Panduan Menu Makanan Bayi s/d Balita
Powered by MaxBlogPress 


Sambal Edan Nasi Edan

TEMPO Interaktif, Bandung – Jalan-jalan di seputaran jalan Braga dan Cikapundung rasanya belum lengkap kalau tidak mampir untuk mengisi perut di kedai nasi yang satu ini. Namanya kedai Nasi Edan. Letaknya tak jauh dari Museum Konferensi Asia Afrika, tepatnya di jalan terusan ABC No 121 Bandung.

Nasi Edan? Dalam benak pasti terpikir macam-macam. “Dibilang edan karena pakai segala macam bahan dan bumbu. Sambalnya juga memang super pedas,” ujar Haryanto, sang peramu resep menu ini saat berbincang-bincang dengan Tempo di kedainya, Ahad (25/7) lalu.

Pantas saja, ayam, jamur dieng, telur puyuh, sosis, sampai baso semua dicampur jadi satu. Bukan sekadar bahan baku, sebenarnya bumbu inti yang diracik lelaki berdarah Wonosobo, Jawa Tengah, itulah yang bikin nasi kuah jadi edan.

“Bumbunya pakai sebelas macam rempah-rempah,” tuturnya yang sejak 1989 tinggal di kota kembang ini. Haryanto menyebutkan bumbu-bumbu tersebut kepada Tempo, tapi cukup sebagian saja katanya yang boleh diungkap.

Setidaknya, setelah Tempo mencicipi menu pedas ini, ada tiga rempah yang khas terasa di lidah. Mau tahu? Pala, cengkeh, dan kapulaga. Terbayang betapa hangatnya menikmati menu berkuah coklat tua ini. Apalagi kalau dimakan saat hujan atau cuaca dingin.

Aromanya mirip kari India, tapi diberi tambahan kecap. Lebih enak dinikmati ketika masih hangat. Uniknya, karakter cita rasa kuliner negeri asal Mahatma Gandhi ini disentuh dengan gaya Jawa. “Nasi Edan ini pakai serundeng,” Haryanto menerangkan pelengkap menu seharga Rp 12.000 per porsi tersebut.

Sambal edan sendiri dibuat dari cabai rawit merah asal Lembang. Tempo mencoba hanya seujung sendok, ternyata memang luar biasa pedasnya. Sambal ini murni komposisinya rawit total, tanpa cabai merah atau tomat. Potongan daun kemangi sedikit memberi aroma dan aksen hijau di antara pekatnya merah sang sambal.

Unsur sayuran dari menu ini disajikan dalam bentuk acar wortel dan mentimun. Sisipan daun kemangi di antaranya tak lupa ikut disajikan.

Ucen, yang menikmati Nasi Edan ini satu meja dengan Tempo mengaku, “Kuahnya itu mirip kuah-kuah masakan India,” celetuknya sambil kerepotan melap dahinya yang bercucuran keringat karena kepedasan. “Benar-benar ini pedasnya minta ampun,” lanjutnya.

Kedai Nasi Edan buka setiap hari mulai pukul 09.00-18.00 WIB. Bagi pengunjung yang tak mau repot memutar otak untuk memilih pasangan minuman menu ini, tinggal bilang saja, “Pesan paket spesial”. Paket ini ditarif Rp 15.000, Nasi Edan plus es teh lemon (lemon tea ice) siap disantap cepat.

Per harinya menu ini bisa laku antara 100-200 piring. “Kalau akhir pekan biasanya yang banyak datang, terutama anak-anak muda,” jelas Haryanto yang mengaku bahwa dirinya tidak berani makan sambal edan racikannya sendiri.

GILANG MUSTIKA RAMDANI

22 queries