ANAK ANDA SUSAH MAKAN? Klik Disini untuk Solusinya!
Powered by MaxBlogPress 


Perkembangan Anak Usia 0-3 Tahun

Anak adalah harapan, bukan hanya harapan ayah ibu dan keluarga namun juga harapan bangsa negara bahkan dunia. Anak adalah pemegang kekuasaan pada saat kita menua. Anak adalah pemutar roda dunia saat kita sudah merenta. Sangat wajar dan tidak berlebihan jika pendidikan anak sanagt diperhatikan. Pemberian pendidikan tersebut juga tidak terlepas dari proses tumbuh kembang anak. Dimana pemberian pendidikan harus disesuaikan dengan perkembangan anak.

Banyak yang berpendapat bahwa anak memiliki masa keemasan pada otaknya. Dimana pada saat itu ilmu yang diajarkan dapat cepat terserap sempurna oleh otak dan langsung diaplikasikan.  Masa keemasan otak tersebutlah yang kadang tidak diketahui oleh para orang tua yang notabene bertindak sebagai pendidik paling awal dan paling dekat dengan anak. Oleh karena itu disini akan diuraikan sedikit tentang masa keemasan otak yang terjadi pada usia 0-3 tahun. Masa keemasan otak terjadi saat perkembangan anak usia 0-3 tahun. Pada masa ini kemampuan otak untuk menyerap hal hal baru lebih cepat dari usia setelah 3 tahun. Kita dapat melihat dari  perkembangannya yang terjadi sangat pesat pada usia 0-3 tahun.

Kita mulai dari gerakan motorik. Pada awal dilahirkan bayi sangat terbatas dalam melakukan banyak kegatan motorik. Bahkan hanya untuk secara reflek mengedipkan matapun tidak bisa. Yang bisa dilakukan hanya sesekali menggerakkan kepala, menendang dan menggerakkan kedua tangan. Keterbatasan melakukan kegiatan yang bersifat motorik ini berlangsung selama 3 bulan. Setelah 3 bulan bayi mulai mampu menggerakkan banyak dari anggota tubuhnya. Mulai dari memiringkan badan hingga tengkurap. Biasannyah juga bayi mulai mengangkat kakinya ke arah muka. Pada fase ini bayi sudah dapat melakukan kegiatan motorik yang cukup rumit. Setelah menginjak 7 bulan biasanyah bayi mulai merangkak. Hal ini tentu dapat dikuasai apabila bayi sudah mampu tengkurap dalam jangka waktu yang cukup lama dan mampu mengangkat kepala pada saat posisi tengkurap. Setelah melewati tahapan merangkak maka dengan cepat si bayi akan belajar berdiri sendiri dengan cara berpegangan pada tembok atau dengan dilatih oleh orang tua. Setelah merasa mampu berdiri dengan baik maka dengan sendirinya si bayi belajar berjalan. Begitu cepat proses perkembangan motorik anak dari usia 0-3 tahun sehingga biasanyah menginjak usia 3 tahun si anak sudah dapat bermain dn berlari-larian dengan temannya.

Selain perkembangan motorik, si anak juga mengalami perkembangan kelima panca indranya. Dimulai dari bayi yang baru lahir dan belum dapat menggunakan indranya dengan baik hingga menginjak usia 3 bulan. Setelah itu kelima indra anak seolah dihidupkan secara otomatis dan mulai mengenal sensasi di tiap indranya. Mulai dari itu dikumpulkan data-data mengenai sensasi tiap-tiap indra dan menyimpannya sebagai memori. Jadi pada saat bertemu kembali dengan sensasi yang sama, si anak akan bisa memilih apakah ditolak atau dilanjutkan.

Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Anak

Memiliki anak dengan tumbuh kembang optimal adalah dambaan setiap orang tua. Untuk mewujudkannya tentu saja orang tua harus selalu memperhatikannya, mengawasi dan merawat secara seksama.

Tumbuh kembang mencakup dua peristiwa yang sifatnya berbeda,tetapi sulit untuk dipisahkan. Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah pertumbuhan dalam skala besar, jumlah atau ukura. Sedangkan perkembangan (development) berkaitan dengan pematangan dan penambahan kemampuan fungsi organ atau individu.

 

Secara umum terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi tumbuh kembang anak :

  1. Faktor Genetik ; faktor yang menentukan sifat bawaan anak. Kemampuan anak merupakan cirri khas yang di tutunkan dari orang tuanya.
  2. Faktor Lingkungan: tempat dimana anak itu tumbuh, dimana lingkungan yang baik akan menunjang tumbuh kembang anak, sebaliknya lingkungan yang kurang baik akan menghambat tumbuh kembang anak.

