita autisme. “Tetapi penelitian ini tak bisa dikatakan 100 persen akurat,” kata Johnson.

Johnson menyadari bahwa diagnosis menyeluruh guna memastikan anak-anak dengan autisme bisa dilakukan ketika anak itu berusia dua tahun.

Hal itu dikarenakan tak ada pertanda dari perilaku yang bisa dilihat di bawah usia itu.”Penelitian ini secara langsung mengukur aktivitas otak dari seorang anak. jika gejala dapat dideteksi lebih dini, kita berharap bahwa autisme dapat diantisipasi,” ujarnya.

Autisme terdapat sekitar satu persen pada orang di seluruh dunia. Gangguan spektrum dan mental berdampak pada ketidakmampuan seseorang berkomunikasi.

Gejala umum yang biasa di lihat pada orang adalah sindrom Asperger ( tipe karakter autisme dengan kemampuan bahasa yang terganggu).Penderita bisanya memiliki IQ tinggi.

(sumber : Antara news.com)

Agar Anak Cepat Bisa Baca

1. Belajar sambil bermain
Mungkin hampir semua orang tua yang sedang mengerjakan sesuatu di PC atau laptop akan diganggu oeh anak-anaknya. Jangan dimarahi apalagi diusir ajak dia bermain bersama anda. Biarkan dia memperhatikan apa yang ada lakukan pada keyboard dan apa yang muncul pada monitor.
2. Mulai dengan pengenalan abjad
Perkenalkan ke-26 abjad kepada anak dengan cara kreatif. Ubah font atau bentuk huruf agar terlihat besar dan jelas. Mulai lah bermain dengan mengetikkan huruf satu persatu sambil menyebutkan nama abjadnya. Sesekali ajaklah dia main tebak-tebakan dengan memintanya menekan tombol sesuai abjad yang kita sebutkan.
Jangan kecil hati jika si anak masih sering salah tunjuk atau keliatan ngawur. Namanya juga proses belajar, kan? Sebaliknya jika si anak mampu menunjuk huruf yang kita minta secara tepat, beri dia reward berupa pelukan atau ciuman.
3. Merangkai huruf vocal dan konsonan
Setelah pada usia 2 tahun Irsya mampu menghafal seluruh abjad dengan baik dan benar, maka yang saya lakukan selanjutnya adalah mengajarinya untuk merangkai huruf-huruf tersebut.
Mulailah dengan memperkenalkan huruf-huruf vocal a, i , u, e, o kemudian dirangkai dengan satu buah huruf konsonan. Misalnya : ba , bi, bu, be, bo, dan seterusnya.
Kalau saya mengajarnya begini “huruf be berteman dengan a bacanya ba.” Dst. Alhamdulillah dalam 2 minggu dia sudah paham dan mengerti untuk rangkaian huruf lainnya.
Jika sudah paham, ajarkan anak suku kata tertutup. Yaitu dengan menambahkan huruf konsonan pada suku kata yang sudah diajarkan tadi. Misal : “ba berteman dengan n bacanya jadi ban” dst. .
4. Sediakan buku bacaan yang menarik
Sediakan buku-buku bacaan yang bergambar agar menarik perhatian anak untuk membaca. Dampingi anak anda saat membaca. Jika bacaanya betul jangan lupa berikan pujian agar anak percaya diri.
Selamat mencoba…

Anak Tidur Terlalu Malam

Kebutuhan tidur malam pada batita memang sebaiknya dipenuhi sebanyak 9-10 jam. Masalahnya sekarang ini banyak anak yang sering memulai tidur pada larut malam. Entah karena nonton tv, main game di komputer, iPad, atau PS. Hal ini juga dipengaruhi oleh kebiasaan tidur siang. Bila tidur siang sudah kelewat siang dan anak bangun pada sore hari , maka logikanya tidur malamnya pun akan mundur.

Kondisi anak yang seperti ini dapat dibenahi. Ini menyangkut faktor kebiasaan. Perbuatan yang dilakukan berulang kali maka akan terjadi habituasi, artinya kebiasaan. Pada diri anak juga akan terbentuk biological clock tersendiri yang akan mengatur secara otomatis waktu anak mengantuk dan kapan beraktivitas.

Perhatikanlah anak Anda di rumah. Bagaimana kebiasaannya di rumah? Apakah anak Anda sulit tidur jika kondisi rumah masih penuh aktivitas? Meski jam sudah menunjukkan pukul 12 malam?

Nah, bila hal itu terjadi, coba kondisikan rumah Anda tenang dan mendukung untuk tidur pada saat jam-jam tidur yang tidak terlalu malam. Dengan demikian anak Anda dapat memulai tidur lebih cepat. Tidur siang sebaiknya tidak terlalu lama, cukup 1-2 jam saja. Terlalu lama tidur siang, maka malam hari akan lama terjaga.

