Panduan Menu Makanan Bayi s/d Balita
Powered by MaxBlogPress 

[X]


Punya Sahabat Biar Tetap Sehat  

TEMPO Interaktif, Memiliki hubungan sosial yang baik–seperti dengan teman, pernikahan, atau anak–sama baiknya untuk menjaga kesehatan, seperti halnya dengan berhenti merokok, menurunkan berat badan, atau bahkan makan obat. Demikian hasil penelitian di Amerika Serikat dua pekan lalu.

Orang dengan hubungan sosial yang kuat akan 50 persen lebih panjang umur dibanding mereka yang tanpa dukungan hubungan ini. Inilah kesimpulan temuan tim dari Brigham Young University di Utah. “Efek buruknya hubungan sosial sama dengan menghirup 15 batang rokok per hari,” kata Julianne Holt-Lunstad, psikolog yang memimpin penelitian itu.

Tim Holt-Lunstad melakukan analisis terhadap sejumlah penelitian tentang efek hubungan sosial pada kesehatan. Mereka menganalisis 148 penelitian terhadap lebih dari 308 ribu orang yang kehidupannya diikuti selama rata-rata selama tujuh setengah tahun. Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal PLos Medicine terbitan Public Library of Science.

Penelitian ini mengukur hubungan sosial dengan beberapa jalan. Seperti yang sederhana, melihat ukuran hubungan sosial yang dimiliki seseorang, misalnya apakah orang tersebut menikah atau tinggal sendirian. Penilaian juga dilihat dari persepsi seseorang, apakah mereka merasa akan ada orang lain yang akan membantunya saat mereka butuh pertolongan. Penilaian lain diambil dari seberapa kuat seseorang terlibat dalam komunitasnya. Hasil penelitian ini kemudian dicek silang dengan usia, jenis kelamin, status kesehatan, dan penyebab kematian saat orang tersebut meninggal.

Memiliki hubungan sosial yang buruk ternyata setara dengan menjadi pecandu alkohol. Ini lebih membahayakan dibanding tidak berolahraga dan dua kali lebih berbahaya dibanding obesitas atau kelebihan berat badan.

Tak memiliki hubungan sosial punya dampak yang lebih besar untuk kematian muda dibanding tidak melakukan vaksinasi untuk mencegah pneumonia atau radang paru-paru di usia muda, tidak mengkonsumsi obat tekanan darah tinggi, atau terpapar udara berpolusi.
“Saya tentu saja bukan menganggap remeh berbagai faktor risiko lain karena tentu saja ini penting untuk menjaga kesehatan,” kata Holt-Lunstad. “Tapi kita perlu menganggap masalah hubungan sosial sebagai sesuatu yang serius juga.”

Memang tak mudah untuk tiba-tiba saja menyuruh orang untuk punya sahabat atau tidak. Tapi menurut Holt-Lundstad, ada sejumlah bukti yang menyatakan bahwa menggaji orang untuk menemani seseorang sebagai pengurus tidak termasuk dalam upaya meningkatkan kesehatan. Misalnya pada kelompok usia lanjut yang mendapatkan seorang perawat, yang digaji anak-anaknya, untuk mengurusi mereka. “Alaminya, menjalin hubungan sangat berbeda dengan mendapatkan dukungan dari seseorang yang dibayar untuk tujuan itu,” kata Holt-Lunstad.

Lalu bagaimana kehidupan sosial kita bisa mempengaruhi kesehatan kita? Holt-Lunstad menjelaskan, keberadaan orang yang dekat secara emosional di sekeliling kitalah yang membuat kita mampu menghadapi stres hidup–sesuatu yang diketahui bisa menyebabkan kematian jika tak tertahankan.

“Saat kita menghadapi kejadian yang potensial menimbulkan stres dalam hidup kita, kita tahu bahwa ada orang-orang di sekeliling kita yang bisa kita andalkan. Ini menjadikan kita percaya bahwa mereka akan membuat kita mampu menghadapinya. Bisa juga keberadaan mereka mencegah berbagai efek negatif dari stres,” kata Holt-Lunstad.