 

Kebutuhan Dasar anak untuk tumbuh kembang secara umum adalah:

  1. Asuh ( kebutuhan fisik-biomedis): menyangkut asupan gizi anak selama dalam kandungan dan sesudahnya, kebutuhan tempat tinggal dan perawatan kesehatan dini berupa imunisasi.
  2. Asih ( kebutuhan emosional) : kasih sayang dari orang tua akan menciptakan ikatan yang erat dan kepercayaan dasar untuk menjamin tumbuh kembang yang selaras baik fisik maupun mental
  3. Asah ( kebutuhan akan stimulasi mental dini): stimulasi mental mengembangkan perkembangan kecerdasan, kemandirian, kreaktivitas, agama, kepribadian, moral etika.

 

Beberapa tingkat perkembangan yang harus dicapai anak pada umur tertentu:

4-6 minggu: tersenyum spontan.

12-16 minggu : menegakkan kepala, tengkurap sendiri, menoleh ke arah suara, dapat memegang benda.

20 minggu : dapat meraih benda

26 minggu : dapat meminahkan benda dari tangan satu ke tangan lainnya, duduk sendiri, makan biscuit sendiri

9-10 bulan : dapat menunjuk dengan jari, merangkak, bersuara da…da….da…

13-15 bulan : berjalan dengan bantuan, mengucapkan kata-kata tunggal, minum dengan gelas sendiri, mencoret-coret.

Mewaspadai Pertumbuhan Si Buah Hati  

TEMPO Interaktif, Hingga umur 3 tahun, Adit tak juga bisa bicara. Anak itu jarang bersuara. Jika bersuara, dia masih mengeluarkan suara seperti bayi berusia 6 bulan. Ayahnya, Kisman, 45 tahun, curiga ada yang salah pada putra keduanya itu. “Padahal anak seusianya sudah lancar berbicara,” kata dia.

Warga Yogyakarta itu lalu memeriksakan anaknya ke dokter. Karena tak mendapat jawaban memuaskan, dia beberapa kali ganti dokter spesialis. Ternyata ada infeksi yang mengganggu pita suara dan saluran ke otaknya. “Ketika tahu, kami sudah terlambat,” ujarnya menyesal. Kini Adit berumur 11 tahun. Dia hanya bisa mengucapkan beberapa kosakata.

Memang, menurut dokter spesialis anak, Ahmad Suryawan, Sp A (K), tak ada panduan tumbuh kembang anak yang bisa jadi patokan apakah ia normal atau tidak. “Biasanya orang tua hanya membandingkan anaknya dengan anak yang seusia,” kata staf Divisi Tumbuh Kembang Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSU Dr Soetomo, Surabaya, ini.
Sayangnya, anak yang dijadikan perbandingan belum tentu normal pula sehingga orang tua sering telat mengetahui tumbuh kembang anaknya. “Ada kesenjangan antara keadaan anak dan pengetahuan orang tua,” ujarnya.

Menurut Ahmad, otak bayi mulai tumbuh sejak usia kandungan tiga pekan. Saat lahir, berat otak seperempat otak orang dewasa, dan sudah memiliki 100 miliar sel otak (neuron). Antarsel itu saling terhubung oleh jaringan (sinaps). Jumlahnya ada 50 triliun sinaps. Pada umur 1 bulan, jaringan sinaps tumbuh mencapai 1.000 triliun.

Kecepatan berpikir otak bergantung pada jumlah sinaps ini. Sinaps baru akan terbentuk dan menguat jika anak mendapat rangsangan (stimulasi), seperti mendengar, melihat, serta meniru, dan itu dilakukan berulang-ulang. Jadi stimulasi bisa dengan suara, gerakan, musik, bicara, membaca, dan lainnya. Jika tak digunakan, sinaps akan mati atau berkurang jumlahnya dan membuat kecepatan berpikir ikut berkurang.

Stimulasi harus dilakukan sedini mungkin. Pasalnya, perkembangan otak optimal cuma sampai usia 6 tahun. “Sembilan puluh lima persen perkembangan otak manusia terjadi sebelum umur 6 tahun,” tutur Ahmad. Maka periode ini disebut periode kritis atau genting. Jika ada gangguan pada periode ini, akan berakibat kelainan permanen dan sulit disembuhkan.

