Panduan Menu Makanan Bayi s/d Balita
Powered by MaxBlogPress 

[X]


Menyelami Beragam Budaya Meningkatkan Kreativitas  

TEMPO Interaktif, Northwestern – Kreativitas dapat ditingkatkan dengan mengalami budaya yang berbeda selain budaya sendiri, menurut sebuah studi yang dimuat di Personality and Social Psychology Bulletin, seperti dikutip ScienceDaily 29 Juni 2010.

Tiga penelitian menguji aspek-aspek kreativitas yang berbeda pada siswa yang tinggal di luar negeri dan yang tidak. Dibandingkan dengan kelompok kontrol, yang tidak mengalami budaya yang berbeda, peserta dalam kelompok budaya yang berbeda memberikan bukti lebih kreatif dalam berbagai standar tes sifat tersebut. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa pembelajaran multikultural adalah komponen penting dalam proses adaptasi, bertindak sebagai katalis kreativitas.

Para peneliti, William W. Maddux, Hajo Adam, dan Adam D. Galinsky, dari Universitas Northwestern, Amerika Serikat, percaya bahwa kunci untuk meningkatkan kreativitas berkaitan dengan pendekatan siswa untuk berpikiran terbuka dalam menyesuaikan diri dengan budaya baru. Dalam dunia global, di mana lebih banyak orang dapat memperoleh pengalaman multikultural dibandingkan sebelumnya, penelitian ini menunjukkan bahwa tinggal di luar negeri dapat lebih bermanfaat dari yang diduga sebelumnya.

ScienceDaily/NF


Deteksi Kanker Lewat Air Liur

VIVAnews - Peneliti Jepang dan Amerika berhasil mengembangkan teknologi medis untuk mendeteksi penyakit kanker melalui air liur.

Ilmuwan dari Universitas Keio dan Universitas California, Los Angeles, menganalisis sampel air liur 215 orang, termasuk pasien kanker. Mereka mengidentifikasi 54 zat untuk mendeteksi kanker.

Dari uji air liur, ilmuwan mampu menganalisis 99 persen kasus kanker pankreas, 95 persen kasus kanker payudara, dan 80 persen kasus kanker mulut di antara para relawan. Teknologi terbaru ini hanya membutuhkan waktu setengah hari untuk menguji kanker dan mengidentifikasi hingga 500 substansi berbeda dalam air liur.

Tomoyoshi Soga dari Keio Institute for Advanced Biosciences mengatakan,  temuan ini memudahkan deteksi dini kanker. Sebab tak jarang, penderita kanker terutama pankreas dan mulut sulit tertolong karena minimnya informasi gejala pada tahap awal.

“Sampel air liur lebih mudah dan cepat daripada pemeriksaan tinja,” kata Masaru Tomita, kepala Institut Keio, dalam sebuah pernyataan seperti dimuat dalam laman Aol Health. “Kami ingin menerapkan teknologi ini tidak hanya untuk kasus kanker tetapi juga untuk penyakit lain.” (adi)

• VIVAnews


Ciuman Ibu Lindungi Bayi dari Infeksi

VIVAnews - Ciuman ibu kepada bayi baru lahir memberi perlindungan terhadap infeksi telinga dan sakit tenggorokan selama hidup bayi.

Studi Universitas Otago Selandia Baru menemukan ciuman ibu mentransfer bakteri baik kepada bayi. Salah seorang peneliti, John Tagg mengatakan, studi menguji berapa banyak wanita memiliki bakteri baik streptokokus K12 salivarius. Bakteri ditemukan secara acak pada lima persen populasi.

“Ketika mencium bayi yang baru lahir, ibu memberi ciuman perlindungan kepada bayinya dengan mewariskan bakteri baik,” katanya seperti dikutip dari Times of India.

Ilmuwan menyarankan agar di bulan akhir masa kehamilan ibu mengonsumsi makanan dan permen probiotik untuk mencegah infeksi bakteri tenggorokan. (adi)

• VIVAnews


Mungkinkah Bercinta Saat Tidur

VIVAnews - Melakukan aktivitas seksual seperti berhubungan intim menjelang tidur sudah menjadi hal lumrah yang dilakukan banyak pasangan berumah tangga. Tapi, bagaimana dengan mereka yang melakukannya saat tidur?

Bercinta saat tidur ternyata sangat mungkin terjadi. Dunia medis menyebutnya dengan sexsomnia. Jumlah penderita kelainan seks yang terjadi saat tidur ini bahkan terus menunjukkan peningkatan.

Para peneliti di Kanada menemukan, sekitar satu dari setiap 12 orang mengakui pernah mengalami aktivitas seksual saat mereka tengah terlelap. Sebanyak 3/4 pria yang menjadi responden positif mengidap sexsomnia. Perilaku seksual ketika tidur ini berkisar dari masturbasi sampai hubungan fisik.

Studi Sleep Research Laboratory di Universitas Kesehatan di Toronto menemukan, gangguan seks ini semakin umum terjadi dibandingkan masa-masa sebelumnya. Peneliti mewawancarai 832 pasien pria dan wanita yang diduga menderita semacam gangguan tidur.