Lain dewasa, lain pula anak-anak kebutuhannya akan tidur. Berikut ini jumlah jam tidur yang dibutuhkan anak berdasarkan usianya menurut National Sleep Foundation:

  1. Bayi baru lahir, usia 0-2 bulan membutuhkan waktu tidur selama 10,5 jam sampai 18 jam.
  2. Bayi usia 3-11 bulan membutuhkan tidur 9 sampai 12 jam, ditambah dengan tidur siang selama 1-2 jam.
  3. Anak usia 1-3 tahun membutuhkan tidur 12 sampai 14 jam.
  4. Anak usia 3-5 tahun membutuhkan tidur selama 11 sampai 13 jam.
  5. Anak usia sekolah (5-12 tahun) membutuhkan tidur selama 10 sampai 11 jam.
  6. Remaja (12-17 tahun) membutuhkan tidur setidaknya selama 8,5 sampai 9,5 jam.
  7. Usia dewasa membutuhkan tidur rata-rata 7 jam.

Kiat Jitu Atasi Batita Ngamuk

Sering, kan, anak marah-marah hanya karena ia merasa tidak puas oleh hal sepele. Misalnya, sepatu yang disodorkan ibu tidak sesuai dengan keinginannya. Ia minta warna merah jambu, tapi karena kotor, ia harus memakai sepatu yang berwarna cokelat. Yang terjadi kemudian, si anak menolak sambil marah dan melempar sepatunya. Kalau keinginannya belum terpenuhi juga, dia akan semakin marah dan menangis keras. Bahkan, terkadang sampai berguling-guling di lantai.

Perilaku ini belum muncul di usia awal karena umumnya bayi hanya menunjukkan respons atas kebutuhannya seperti kalau lapar, haus, dan popoknya basah, dengan cara menangis. Namun seiring perkembangannya, di usia sekitar 9 bulan bayi mengembangkan konsep “saya mau”. Nah, bila sesuatu yang diinginkannya tidak berjalan sesuai yang dia mau, maka ia akan frustasi. Salah satu cara untuk menandakan perasaan itu adalah dengan tantrum . Inilah bentuk-bentuk amukan di usia batita dan cara mengatasinya.

USIA 12-18 bulan
Mendekati usia setahun, anak bisa frustrasi saat menghadapi adanya hambatan-hambatan fisik. Misalnya, beberapa anak merasa terintangi saat harus duduk di kursi tinggi (kursi makan batita), di carseat, atau di tempat bermainnya yang berpagar. Benda-benda tersebut membatasi geraknya sementara kemampuan motoriknya sedang berkembang dan bertambah. Selain itu, anak juga masih terbatas kemampuan bicaranya, sehingga belum dapat mengekspresikan keinginannya lewat kata-kata. Akibatnya ia akan mengepalkan tangannya dengan muka memerah karena marah, seolah ia mengatakan kepada kita bahwa situasinya saat itu sedang tidak nyaman.

Bentuk tantrum
Anak menangis keras, melengkungkan punggungnya, dan menggeliat-geliat dengan marah.

Cara mengatasinya
Sebagai orang tua, cobalah untuk memahami segala keterbatasannya, dan antisipasilah hambatan-hambatan itu agar tantrum tidak keburu muncul. Jika anak telanjur mengamuk, cara mengintervensinya yaitu dengan mengambil si anak untuk disayang-sayang, dielus, dan dipeluk sampai dia tenang. Tak perlu memberi pelajaran pada anak seusia ini. Alihkan saja perhatiannya pada mainan dan nyanyian, ini dapat membantu.

Kasih sayang orang tua bukan hanya dapat mengerem tantrum , tapi juga membantu anak mengembangkan rasa aman, sehingga ia mampu membangun dasar dari perasaan yang baik. Dengan modal dasar ini, bila sudah besar nanti, ia bisa menenangkan dirinya kala sedang marah. Ia pun akan belajar bahwa dirinya bisa mengontrol dan dapat tetap tenang tanpa harus marah meledak-ledak.

Namun perlu diingat, bagaimanapun juga tidaklah mudah menenangkan anak yang tengah frustrasi dan membuatnya nyaman. Bila memang tidak berhasil, hadapi terus dengan sikap yang santai. Pastikan bahwa segala sesuatunya sudah berjalan benar, dan tidak ada kesalahan yang jadi penyebab tantrum -nya. Kalau sudah begitu, jangan coba-coba untuk menghentikan tangisannya. Adakalanya, Anda cuma bisa menunggu sampai tantrum -nya reda.