Sahabat atau orang dekat juga bisa mendorong berbagai perilaku sehat–juga tak sehat–yang bisa mempengaruhi hidup. Misalnya, teman kita mungkin bisa mengingatkan untuk makan lebih baik, berolahraga, cukup tidur, atau mengunjungi dokter. Memiliki hubungan sosial juga memberi arti dalam hidup kita dan mungkin mempengaruhi kita untuk menjaga diri kita lebih baik.

| UTAMI WIDOWATI | REUTERS | LIVESCIENCE | BE

Sehat Itu Rasanya:

-Merasa puas dalam menjalani hidup.
-Punya semangat menjalani hidup dan bisa tertawa dan bersenang-senang.
-Mampu menghadapi stres dan mengatasi kesulitan hidup.
-Merasa punya arti dan tujuan dalam hidup, baik dalam tiap aktivitas atau hubungan sosial.
-Punya kelenturan untuk mempelajari hal-hal baru dan beradaptasi dengan perubahan.
-Seimbang dalam bekerja, bermain, beristirahat, dan beraktivitas lainnya.
-Mampu membangun dan mempertahankan hubungan yang saling memuaskan dengan pasangan.
-Punya kepercayaan diri yang tinggi dan citra diri yang baik.

Ayo Mencari Teman

-Sesekali berpalinglah dari televisi, layar komputer, dan layar ponsel. Jangan ganti persahabatan nyata dengan yang sifatnya virtual.
-Luangkan waktu beberapa jam dalam sehari untuk kontak bertemu wajah dengan orang-orang yang disukai. Pilih teman, tetangga, kerabat, atau anggota keluarga yang seirama dan punya pandangan yang positif pada Anda.
-Ikuti kegiatan sosial yang bersifat sukarela. Lakukan sesuatu yang bisa menolong orang lain yang membutuhkan.
-Ikuti berbagai kegiatan yang memberi peluang bertemu dengan berbagai macam manusia yang mungkin punya selera dan minat yang sama dengan Anda, orang yang berpotensi menjadi teman Anda.

| BERBAGAI SUMBER


Banyak Teman, Kunci Menuju Sehat  

TEMPO Interaktif, Washington – Memiliki hubungan sosial yang baik – dengan teman, dalam pernikahan, atau dengan anak – sama pentingnya untuk kesehatan seperti berhenti merokok, mengurangi berat badan, serta melakukan pengobatan.

Penelitian di Brigham Young University di Utah, Amerika Serikat menyimpulkan bahwa orang yang memiliki hubungan sosial yang kuat akan 50 persen terhindar dari kematian dini dibandingkan orang yang tidak mendapat dukungan dalam lingkungan sosialnya.

Para peneliti itu menyarankan para pembuat kebijakan untuk mencari cara untuk membantu orang memelihara hubungan sosial sebagai cara untuk tetap sehat. “Kurangnya hubungan sosial setara dengan merokok lebih dari 15 batang sehari,” kata psikolog Julianne Holt-Lunstad yang memimpin penelitian.

Tim Julianne melakukan analisis meta yang menguji hubungan sosial dan efeknya terhadap kesehatan. Mereka meneliti 148 kasus yang meliputi 308.000 orang untuk dianalisis.

Penelitian itu juga menghasilkan kesimpulan bahwa memiliki tingkat hubungan sosial yang rendah juga setara dengan menjadi alkoholik, lebih berbahaya daripada tidak berolahraga, dan dua kali lebih berbahaya daripada obesitas.

Hubungan sosial memiliki dampak yang lebih besar pada kematian dini dibandingkan dengan mendapatkan vaksin dewasa untuk penyakit paru-paru. Memiliki hubungan sosial yang baik juga lebih menyehatkan dibandingkan meminum obat untuk menjaga tekanan darah dan jauh lebih penting dibandingkan menghindari polusi udara.

Fanny Febiana | MSNBC


Apakah Anda Salah Menerapkan Tabir Surya?  

TEMPO Interaktif, Jakarta – Melindungi kulit dari sengatan sinar matahari itu penting, karenanya sebagian orang, pada umumnya kaum wanita, krem menggunakan tabir surya. Menurut dermatolog Quenby Erickson dari Universitas Saint Louis, Amerika Serikat, ada sejumlah kesalahan dalam penggunaan tabir surya. “Jika Anda membeli dan memakai tabir surya, pastikan tabir surya tersebut bekerja ketika Anda pakai,” ujarnya seperti dikutip Medical News Today. Sudahkah Anda menerapkan tabir surya secara benar, berikut tips Quenby Erickson:

Terlalu Sedikit: Orang dewasa memerlukan tabir surya yang setara dengan satu gelas penuh untuk menutupi seluruh tubuh mereka. Dan pastikan untuk menutupi semua kulit yang terkena sinar matahari. Jangan lupa telinga Anda, belakang leher, bagian atas kaki, dan, jika Anda botak, ubun-ubun kepala Anda.