Jumlah gangguan sexsomnia yang ditemukan pada pria lebih banyak dibandingkan wanita. Umumnya, penderita gangguan ini tidak ingat mereka terlibat dalam kegiatan tersebut. Para ahli menduga, sexsomnia disebabkan hasrat seks yang meninggi menjelang tidur.

Salah satu peneliti, Dr Sharon Chung, menjelaskan, proporsi penderita kini meningkat dari hanya segelintir menjadi satu diantara 12 orang. “Delapan persen adalah pengidap sexsomnia akut dan harus dibawa ke klinik tidur untuk pengobatan. Jika tak segera diobati sexsomnia bisa menyebabkan rasa lelah sepanjang hari, depresi dan perubahan perilaku,” ia menjelaskan seperti dimuat dalam laman Telegraph. (sj)

• VIVAnews


Saat Putus Cinta, Pria Lebih Merana


KOMPAS.com - Pria juga manusia; karena itu mereka pun bisa menangis saat putus cinta. Tetapi siapa mengira, putus cinta ternyata lebih “memukul” pria daripada wanita?

Anda mungkin tidak percaya (karena si dia tampaknya terlihat cuek setelah putus hubungan dengan Anda), tetapi fakta tersebut merupakan hasil penelitian dari Wake Forest University di North Carolina. Dalam penelitian yang  melibatkan 1.000 orang dewasa (tidak menikah) berusia 18-23 tahun, terlihat bahwa hubungan yang tidak bahagia lebih mempengaruhi pria daripada wanita. Hanya saja, pria mengekspresikan kesedihannya dengan cara yang berbeda.

“Perempuan mengekspresikan kesedihannya dengan depresi, sementaranya pria mengekspresikannya dengan masalah-masalah substansi,” ujar Simon.

Robin Simon, profesor bidang sosiologi dari universitas tersebut, juga mendapati bahwa pria mendapat keuntungan emosional yang lebih besar dari aspek-aspek positif hubungan cinta yang sedang berlangsung. Kurang lebih begini penjelasannya: bagi pria muda, pasangan mereka sering menjadi sumber utama curahan kasih sayang. Berbeda dengan perempuan, yang cenderung punya kedekatan dengan keluarga dan teman-temannya.

Ketegangan dalam suatu hubungan sendiri sering dihubungkan dengan kesehatan emosional yang rendah, karena hal itu mengancam identitas dan penghargaan diri pria.

Kemudian, jika pria secara emosional lebih dipengaruhi oleh kualitas hubungannya saat ini, perempuan lebih dipengaruhi oleh kenyataan apakah mereka memiliki hubungan cinta atau tidak. Tidak heran, perempuan lebih cenderung mengalami depresi ketika hubungan itu berakhir, dan sebaliknya mendapat manfaat lebih hanya dengan berada dalam suatu relationship.

Survei ini awalnya dilakukan untuk studi jangka panjang mengenai kesehatan mental dan transisi ke kedewasaan. Karena itu menurut Simon, masih banyak yang perlu dipelajari mengenai hubungan antara pria dan wanita pada usia dewasa muda. Studi ini sendiri dipublikasikan di
Journal of Health and Social Behavior edisi Juni. 

DIN

Editor: din

Sumber: The Daily Mail


Alat KB Baru ‘Pembunuh’ Sperma

VIVAnews – Membludaknya jumlah penduduk di dunia menjadi isu yang makin menakutkan. Tak heran jika banyak ilmuwan berlomba-lomba mencari teknik baru cara mengendalikan kelahiran.

Karena itu, agar lebih efektif, para ilmuwan tidak hanya menciptakan alat kontrasepsi untuk wanita, tapi juga bagi pria. Saat ini, peneliti dari Universitas North Carolina, AS, sedang menguji apakah gelombang ultrasound bisa menjadi metode kontrasepsi baru bagi pria, seperti dikutip dari laman Genius Beauty.

Penelitian ini menemukan, gelombang ultrasound di bagian testis diketahui cukup aman menghentikan produksi sperma selama enam bulan. Namun, para peneliti masih berkutat untuk mencari tahu cara mengembalikan kesuburan pria setelah melakukan metode ini. Pasalnya, ada kemungkinan pria ingin memiliki anak lagi.

Mengembalikan kesuburan menjadi isu penting, karena sekali testis berhenti memproduksi sperma dan ‘cadangan’ sperma dikosongkan, pria akan menjadi tidak subur sementara.

“Kami berpikir alat kontrasepsi ini dapat diandalkan selama 6 bulan, dengan biaya murah dan termasuk kontrasepsi non-hormonal dengan satu kali perawatan,” ujar salah seorang peneliti utama Dr James Tsuruta.

