Mengapa Pria Kaya Cenderung Berperut Buncit
VIVAnews - Uang memang bukan segalanya. Tapi, kekayaan melimpah membuat seseorang lebih mudah mewujudkan keinginannya. Mulai dari kebutuhan primer hingga tersier.
Bagi mereka yang kaya, pemenuhan kebutuhan pangan seringkali bukan sekedar menghilangkan lapar, tapi juga meningkatkan gaya hidup. Tak jarang makanan mewah, yang identik dengan kalori tinggi, menjadi santapan harian.
Studi terbaru Departemen Sosiologi Universitas Montreal Kanada mengungkap bahwa pria kaya cenderung berperut buncit. Pria cenderung tak peduli menyantap makanan berkalori tinggi setiap hari. Sedangkan wanita masih memiliki kontrol untuk menyantap makanan berkalori tinggi.
Studi yang dipimpin Nathalie Dumas itu menganalisa data dari Canadian Community Health Survey (CCHS) tahun 2004. Data ini berisi informasi milik 7.000 orang usia 25-65 tahun. Hasil analisa menyimpulkan bahwa status sosial ekonomi berpengaruh kuat terhadap ukuran tubuh.
“Sejak tahun 1980-an, terjadi peningkatan penderita obesitas yang cukup mencolok di kalangan pria kaya di Kanada dan Korea,” kata Dumas. “Orang Kanada sangat suka makan di restoran. Dan, mayoritas dari mereka tidak peduli dengan apa yang mereka makan, yang penting enak. Mereka tak sadar makan banyak kalori dan alkohol.” (umi)
• VIVAnews
Mengapa Komunikasi Mesra Penting
VIVAnews - Komunikasi adalah kunci keharmonisan sebuah hubungan rumah tangga. Namun, komunikasi hangat seringkali sirna usai menikah.
Merasa sudah tinggal bersama di satu atap, banyak pasangan yang tanpa sadar mengurangi intensitas komunikasi mesra dan akhirnya memicu ketegangan.
Seperti dikutip dari laman Modernmom.com, studi Ohio State University menunjukkan, perkawinan yang tegang secara fisik akibat hilangnya komunikasi mesra memengaruhi kelanggengan rumah tangga.
Sebanyak 37 pasangan menikah yang berpartisipasi dalam studi ini menyatakan, tak jarang ketegangan itu memicu tindak kekerasan dalam rumah tangga. Mayoritas responden mengaku memiliki luka di tubuh akibat kekerasan yang dilakukan pasangan.
Sebelum membuat kesimpulan, para peneliti juga mengevaluasi jenis komunikasi antara suami dan istri yang menyebabkan timbulnya kekerasan dalam rumah tangga.
Mereka menemukan bahwa gaya komunikasi memengaruhi keharmonisan rumah tangga. Gaya komunikasi yang positif biasanya akan menimbulkan luka ringan dan mudah disembuhkan. Sementara gaya komunikasi negatif memicu luka yang sulit sembuh.
Debra Umberson, profesor sosiologi di Universitas Texas mengatakan, kondisi rumah tangga juga memengaruhi kesehatan fisik pasangan. Pasangan dengan tingkat stres tinggi di dalam perkawinannya memiliki fungsi kekebalan tubuh yang memburuk, tekanan darah tinggi dan detak jantung tak stabil.
Sementara wanita, secara umum, mengatakan, “Perkawinan yang stres sangat berbahaya dan bisa menyebabkan masalah kronis dalam jangka panjang. Anda tidak akan bisa lolos dari masalah yang Anda alami dari masa kemasa.”
Jadi, menjalin komunikasi sangat penting untuk membangun suatu hubungan yang harmonis dan menjaga kesehatan emosional. Karena itu semua akan berujung pada kondisi kesehatan fisik. (adi)
• VIVAnews
Cara Pria Mengatasi Patah Hati
VIVAnews - Wanita dan pria punya cara berbeda memulihkan perasaan sakit karena putus cinta. Bila wanita terkesan merana dengan menangis, pria kelihatan lebih kuat. Tetapi, di balik ketegarannya, pria ternyata lebih terluka akibat putus cinta.
Robin Simon, Professor Sosiologi di Wake Forest University North Carolina mengungkap, pria cenderung lebih reaktif dan berusaha segera lepas dari ketidaknyamanannya. Ego pria lebih terluka saat hubungan kandas.
Meski terlihat tidak acuh, pria rentan akan tenggelam dengan kebiasaan buruk seperti penyalahgunaan alkohol dan obat terlarang. Berikut beberapa hal yang sering dilakukan pria untuk memulihkan diri dari putus cinta seperti dikutip dari laman Your Tango.