Terlalu Telat: Waktu itu penting. Oleskan tabir surya 30 menit sebelum keluar rumah, dan oleskan kembali setiap dua jam dan setelah berenang.

Terlalu Jauh: Jika Anda menyemprotkan tabir surya pada lengan anak, Anda mungkin tidak memberikan perlindungan sepenuhnya dari sinar matahari. Arahkan botol semprot 2-3 inci dari badan. Untuk perlindungan penuh, penting juga menggosokkan tabir surya semprot ke permukaan kulit.

Terlalu Lama: Tabir surya memiliki tanggal kedaluarsa, dan dapat menjadi kurang efektif jika sudah kedaluwarsa. Jika Anda menggunakan jumlah tabir surya yang disarankan, jangan biarkan berada di lemari terlalu lama, sehingga kedaluarsa.

Medical News Today/NF


Merokok dan Malas Berolahraga Berdampak pada Fungsi Kemih dan Seksual  

TEMPO Interaktif, Carolina – Pilihan gaya hidup sehat, seperti berolahraga secara teratur dan tidak merokok, secara signifikan dapat berdampak pada fungsi seksual dan fungsi kemih, demikian menurut data baru yang disampaikan pada Pertemuan Tahunan ke-105 dari Asosiasi Urologi Amerika (AUA). Dua studi baru yang mengkaitkan efek buruk dari merokok dan gaya hidup ini disampaikan kepada wartawan saat konferensi pers pada Senin lalu.

Tim peneliti internasional mensurvei sampel berdasarkan populasi lebih dari 2.000 wanita Finlandia, berusia 18 hingga 79, tentang kebiasaan merokok dan fungsi kemih mereka. Setelah mempertimbangkan faktor-faktor seperti sosiodemografi, gaya hidup, faktor reproduksi, komorbiditas, dan penggunaan obat-obatan, para peneliti menemukan bahwa pada perokok aktif dan mantan perokok terjadi peningkatan pada urgensi dan frekuensi kemihnya dibandingkan mereka yang tidak pernah merokok. Dari perempuan yang disurvei, 52,7 persen tidak pernah merokok, 24,1 persen mantan perokok, dan 23,2 persen saat ini merokok.

Dalam studi terpisah tentang hubungan antara olahraga dan fungsi seksual, peneliti dari Carolina Utara mempelajari 178 pria sehat di Durham VA Medical Center dengan menggunakan hasil survei oleh Universitas California di Los Angeles, yang meliputi enam pertanyaan tentang fungsi seksual, dan sebuah survei terpisah mengenai kebiasaan berolahgara. Fungsi seksual dihitung dengan mengkonversi jawaban ke skor numerik dan latihan dihitung dengan mengkonversi respons ke tugas setara metabolik (MET) jam per minggu.

Para peneliti menemukan bahwa pria yang lebih sering berolahraga secara signifikan memiliki skor lebih tinggi pada fungsi seksualnya, bahkan setelah disesuaikan dengan usia, ras, indeks massa tubuh (BMI), penyakit jantung, diabetes, dan depresi.

“Data ini memberi kita satu lagi alasan untuk berhenti merokok dan mulai berolahraga,” kata Anthony Y. Smith, juru bicara AUA.

Medical News Today/Ngarto Februana


Berjumpa Si Putih Madonna di Keukenhof  

TEMPO Interaktif, Lisse – Matahari pagi di awal Mei lalu yang bersinar cerah membuatku nekat hanya mengenakan satu jaket untuk keluar dari hotel. Aku kecele. Hawa dingin, sekitar 11 derajat Celsius, ternyata masih kuat menyelimuti Bussum, kota kecil tak jauh dari Amsterdam, Belanda. Toh, hajatku dan lima rekan wartawan lain untuk segera menikmati kecantikan warna-warni bunga tulip mampu mengatasi hawa dingin.

Beruntung, kereta yang akan mengantar kami ke Stasiun Schiphol, sekitar 30 menit perjalanan, segera muncul. Meski penumpang tak sampai berdesakan, udara di dalam kereta relatif lebih hangat. Lumayan. Di stasiun, kami membeli tiket menuju Taman Bunga Keukenhof, di Kota Lisse. Taman bunga tulip ini tak cuma terbesar di Negeri Kincir Angin, tapi juga di dunia.