Dr Tsuruta juga menambahkan, metode ultrasound ini sudah umum digunakan sebagai instrumen terapi dalam kedokteran olahraga atau klinik terapi fisik. Maka itu, diharapkan tujuan jangka panjang penelitian ini adalah menciptakan alat KB yang sesuai untuk pria, tanpa membahayakan kesuburan. (umi)

• VIVAnews


Merasa Lebih Hidup, Luangkan Waktu Bersama Alam

TEMPO Interaktif, Jakarta – Rochester – Berada di alam terbuka membuat orang merasa lebih hidup, demikian temuan penelitian yang diterbitkan Journal of Environmental Psychology.edisi Juni 2010. Studi ini juga menunjukkan bahwa perasaan meningkatnya vitalitas melebihi efek energi dari aktivitas fisik dan interaksi sosial.

“Alam adalah bahan bakar bagi jiwa,” ujar Richard Ryan, penulis utama penelitian ini. “Sering ketika kita merasa lesu, kita meraih secangkir kopi, tetapi penelitian menunjukkan cara yang lebih baik untuk mendapatkan energi adalah berhubungan dengan alam,” kata  profesor psikologi di Universitas Rochester Amerika Serikat ini.

Temuan ini, kata Ryan, sangat penting untuk kesehatan, baik mental maupun fisik. “Penelitian ini menunjukkan bahwa orang yang memiliki perasaan vitalitas yang lebih besar tidak hanya memiliki lebih banyak energi untuk hal-hal yang ingin mereka lakukan, mereka juga lebih tahan terhadap penyakit fisik,” kata Ryan. Menurut dia, salah satu cara adalah bisa dengan menghabiskan lebih banyak waktu bersama alam.

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak penelitian psikologi eksperimental telah menghubungkan eksposur ke alam dengan peningkatan energi, yang hasilnya memperlihatkan mereka meluangkan waktu untuk menjelajahi alam meningkat perasaan bahagia dan merasa lebih hidup. Studi-studi lain menyarankan bahwa kebersamaan dengan alam sangat membantu untuk menangkis perasaan kelelahan dan bahwa 90 persen orang melaporkan adanya peningkatan energi ketika berkegiatan di luar ruangan.

Dalam studi ini, para peneliti melakukan lima eksperimen terpisah, melibatkan 537 mahasiswa. Dalam satu eksperimen, peserta digiring selama 15 menit berjalan kaki melalui lorong-lorong dalam ruangan atau di sepanjang jalur sungai di antara pohon-pohon. Percobaan lain, peserta melihat panorama gedung-gedung atau pemandangan alam. Dan, percobaan ketiga, peserta membayangkan diri mereka berada dalam berbagai situasi.

Pada dua percobaan terakhir, dilacak suasana hati peserta dan tingkat energi sepanjang hari. Di seluruh metodologi, individu secara konsisten merasa lebih energik ketika mereka menghabiskan waktu berlatarkan alam atau membayangkan diri mereka dalam situasi seperti itu. Ryan mencatat: berada di alam luar hanya 20 menit dalam sehari sudah cukup untuk meningkatkan vitalitas secara signifikan.

Dengan adanya penelitian semacam ini, Ryan menggarisbawahi pentingnya bangunan taman dalam ruangan atau bangunan yang memiliki akses ke taman-taman dan lingkungan alam, yang bisa disaksikan lewat jendela.

University of Rochester/Medical News Today/Ngarto Februana


“Tolong, Saya Tak Bisa Berhenti Belanja!”

VIVAnews – Sebagian wanita tidak mampu mengendalikan keinginan berbelanja hingga terjebak dalam kebiasaan berbelanja impulsif. Kebanyakan mereka hanya bertujuan memenuhi keinginan sesaat.

Alasan membeli barang yang tidak direncanakan, seperti baju, tas dan sepatu di mal lebih banyak akibat tergiur diskon atau model yang menarik perhatian. Akhirnya, kerap mereka harus merogoh isi dompet atau menggesek kartu kredit demi memenuhi keinginan tersebut.

Sebuah studi terbaru dari peneliti Universitas Pittsburgh dan Universitas Baylor menemukan hasil yang cukup mengejutkan dari studi lapangan di toko-toko di Texas.

Para peneliti bertanya kepada calon konsumen sebelum masuk ke toko apa yang akan mereka beli, berapa banyak item yang akan mereka beli dan berapa besar uang yang dihabiskan. Setelah keluar dari toko, para pembeli menunjukkan item yang mereka beli.

Hasil penelitian menunjukkan, lebih dari 75 persen responden sengaja berencana membeli barang yang tidak dibutuhkan. Mereka juga telah menentukan jumlah uang tunai yang akan dihabiskan secara akurat. Saldo rata-rata antara biaya terencana dan tidak terencana hanya mencapai 47 sen.

Para peneliti menyimpulkan, konsumen mengharapkan menemukan barang ‘dilupakan’ atau berharap mengalami pembelian yang tak direncanakan. Bahkan, untuk beberapa calon konsumen, mereka berharap menemukan barang bagus, seperti sepatu, tas atau baju, yang bisa dibeli tanpa direncanakan. Dengan kata lain, pecandu belanja biasanya berencana melakukan pembelian secara impulsif.

Studi lengkap akan dimuat dalam Journal of Consumer Research edisi Agustus tahun lalu. (umi)

• VIVAnews


49 queries