1. Tenggelam dalam minuman keras dan obat-obatan
Banyak pria mengurangi rasa sakit hati dengan alkohol dan obat-obatan. Menurut pria, ini membantu menghilangkan emosi dan tidak perlu mengungkapkan perasaan. Secara alami, ego pria melarang mereka untuk menangis. Namun, saat mabuk, alam bawah sadar mereka tak terlalu menghakimi karena mereka tidak terlalu menyadari saat menangis.
2. Memohon dan membujuk agar kembali bersama
Biasanya pria jenis ini merasa mencintai dan cocok dengan pasangannya. Atau bisa jadi ego mereka terluka karena merasa ditolak. Pria tipe ini akan mengambil tindakan apapun untuk mengambil hati dengan segala hal yang dianggapnya romantis dan mampu meluluhkan hati wanita.
3. Menerima keputusan berpisah dengan cepat
Tidak seperti wanita yang sering tak menerima kenyataan, sebagian pria langsung berusaha menerima bahwa cintanya kandas. Mereka berusaha menerima secepat mungkin agar tak kecewa.
Mereka akan segera membaur kembali dengan teman-teman dan pekerjaan namun enggan diingatkan mengenai kegagalannya. Atau, bisa juga mereka mencurahkan emosi bagi diri sendiri dan tidak berbagi dengan orang lain.
4. Mengucilkan diri
Penolakan dan rasa sakit akibat putus cinta bisa membungkam pria bahkan dengan kepribadian terbuka. Mereka cenderung menjadi lebih tertutup dan memendam perasaan sakit dari orang-orang di sekitarnya.
5. Memperlihatkan perasaan
Tak banyak pria yang mau memperlihatkan perasaaan sakit akibat putus cinta seperti yang sering dilakukan wanita. Menangis dan mengakui perasaan sakit hati pada sahabat atau mantan yang meninggalkannya membuat pria lebih cepat merasa pulih.
• VIVAnews
Putus Cinta Lebih Berpengaruh pada Pria Muda dibanding Wanita
TEMPO Interaktif, Toronto – Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa kualitas hubungan lebih berpengaruh pada laki-laki muda dibanding pada pasangannya.
Toronto Sun melaporkan bahwa profesor sosiologi di Universitas Wake Forest, Robin Simon, telah melakukan studi terhadap seribu laki-laki dan perempuan yang belum menikah dengan rentang usia 18 hingga 23 tahun.
Hasil studinya menunjukkan bahwa efek dari suatu hubungan dirasakan lebih tinggi oleh seorang laki-laki muda dibandingkan oleh wanita. Hal ini berbeda dengan stereotype gender selama ini.
Laki-laki, menurut studi itu, mengalami manfaat emosional yang lebih besar ketika mereka bahagia dalam hubungannya dan memiliki tingkat stres yang lebih besar ketika mereka tidak bahagia. Robin menduga rasa menghargai dirinya sendiri akan terluka ketika hubungannya dengan pasangan menjadi buruk.
Alasan yang masuk akal dari kesimpulan ini adalah bahwa pasangan dari laki-laki menganggap pasangannya sebagai sumber keintiman yang utama. Sedangkan wanita, menurut Robin, masih lebih mungkin memiliki hubungan dengan keluarga dan teman-temannya di samping dengan pasangannya.
Robin juga berpendapat bahwa laki-laki dan wanita memiliki cara yang berbeda dalam menangani stres. “Wanita mengekspresikan kesusahan emosionalnya melalui cara depresi. Sedangkan laki-laki mengekspresikan emosinya dengan masalah yang hakikat,” kata Robin.
Hasil studi ini, yang menurut Robin mengejutkan, adalah salah satu bagian dari studi jangka panjang mengenai kesehatan mental dan transisi menuju masa dewasa. Penelitian ini dipublikasikan dalam Journal of Health and Social Behavior bulan ini.
FOX NEWS / FANNY FEBIANA
Kerja Kreatif Bikin Stress?
TEMPO Interaktif, Toronto – Tuntutan yang terkait dengan aktivitas kerja kreatif merupakan tantangan utama bagi pekerja. Menurut penelitian baru dari Universitas Toronto, Kanada, ini stres yang terkait dengan beberapa aspek pekerjaan berdampak terhadap batas antara kerja dan kehidupan keluarga.
Peneliti mengukur sejauh mana mereka yang terlibat dalam aktivitas kerja kreatif dengan menggunakan data dari survei secara nasional terhadap lebih dari 1.200 pekerja di Amerika. Profesor sosiologi Scott Schieman dan rekannya mengajukan pertanyaan kepada responden, antara lain: “Seberapa sering Anda memiliki kesempatan untuk mempelajari hal baru?”; “Seberapa sering Anda memiliki kesempatan untuk memecahkan masalah? “;” Seberapa sering Anda melakukan pekerjaan yang memungkinkan Anda untuk mengembangkan keterampilan atau kemampuan?”