Biar nanti tak mengantre lagi, kami sengaja membeli tiket bus berikut tiket masuk ke taman. Total biaya yang harus kami bayar 21 euro (setara Rp 252 ribu) per orang. Waktu tempuh perjalanan Schiphol-Lisse dengan bus nomor 58 sekitar satu jam. Kota Lisse berada di barat daya Amsterdam, di Provinsi South Holland, termasuk dalam wilayah yang disebut Duin-en Bollenstreek (Dune and Bulb Region), karena ciri khasnya banyak bukit pasir pantai dan perkebunan bunga.

Kami beruntung berada di Belanda pada musim semi, saat bunga tulip bermekaran. Dan Taman Keukenhof hanya dibuka untuk umum pada 18 Maret hingga 16 Mei, mulai pukul 8.00 sampai 19.30. Tahun depan, taman ini dibuka dari 17 Maret sampai 15 Mei. Tiap tahun, taman ini menggelar pameran bunga internasional.

Dari riset kecil melalui Internet, terungkap tema pameran bunga internasional ke-61 tahun ini adalah From Russia with Love”. Karena itu, sebuah bagian dari taman ditata menurut gaya lanskap Rusia, lengkap dengan koleksi bunga-bunga khas Rusia. Sebuah mozaik bunga berbentuk Katedral Saint Basil di Moskow juga dihadirkan.

Svetlana Medvedeva, istri Presiden Rusia Dmitry Medvedev, didampingi Putri Maxima dari Kerajaan Belanda, membuka pameran pada 17 Maret lalu. Digelar pula pameran rangkaian bunga bergaya negara pecahan Negeri Beruang Merah itu.

Awalnya, Taman Keukenhof merupakan sebuah area perkebunan pribadi yang dimiliki oleh Countess of Holland Jacoeba van Beieren, yang memerintah kerajaan tersebut pada 1401-1436. Area seluas 32 hektare ini dipergunakan untuk menanam berbagai jenis sayuran, tanaman obat-obatan, dan juga tumbuhan rempah-rempah untuk bahan memasak makanan keluarga kerajaan. Karena itulah, tempat ini dinamakan keukenhof, yang artinya ‘kebun dapur’.

Nama Keukenhof tetap dipertahankan hingga saat ini sejak tempat ini mulai dibuka untuk umum pada 1949 oleh Wali Kota Lisse, W.J.H. Lambooy. Kala itu, dia bekerja sama dengan 10 perusahaan pengembang tanaman bunga terkemuka di daerah itu. Ide awalnya, Wali Kota ingin mempromosikan keberadaan Lisse sebagai pusat industri bunga segar di Belanda dan berniat mengadakan pameran bunga tahunan. Bertindak sebagai penata taman adalah JD dan LP Zocher, perancang Taman Vondelpark di Amsterdam.

Keelokan warna-warni tulip sebetulnya sudah memikat mata saya saat pertama kali menjejakkan kaki di Belanda, di halaman Bandara Schiphol. Tapi saya tak sempat menyentuhnya karena harus segera tiba di hotel. Persentuhan dengan tulip baru dilakukan di halaman hotel tempat kami menginap untuk pelatihan tentang multimedia di Radio Netherland Training Center di Hilversum.

Beberapa ratus meter sebelum memasuki kawasan Taman Keukenhof, hamparan tulip yang berwarna-warni membuat pesona tersendiri. Seperti foto di kartu-kartu pos yang banyak terpajang di toko-toko suvenir. “Woowww…, keren, seperti permadani,” ujarku.

Turun dari bus, suhu udara ternyata belum bersahabat. Malah terasa lebih menusuk tulang ketimbang di Bussum. Tapi penderitaan itu terimbangi oleh kecantikan aneka jenis tulip yang terhampar rapi. Menurut informasi di situs resmi Taman Keukenhof (www.keukenhof.nl), terdapat 7 juta tumbuhan bunga yang ditanam dengan tangan di taman ini, dan sekitar 4,5 juta di antaranya merupakan tulip dalam 100 varietas.

