Waspadai Bunyi Telinga Akibat Ponsel
TEMPO Interaktif, Sudah berapa lama Anda menggunakan telepon seluler? Berapa lama Anda menelepon dengan menggunakan ponsel tiap hari? Semakin lama menggunakan ponsel dan makin sering, makin tinggi pula Anda berisiko terkena tinnitus–muncul bunyi tertentu dari dalam telinga Anda.
Tinnitus dalam bahasa Latin berarti berdering. Gangguan itu bisa datang dan pergi atau hadir sepanjang waktu. Pada beberapa pengidap tinnitus, ada yang mendengar suara bernada tinggi, dengungan, desis, siulan, detik, klik, dan menderu seperti angin atau gelombang. Suara-suara itu dalam telinga tentu sangat menyiksa.
Menurut penelitian Hans-Peter Hutter, MD, dan timnya dari The Medical University of Vienna di Austria, pengguna ponsel yang lebih dari empat tahun ada kemungkinan lebih besar terserang tinnitus ketimbang orang yang menggunakan ponsel kurang dari empat tahun.
Dalam penelitian yang dipublikasikan melalui jurnal Occupational and Environmental Medicine itu, tim peneliti merekrut 100 orang dengan tinnitus dan 100 orang tanpa tinnitus. Keduanya lalu diperbandingkan dalam hal penggunaan ponsel.
Hasilnya, risiko terserang tinnitus 70 persen lebih besar daripada mereka yang menggunakan ponsel sehari-hari rata-rata 10 menit. “Maka kami merekomendasikan agar berhati-hati dalam menggunakan ponsel,” kata Hutter seperti dikutip laman www.msn.com.
Selain itu, mereka menemukan bahwa menggunakan telepon secara kumulatif mencapai lebih dari 160 jam bisa meningkatkan risiko terkena tinnitus hingga 60 persen.
Hutter mengatakan ada mekanisme biologis di mana ponsel dapat menimbulkan masalah telinga. Di dalam telinga ada organ bernama koklea, berbentuk spiral, yang berfungsi menerjemahkan suara menjadi impuls listrik agar dapat dipahami otak. Nah, ketika memakai ponsel, impuls listrik yang dipancarkan justru diserap ponsel.
Selain itu, kata Hutter, menelepon dengan menggunakan ponsel sambil berjalan bisa mempengaruhi aliran darah di sisi kepala.
Namun penelitian ini dinilai belum tuntas dan mengulang. Menurut Veronica Kennedy, konsultan dan penasihat British Tinnitus Association, temuan hubungan antara tinnitus dan medan elektromagnetik itu ide lawas.
“Faktor penyebab tinnitus kompleks, tapi belum dibahas dalam penelitian ini,” kata dia. “Hubungan antara penggunaan ponsel dan tinnitus tetap belum terbukti. Penelitian ini masih harus dilanjutkan,” ujar dia.
Tinnitus terbagi menjadi dua jenis, yakni tinnitus obyektif dan tinnitus subyektif. Pada tinnitus obyektif, dokter yang memeriksa Anda juga bisa mendengar suara yang sama. Tinnitus jenis ini jarang terjadi. Biasanya tinnitus jenis ini disebabkan oleh infeksi telinga bagian dalam. Pada tinnitus subyektif, hanya pengidap yang mendengar suara. Ini jenis tinnitus yang umum terjadi.
Tinnitus bukanlah penyakit, melainkan gejala yang dihasilkan dari berbagai penyebab yang mendasari. Penyebab umum tinnitus meliputi infeksi telinga, masuknya benda asing atau lilin di telinga, alergi hidung yang mendorong cairan lilin telinga, dan cedera.
Tinnitus juga disebabkan oleh efek samping beberapa obat oral, seperti aspirin, dan mungkin juga hasil dari aktivitas hormon serotonin. Pengobatan biasanya dilakukan dengan menjalani terapi medan elektromagnetik, terapi suara, atau terapi tradisional. | nur rochmi | berbagai sumber
Menggunakan Ponsel Secara Sehat
- Batasilah intensitas menelepon. Jika menelepon, lebih baik durasinya pendek. Menelepon selama 2 menit ditemukan untuk mengubah aktivitas elektrik alami otak untuk sampai 1 jam kemudian. Untuk anak-anak, gunakan telepon seluler dalam kondisi darurat saja. Radiasi dapat menembus jauh lebih dalam karena tengkorak mereka masih berkembang.
- Pakailah headset airtube. Headset kabel biasa justru menarik medan magnet di sekitarnya. Jika menggunakan ponsel tanpa headset, tunggu panggilan tersambung sebelum meletakkan ponsel di telinga.
- Jangan menaruh ponsel di saku baju atau ikat pinggang. Tubuh bagian bawah memiliki konduktivitas yang baik dan menyerap radiasi lebih cepat daripada kepala.
- Jangan gunakan ponsel di ruang tertutup penuh logam, seperti mobil atau lift, ketika perangkat mungkin menggunakan daya lebih untuk memancarkan radiasi.
- Jangan membuat panggilan ketika kekuatan sinyal cuma satu bar atau kurang, yang berarti ponsel harus bekerja lebih keras untuk membuat sambungan.
- Pakailah ponsel dengan level specific absorption rate (SAR) rendah. Level SAR adalah cara untuk mengukur jumlah frekuensi radio (RF) energi yang diserap oleh tubuh. Makin rendah level SAR, makin baik. Kebanyakan telepon memiliki tingkat SAR yang tercantum dalam buku manualnya.
- Konsumsilah suplemen gizi, khususnya antioksidan yang mengandung melatonin, zinc, ginkobiloba, atau ekstrak bilberry. Sebab, radiasi adalah bagian dari oksidasi.
| nur rochmi | berbagai sumber
Postingan yang mungkin berhubungan:








Comments
Tinggalkan komentar Anda