Kasus Adit, misalnya. Walau diketahui pada usia balita, hal itu sudah telat, dan akhirnya menjadi kelainan permanen.

Ahmad menjelaskan, puncak perkembangan otak bayi terjadi di awal hidupnya. Pada umur 3-6 bulan, fungsi melihat dan mendengar mengalami puncak. Hasil pendengaran dan penglihatannya atas lingkungan sekitar akan digunakan untuk kemampuan bicara. Pada umur 8 bulan, giliran fungsi bicara dan bahasa mencapai puncak. “Keempat fungsi ini terhenti perkembangannya pada umur 6 tahun.”

Adapun fungsi kognitif dan inteligensia mencapai puncaknya pada usia 3 tahun. “Fungsinya mulai menurun hingga umur 15 tahun,” Ahmad melanjutkan. Selain membutuhkan stimulasi, perkembangan otak perlu didukung nutrisi. “Nutrisi dan stimulasi satu kesatuan.”
Nutrisi yang membantu dalam tumbuh kembang anak, menurut Dokter Iwan Surjadi Handoko, adalah Kolin, DHA-AA (docosahexaenoic acid- arachidonic acid), Alfa-laktalbumin, dan asam lemak esensial (Omega 3 dan Omega 6). Kolin adalah nutrisi esensial, salah satu anggota vitamin B yang larut dalam air. Gunanya untuk pertumbuhan otak dan sumsum tulang belakang. “ASI adalah sumber kolin yang baik,” kata Business Development Manager Kalbe Nutritionals ini.

DHA-AA berfungsi untuk perkembangan otak dan penglihatan. Adapun Alfa-laktalbumin adalah protein yang dominan terdapat dalam ASI–mencapai 30 persen dari total protein, sedangkan susu sapi hanya 5 persen. “Dengan paduan antara stimulasi dan nutrisi cukup, diharapkan anak-anak akan tumbuh kembang dengan baik, sehat, dan normal.”

NUR ROCHMI

Fase Tumbuh Kembang

Tumbuh kembang adalah fase hidup yang dilalui anak. Tumbuh adalah bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat.

Kembang adalah bertambahnya struktur dan kemampuan tubuh yang lebih kompleks meliputi kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara, bahasa, sosialisasi, dan kemandirian. Berikut ini ciri tumbuh kembang anak sesuai dengan usianya.

0-3 bulan : Terkejut mendengar suara, mengikuti obyek dengan mata.

3-6 bulan : Berbalik telungkup ke telentang dan tertawa/menjerit kala diajak bermain.

7-9 bulan : Duduk, bermain tepuk tangan/cilukba.

9-12 bulan : Merangkak, berjalan dengan dituntun, menyentuh benda dan memasukkannya ke mulut.

12-18 bulan : Memanggil orang tuanya, berjalan-berlari, belajar makan/minum sendiri.

18-24 bulan : Bisa berdiri sambil memegang benda, menyebut beberapa kata yang memiliki arti.

2-3 tahun : Bisa membedakan mainan, bisa menendang bola sambil lari

3-4 tahun : Bisa berdiri dengan satu kaki, belajar memakai pakaian, dan bermain dengan anak lain.

4-5 tahun : Menari, senang bertanya, menggambar lingkaran atau tanda silang.

5-6 tahun : Bisa berjalan lurus. Mengenal warna, lawan kata, dan angka.

Nur Rochmi | berbagai sumber

Bermain Penting Untuk Perkembangan

children-playing

Bermain sangat penting untuk perkembangan anak. Dengan bermain mereka dapat mengembangkan emosi, fisik,  dan pertumbuhan kognitif nya. Bermain adalah cara bagi anak untuk belajar mengenai tubuh mereka dan dunia ini, dan pada saat itulah mereka akan menggunakan kelima indra yang dimilikinya.

“Bagaimana rasanya jika benda ini disentuh? Bagaimana bunyinya jika benda ini dijatuhkan? Apa yang terjadi jika benda ini dilempar?”

Dengan mengeksplorasi hal-hal yang ada disekitarnya inilah otak anak akan berkembang. Dengan bermain mereka mengembangkan imajinasi, skill, kemandirian, kreativitas, dan kemampuan bersosialisasi. Disini mereka akan belajar berbagi mainan dengan teman dan saudaranya, belajar mengucapkan kata ‘maaf’ dan ‘terima kasih’.

Pada saat ini, bermain adalah pekerjaan anak, dan membereskan sisa permainan menjadi pekerjaan kita sebagai orang tua :)

22 queries