Mengingat luasnya area, semula kami sepakat terus berjalan bersama. Tapi, entah karena masing-masing punya selera jenis dan warna sendiri, kami akhirnya terpencar begitu saja. Masing-masing sibuk membidikkan kamera ke arah bunga-bunga beraneka warna: putih, kuning, oranye, merah, jingga, pink, ungu…, sungguh menyegarkan dan memanjakan mata. Pokoknya, serasa berada di “negeri pelangi”!

Meski Belanda dijuluki Kerajaannya Tulip, bunga tulip sejatinya berasal dari Iran dan Turki. Kata “tulip” sendiri berasal dari bahasa Turki, yang artinya “sorban”. Bagi bangsa Iran dan Turki, tulip adalah bunga nasional mereka.

Di Keukenhof, entah ada berapa ratus nama untuk tulip yang ditanam di sana. Yang sempat kucatat di antaranya Golden, Giant Parrot, Maytime, Abu Hasan, Vvedenskyi. Selebihnya, aku tak peduli. Menikmati keindahan bunga-bunga itu lebih asyik ketimbang mengingat-ingat namanya.

Untuk ragam varietasnya, bunga tulip ada berbagai macam, seperti Single Early, Double Early, Kaufmaniana, Fosteriana, Triumph, Darwin Hybrid, Greigii, Single Late, Double Late, Lily-flowered Tulip, Fringed Group, Viridiflora, dan Rembrandt.

Ada juga tulip varietas baru hasil persilangan yang disebut sebagai tulip-tulip “Walk of Fame”. Tulip-tulip ini dinamai sesuai dengan nama pesohor dunia. Mulai dari penyanyi pop Madonna, pesepak bola Ronaldo dan Del Piero, tokoh kartun Donald Duck dan Spongebob, hingga merek-merek mobil seperti Ferrari, Renault, dan Toyota.
 
Bunga tulip Madonna berwarna putih merekah, genit bergoyang ditiup semilir angin. Sementara itu, Del Piero warnanya putih bersemu pink, sedangkan Monalisa berwarna kekuningan dengan semburat merah.

Di bagian lain, penataan tulip sengaja dikelompokkan dengan warna acak seperti di dekat papan catur raksasa yang sedang dimainkan dua orang penggemar olahraga itu.

Menjelang tengah hari, sinar mentari tak kunjung bertambah kekuatannya. Kenyataan itu memberi eksotika tersendiri terhadap bunga yang diyakini berkhasiat sebagai obat kanker darah itu. Sebab, kami masih bisa menikmati titik-titik embun di kuncup, kelopak, atau daun tulip.

Barangkali karena pengaruh suhu dan luasnya taman, stamina tubuhku merosot drastis. Perut pun keroncongan. Sambil melepas letih, aku menyantap setangkup roti yang sengaja aku sisihkan saat sarapan di hotel. Beberapa teman membeli wafel hangat. Seusai santap siang, kami lanjutkan perjalanan ke Oranje Nassau, tempat berlangsung pameran rangkaian bunga bergaya Rusia.

Agar tak membosankan, Taman Keukenhof dilengkapi dengan taman labirin, taman bermain anak, serta taman burung dan ayam. Juga tersebar 80 buah patung karya pematung tersohor Belanda. Kami meneruskan langkah mencari kincir angin yang mulai beroperasi sejak 1920-an hingga 1957 itu. Kini, kincir angin itu hanya difungsikan sebagai atraksi wisata dan dapat dinaiki pengunjung. Kami pun berfoto-foto di atasnya.

Bagi Anda yang emoh berjalan jauh dan ingin sedikit lebih rileks, hamparan tulip dapat dinikmati dengan “perahu whisper” yang menyusuri sungai-sungai kecil yang membelah taman. Ada tarif tambahan tentunya, 7,5 euro per orang. Satu perahu menampung sekitar 20 orang. Bagi mereka yang sudah sepuh dan harus berkeliling dengan kursi roda, tak perlu bersusah payah membawanya dari rumah karena pengelola menyiapkannya, gratis.

Semakin siang, pengunjung ke Keukenhof terus bertambah. Tak jarang tampak pasangan muda-mudi asyik bermesraan di rerumputan di sela-sela kebun bunga. Ada pula sepasang calon pengantin yang sengaja bergaya untuk foto pre-wedding, lengkap dengan fotografer dan pengarah gayanya.

“Memang romantis tempat ini, apalagi sama pasangan,” ujar seorang teman dari Surabaya. “Sayang istrimu tidak di sini ya, Pak,” aku meledeknya. Kami pun terkekeh.

