Tambahkan Garam Secukupnya
TEMPO Interaktif, Pada awal 1990-an, Taufik merasa ada yang salah pada tubuhnya. Saat itu, dia tak bisa kencing. Meski ia sudah memeriksakan diri ke mantri kesehatan dan puskesmas, tak jelas juga penyebabnya. Dia mengira kena guna-guna. Ketika ia diperiksa di laboratorium, baru ketahuan masalahnya. “Ada persoalan di ginjal,” kata guru SMA di Yogyakarta ini. Ginjalnya tak bisa berfungsi optimal.
Masalah ginjal ini disebabkan oleh pengaruh garam yang dia konsumsi. Garam, kata dia, mengikat cairan dalam tubuh.
Memang Taufik gemar makan makanan asin, yang membuatnya juga ingin banyak minum air. Akibatnya, jumlah konsumsi airnya bertambah seiring dengan naiknya jumlah konsumsi garam.
“Saya lalu puasa garam,” kata dia. Tubuhnya lalu jadi lemas. Makanan pun terasa hambar. Tapi demi kesehatan, hingga kini di usianya yang ke-44 tahun, Taufik masih mengurangi konsumsi garam.
Menurut dr Nur Rasyid, SpU, staf Departemen Urologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, garam bersifat mengikat cairan. Jika cairan dalam tubuh terikat, tak bisa disaring oleh ginjal. “Maka pasien jadi tak bisa kencing,” kata Nur Rasyid.
Ahli gizi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Dr dr Ratna Djuwita Hatma, menyatakan, konsumsi garam yang berlebihan membuat kemampuan ginjal dalam menyaring cairan berkurang karena cairan itu terikat garam. Selama konsumsi garam normal, kata Rasyid, tak masalah. Namun, jika berlebihan, hal itu tak hanya merusak ginjal.
Hipertensi juga mengintip jika konsumsi garam berlebih. “Walau tak langsung menyebabkan hipertensi,” Nur Rasyid menambahkan. Sesuai dengan sifatnya yang mengikat cairan, garam mempengaruhi pembuluh darah dan merusak aliran darah, sehingga darah bertekanan tinggi (hipertensi).
Selain itu, berbagai penyakit kardiovaskuler atau pembuluh darah, seperti penyakit jantung dan stroke, akan antre jika konsumsi garam berlebih. “Kalau cairan tak bisa disaring ginjal, maka bisa menggenang di jantung,” kata Ratna.
Ratna menyatakan penyebab penyakit kardiovaskuler banyak, bukan hanya faktor makanan. Tapi salah satu penyebab yang bisa direkayasa adalah makanan. “Padahal pola konsumsi makanan bisa diatur,” kata dia.
Garam memiliki nama kimia natrium klorida atau NaCl. Garam bisa digunakan untuk keperluan makanan, minuman, infus, oralit, bahkan untuk sabun serta sampo.
Idealnya, jumlah konsumsi garam per hari per orang adalah 2.000 miligram atau kira-kira sepertiga sendok teh. Tapi ini adalah konsumsi garam atas keseluruhan makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh. Bukan hanya garam dapur dalam masakan.
“Perlu dilihat kandungan garam dalam setiap makanan atau minuman yang dikonsumsi,” kata Ratna. Rasyid menyatakan, jika ada gangguan pada ginjal, langkah mengurangi konsumsi garam bisa dilakukan dengan mengencerkan cairan dalam tubuh. “Sehingga cairan bisa disaring ginjal,” kata dia. | nur rochmi
Riwayat Si Asin dalam Tubuh
- Garam mengandung mineral natrium klorida atau NaCl.
- NaCl bertugas “menukar” zat makanan lama dengan yang baru. Kelancaran proses pertukaran sisa makanan di dalam tubuh bergantung pada kadar natrium di dalam sel.
- Natrium beredar ke seluruh tubuh dengan menumpang pada butir darah merah.
- Butir darah merah seharusnya mendapatkan pasokan natrium yang pas. Bila kurang, butir darah akan mengempis. Jika berlebihan, butir darah merah akan mengembang, sehingga bertekanan tinggi. Dampak lainnya adalah pembuluh darah bisa robek.
- Garam juga mengikat cairan dalam tubuh, sehingga ginjal tak bisa menyaring cairan dalam tubuh.
| nur rochmi | berbagai sumber
Artikel Menarik Lainnya








Comments
Tinggalkan komentar Anda