Para penulis menjelaskan tiga inti temuan:
Pertama: Orang yang memiliki skor lebih tinggi pada indeks kerja kreatif lebih mungkin mengalami tekanan pekerjaan yang berlebihan, dan mereka merasa kewalahan oleh beban kerja, serta lebih sering menerima pekerjaan yang berhubungan dengan kontak (email, teks, panggilan) di luar jam kerja normal;
Kedua: Pada gilirannya, orang-orang yang mengalami tekanan-tekanan yang berhubungan dengan pekerjaan, dan lebih sering melakukan tugas ganda antara pekerjaan dan keluarga, mereka mencoba untuk menyulap pekerjaan dan tugas-tugas rumah pada waktu yang sama saat mereka berada di rumah.
Ketiga: Secara bersamaan, tuntutan pekerjaan ini dan peran ganda kerja-keluarga kerap menimbulkan konflik antara pekerjaan dan peran keluarga, yang merupakan penyebab utama timbulnya masalah peran dalam domain rumah tangga.
Menurut Schieman, unsur-unsur stres terkait kerja kreatif ini, yang oleh kebanyakan orang dilihat sebagai sisi positif dari kondisi pekerjaan kreatif, merugikan. Lebih dari itu, ini juga dapat menyebabkan stres dalam kehidupan kita.
Penelitian ini juga menemukan bahwa orang yang memiliki skor lebih tinggi pada indeks kerja kreatif lebih cenderung memikirkan pekerjaan mereka di luar jam kerja normal. Namun, ketika ini terjadi, banyak orang berkata bahwa mereka tidak merasa “tertekan” oleh pikiran-pikiran itu. Schieman menambahkan: “Ada aspek kerja kreatif yang dinikmati banyak orang karena mereka mendapat kepuasan dalam hidupnya. Hal ini sangat berbeda dengan stres pikiran yang bikin orang terjaga di malam hari, yang disebabkan oleh tenggat yang tidak dapat dikontrol, orang lain bekerja tidak kompeten yang membuat Anda harus menanganinya esok hari, atau pekerjaan rutin yang kurang menantang atau terasa seperti sebuah penindasan.”
ScienceDaily/Ngarto Februana
Saat Putus Cinta, Pria Lebih Merana
KOMPAS.com - Pria juga manusia; karena itu mereka pun bisa menangis saat putus cinta. Tetapi siapa mengira, putus cinta ternyata lebih “memukul” pria daripada wanita?
Anda mungkin tidak percaya (karena si dia tampaknya terlihat cuek setelah putus hubungan dengan Anda), tetapi fakta tersebut merupakan hasil penelitian dari Wake Forest University di North Carolina. Dalam penelitian yang melibatkan 1.000 orang dewasa (tidak menikah) berusia 18-23 tahun, terlihat bahwa hubungan yang tidak bahagia lebih mempengaruhi pria daripada wanita. Hanya saja, pria mengekspresikan kesedihannya dengan cara yang berbeda.
“Perempuan mengekspresikan kesedihannya dengan depresi, sementaranya pria mengekspresikannya dengan masalah-masalah substansi,” ujar Simon.
Robin Simon, profesor bidang sosiologi dari universitas tersebut, juga mendapati bahwa pria mendapat keuntungan emosional yang lebih besar dari aspek-aspek positif hubungan cinta yang sedang berlangsung. Kurang lebih begini penjelasannya: bagi pria muda, pasangan mereka sering menjadi sumber utama curahan kasih sayang. Berbeda dengan perempuan, yang cenderung punya kedekatan dengan keluarga dan teman-temannya.
Ketegangan dalam suatu hubungan sendiri sering dihubungkan dengan kesehatan emosional yang rendah, karena hal itu mengancam identitas dan penghargaan diri pria.
Kemudian, jika pria secara emosional lebih dipengaruhi oleh kualitas hubungannya saat ini, perempuan lebih dipengaruhi oleh kenyataan apakah mereka memiliki hubungan cinta atau tidak. Tidak heran, perempuan lebih cenderung mengalami depresi ketika hubungan itu berakhir, dan sebaliknya mendapat manfaat lebih hanya dengan berada dalam suatu relationship.
Survei ini awalnya dilakukan untuk studi jangka panjang mengenai kesehatan mental dan transisi ke kedewasaan. Karena itu menurut Simon, masih banyak yang perlu dipelajari mengenai hubungan antara pria dan wanita pada usia dewasa muda. Studi ini sendiri dipublikasikan di
Journal of Health and Social Behavior edisi Juni.
DIN
Editor: din
Sumber: The Daily Mail