18 BULAN SAMPAI 3 TAHUN
Ingat, di usia batita, tantrum tak lebih merupakan ekspresi sederhana dari rasa frustrasi. Anak sebetulnya ingin merasa berkuasa dan menjadi sangat marah ketika keinginannya tidak terpenuhi segera. Sementara, sangatlah penting bagi orang tua untuk mendukung kemandiriannya yang sedang berkembang. Oleh karena itu, orang tua tetap harus bersikap kritis untuk mengatakan “tidak” terhadap permintaan-permintaannya yang tidak masuk akal.

Contohnya, saat kita sedang memasak anak merengek-rengek minta digendong. Katakan kepadanya baik-baik bahwa dia akan segera digendong bila kita sudah menyelesaikan pekerjaan dapur. Jadi, lanjutkan saja pekerjaan memasak tersebut.

Namun, bersiaplah bila kemudian anak berteriak, “Gendong!” sambil meraung-raung dan menarik-narik baju kita. Karena anak belum dapat mengatur perasaannya, kemarahan itu cenderung meningkat. Akibatnya, tantrum -nya tidak dapat diprediksi, bisa cepat menghilang dan bisa juga menguat.

Bentuk tantrum:
Berteriak sambil menangis, menendang, membanting dan melempar sesuatu, memukuli tangan dan kaki, serta menjatuhkan diri ke lantai. Jadi, jangan kaget bila anak melemparkan dirinya ke lantai sambil menghentak-hentakkan tangan dan kakinya di lantai karena frustrasi.

Mengapa bisa seperti itu? Tentunya karena di usia ini anak belum mengerti konsep menunggu. Bila sedikit saja penanganannya tertunda, hal itu bisa membuatnya lepas kendali. Begitu pun dengan rasa capek, lapar, dan perubahan yang tidak diharapkan.

Ironisnya, tingkah laku yang terburuk justru ditunjukkan kepada kita yang telah mencurahkan kasih sayang secara tulus. Rupanya, kedekatan selama ini membuatnya merasa aman untuk mengekspresikan kemarahan, rasa frustrasi dan kekecewaannya di hadapan kita.

Cara mengatasinya:
Orang tua harus mengambil tindakan bila ia menggigit, memukul, menendang, mencakar atau bila membahayakan dan melukai dirinya sendiri dengan mengeliat-geliat di lantai tanpa kontrol. Cara mengintervensinya dengan bergerak tenang dan menghindari jangkauan anak, sambil mengatakan, “Tidak. Kamu tak boleh tendang ibu/ayah!” Bila ia bermaksud membahayakan dan melukai dirinya, maka segeralah bawa ke tempat yang aman dimana dia dapat melanjutkan tantrum -nya dengan aman.

Selama menghadapi tantrum , bersikaplah konsisten atau tidak mengalah. Misalnya, anak mengamuk karena kita tidak mengizinkannya makan permen ketiga. Saat ia berteriak-teriak minta lagi, berikan alasan yang masuk akal. Sikap menyerah hanya akan membuat anak belajar bahwa dia bisa menggertak orang tua untuk menuruti keinginannya.

Anak di usia ini masih bisa dialihkan perhatiannya. Ajaklah ia untuk mencoba berbagai permainan yang menarik, seperti puzzle sederhana. Hal ini akan membantu menggeser pikirannya dari permen tadi.

Bila tantrum -nya penuh dengan gerakan-gerakan, sebaiknya orang tua tetap berada di dekatnya. Biarkan ia begitu dan jangan memberinya respons. Saat tidak mendapat hal yang diinginkan, ia mungkin menginginkan perhatian dari kita. Namun, bila kita meladeni kelakuannya dalam bentuk interaksi apapun, hal ini malah akan meningkatkan tantrum -nya dan semakin sedikit kita bereaksi, semakin cepat pula tantrum itu teratasi.

Bila Anda ragu untuk memberi respons atau tidak, ingatlah bahwa anak perlu belajar bagaimana mengalami perasaan frustrasi dan kekecewaan. Jadi, cara terbaik untuk membantunya adalah dengan tidak ikut campur. Beri ia kesempatan untuk mengatasi perasaan tidak nyamannya sendiri, dan bagaimana mengembalikan kontrol diri setelah lepas kendali.

Sekali dia belajar, dia akan siap untuk pelajaran berikutnya. Pada akhirnya, dengan tidak bereaksi, anak akan melihat bahwa tantrum -nya itu tak berpengaruh apa-apa pada orang tua. Atau paling tidak, ia melihat efeknya terhadap kita sangatlah kecil. Dengan demikian sedikit kemungkinan anak akan mengulang amukannya di lain waktu.

Begitu tantrum -nya sudah lewat ia akan kembali bersahabat. Ini mengisyaratkan bahwa semakin cepat anak mengendalikan kontrol dirinya, semakin cepat pula dia mau berbaikan kembali dengan kita.

Next Page »

12 queries