Di tengah perjalanan, kami pun sempat bersua pasangan muda asal Indonesia yang sedang menikmati liburan di sela tugas sekolah di Hamburg, Jerman. Vinda namanya, datang bersama suami dan anak sulungnya yang berbaring di kereta dorong. “Indah sekali di sini. Kalau di Jerman, hanya melihat bangunan dan museum,” ujar Vinda.

Menjelang sore, seiring langkah yang kian lunglai, kami memutuskan untuk kembali ke Bussum melalui rute yang sama. Tiba di hotel bertepatan dengan jam makan malam. Di kamar masing-masing, kami kembali menikmati keelokan taman pelangi tulip. Kali ini, lewat layar digital lensa kamera. Keindahannya pun terbawa hingga ke dalam mimpi.

DIAN YULIASTUTI

Angka dan Fakta Keukenhof

- 44 juta orang datang mengunjunginya dalam 60 tahun terakhir. 
- 4,5 juta bunga tulip dari 100 varietas ditanam di sini. 
-  7 juta bunga ditanam secara manual.
- 93 pemegang izin Kerajaan menyuplai bibit bunganya.
- 30 ribu bunga lili dari 300 varietas dan ratusan bunga anggrek dari 25 ribu varietas juga ditanam.
- 2.500 lebih pohon dari 87 varietas ada di taman ini.
- 15 kilometer panjang jalur pejalan kakinya.
- 350 juta euro per tahun modal kembali yang dihasilkan oleh industri pameran taman bunga ini, menyumbangkan 23 persen pendapatan bagi Provinsi Belanda Selatan.
- Merupakan taman patung terbesar di Belanda.
- Merupakan tempat yang paling sering difoto di dunia.
- Mempunyai jalur pejalan kaki sepanjang 15 kilometer.
- Mulai tahun lalu terdapat Walk of Fame tulip, yang dinamai dengan nama-nama orang terkenal.
- Memperkenalkan gaya lanskap taman mulai dari gaya Inggris, taman bersejarah dengan spesies tulip lama, hingga gaya lanskap taman Jepang.
- Taman ini tidak disubsidi oleh pemerintah

Sumber: www.keukenhof.nl


Awas, Mesin Cuci Sebarkan Bakteri dan Kuman

VIVAnews - Mesin cuci sudah jadi perlengkapan yang dimiliki hampir setiap rumah tangga di kota besar. Mesin sangat praktis dan membantu pekerjaan tanpa harus repot mencuci secara konvensional. Namun, jangan menganggap pakaian dengan bau segar dari mesin cuci bebas kotoran dan kuman penyakit.

Sebuah penelitian menemukan, 25 persen mesin cuci di rumah terkontaminasi bakteri fecal yang terbawa pakaian kotor dan menyebarkannya. Bakteri fecal termasuk salmonella, hepatitis A, rotavirus dan adenovirus.

Menurut Dr Charles Gerba, peneliti dari Universitas Arizona di Tucson, dua pakaian kotor membawa sepersepuluh bakteri setara kotoran sebesar seperempat biji kacang tanah. Meski deterjen dan air bisa menghilangkan kuman dan bakteri selama mencuci, sebagian bakteri masih tertinggal dan menyebar di dalam mesin cuci.

Ia menjelaskan alasan mesin cuci yang ada sekarang cenderung masih menyisakan kotoran. Siklus mesin cuci sekarang jauh lebih pendek rata-rata 20 dan 28 menit daripada mesin cuci yang terdahulu. Kini, orang tidak lagi menggunakan air panas untuk mencuci pakaian dan pemutih lebih jarang digunakan.

Mesin cuci yang kelebihan beban juga menyebabkan pakaian tetap kotor karena memperlambat aliran air dan deterjen untuk membersihkan. Akibatnya, mikroba bisa menyebar dari mesin ke pencucian berikutnya. Seringkali, kita membiarkan pakaian yang telah dicuci dalam mesin cuci selama berjam-jam yang menyebabkan tumbuh kembangnya bakteri.

Agar pakaian Anda bersih selama mencuci, sebaiknya tambahkan pemutih. Jika tidak menggunakan pemutih pada pakaian, jalankan mesin cuci dengan air dan pemutih sebelum mencuci pakaian atau setelah selesai. Gunakan deterjen dengan kandungan pembersih dan segera mengambil pakaian setelah dicuci. (umi)

• VIVAnews


47 queries